Keadaan makin buruk ya." Sefrina duduk di sebelah Keyna di kelas sambil menatap ke sekeliling, beberapa orang tampak langsung berbisik-bisik melihat Sefrina mendekati Keyna.
Keyna menoleh ke arah Sefrina dan tersenyum sedih, "Maafkan aku."
"Tidak perlu minta maaf." Sefrina terkekeh, "Pendapat orang-orang yang picik dan dangkal sama sekali tidak mempengaruhiku. Aku senang dengan yang kulakukan, lagipula aku dulu sama sepertimu, tidak punya teman."
Keyna menoleh ke arah Sefrina dan menatap dengan tertarik, "Benarkah?" Mana mungkin orang secantik Sefrina dan tampak jelas dari keluarga berkelas pula bisa merasakan tidak punya teman?
"Aku dulu sering sakit-sakitan dan tinggal kelas. Pada akhirnya aku harus diam di dalam rumah dan menjalani perawatan." Mata Sefrian menerawang jauh, "Dan kemudian teman-temanku hanyalah para dokter dan perawat dan hilir mudik."
'Kau sakit apa?"
"Bukan sakit yang penting." Sefrina memalingkan muka dan menatap buku di tangannya, "Sekarang aku sudah sembuh, dan aku masih tidak suka membicarakannya." Lalu perempuan itu menatap Keyna dengan mata bulatnya yang begitu bening, "Maafkan ya."
Keyna langsung luluh dan tersenyum pengertian pada Sefrina, "Tidak apa-apa. Yang penting sekarang kau sudah sembuh."
"Ya. Aku senang bisa berteman denganmu Keyna." jawab Sefrina, setengah berbisik.
***

