Kemarin, seorang sahabat meminta tolong kepadaku untuk membuat sebuah oneshoot fanfiction :)
aku mempostingnya di sini juga tetapi tentu saja dengan nama cast yang sudah kusesuaikan.
Ceritanya sederhanya, karena dimaksudkan hanya sebagai oneshoot saja,
Tidak menutup kemungkinan cerita ini dikembangkan sendiri oleh masing-masing yang terinspirasi, silahkan mari berkreasi sebebas-bebasnya :)
Ahkirnya, Semoga bisa menjadi hiburan yah *peluk erat semuanya*
“Itu dia orangnya baru datang”, Erland menunjuk dari jendela di lantai paling atas mansion itu , “Dia anak miskin itu, yang dipungut oleh mama Davin ”
“Mana?” Jason ikut-ikutan mengintip di jendela
dan mengernyit, “Sepertinya dia biasa-biasa saja? Apa yang membuat mama Davin memungutnya?”
“Karena dia anak kesayangan di sekolah yang
didirikan oleh mama Davin, nilai-nilai pelajarannya paling sempurna, dan
otaknya jenius, meskipun dia datang dari keluarga miskin, dengar-dengar ayahnya
baru meninggal karena kecelakaan di tempat kerja, dan dia tidak punya siapa-siapa lagi,
karena itulah Nyonya Jonathan memutuskan menjadi penyandang dananya”
Jason melirik ke arah Davin yang tampak tidak
tertarik, sedang menenggelamkan diri dalam buku bacaanya. Lelaki itu tampak
begitu dingin, muram dan tidak tersentuh, hanya beberapa orang yang bisa
berdekatan dengannya, Jonathan Davin putera dari konglomerat nomor satu di
negara ini, Jason dan Erland adalah sebagian yang beruntung. Mereka dekat bukan
karena Davin membuka diri, tetapi karena kedua orangtua mereka memang
bersahabat dan mereka sudah berkenalan sejak kecil.
Davin bukanlah orang yang dekat dengan kedua
orangtuanya. Papanya tidak pernah ada di mansion, sibuk dengan bisnisnya, dan
Mamanya lebih senang berkeliaran di luar dengan kegiatan amal dan kebaikan
hatinya, merasa bahagia karena dipuja orang sebagai pribadi yang darmawan.
Meskipun Davin sangat menghormati kedua orang tuanya itu
Dan Keyna, orang yang mereka bicarakan itu
tentunya menjadi subjek terbaru mamanya
untuk menuai pujian dari semua orang. Davin mengernyit kesal. Mamanya selalu
membuatnya repot, dan sekarang, dia menampung anak gelandangan itu di sini, di mansionnya.
Davin harus selalu berinteraksi dengan anak gelandangan dari keluarga miskin
itu.
“Tapi dia cantik”, Jason bergumam lagi, kali
ini mengamati dengan lebih intens, “Davin, kau benar-benar tidak ingin
melihatnya?”
“Tidak.”, Davin mengangkat kepalanya dari buku,
merasa terganggu karena kedua temannya itu mengganggu konsentrasinya membaca,
“Toh aku akan bertemu dengannya nanti, dia akan tinggal di mansion ini.”
Erland mengernyit, “Mamamu memutuskan supaya
dia tinggal di mansion keluarga Jonathan?
Aku pikir dia hanya akan menanggung biaya hidup dan pendidikannya.”
“Keyna tidak punya rumah, karena ayahnya begitu
miskin dan tidak mampu membayar hutang, rumah mereka disita oleh Bank, karena
itu mama memutuskan menempatkannya di sini”, Davin mencibir, membayangkan
betapa senangnya Keyna mendengar keputusan mamanya. Anak gelandangan itu pasti
tidak akan melepaskan kesempatan sekalipun supaya bisa tinggal di mansion
mewah, mansion keluarga Jonathan.
Tinggal tunggu waktu saja sebelum anak gelandangan itu mencoba menggerogoti
harta namanya. Semua orang sama, semuanya mengincar harta keluarga Jonathan. Begitupun
anak gelandangan itu, Davin sangat yakin Keyna punya rencana buruk untuk
menggerogoti kekayaan keluarganya.
“Kau tidak menyukainya ya?” Jason menangkap
sorot kebencian di mata Davin.
Dengan acuh Davin mengangkat bahunya, “Aku
tidak suka semua gelandangan miskin pengincar harta.”
Jason dan Erland saling melemparkan pandangan
tahu sama tahu, akan gawat bagi Keyna, kalau Davin tidak menyukainya. Karena Davin
terkenal kejam dan tak berbelas kasihan kepada orang-orang yang tidak dia suka.
***





