Sabtu, 21 Desember 2013

Another 5% Part 22 (End)


Selly masih terperangah sampai sekian lama setelah Gabriel meninggalkannya, dia gemetar. Tetapi bukan hanya itu, jantungnya berdebar kencang.

Apakah Gabriel telah berhasil mempengaruhinya? Apakah kenyataan bahwa lelaki itulah yang telah menolongnya di tengah hujan badai telah membuat segalanya berubah?

Bagaimana dengan Rolan? Meskipun lelaki itu berkali-kali menyakiti dan mengingkari janjinya, bukankah dia adalah cinta sejati Selly. Selly telah bertahun-tahun hidup dengan kesadaran bahwa dia mencintai Rolan.

Dia mencintai Rolan bukan?

Selly menelan ludahnya, merasakan kebingungan yang menyesakkan dada.


***

“Lepaskan dia.” Gabriel langsung bergumam ketika melihat Carlos, “Kurasa tidak ada gunanya aku menahan Selly di sini, aku tidak akan bertarung dengan Rolan, jadi antarkan dia dengan selamat ke rumahnya dan kemudian berkemaslah, kita akan kembali ke Spanyol.”

Carlos mendongakkan wajahnya, menatap Gabriel dengan ragu.

“Apakah anda bersungguh-sungguh dengan apa yang anda katakan?”

Gabriel tercenung, “Aku selalu bersungguh-sungguh dengan setiap kalimatku, Carlos.”

‘Tetapi... bertahun-tahun anda merencanakan ini, perang melawan kekuatan terang....”

“Aku melawan kekuatan terang karena mamaku. Mungkin dendamku lebih kepada Matthias. Bertahun-tahun aku mencoba melawannya, tetapi selalu gagal karena kekuatan kami sama. Dan kemudian Matthias melakukan hal yang sama sekali tidak aku duga, menyerahkan kekuatannya kepada Rolan. Semula aku berpikir bahwa aku juga harus melenyapkan Rolan. Tetapi aku sadar, dendam ini tidak akan ada gunanya. Matthias sudah mati di tanganku dan itu cukup.”

Lama Carlos hanya diam, mengamati ekspresi Gabriel, dan kemudian pada akhirnya dia berani bergumam.

“Anda mencintai perempuan itu bukan?”

Kata-kata Carlos membuat Gabriel membeku, ketika kemudian dia menatap ke arah Carlos dengan tatapan keras.

“Apa bedanya, Carlos?”

“Tentu saja ada.” Carlos menghela napas panjang, “Anda membuang dendam anda selama ini untuk melindungi perempuan itu dan menjaganya agar tetap hidup.”

“Dan biarkan saja tetap seperti itu. Lakukan saja apa yang kuperintahkan, Carlos.” Suara Gabriel tak terbantahkan, lelaki itu memasuki ruang kerjanya dan membanting pintunya di depan muka Carlos.

Sementara itu Carlos termenung. Jadi karena ini. Karena inilah kekuatan Gabriel tidak mempan kepada Selly. Mungkin sudah sejak awal Selly diakdirkan menjadi cinta sejati Gabriel. Semula Carlos mengira kekuatan Gabriel tidak mempan karena Selly adalah cinta sejati Rolan, memang hal itu tidak bisa dipastikan karena belum pernah ada referensi dari sang cinta sejati ini. Para pemegang kekuatan sebelumnya setahu Carlos, selalu menjadi pemegang kekuatan setelah kehilangan cinta sejatinya, atau dikutuk dengan hati yang kelam sehingga tidak bisa menemukan cinta sejatinya.

Yang jadi pertanyaan sekarang adalah, kekuatan Rolan juga tidak mempan kepada Selly. Jadi Selly ini sebenarnya cinta sejatinya siapa?

***

Carlos memasuki kamar Selly beberapa saat kemudian, wajahnya seperti biasa, tanpa ekspresi.

“Saya diperintahkan untuk melepaskan anda.”

Hal itu benar-benar membuat Selly terkejut, Gabriel memang mengatakan bahwa dia akan melepaskannya, tetapi benarkah semudah itu?

“Apakah Gabriel melepaskanku?”

Ada sesuatu yang tersirat di balik tatapan mata Carlos yang muram.

“Ya Nona, dia melepaskan anda. Saya akan mengantarkan anda pulang dan anda bisa kembali ke rumah dengan selamat, kembali kepada kehidupan anda yang normal dan melupakan kami. Kami akan menghilang dari kehidupan anda.”

