Silakan beli Tuan...
Mangga dapat petik sendiri
walaupun dari kebun orang
tapi hamba bertaruh nyawa untuk mengambilnya
Silakan beli Nyonya
Mangga matang di pohon
persis seperti kupinang istriku dulu
dijamin asli tanpa menipu
Silakan coba saudara
jika mangga tak manis seperti janjiku
kau boleh bilang aku penipu
Kujual mangga untuk nyawa
berdelapan kepala sedang menunggu
penuh harap agar semua laku
penuh cemas supaya aku tak dipenjara
aku bukan penipu
walau mungkin aku pencuri
aku hanya penjaja mangga untuk cinta
(dari : Irawan )
Bagi saya, menulis adalah berkah. Berkah yang dialirkan kepada saya di saat sore-sore kesepian menunggu yang tercinta pulang ke pelukan. Bagi saya, menulis adalah ikatan. Ikatan yang merengkuhnya untuk menjatuhkan hatinya dalam genggaman tangan saya. Untuk saya jaga, Selamanya
Daftar Label Post
-Not- The Sweetest Love
(3)
another 5%
(24)
Cerbung : Perjanjian Hati
(9)
coretan pendek
(42)
Crush In Rush
(17)
Embrace The Chord
(22)
Fiksi satu menit
(11)
Kumpulan Cerita Bersambung
(149)
KUMPULAN CERPEN2 sederhana
(18)
Menghitung Hujan
(17)
Pembunuh Cahaya
(11)
pemikiran absurd
(21)
quote dadakan
(13)
romance at the first sight
(1)
sok puitis
(22)
Sweet Enemy
(14)
The Vague Temptation
(15)
Verna dan Hujan
(6)
You've Got Me From Hello
(10)
Senin, 19 November 2012
Selasa, 13 November 2012
Catatan Tentang Si Boy Part 2
Masih tentang orang yang sama, dengan kepolosan yang sama dengan kebaikan hati yang nggak tanggung-tanggung. Kadang di saat merenung sendirian, aku bertanya-tanya kenapa masih ada jenis manusia seperti dia di dunia yang makin penuh ketidakpedulian antar sesama manusia ini, bukannya aku ingin berfilosofi, tapi jenis manusia seperti si Boy ini benar-benar udah masuk karegori Limited Edition , hahahahha..... tidak percaya ? mungkin aku bisa membuat kalian yakin, dengan pengalaman-pengalaman unikku bersamanya berikut ini.
Senin, 12 November 2012
Catatan Tentang si Boy Part 1
Well, sebuah cerita yang nggak penting ternyata, tapi maafkan karena aku tergelitik untuk menceritakannya di sini, tentang office boy ku, pemuda tanggung berusia 19 tahun dengan kepribadian yang sangat menarik :)
Di kantorku, ada seorang office boy yang khusus menangani lantai tempatku dan ruanganku, dia baru di sini. Kebetulan aku berada di satu ruangan terpisah oleh sekat kaca, sendirian di pojok pribadi ( sebutan kerennya pojok pribadi, tetapi teman-teman sekantor lebih sering menyebutnya aquarium kaca ha... ha.... ha ... )
Maafkan jika ceritaku ini membosankan, tetapi sekali lagi, aku tidak bisa menahan rasa untuk menuliskan tentang dirinya di sini. Dia adalah pemuda sunda asli, dengan logat yang masih kental dan kesopanan yang sangat luar biasa, panggil saja dia Boy ( hahahaha.... nama yang sangat tidak kreatif... dan jangan coba-coba membayangkan sosok playboy di film jadul 'Catatan Si Boy' !!! )
Toples isi Pelukan
Saya bermimpi bisa memasukkan pelukan penuh kasih sayangmu ke dalam sebuah tolpes besar.
