Sabtu, 05 Januari 2013

Sweet Enemy Part 1

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

"Bukan begitu caranya." Davin mengerutkan alis, dan dengan tidak sabar meraih tangan Keyna lalu memposisikan jemari Keyna dengan benar memegang garpu dan pisau itu, "Begini cara memegangnya, kalau kau salah memegang. Tuan dan Nyonya besar yang terhormat itu akan menyadarinya dan mempermalukanmu."
 
"Aku tidak akan mempermalukan Keyna, meskipun aku termasuk di golongan Nyonya besar yang kau maksud Davin." Nyonya Jonathan yang sedang duduk membaca di sudut ruangan menyeletuk, sedari tadi dia hanya duduk di sana, geli memperhatikan Davin yang dengan tidak sabaran mengajari Keyna tata cara makan resmi di jamuan makan malam terhormat.
 
Davin menoleh ke arah mamanya dan mengerutkan kening,
 
"Mama mungkin tidak akan melakukannya. Tetapi teman-teman mama akan berbisik-bisik dengan hidung mereka yang angkuh dan memuakkan." Lelaki itu lalu menatap Keyna lagi, "Coba pegang garpu itu dengan lebih elegan, Keyna!"
 
Davin tampak tidak sabaran, pemarah dan kaku sedangkan Keyna lebih tampak ketakutan dengan sikap Davin. Nyonya Jonathan tersenyum, anak laki-lakinya ini memang terbiasa bersikap kasar, bahkan meskipun tujuannya baik, Davin tetap membungkusnya dengan sikap kasar. Semoga saja Keyna menyadari dan terbiasa dengan sikap Davin.
 
Davin sudah membuatnya terkejut dengan bersikap baik kepada Keyna selama ini, meskipun masih kaku dan kadang sinis, anak lelakinya itu tampak sudah menerima kehadiran Keyna sebagai bagian dari mansion ini. Dari malam itu, sejak Davin menjemput Keyna dengan penuh tekad pada malam berhujan itu, anak lelakinya benar-benar memegang teguh pendiriannya bahwa dia akan menjaga Keyna dan menjadi kakak yang baik.
 
Meskipun mereka berdua tampak begitu serasi lebih dari pada kakak dan adik. Ditatapnya Davin yang begitu tampan, berdiri dan menggenggam jemari Keyna mengatur cara jemari Keyna menggenggam dengan baik, kemudian ditatapnya Keyna yang begitu cantik dibalik penampilan rapuhnya yang menyimpan kekuatan tersembuny itu. Mereka begitu cocok bersama, Nyonya Jonathan membatin, lalu tersenyum sendiri. Mungkin kalau tentang hal itu, lebih baik diserahkan kepada yang muda-muda saja untuk memutuskan...
 
***

Perjanjian Hati Part 7

 
Created On Bandung 25th,December 2012
 
Part 7
 
Senja bergayut berganti malam
Begitupun rasa hatiku kepadamu
Kau yang selalu ada, kau yang terbiasa ada,
 
Tiba-tiba kusadari,
Aku takut kalau kau jadi tak ada
Aku takut kehilanganmu
 
Wahai kau, sosok yang perasaanku kepadamu
tak terdeskripsikan oleh hatiku....
 
 
 
 Nessa tertegun. Menyadari kebenaran kata-kata Kevin. Benar juga. Dari awal alasan utama mereka menikah adalah demi menjaga perasaan mama Kevin, sekarang sang mama sudah tiada, tidak ada lagi alasan yang membuat mereka harus menikah. Tapi Nessa teringat kepada Delina yang mempercayakan Kevin kepadanya, kepada Ervan yang akhirnya mempercayai kalau Nessa dan Kevin saling mencintai, dan kepada ibunya yang begitu berbahagia karena Nessa akhirnya bisa menyembuhkan luka hatinya dan bertemu dengan jodohnya. Bagaimana perasaan mereka semua kalau menyadari bahwa Nessa dan Kevin telah membohongi mereka?
 
Kevin berdehem pelan, menggugah Nessa dari lamunannya,
 
"Tetapi tentu saja kita tidak bisa gegabah mengakhiri pernikahan ini....", Kevin menatap Nessa dalam-dalam, "Selain karena pernikahan ini baru sebentar, kita juga harus bisa memberikan alasan yang tepat kepada keluarga kita kenapa kita berpisah... jadi sementara ini, mungkin kita harus bertoleransi dan melanjutkan sandiwara pernikahan ini, kau tidak keberatan kan Nessa?"
 