Selly terperangah, “Apakah maksudmu, Gabriel membatalkan pelampiasan dendam dan pertarungannya dengan Rolan? Dia membatalkan keinginannya untuk menguasai dan merusak dunia?”

Carlos mengerutkan keningnya ketika mendengar kata-kata Selly, “Siapa yang mengatakan kepada anda bahwa tujuan tujuan tuan Gabriel adalah merusak dan menguasai dunia? Anda pasti menyimpulkan sendiri.” Carlos menghela napas, “Tujuan tuan Gabriel adalah membalaskan dendam atas  kematian mamanya, dendam yang ditorehkan oleh Matthias, pemegang kekuatan sebelumnya, kepada hatinya yang waktu itu masih berupa anak kecil.”

“Apa?” Selly membelalakkan mata, bingung dengan perkataan Carlos.

“Ya. Saat mama tuan Gabriel memberikan kekuatannya, tuan Gabriel masih terlalu muda untuk menggunakannya dengan sempurna.”

“Mama Gabriel adalah pemegang kekuatan sebelumnya?” Selly membelalakkan matanya.

“Ya. Sayangnya beliau gegabah karena mewariskan kekuatannya kepada tuan Gabriel yang ketika itu masih terlalu muda. Dan oleh karena suatu alasan, mama tuan Gabriel pada akhirnya sekarat karena penyakit kanker ganas yang menggerogotinya begitu saja.” Mata Carlos meredup, “Para pemegang kekuatan memiliki kekuatan penyembuh tentu saja. Tetapi semua ada aturannya. Aturan itu dibuat untuk membatasi sang pemegang kekuatan agar tidak merasa seperti Tuhan dan berbuat semena-mena. Sayangnya tuan Gabriel waktu itu masih kurang mengerti, demi menyelamatkan nyawa mamanya, tuan Gabriel datang dan memohon kepada tuan Matthias sang pemegang kekuatan sebelumnya untuk memohon penyembuhan bagi mamanya.” Carlos menghela napas panjang, “Tentu saja tuan Matthias menolaknya, ada aturan bahwa sang pemegang kekuatan tidak boleh menyembuhkan penyakit yang sudah tercatat pada takdir kematian dalam waktu dekat. Penolakan itulah yang menorehkan dendam di hati tuan Gabriel waktu kecil,  membuatnya bertekad untuk menghancurkan kekuatan terang.”

Selly terperangah, tidak menyangka bahwa Carlos akan menyajikan cerita yang begitu rumit.

Jadi Gabriel menyerang kekuatan terang bukan karena ingin menguasai dunia?

“Dan sekarang dendam itu sepertinya sudah berhasil dipadamkan.” Carlos kembali menatap Selly dengan penuh arti, “Saya duga karena anda.”

‘Karena aku?”

“Ya. Pertarungan antara dua pemegang kekuatan akan memaksa anda memberikan pengorbanan untuk memenangkan cinta sejati anda.” Carlos menatap Selly dengan pandangan penuh spekulasi. “Saya artikan bahwa pengorbanan itu adalah pengorbanan nyawa  anda. Keinginan tuan Gabriel untuk menyelamatkan nyawa anda telah berhasil membuat beliau menguburkan dendamnya dalam-dalam. Anda bebas sekarang, nona Selly, dan anda bisa tenang, kekasih anda Tuan Rolan juga akan aman....

Belum sempat Carlos menyelesaikan ucapannya, terdengar suara ledakan yang luar biasa besar, menyerang sisi depan rumah Gabriel.

Lantai-lantai bergetar dan sebagian atap runtuh, beruntung Carlos cukup sigap dan melindungi Selly dari reruntuhan yang berjatuhan.

Mereka berpandangan, dan ketika itulah terdengar suara dari luar.

“Aku menantangmu untuk bertarung, Gabriel. Keluarlah dan hadapilah aku secara jantan!”

Itu suara Rolan!

Selly terperanjat, dan hampir melompat untuk mendatangi arah suara itu tempat Rolan dan Matthias berdiri di halaman rumah Gabriel. Ternyata Rolanlah yang menggunakan kekuatannya untuk menghancurkan bagian depan rumah Gabriel itu.

Tetapi dengan sigap Carlos langsung menyambar lengan Selly, menahannya.

“Jangan keluar.” Gumamnya serius, “Pertarungan akan segera terjadi, saya bisa melihat itu. Rolan datang dengan kemarahan, dan kalau tuan Gabriel terpancing...” suara Carlos menghilang, “Itu bisa membahayakan nyawa anda ketika mereka pada akhirnya bertarung.”