Hingga ketika saya merasa 'lapar' dan membutuhkan pelukanmu nanti, saya tinggal membuka tutup toples itu, memasukkan tangan ke dalam toples, mengambil sedikit pelukan, dan menikmatinya.
Tentu saja saya akan mengambil pelukan itu sedikit-sedikit, biar dia awet, biar saya punya persediaan pelukan di dalam toples dan tidak cepat habis isinya, agar ketika kamu tidak lagi ada disini untuk memeluk saya, saya punya toples pelukan yang bisa memuaskan kerinduan saya.
Jadi, maukah kamu memasukkan pelukan penuh kasih sayangmu ke dalam toples untuk saya?
Kalau kamu mau, saya akan berusaha mencari toples kualitas terbaik, agar bisa menyimpan pelukanmu dengan sempurna, agar rasanya sama seperti aslinya, kehangatannya, kasih sayangnya, ketulusannya, kemanisannya, semuanya yang membuat dada saya terasa sesak oleh rasa cinta yang luar biasa.
Kalau kamu mau, saya akan berusaha mencari toples kualitas terbaik, agar bisa menyimpan pelukanmu dengan sempurna, agar rasanya sama seperti aslinya, kehangatannya, kasih sayangnya, ketulusannya, kemanisannya, semuanya yang membuat dada saya terasa sesak oleh rasa cinta yang luar biasa.
PS : sayang, seandainya saja saya mampu melawan seluruh dunia untuk memilikimu, saya pasti tidak akan membutuhkan toples semacam itu :)
Sabtu, 10 November 2012
Kekasihku dan Hujan Deras, sebuah catatan harian
Semalam hujan deras turun di hatiku, mengiringi sepasang kekasih dalam tangis haru, entah kenapa terasa membekas di hatiku, mengawali pagiku yang biru.
Hari kemarin kuawali dengan hujan deras di pagi hari, membuat hati mendung dan meratap entah kenapa. Bahkan di dini hari yang sunyi itupun kekasihku sudah pergi - tuntutan pekerjaan - katanya. Sebenarnya jauh di dalam hati aku menahan diri, kesibukannya ahkir-ahkir ini membuatku merasa pilu, pilu karena semua rutinitas kami bersama terenggut oleh waktu, pilu karena pelukannya yang kurindukan tidak bisa kutemukan di malam-malam sunyiku, pilu karena sapaannya yang dulu sering terdengar tak pernah lagi menyentuh hari-hariku. Dan pilu karena aku harus mengalami perasaan itu lagi, menunggunya dalam keheningan, membuatku mengulas kembali memori-memori menyakitkan di masa lalu ketika aku harus menunggunya dalam ketidakpastian.
Aku ketakutan dan dia tidak tahu. Seluruh tubuhku berteriak akan ketakutan. Ingatanku mengingat kenangan di masa itu, ketika dia makin lama makin menjauh, dan aku kehilangannya. Tuhan. aku tidak sanggup kalau harus melaluinya lagi. Saat ini dia sudah ada di pelukku. Kalau dia harus menjauh lagi, lebih baik aku mati.
Pagi itu sungguh berat kulalui, dan aku merindukan sapaannya yang selalu menguatkan hatiku seperti biasa, tetapi tidak ada. Sepanjang pagi kulalui dengan menanti. Semua tetap hening. Rasa sedih meledak di dalam diriku, dia sudah lupa. Perusahaan baru tempatnya bekerja itu benar-benar telah merenggut dia yang kukenal. Lelaki itu bukan kekasihku, lelaki itu sudah menjadi milik perusahaannya.
