Lelaki itu renta, tubuhnya sudah rapuh dimakan usia, keriput di kulitnya begitu nyata dan kasar, mencerminkan perjuangan hidupnya yang penuh kesakitan. Tubuhnya sudah tidak tegak lagi, sedikit bungkuk seolah tulangnya tidak mampu lagi menopang dagingnya. Langkahnya pelan dan terseret-seret, penyakit stroke yang menyerangnya lima tahun lalu telah mengubah cara berjalannya.
Tetapi lelaki itu tetap tangguh, dia selalu datang di makam itu setiap sore. Menabur bunga di makam sederhana itu, lalu duduk lama disana sambil termenung, tidak pernah ada yang tahu apa yang ada di dalam pikiran lelaki tua itu. Penjaga makam sudah mengenalnya, pun anak-anak kecil dan wanita-wanita lusuh yang selalu berkeliaran di areal makam, membersihkan makam jika ada peziarah sambil mengharapkan sekeping dua keping uang untuk sekedar menyambung hidup.
Dan Lelaki tua itu seperti sudah menjadi bagian dari kehidupan areal pemakaman yang konstan dari hari ke hari, seperti memang sudah seharusnya lelaki itu ada di sana setiap sore, duduk termenung seperti larut dalam pemikiran sendiri selama hampir dua jam. Sampai matahari tenggelam dan meninggalkan semburat kemerahan di langit, barulah lelaki itu melangkah pergi, dengan langkah yang sama, bungkuk dan terseret-seret.
Tidak ada yang mengganggu keheningan lelaki itu di depan makam tua yang selalu dikunjunginya, meskipun ada beberapa yang menebak-nebak apa yang ada dalam di pikiran sang lelaki tua. Sebagian mengira sang lelaki tua sedang mendaraskan doa yang panjang, dan sebagian lagi mengira lelaki tua itu melamun dan bercakap-cakap dalam hati dengan makam tua itu, sebuah monolog yang menyedihkan.