Karena dia adalah sang cinta sejati, dan karena cinta sejati harus mengorbankan nyawanya.... Selly membatin, merasakan kebingungan yang pekat dan menyesakkan dadanya.

***

Gabriel muncul di depan rumahnya, melayang dibalut bayangan hitam, lelaki itu bersedekap, sedikit menunduk sambil menatap Rolan yang berdiri di depannya dengan tatapan mengancam.

“Well sungguh kau telah melupakan kesopanan sebagai seorang tamu, Rolan. Kau datang tanpa permisi dan merusak rumahku.” Gumamnya tenang.

Rolan mendengus, “Jangan banyak basa-basi Gabriel, aku tahu bahwa kau menculik Selly dan menyekapnya di rumahmu!”

“Dan apa hubungannya itu denganmu?” Gabriel mengangkat alisnya, memprovokasi, “Bukankah kau bukan kekasih Selly lagi?”

“Apa maksudmu?” Rolan mengerutkan keningnya.

“Kalian sudah bukan sepasang kekasih lagi bukan? Kau telah kehilangan cinta Selly kepadamu karena kebodohanmu, masuk ke dalam jebakan Sabrina.” Gabriel terkekeh, “Mungkin sekarang aku bisa mencoba memiliki Selly.”

“Beraninya Kau!” Rolan langsung emosi, melemparkan cahaya terang dari tangannya, seperti kilat, menyambar ke arah Gabriel.

Tetapi dengan tenang, hanya dengan menggeser tubuhnya sedikit, Gabriel bisa menghindari sambaran cahata terang yang sangat cepat itu, sementara tempat di belakangnya, yang tersambar oleh serangan Rolan, hangus terbakar.

Gabriel menoleh melihat kerusakan akibat serangan Rolan dan mendesis dalam senyuman, “Aku akan menagihkan kepadamu kerusakan rumahku karena emosimu.” Jemari rampingnya bergerak pelan, dan kemudian tanpa peringatan, bola api yang begitu besar meluncur ke arah Rolan. 

Marco sudah berlindung jauh di belakang Rolan sambil menatap pertempuran itu dengan cemas, sementara itu Rolan berhasil menghindari serangan Gabriel meskipun ada sedikit rambutnya yang terbakar.

“Kenapa kau menyerangku Rolan? Bukan aku tapi kau yang mengibarkan pertempuran ini.” Gabriel menyipitkan matanya, “Apakah kau takut bahwa aku sudah berhasil merenggut Selly-mu?”

“Kurang ajar kau!” Rolan langsung menyerang, melemparkan berkali-kali serangan cahaya brutal yang menghanguskan dan setajam silet ke arah Gabriel, sementara Gabriel dengan mudah menghindar seolah-olah tubuhnya seringan bulu. “Selly tidak akan semudah itu berpaling dariku!”

Sambil terus menghindari serangan Rolan, Gabriel terkekeh, dia memang sengaja memprovokasi Rolan,

“Kau tidak akan bisa mengalahkanku Rolan, tidak akan bisa.” Gabriel melemparkan serangan ke arah Rolan, menimbulkan suara ledakan keras yang merusak. Halaman depan rumah Gabriel yang besar sudah hancur lebur tak berbentuk, pun dengan rumah Gabriel yang sebagian besar bagian depan rumahnya sudah runtuh karena serangan pertempuran mereka.

“Serahkan Selly kepadaku dan aku akan berhenti menyerangmu.” Rolan berteriak sambil menghindari serangan Gabriel.

Mata Gabriel menajam, dan ekspresinya mengeras, “Aku tidak akan menyerahkan Selly kepada lelaki yang tidak bisa menjaga hati perempuan sepertimu!” Dan kemudian lelaki itu mengarahkan jemarinya mengeluarkan sesuatu seperti asap hitam dari jemarinya, “Kau tidak akan pernah menang melawanku, Rolan.”

Asap itu melingkupi tubuh Rolan, tiba-tiba karena dia tidak siap, membuatnya sesak napas.

***

“Rolan!” Selly yang melihat hal itu dari jendela berteriak cemas melihat asap itu melilit Rolan, membuatnya kehabisan napas sampai pucat pasi. Carlos mengatakan bahwa sang pemegang kekuatan akan sama kuatnya jika bertarung dan salah satu tidak akan bisa mengalahkan yang lain. Tetapi melihat keadaan Rolan sekarang, Selly langsung merasa ragu.