Kemudian di siang hari di tengah panas yang bercampur dengan mendung yang datang tiba-tiba. Aku merasa sampai di titik akumulasi bahwa aku tidak sanggup lagi. Detik itu, ketika aku meminta pertolongannya, dia tidak hadir. Keheningan masih mengikutinya sehingga aku pada ahkirnya memutuskan, kalau dia tidak bisa lagi ada, maka aku akan membuatnya tidak ada. Seperti sebuah pepatah, makin beratnya beban berbanding lurus dengan makin hilangnya perasaan. Dan aku menjeritkan kata-kata itu kepada kekasihku, "Aku sudah tak kuat menanggung beban, aku takut akan kehilangan rasa"
"Aku menginginkan perpisahan dan aku serius", tulisku waktu itu, dalam sebuah pesan yang kukirim dengan mata gelap berkabut, larut dalam kesedihan dan amarah yang membusuk karena tertahan sejak pagi.
Kekasihku membalasnya segera - terkejut,
"Ya Allah, cinta. apakah kau serius? ini keputusan yang sangat penting, tolong pikirkan dengan pikiran dingin, semua yang kulakukan ini demi kebahagiaanmu, demi keluarga kecil kita"
Kemarahan membakar dadaku. Bagaimana dia bisa bilang ini demi kebahagiaanku kalau apa yang kurasakan sekarang adalah hantaman ketidak bahagiaan yang menusuk kalbu? Bahagiaku adalah bersamanya, dalam kesederhanaan. Aku merindukan saat-saat dulu ketika bahagia kami bisa didapat dalam nikmatnya nasi bungkus yang dimakan dalam canda dalam kamar sederhana berukuran 3x4 meter. Aku merindukan bahagia di masa itu, ketika bahagia kami semudah itu bisa didapatkan dalam pelukan hangat dan candaan sepanjang hari. Aku tidak butuh yang lain. Saat itu aku sudah cukup bahagia, sebelum perusahaan baru itu hadir dan merenggut seluruh waktunya, perhatiannya, dan juga bahagiaku.
"Aku ingin perpisahan", mataku menyala penuh tekad. Aku tidak sanggup merasakan dirinya yang makin lama makin tenggelam, menghilang dari genggamanku. Dan sebelum aku harus menanggung itu semua, lebih baik aku yang pergi, di saat kenangan indahlah yang masih terpatri.
"Tunggu aku pulang, kita bicara"
Tak kubalas lagi pesan itu, sibuk mengusap air mataku. Ya Allah, semua terasa sungguh berat. Hujan deras turun lagi di luar sana, seolah berusaha menyaingi cucuran air mataku. Ya Allah... begitu sakitnya ternyata ketika kita memutuskan meninggalkan orang yang kita cintai. Tetapi aku tak tahu harus bagaimana lagi, memandang kedepan yang akan terus seperti ini, toh pada ahkirnya aku akan kehilangan dirinya bukan?
Malam itu kutunggu dia pulang, aku sudah menyiapkan kata-kataku, semua sanggahan dan bantahan. Tak akan kubiarkan dia membatalkan niatku untuk berpisah. Sudah kukeraskan hatiku, kali ini aku serius.
Tetapi kemudian dia pulang dengan tatapan sedihnya yang luar biasa, memanggil namaku dengan suara pedih ketika aku bahkan tidak mau menatap matanya lagi. Batinku teriris ketika melihatnya, sosok yang kucintai yang sekarang begitu pedih. Aku sungguh tak mau membuatmu sedih sayang, tetapi aku harus melakukannya. Demi kita.
Semua tekadku yang kubangun seharian langsung runtuh ketika dia rubuh, berlutut di depanku dan menangis. Ya Allah, dalam kebersamaan kami selama ini, sudah lama sekali tak kulihat air matanya. Dulu air matanya hanya akan mengalir ketika aku melukainya, ketika aku melukainya dengan parah.
"Jangan tinggalkan aku", katanya dalam isak pilu sambil berlutut memeluk pinggangku. "Kalau kau pergi aku tak bisa hidup, aku sangat mencintaimu, kumohon mengertilah, semua ini kulakukan untukmu, untuk kita"
Aku menunduk, menatapnya terbenam dalam haru yang biru, ahkirnya kubungkukkan tubuhku, jatuh berlutut bersamanya dan memeluknya, semua kemarahan yang bergulat dalam otakku, menguap entah kemana, Dia balas memelukku dengan erat, seolah itulah harapannya untuk bertahan hidup, kukecup pelipisnya, kukecup air matanya, kuusap bahunya biar tangisannya mereda. Dan kami berpelukan dalam tangis haru yang dalam.
