Jumat, 18 Januari 2013

Sweet Enemy Part 2

 
 
Keadaan makin buruk ya." Sefrina duduk di sebelah Keyna di kelas sambil menatap ke sekeliling, beberapa orang tampak langsung berbisik-bisik melihat Sefrina mendekati Keyna.
 
Keyna menoleh ke arah Sefrina dan tersenyum sedih, "Maafkan aku."
 
"Tidak perlu minta maaf." Sefrina terkekeh, "Pendapat orang-orang yang picik dan dangkal sama sekali tidak mempengaruhiku. Aku senang dengan yang kulakukan, lagipula aku dulu sama sepertimu, tidak punya teman."
 
Keyna menoleh ke arah Sefrina dan menatap dengan tertarik, "Benarkah?" Mana mungkin orang secantik Sefrina dan tampak jelas dari keluarga berkelas pula bisa merasakan tidak punya teman?
 
"Aku dulu sering sakit-sakitan dan tinggal kelas. Pada akhirnya aku harus diam di dalam rumah dan menjalani perawatan." Mata Sefrian menerawang jauh, "Dan kemudian teman-temanku hanyalah para dokter dan perawat dan hilir mudik."
 
'Kau sakit apa?"
 
"Bukan sakit yang penting." Sefrina memalingkan muka dan menatap buku di tangannya, "Sekarang aku sudah sembuh, dan aku masih tidak suka membicarakannya." Lalu perempuan itu menatap Keyna dengan mata bulatnya yang begitu bening, "Maafkan ya."
 
Keyna langsung luluh dan tersenyum pengertian pada Sefrina, "Tidak apa-apa. Yang penting sekarang kau sudah sembuh."
 
"Ya. Aku senang bisa berteman denganmu Keyna." jawab Sefrina, setengah berbisik.
 
***

Kamis, 17 Januari 2013

Menghitung Hujan Part 3

Mencintaimu itu sama seperti bernapas
Terjadi begitu saja, tak tertahankan
Bahkan sebelum aku menyadarinya
Aku sudah jatuh cinta padamu
Dan aku mau menunggu
Aku mau menunggu untukmu
Meskipun itu berarti : Selamanya

"Aku harus pergi." Reno menatap sedih ke arah Diandra, yang sedang merapikan pakaian-pakaian Reno dan memasukkannya ke dalam tas.
Jemari Diandra berhenti sejenak, kemudian melanjutkan memasukkan pakaian-pakaian Reno, kali ini jemari itu bergetar,
"Mencari perempuan itu?"
Reno menghela napas panjang, "Maafkan aku Diandra."
"Tidak." Suara Diandra pecah oleh tangis, "Bagaimana mungkin aku memaafkanmu? Kau meninggalkan aku untuk mengejar perempuan lain, seorang perempuan yang bahkan belum pernah kau temui hanya karena mimpi-mimpimu."
"Mimpi-mimpi itu nyata Diandra, dan perempuan itu juga, begitu juga jantung yang sekarang berdetak di dadaku ini."
Diandra mengusap air matanya dan menatap Reno dengan pilu,
"Tidakkah kau mencintaiku Reno? Tidakkah kau mengenang masa kita bersama dulu? Aku selalu mencintaimu, bahkan sejak kita kecil. Aku selalu mendampingimu, di saat-saat sulit sekalipun, percaya bahwa masih ada masa depan untuk kita.... apakah kau tega membuang itu semua?" suara Diandra terisak-isak tak kuasa menahan perasaannya.
Hal itu membuat Reno mengernyitkan dahi, mencoba menekan rasa bersalahnya. Perempuan ini tidak terbantahkan adalah pasangan yang sempurna, sangat tulus mencintainya dan selalu bersamanya di saat dia sakit. Tentu saja Reno merasakan rasa bersalah yang luar biasa karena mencampakkannya seperti ini, dia bukannya tidak punya perasaan, masalahnya... jantung ini... jantung ini tidak menginginkan Diandra, dan selalu memanggil-manggil perempuan lain, perempuan itu, yang selalu muncul di dalam mimpinya.
"Aku tidak tahu harus berkata apa." Reno meremas rambutnya frustrasi, "Aku tidak bisa berkata apapun selain maaf..."
"Katakan kalau kau mencintaiku Reno..." tatapan Diandra penuh permohonan, penuh air mata.


Rabu, 16 Januari 2013

Menghitung Hujan Part 2

Jantungku ini berdetak untukmu. Kau dengar itu kekasih?
Setiap degupnya meneriakkan namamu.
Setiap detaknya memanggil-manggil dirimu.
Aku merindukanmu.
Dimanakah kau, kekasih?
Aku rindu menikmati helaan napas dan irama jantung yang berpadu.
Kau dan aku. Satu.
"Namanya Rangga." Nana tersenyum mengenang. "Dan aku akan selalu mencintainya."
Mereka duduk di sudut warung kopi yang biasa, hujan di luar tidak deras, hanya rintik-rintik yang menyenangkan untuk dipandang. Nana merenung sambil memandangi tetes demi tetes hujan yang membentuk gumpalan serupa air mata di kaca, menghitungnya dengan seksama. Hari itu Nana bercerita tentang masa lalunya, tentang Rangga, kekasih sejatinya yang direnggut sehari sebelum pernikahannya.
Reno mengamati Nana, "Aku ikut sedih atas kehilanganmu Nana."
"Tidak apa-apa. Rangga akan selalu hidup di sini." Disentuhnya rongga dadanya, tempat jantungnya berada. Rangga memang sudah meninggal, jantungnya sudah tak berdetak lagi untuk Nana seperti janjinya. Tetapi jantung Nana masih berdetak untuk Rangga, semoga selamanya.
***