Nessa tercenung, sebenarnya melanjutkan sandiwara pernikahan ini terasa sangat memberatkan, tetapi membayangkan bercerai diusia pernikahan yang masih sangat muda, belum lagi menjelaskan kepada semuanya terasa begitu berat. Nessa juga yakin bahwa berpura-pura melanjutkan pernikahan ini adalah yang terbaik,
 
"Ya... mungkin kita bisa menjalani seperti ini dulu sampai kita bisa menemukan alasan dan waktu yang tepat untuk berpisah."
 
Kevin menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum miring,
 
"Lagipula kita sepertinya nyaman menjalani pernikahan ini." senyumnya berubah menggoda, "Aku takut tiba-tiba kita sudah menjalani bertahun-tahun dan tetap belum menemukan alasan untuk berpisah., hmmm bagaimana kalau kita jalani pernikahan yang sesungguhnya saja?"
 
Nessa membelalakkan mata dan menatap Kevin dengan marah,
 
"Hentikan candaanmu itu."
 
"Aku tidak bercanda." senyum Kevin berubah sensual, "Kupikir aku cukup bisa menerima memiliki isteri sepertimu, dalam hal sebenarnya."
 
Wajah Nessa menjadi merah padam ketika berhasil mencerna kata-kata Kevin, lelaki ini benar-benar kurang ajar dan tidak tahu sopan santun. Kalau memang Nessa memiliki impian tentang seorang suami, pasti dia bukan tipe lelaki seperti Kevin!
 
***

Kamis, 03 Januari 2013

Perjanjian Hati Part 6

 
 
 
Bandung, December 24th 2012
 
Part 6
Aku pernah mencintaimu sampai terasa sakit luar biasa.
Sampai di titik sakitnya sudah tidak terasa lagi
Yang Tersisa cuma cinta, yang terasa cuma cinta....
Meski akhirnya yang aku dapat hanyalah pengkhianatan...
 
 
 
 
 
Kevin mengemudikan kendaraannya dengan kencang, mengumpat-umpat jika terkena kemacetan dan lampu merah, tetapi selain itu perjalanan lancar. Sambil mengemudi Kevin melirik ke arah Nessa, yang meremas-remas tangannya dengan cemas sambil memandang ke depan.
 
"Apakah Marcell serius dengan kata-katanya?"
 
Nessa menoleh menatap Kevin yang sudah mengalihkan pandangannya lagi ke jalan,
 
"Dia... dia terdengar gila dan putus asa."
 
Kevin menghela napas pendek, "Pasti gara-gara pernikahan kita ya?", lelaki itu mendengus kesal, "Dasar laki-laki tidak punya otak."
 
"Jangan mengata-ngatai orang."
 
Kevin menatap Nessa marah,
 
"Aku tidak salah bukan? dia memang tidak punya otak, tidak punya hati dan pengecut luar biasa. Dulu ketika ada kesempatan dia tidak memperjuangkanmu, sekarang ketika jelas-jelas dia kalah yang dilakukannya hanya merajuk dan mengancam bunuh diri, benar-benar lelaki tak punya otak!", Kevin mengencangkan laju mobilnya,
 
Nessa terdiam, tidak bisa membantah kata-kata Kevin karena semuanya mengandung kebenaran. Marcell dulu tidak berbuat apa-apa untuk memperjuangkannya. Lelaki itu hanya diam dan mencampakkannya dalam kehancuran. Sekarang, ketika baginya Nessa sudah termiliki oleh lelaki lain, Marcell menggila. Kenapa Marcell melakukan ini semua? benarkah ini didasari cinta Marcell yang masih tersimpan untuknya? atau ini hanyalah estimasi cemburu buta yang merenggut kewarasan lelaki itu?
 
***

Sabtu, 29 Desember 2012

Perjanjian Hati Part 5


Created On Bandung 23rd, December 2012

Part 5

Ketika kau harus memilih, mana yang akan kau pilih?
Seuatu yang ada dalam genggamanmu, tetapi masih kau ragukan
Atau sesuatu yang dulu pernah ada dalam genggamanmu, sempat terlepas, tetapi ingin kembali pulang?