"Sudahlah jangan menangis, maafkan aku", kukecup matanya yang basah oleh air mata. Oh aku tidak akan sanggup meninggalkan lelaki ini. Kuhapus semua kemarahan dan kesedihan yang menggayutiku seharian ini. Aku seharusnya tegar, bersamanya. Mendukungnya dalam masa transisi ini, yang kutahu pasti dia juga menderita, aku seharusnya lebih tegar.....
Kuleburkan semua beban hatiku biarkan larut bersama aliran air, tersapu oleh hujan deras yang mengiringiku, dari ku membuka mata, sampai ahkirnya aku menutup mataku dalam hangatnya pelukan kekasihku.
- Kepada yang tercinta, I love you always, All Ways-
Senin, 05 November 2012
Verna dan Hujan Part 2
Created on 03rd December 2010
Disclaimer : Bandung dengan hujannya yang ( hampir ) setiap hari melahirkan
cerita ini. Mau tak mau membuat saya merenungkan hujan dari dua sisi, Hujan
yang mendatangkan kebahagiaan bagi manusia yang mencintainya sepenuh hati, dan
hujan yang mendatangkan kesedihan bagi manusia yang belum bisa melepaskan masa
lalunya.
Verna terbangun dengan kepala pening dan pandangan mata berkunang-kunang.
Dicobanya memfokuskan pikirannya, memfokuskan pandangan matanya, dan dia sadar
bahwa dia sudah berada di kamarnya sendiri, terbaring di atas ranjangnya.
Pikirannya berputar..... Tadi dia bertemu dengan Tanza di depan pintu kostnya,
lalu semuanya tiba-tiba menjadi gelap.
"Tanza...?", dengan pelan setengah mengerang, Verna memanggil
nama sahabatnya itu, ketika tidak ada sahutan, Verna mencoba bangkit dan duduk,
tapi langsung terbaring lagi ketika rasa nyeri yang amat sangat menghantam
kepalanya.
Saat itulah pintu kamarnya terbuka, dan Tanza masuk, sedikit basah karena
hujan masih turun dengan derasnya di luar,
"Verna! Lo udah bangun?", Tanza berseru cemas melihat Verna yang
setengah terduduk, lalu dengan tergesa-gesa melangkah menghampirinya, "gue
tadi keluar bentar buat beliin lo obat, lo demam dan mengigau dalam tidur
lo", dengan lembut Tanza meletakkan punggung tangannya di dahi Verna.
Verna langsung memejamkan matanya, tangan itu terasa sejuk di dahinya yang
terasa panas membara, menenangkannya.
Tanza mendesah makin cemas merasakan dahi Verna yang panas, dia
mengeluarkan obat yang dibawanya, mengambilkan air lalu mencoba menarik
perhatian Verna yang terpejam, setengah tertidur lagi,
"Minum dulu obatnya Verna, ini penurun demamnya, setelah itu baru
tidur", bisik Tanza lembut
Verna membuka matanya dan mengernyit, mencoba duduk tapi tak mampu karena
nyeri itu menyerangnya lagi,
"Biar gue bantu", gumam Tanza lembut dan menyangga punggung Verna
dengan hati-hati, lalu membantu Verna meminum obatnya, setelah itu membaringkan
Verna dan menyelimutinya.
Hati Verna terasa hangat ketika tangan Tanza dengan lembut mengusap-usap
dahinya, dengan lemah dipegangnya tangan Tanza,
Jumat, 02 November 2012
Langganan:
Postingan (Atom)




