Selasa, 30 Juli 2013

Another 5% Part 20



Ketika Selly membuka matanya, dia berada di sebuah kamar. Kamar yang indah bernuansa cokelat lembut. Selly tergeragap dan langsung terduduk dengan bingung.

Dimanakah dia?

“Kau sudah bangun.” Suara itu tiba-tiba saja muncul dari ujung ruangan, membuat Selly terperanjat dan tergeragap kebingungan. Dia menoleh dan mendapati Gabriel berdiri di sana, mengamatinya dengan tatapan intensnya yang tajam.

“Sir?” Selly mengerutkan keningnya, kebingungan meliputinya, berusaha mengumpulkan kenangan, kenapa dia bisa tiba-tiba berada di dalam sebuah kamar bersama bosnya itu. Tetapi bagaimanapun Selly mencoba, yang diingatnya hanyalah dia sedang menangis di sofa rumahnya.

Bagaimana bisa dia berada di sini?

Jumat, 26 Juli 2013

Embrace The Chord Part 16



Rachel terpana, merasakan pelukan Jason yang sedemikian erat di tubuhnya. Lengan kuat Jason melingkarinya, seakan ingin meremukkannya. Tetapi dibalik kekuatan pelukannya, Rachel merasakan ada kerapuhan yang dalam di sana. Kerapuhan yang tidak pernah ditunjukkan oleh Jason sebelumnya, sisi lain yang baru diketahui oleh Rachel. Jason benar-benar manusia dengan kepribadian yang amat sangat kompleks, di satu waktu, Rachel merasa sudah mengenali lelaki itu, tetapi kemudian di waktu yang lain, Jason tiba-tiba saja menguakkan lapisan kepribadiannya yang lain, membuat Rachel terkejut. 

Seperti sekarang. Jason memeluknya, tampak rapuh... bagaikan bocah kecil yang meminta perlindungan kepada ibunya, meminta dikuatkan.

Didorong oleh perasaannya, Rachel menggerakkan jarinya, semula ragu, tetapi kemudian dia melingkarkan lengannya di punggung Jason, membalas pelukannya, jemarinya kemudian bergerak dan mengusap punggung Jason, berusaha memberikan ketenangan.


Kamis, 25 Juli 2013

EPILOG : Crush In Rush



Kiara sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Kondisi tubuhnya sudah membaik dan dokter memastikan dia akan sehat-sehat saja ke depannya. Saat ini dia sedang duduk di samping ranjang, sudah mengenakan pakaian rapi dengan koper yang sudah siap di atas ranjang.

Dia menunggu Joshua yang akan menjemputnya.

Suara ketukan di pintu membuat Kiara menoleh penuh harap, tetapi bukan Joshua yang datang melainkan Jason.

Lelaki itu tersenyum, dan melangkah masuk ke ruangan duduk di kursi depan Kiara.

"Menunggu Joshua?"

Kiara menganggukkan kepalanya, tersenyum ke arah Jason.

Selasa, 23 Juli 2013

The Vague Temptation Part 11 [ revisi resolusi picture soalnya banyak yg ga bisa buka ]



Pagi harinya, seperti biasa Alexa menuju dapur untuk sarapan sebelum berangkat bekerja. Dan seperti kemarin, dia mendapati Nathan sudah ada di dapur, menyantap menu yang sepertinya makanan kesukaannya, pasta sayuran dengan saus keju dan mayones.

Nathan mengangguk kepadanya dan tersenyum lebar, "Selamat pagi Princess."

Pipi Alexa langsung memerah, ini kedua kalinya Nathan memanggilnya dengan sebutan Princess, membuatnya merasa sedang berhadapan dengan pangeran tampan yang baik hati dan sempurna, dengan senyum ramahnya yang lembut. Nathan selalu tampak baik dan murah senyum kepadanya, seolah-olah dia mengisyaratkan bahwa dirinya tidak berbahaya untuk Alexa.

"Selamat pagi." Alexa menatap Nathan dengan malu-malu, "Kau selalu bangun pagi-pagi sekali sepertinya."

Another 5% Part 19



Rolan begitu terkejut melihat asap membumbung tinggi dan menghitam di bagian belakang rumah sakit. Perhatiannya langsung teralihkan. Dia teringat bahwa sayap untuk menampung pasien-pasien kanker berada di sisi belakang rumah sakit tersebut.

Dia membalikkan badan dan berlari menelusuri lorong-lorong rumah sakit, menuju sisi belakang. Dan kemudian Rolan tertegun.

Seluruh bagian sayap rumah sakit itu sudah terbakar habis, asap hitam membumbung dari lorong, menciptakan hawa panas membakar yang menyesakkan dada. Orang-orang berkerumun di depan lorong rumah sakit itu dengan wajah kebingungan.

“Kami tidak tahu kenapa tiba-tiba ada api, ada delapan belas pasien yang dirawat intensif di bagian kanker ini dan entah kenapa mereka semua bisa terbaring di luar sayap yang terbakar ini, mereka tidak ingat apa yang terjadi seolah-olah mereka dipindahkan dalam sekejap.”

Minggu, 21 Juli 2013

Another 5% Part 18



Supir itu menjalankan mobilnya dengan tenang menembus kemacetan jalan raya, sementara Selly duduk di bangku belakang mobil, merasa sedikit canggung duduk bersebelahan dengan Gabriel.

Gabriel sendiri memilih terdiam dan menatap lurus ke depan. Lelaki itu tampak geram, entah kenapa.

“Selly,”

Tiba-tiba Gabriel memanggil nama Selly membuat Selly hampir saja terlonjak karena kaget.

Selly mendongak, menatap mata Gabriel yang tajam, bertanya-tanya apa yang berkecemuk di benak atasannya itu sehingga lelaki itu tampak begitu marah.

“Ya?”

Embrace The Chord Part 15



Rachel duduk di cafetaria kantin sambil menyesap kopinya, jemarinya bergetar dan perasaannya bergemuruh. Ekspresi sedih Jason tadi benar-benar tak terlupakan, sarat dengan kesedihan hingga Rachel tidak berani mendekati lelaki itu dan memilih melarikan diri ke lantai bawah, menyesap kopi untuk menenangkan dirinya.

Ponselnya berbunyi, dan dia melihat nama Calvin di sana. Calvin.... Rachel hampir-hampir melupakan Calvin, bukan karena perasaannya mulai pudar tetapi karena setelah insiden itu Calvin benar-benar menghilang dari kehidupannya, seolah-olah lelaki itu menghindari Rachel.

Hal itu membuat Rachel bertanya-tanya. Kenapa Calvin menghindarinya? Apakah karena lelaki itu marah kepadanya? Karena dia mengira - setelah melihat Jason dan Rachel berciuman - bahwa Jason dan Rachel menjalin hubungan cinta? Calvin sudah jelas-jelas menunjukkan ketidak setujuannya akan hubungan Rachel dengan Jason, lelaki itu memang menghormati dan mengagumi Jason dari permainan biolanya, tetapi Calvin mencemaskan reputasi Jason sebagai penghancur perempuan.

Seandainya saja Rachel bisa mengungkapkan kepada Calvin bahwa hubungannya dengan Jason hanyalah sandiwara, mungkin dia bisa menghilangkan kecemasan Calvin... sayangnya dia tidak bisa melakukannya.

"Rachel?" Suara Calvin terdengar di sana, memanggil-manggil Rachel yang masih melamun dan membuat Rachel mengerjapkan kedua matanya.

"Iya Calvin? Kau di mana saja? Rasanya sudah lama sekali kita tidak bicara." Rachel merindukan Calvin tentu saja.