Nessa ternganga, begitupun Delina dan Ervan yang ada di ruang tunggu iccu itu. Dengan gugup Nessa menelan ludah, menatap Kevin yang tampak begitu serius, menatap Delina dan Ervan yang mengamati mereka dengan penuh keingintahuan. Nessa bingung harus bicara apa. Kalau menurut kata hatinya, seharusnya dia langsung menolak mentah-mentah lamaran itu, bukankah saat ini mereka sedang mempersiapkan pernikahan yang hanya sandiwara? Kenapa Kevin melamarnya di sini, di depan kedua adik mereka? Bagaimana Nessa harus menanggapinya? dengan sungguh-sungguh atau bersandiwara?
 
"Kevin...?" Nessa bergumam lirih berusaha supaya tidak terdengar oleh Delina dan Ervan yang ada di ujung ruangan.
 
Kevin menatap Nessa dengan mata membara, tampak tersiksa,
 
"Please." Mulutnya membentuk permohonan tanpa bersuara.
 
Nessa menelan ludah lagi. Kevin pasti punya alasan melakukan ini, mungkin dia akan menjelaskannya nanti. Dan jika ternyata mereka salah arah, Nessa berharap Kevin bisa mengeluarkannya dari masalah ini.
 
Dengan menguatkan hati, Nessa menganggukkan kepalanya.
 
"Baik Kevin aku bersedia menikah denganmu."
 
Terdengar suara helaan napas Delina di sudut ruangan, lega. Sementara Nessa mencuri pandang ke ekspresi adiknya yang tercekat. Mungkin sama seperti dirinya, Ervan kaget dan tidak menyangka hubungan Nessa dan Kevin berkembang secepat ini.
 
Sedangkan Kevin, lelaki itu memejamkan matanya tampak lega luar biasa. Lalu dengan cepat, seolah takut Nessa berubah pikiran, dia menyelipkan cincin yang mereka beli barusan ke jemari Nessa,
 
"Itu jadi cincin pertunangan kita. Besok kita beli lagi cincin pernikahan.", bisiknya serak sambil mengecup jemari Nessa yang bercincin. Kevin lalu berdiri dari posisi berlututnya, tampak menjulang di depan Nessa, "Baiklah Nessa, karena kau telah menyetujuinya, kita akan menikah besok."
 
"Besok??!"

Pernikahanku bersama tukang pijit pribadiku :)

 
 
 
Ketika suamiku menikahiku dulu, di pesta pernikahan semua teman-temannya menggodanya, dan berkata :
 
"Wah sudah enak kamu ya wan, sekarang sudah ada yang mijit kalau capek."
 
Suamiku hanya menyenggolku pelan dengan sikunya, dan aku tersenyum malu-malu.
 
 
 
 
 
 
 

Pernikahan ini sudah berjalan lebih dari satu tahun. Kadangkala semua tidak berjalan mulus, tentu saja ada perbedaan pendapat, tetapi kami belajar untuk berkompromi. Terkadang kami harus duduk berdua mencoba memecahkan permasalahan pelik, terkadang kami hanya berpelukan, pasrah kepada jalan Allah ketika dirasa kami tak kuat lagi. Tetapi semua mendorong kami untuk lebih dewasa, lebih pengertian dan lebih berbesar hati. Pernikahan ini mengajarkan kami untuk saling menghargai dan mampu meminta maaf serta memberi maaf dengan tulus satu sama lain.
 
Tentang pijit memijit ..... sepertinya teman-teman suamiku salah. Bukannya suamiku yang selalu dipijit di saat kecapekan, tetapi ternyata pernikahan ini mengembangkan bakatnya sebagai tukang pijit pribadiku. Di saat tubuhku pegal-pegal sehabis naik motor pulang kantor, suamiku sudah siap dengan balsem di tangan dan pijitannya yang melemaskan otot-ototku, di saat hamil mudaku dulu sampai akhirnya keguguran, hanya pijitan suamiku di kakiku setiap malamlah yang bisa mengantarkanku tidur pulas, lepas dari sakit badan yang menderaku. Pun di saat aku demam, dia siap sedia memijit tubuhku yang panas membara sekaligus menggigil kedinginan, meringankan rasa nyeri yang menyelimuti tubuhku.
 