Dia mencoba meronta, tetapi Carlos masih mencengkeram tangannya.

“Jangan Nona Selly! Jangan ikut campur dan melukai diri anda sendiri! Pertarungan mereka tidak akan melukai siapun, pun diri mereka sendiri. Biarkan mereka menyadari bahwa pertarungan itu sia-sia dan berhenti sendiri!” Carlos berusaha menangkan Selly yang meronta-ronta.

Tapi Selly sudah terlalu panik, dua lelaki itu. Gabriel dan Rolan tampak ingin membunuh satu sama lain, dan serangan-serangan mereka terhadap satu sama lain sungguh mengerikan. Selly tidak ingin kedua lelaki itu saling melukai, hanya karena dirinya!

Dengan segenap kekuatannya, dia menghentakkan tangannya dari cengkeraman lelaki tua itu, ketika Carlos lengah, Selly menendang kaki Carlos, membuat lelaki itu terhuyung ke belakang, dan kemudian, sebelum Carlos sempat pulih, Selly berlari, membuka pintu kamar melalui lorong rumah Gabriel yang besar dan mencari jalan menuju ke halaman tempat pertarungan Gabriel dan Rolan berlangsung.

Dia meninggalkan Carlos yang berteriak-teriak panik di belakangnya dan memanggil namanya dengan panik.

***

Rolan marah besar, asap pekat berwarna hitam itu mencekiknya dengan kuat, seolah-olah berusaha menyedot semua udara di sekelilingnya, dadanya terasa panas dan akan meledak. Meskipun begitu, Rolan tahu, Gabriel tidak akan bisa membunuhnya, lelaki itu hanya bisa membuatnya merasa sakit dan setelah itu tubuh Rolan, dengan kemampuan otaknya yang sempurna akan memperbaiki dirinya sendiri.

Dia mencoba berkonsentrasi seperti yang diajarkan oleh Marco, untuk melepaskan diri dari lilitan asap hitam yang menyesakkan itu. Pertama-tama terasa sulit, apalagi dengan dadanya yang terasa nyeri tak tertahankan, darah mengalir dari hidungnya ketika dia pada akhirnya berhasil menguraikan asap hitam itu pelan-pelan supaya melepaskan belitannya dari dirinya. Matanya menatap Gabriel yang hanya mengawasi dengan ekspresi geli ketika dia akhirnya berhasil melepaskan asap itu sejauh mungkin dari dirinya.

“Itu adalah kekuatanku yang paling mudah, kumainkan ketika aku masih kanak-kanak.” Gabriel mencibir, “Dan kau kesulitan menghadapinya, bagaimana jika aku mengerahkan seluruh kemampuanku?”

Mereka memang tidak bisa saling membunuh, mereka sama-sama kuat, ditakdirkan seperti itu. Tetapi pengalaman Gabriel yang jauh lebih lama membuatnya lebih bisa menyakiti Rolan. Rolan menyipitkan matanya, merasa marah.

“Kau juga belum tahu kekuatanku yang sesungguhnya.” Ada bara api yang menyala dari tangan Rolan, makin lama makin besar. Kalau Gabriel bisa menggunakan api untuk menyerangnya, Rolan juga bisa, “Aku akan membuatmu hangus terbakar di neraka!” Dan dengan cepat, Rolan melemparkan ledakan api itu ke arah Gabriel.

Detik yang sama, sekali lagi, Gabriel memiringkan tubuhnya setengah melayang untuk menghindari serangan Rolan. Serangan api yang melesat setajam pisau itu hanya meleset sedikit, menghanguskan ujung samping rambut Gabriel., dan kemudian melewati tubuh lelaki itu terus ke belakang, tempat Selly membuka pintu depan dan tiba-tiba muncul di sana.

Gabriel dan Rolan sama-sama terkejut dalam waktu yang sepersekian detik itu, mereka sama-sama berteriak, memanggil nama Selly dan bergerak secepat kilat untuk mencegah serangan itu mengenai Selly.

Tetapi terlambat, semua berlangsung begitu cepat, api yang begitu kuat langsung menghantam tepat ke tubuh Selly, menimbulkan suara ledakan yang mengerikan dan cahaya api yang membutakan mata. Bahkan Selly tidak sempat berteriak lagi.

Gabriel meneriakkan nama Selly sekali lagi, wajahnya pucat pasi, dia melesat dengan cepat mendahului Rolan, menyingkirkan api yang menyelubungi tubuh Selly dengan cepat, dan kemudian berlutut sambil mengangkat tubuh Selly yang terbaring lemah ke atas pangkuannya.