Menghitung Hujan Part 1



Menghitung tetes demi tetes yang tiada habisnya. Sendirian...
Karena kau tak pernah ada. Karena kau tak pernah sadar. Karena kau selalu tiada.
Tahukah kau setiap hari aku menghitung hujan yang turun?
Menghitung tetes demi tetes, cintaku padamu yang mulai berhamburan
Berhamburan jatuh dan menghilang ditelan bumi

"Bersamamu selalu menyenangkan." Nana merebahkan kepalanya ke pundak Rangga. Tersenyum sambil menatap hujan yang turun. "Jangan tinggalkan aku ya."

Rangga tersenyum dan mengecup dahi Nana,

"Tidak akan."

"Apakah kita bisa begini selamanya?"

"Selamanya sayang, yakinlah kepadaku."

"Kau tidak menyesal melamarku padahal aku belum lulus kuliah?"

Rangga tersenyum lembut,

"Kenapa tidak? Kau bisa menikah, dan tetap kuliah."

"Benar juga." Nana tertawa, "Tetapi hanya kau yang bekerja untuk rumah tangga kita nanti."

"Siapa bilang?" Rangga mengerutkan keningnya, pura-pura tampak serius. "Aku akan menagihkan semua pengeluaran yang kukeluarkan untukmu begitu kau lulus kuliah dan menerima gaji pertama di pekerjaanmu."

Mereka lalu tertawa bersama, sambil menatap hujan turun.

"Aku mencintaimu Nana. Aku berjanji akan membahagiakanmu, sekarang, ataupun nanti setelah kita menikah. Apapun yang terjadi, kau harus tahu. Jantungku ini akan selalu berdetak, hanya untukmu."

***

Rabu, 09 Januari 2013

Perjanjian Hati Part 9 - End

 
 
 
Created On Bandung 28th December 2013
Part 9
Kadangkala cinta yang kau nanti
Sudah ada dalam genggaman tanganmu
Hanya saja kau belum menyadarinya :)
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Nessa merasakan napasnya sesak ketika air laut mulai menenggelamkannya, asin yang panas memasuki tubuhnya, membuatnya megap-megap mencoba meminta pertolongan untuk terakhir kalinya, lalu semuanya hampir terasa gelap.
 
Lalu lengan kuat itu mengangkatnya, menempelkan tubuh lemasnya ke dada telanjangnya yang keras. Aroma itu.. aroma parfum yang sangat dikenalnya...  Kevin? Nessa tersenyum dalam hati, menyadari Kevin telah menyelamatkannya. Lalu kesadarannya hilang.
 
***

posting perjanjian hati

dear

Buat semua yang nunggu
perjanjian hati part 9 End akan diposting jam 6, maksimal jam 6.30 yaa
aku baru selesai meeting seharian ini jd baru bisa buka draftnya huhuhu
ini diedit dulu dan disiapkan untuk posting ya
InsyaAllah jam 6 sd 6.30 sudah dipostingkan
maapkan yah telat :)

*peluk sayang semuanya

Senin, 07 Januari 2013

Perjanjian Hati Part 8

 
Created on Bandung, 26th, December 2012

Part 8

Ketika kau mencintaiku,
aku akan selalu ada di hatimu
Pun ketika kau membenciku,
aku akan selalu ada di pikiranmu

Pada akhirnya,
Aku akan selalu ada








Nessa menatap kepergian Paula dengan langkah anggun dan dramatis itu, lalu menghela napas panjang. Di sisi lain Kevin malahan mengamati Nessa, lalu terkekeh geli, membuat Nessa melemparkan pandangan membunuh kepada lelaki itu,
 
"Kenapa kau tertawa?"
 
Kevin bahkan makin tergelak, "Kau. Kau membuatku tertawa. Caramu menjawab pertanyaan Nessa tadi membuatku sedikit bangga. Ternyata isteriku rela mempertahankanku dari rayuan perempuan lain."
 
"Jangan salah paham. Aku cuma tidak suka sikapnya yang merayumu terang-terangan, padahal ada aku di sebelahmu.", Nessa melirik ke arah Delina dan Ervan yang juga tersenyum-senyum mendengar percakapan mereka. Sialan Kevin! pasti sekarang Delina dan Ervan mengira dia cemberut dan marah-marah karena cemburu.
 
Kevin mengikuti arah mata Nessa, menyadari bahwa Delina dan Ervan mendengarkan percakapan mereka. Dia lalu mengedipkan mata ke arah Nessa, mengirimkan isyarat bahwa percakapan ini belum selesai, kemudian melangkah menuju mobil.
 
***