Senyumku selalu muncul setiap mengingat momen itu, dan tentu saja aku mensyukurinya. Pernikahan kami mungkin masih muda, belum sebanding dengan mereka yang sudah melalui tahun demi tahun, ditempa oleh berbagai gelombang tetapi mampu bertahan. Tetapi aku yakin, selama kami bisa saling ikhlas dan tulus untuk meringankan penderitaan satu sama lain - meskipun dengan perbuatan yang tampaknya sepele seperti memijit, tetapi memiliki dampak besar bagi hati - kami mungkin bisa menjadi pasangan yang berbahagia dan penuh syukur, sampai akhir nanti. ;)
 
*Terimakasih tukang pijit pribadiku, yang selalu siap dengan balsem di tangannya :*
 

Jumat, 28 Desember 2012

Perjanjian Hati Part 4

 
 
Created on Bandung, 22nd December 2012
 
Part 4
 
Pernikahan.... aku pernah mendengar suatu pepatah yang mengatakan:
"Janganlah kau menikahi seseorang yang menurutmu kau bisa hidup dengannya. Tetapi nikahilah seseorang yang menurutmu, kau tidak bisa hidup tanpanya"
 
 
 
 
 
 
 
Perempuan itu sangat cantik, duduk di sana di tengah kebun bunga sambil meminum tehnya dari cangkir yang elegan. Rambutnya disanggul dengan formal ke atas, dan gaunnya tampak sangat indah, berwarna hijau, menyatu dengan alam taman bunga di sekelilingnya. Mama Kevin dan Delina ini pasti sangat cantik di masa mudanya, karena bahkan di masa tuanyapun gurat-gurat kecantikannya masih menyisa di sana.
 
Mama Kevin mendongak ketika melihat Kevin datang bersama Nessa yang gugup, lalu senyum ramahnya mengembang.
 
"Silahkan duduk." gumamnya menyilahkan sambil mengedikkan bahu dengan lembut pada kursi di depannya.
 
Dengan tenang Kevin menarikkan kursi untuk Nessa, dan duduk di sebelahnya.
 
"Mama tidak masuk angin, minum teh sore-sore di luar seperti ini?"
 
Sang mama tersenyum lembut dan menatap Kevin dengan sayang,
 
"Mama cukup kuat kalau hanya duduk-duduk di luar Kevin, lagipula mama bosan kalau di dalam terus, pemandangan taman ini di sore hari sangat indah, sayang untuk dilewatkan."
 
Mama Kevin benar. pikir Nessa mengiyakan. Pemandangan taman ini tampak luar biasa, dengan dedaunan yang rimbun dan tertata rapi serta bunga-bunga dan rumput hijau yang mengelilingi, ditambah lagi kolam ikan yang cantik dengan gemericik air terjun buatan yang mendamaikan suasana. Nessa dengan senang hati akan rela melewatkan waktunya untuk duduk-duduk di taman ini menikmati keindahan suasananya.
 
Tak disadarinya mama Kevin mengamati Nessa dengan penuh perhatian. Ketika Nessa tersadar, dia langsung bergumam gugup menyadari ketidaksopanannya karena langsung duduk dan melamun, bukannya memperkenalkan diri,
 
"Eh, maaf... saya... saya Nessa.", gumam Nessa sambil mengulurkan tangannya gugup.
 
Mama Kevin menyambut uluran tangan Nessa, tampak geli melihat kegugupan Nessa,
 
"Dan perkenalkan aku mamanya Kevin dan Delina." dia melirik Kevin penuh arti, "Begitu mendengar tentangmu dari Kevin dan Delina, aku benar-benar didera rasa ingin tahu."

Kamis, 27 Desember 2012

Seandainya aku tahu

 

Aku sangat mencintai isteriku, dengan caraku sendiri. Mungkin semua orang yang melihatku hanya akan menyimpulkan bahwa aku adalah lelaki pendiam yang kaku. Tetapi mereka pasti tak akan menyangka betapa dalamnya cintaku kepada isteriku, begitu pula sebaliknya. Kami pasangan bahagia, saling mencintai, sampai nanti.
 




Isteriku. Dia perempuan yang cantik dan baik hati. Menerimaku apa adanya, dan merawat kedua anak kami yang lucu-lucu dengan sepenuh hatinya. Terkadang aku begitu tersentuh ketika aku pulang dari pekerjaanku di malam hari, dia sudah menunggu dengan secangkir teh hangat dan pelukannya yang tak kalah hangatnya, membuatku lupa akan keletihanku bekerja seharian. Ah, berapa berharganya dia untukku.
 