“Selly. Astaga. Kenapa kau keluar? Kenapa kau keluar?” Gabriel tidak bisa menyembunyikan kepanikan di dalam suaranya, dia melihat beberapa luka bakar di kulit Selly dan merasa frustrasi luar biasa karena dia tidak bisa menyembuhkan luka-luka itu. Kenapa Selly harus kebal dengan kekuatannya??

Selly mencoba membuka mata, tetapi seluruh tubuhnya terasa sakit, api itu menerpanya dengan begitu kencang, kerusakannya memang tidak begitu tampak di bagian luar, hanya ditampilkan dengan luka bakar di beberapa sisi kulitnya, tetapi api itu menembus tubuhnya, membuat organ dalamnya terluka parah.

Darah mengalir dari sudut bibir Selly dan dengan panik Gabriel mengusapnya.

“Bertahanlah Selly! Bertahanlah sayang!” Gabriel bergumam, jemarinya menahan darah dari sudut bibir Selly supaya berhenti mengalir, tetapi darah itu terus mengalir, menandakan kerusakan yang padah di organ dalam tubuh Selly.

“Selly?” Kali ini Rolan yang mendekat, berdiri di depan Gabriel yang berlutut sambil memangku tubuh Selly. Bibirnya bergetar dan wajahnya pucat pasi. Dia melancarkan serangan yang paling kuat untuk menghancurkan Gabriel, tetapi serangan itu malahan mengenai Selly, perempuan yang dicintainya.

Selly mencoba berkata-kata, bibirnya gemetaran, rasanya sulit untuk mengucapkan bahkan  cuma satu kata sekalipun.

“Jangan....” suara Selly serak. Tertahan oleh darah yang mengalir melalui tenggorokannya dan menyesaki bibirnya.

Gabriel mengernyit tak tahan melihat kondisi Selly, pada saat yang sama Carlos datang, lelaki tua itu tadi berlari mengejar Selly dan sekarang berdiri tertegun melihat kondisi Selly yang terluka parah.

Mata Gabriel menyala marah ketika menatap Carlos, “Seharusnya kau menjaganya supaya tetap di dalam.” Kemeja Gabriel sudah penuh oleh darah Selly, tetapi lelaki itu tampaknya tidak peduli, tetap memangku Selly dan menyandarkan kepada perempuan itu ke dadanya.

Carlos gemetaran, “Saya sudah berusaha tuan, tetapi nona Selly melepaskan diri dan berlari ke luar...”

“Berikan Selly kepadaku.” Rolan menyela, tidak membiarkan Carlos menyelesaikan kata-katanya, “Dia akan baik-baik saja bersamaku.”

Mata Gabriel membara, seakan ada api yang menyala di sana. Dia menyerahkan tubuh Selly yang lungkai ke dalam gendongan Carlos yang langsung menerimanya. Lalu berdiri, berhadap-hadapan dengan Rolan.

“Memberikan Selly kepadamu?” Gabriel mendesis, menggertakkan giginya seolah tidak mampu menahankan kemarahannya yang menggelegak. Darah Selly membasahi kemejanya, darah Selly! Dan sekarang Gabriel merasakan ketakutan yang nyata bahwa dia akan kehilangan Selly tanpa bisa menyelamatkannya. Di antara perasaan tak berdaya itu, Gabriel menumpahkan kemarahannya kepada Rolan. “Kau yang melukainya !” seru Gabriel keras, membuat wajah Rolan dipenuhi rasa bersalah, “Aku akan membunuhmu Rolan! Dengan cara apapun!”

Tiba-tiba angin berhembus sedemikian kencang, membuat pepohonan meliuk-liuk kalang kabut, daun-daun terlepas dari tangkainya dan berterbangan di sekeliling mereka. Langit menggelap dan petir berkerjapan di angkasa, udara berubah menjadi sedemikian dingin, seakan-akan badai dasyat dan angin topan hendak menerjang bersamaan.

Carlos mengerutkan keningnya melihat keadaan. Astaga. Tuannya ini benar-benar marah. Dan itu bisa menjadi bencana bagi umat manusia. Kemarahan sang pemegang kekuatan yang tidak terkontrol bisa menyebabkan bencana alam yang tak terkira di muka bumi ini, entah itu tsunami, angin topan, gempa bumi... tergantung pada tingkat kemarahannya.

Dan sekarang Gabriel benar-benar marah....