Pekerjaanku sebagai staff di sebuah retail Supermarket terbesar di Jawa membuatku mengorbankan banyak waktu pribadiku demi pekerjaan. Tetapi aku bersemangat melakukannya. Demi isteriku, demi keluargaku. Aku pikir aku harus bekerja keras sekarang, mumpung aku masih muda, supaya nanti di masa tua kami sekeluarga bisa hidup tenang dan berkecukupan, tak perlu membanting tulang lagi untuk hidup. Setiap aku kelelahan bekerja, kubayangkan wajah isteriku, kubayangkan masa depan kami ketika kami mapan dan berkecukupan. Dimana kami berdua nanti bisa punya banyak waktu bersama-sama.
 
Malam itu aku pulang jam sebelas malam, Supermarket sangat ramai tadi menjelang tutup tahun, sehingga semua karyawan harus siap lembur sampai tutup toko. Kubuka pintu rumah, ruangan sudah gelap. anak-anak pasti sudah tidur, tiba-tiba batinku terenyuh membayangkan wajah si bungsu yang baru berumur 2 tahun, betapa jarang aku menggendongnya karena kesibukanku. Si sulungpun tak ada bedanya, kami menjadi tidak akrab, karena pagi hari aku sudah berangkat sebelum dia bangun dan ketika aku pulang dia sudah tidur. Kebersamaan kami hanyalah di hari minggu yang singkat, bahkan kadang aku harus mengorbankan hari mingguku untuk masuk kerja kalau ada keadaan darurat.
 
Kutemukan isteriku tertidur di ruang tamu, menungguku. Kudekati dia dan kutatap wajah damainya dalam tidur, lalu kukecup keningnya lembut. Ah, Ya Allah. Aku mencintainya dan terus menerus  merindukannya, pekerjaan ini telah sedemikian menyita waktuku hingga kadang-kadang aku merindukan saat-saat bersamanya, mencurahkan kasih dan cintaku kepadanya sebebas-bebasnya seperti waktu dulu. Tetapi kutegarkan hatiku. Ini semua demi mereka, keluargaku. Demi kebahagiaan mereka di masa depan.
 
Aku bekerja keras sekarang demi kemudahan di masa depan nanti. Tidak apa-apa sekarang aku kehilangan saat-saat bersamaku dengan keluargaku, nanti pasti bisa kutebus kalau karirku sudah meningkat dan kami sudah lebih mapan. Bukankah orang selalu bilang kita lebih baik bersakit-sakit dahulu dan bersenang-senang kemudian?
 
***
 
Telepon di ruanganku berbunyi, dan aku mengangkatnya, suara kakak iparku terdengar di seberang.
 
"Bisa izin dari tempat kerja? Anita kecelakaan di jalan....."
 
***
 
Aku terpekur menatap jenazah yang dibaringkan di ruang tamu itu. Dadaku terasa kosong dan hampa. Bahkan air mataku sudah tak bisa keluar lagi karena kesedihanku sudah mencapai puncaknya, tak tertahankan.
 
Isterikulah yang terbaring tak bernyawa di sana. Sebuah mobil menyerempetnya ketika dia hendak menjemput anakku dari SD-nya. Aku bahkan tidak sempat menemani isteriku disaat-saat terahkirnya, karena isteriku menghembuskan napas terahkirnya di rumah sakit, ketika aku sedang berjuang menembus kemacetan jalanan dari tempat kerjaku.
 
Lalu tiba-tiba air mataku menetes, air mata pertama sejak tragedi ini menimpaku. Dan kemudian seperti bendungan yang bocor, air mata itu mengalir tanpa henti, membuat aku sampai membungkuk, berlutut di depan jenazahnya dengan isak keras tak tertahankan. Ya Allah, Ya Allah, hamba tidak kuat Ya Allah.... sedu sedanku menyayat perih, seperih luka hatiku yang berdarah sedih.
 
Seandainya aku tahu waktuku bersama isteriku begitu pendek, akan kucurahkan seluruh kasih sayangku untuknya. Akan kuberikan semua waktuku untuk memujanya, membuatnya bahagia, membuatnya menyadari bahwa dia begitu dicintai. Seandainya saja aku tahu bahwa hari esokku bersama isteriku tak lagi datang, tak akan kusia-siakan waktuku untuk semua pekerjaan dan rencana-rencana masa depan kami yang sekarang tak mungkin terwujud lagi. Tetapi penyesalan memang selalu datang terlambat, dan manusia seperti aku hanya bisa berandai-andai.
 
Ya Allah... Seandainya saja aku tahu....
 
End
 
*Cintailah kekasihmu, seolah-olah dia akan mati besok pagi. Setidaknya ketika  ternyata kau benar-benar kehilangannya, kau tak akan dipenuhi penyesalan dan berandai-andai.