Carlos menunduk, menatap Selly yang berada dalam gendongannya.  Dia harus bertaruh, kalau tidak bencana alam yang sangat besar mungkin akan terjadi di sini.

“Nona Selly...” dia memanggil lembut Selly yang terkulai lemah dengan mata terpejam, darah masih mengalir dari bibirnya dan napas Selly tersengal-sengal seakan sulit sekali untuk bernapas. Carlos merasakan kesedihan menghantam benaknya melihat kondisi Selly, tetapi dia menguatkan hati untuk berkata dengan suara serak, “Nona Selly, hanya anda yang bisa menghentikan pertarungan ini. Apakah anda rela berkorban demi cinta sejati anda?”

Selly menanggapi dengan sedikit menggerakkan kepalanya meskipun susah payah, bibirnya bergetar ketika mencoba bersuara.

“Jangan... bertarung lagi......”

Dan kemudian cahaya putih langsung keluar dari tubuhnya, melingkarinya, mengangkatnya sehingga melayang, lepas dari gendongan Carlos yang terpana, begitupun saudaranya Marco yang sedari tadi mengamati sambil berlindung di sisi lain halaman. Bagi Carlos dan Marco yang sudah berusia ribuan tahun dan mendampingi seluruh pemegang kekuatan yang pernah ada, inilah kali pertama bagi mereka melihat pengorbanan sang cinta sejati dengan mata kepala mereka sendiri.

Gabriellah yang pertama sadar, dia mengerutkan keningnya dan menoleh. Melihat tubuh Selly yang melayang di udara, diselubungi cahaya putih. Seketika itu juga, tahulah dia bahwa Selly telah melakukan pengorbanan dengan untuk cinta sejatinya yang bisa saja sama dengan mengorbankan nyawanya.

“Tidak! Tidak!” Gabriel langsung melupakan kemarahannya kepada Rolan, dia menerjang tubuh Selly yang diselubungi cahaya putih, berusaha menggapai tubuh perempuan itu, tetapi selubung putih itu terlalu kuat dan tebal, bahkan untuk pemegang kekuatan sekuat Gabriel, membuat tubuh Gabriel terhempas menjauh.

Rolan yang melihat Selly juga langsung panik. Apakah itu... apakah itu berarti Selly mengorbankan dirinya untuk memberi kekuatan kepada cinta sejatinya? Kepada dirinya? Lalu apa yang akan terjadi? Apakah Selly akan mati dan kemudian dia memiliki kekuatan otak seratus persen dan bisa membunuh Gabriel?

Buat apa itu semua kalau dia harus hidup abadi dalam patah hati, menyadari bahwa kekuatannya diperoleh dengan mengorbankan nyawa perempuan yang dicintainya?

Air mata Rolan meleleh dari sudut matanya, berdiri dengan kaku di sana, tidak bisa berbuat apa-apa melihat keadaan Selly.

Sampai kemudian cahaya putih itu membesar hingga membutakan mereka, dan kemudian ledakan besar terjadi, membuat semua orang yang ada di sana terhempas.

***

Gabriellah yang membuka matanya pertama kali, setelah entah berapa lama tak sadarkan diri akibat ledakan hebat itu, dia berbaring di antara puing-puing dan langsung terduduk tegak, matanya mengitari sekeliling halaman, melihat kerusakan hebat yang terjadi akibat ledakan terakhir itu. Dia melihat Rolan, yang masih tak sadarkan diri di dekatnya, tetapi dia tidak peduli.

Di mana Selly?

Gabriel menajamkan pandangannya, menembus debu asap putih di antara puting-puing yang berjatuhan. Dan kemudian dia melihat tubuh mungil Selly yang lunglai di sudut halaman. Gabriel langsung berdiir, setengah berlari menghampiri tubuh Selly, dia berlutut di samping tubuh Selly yang lunglai.

Gabriel tak pernah merasakan takut sebelumnya. Tetapi kali ini dia takut sampai gemetaran. Apa yang ada di dalam hatinya tidak pernah dirasakannya dan tidak bisa dideskripsikannya sebelumnya. Dia takut Selly mati, dia takut perempuan itu meninggalkan dunia ini, sementara... sementara Gabriel bahkan belum mengakui perasaannya kepada Selly...

Bahwa dia mencintai perempuan itu, entah sejak kapan. Mungkin sejak mereka makan malam berdua di hari ulang tahun Selly itu... atau mungkin bahkan sejak mereka bertabrakan pertama kali di dekat rumah sakit, ketika dia mengambilkan butir-butir jeruk yang berjatuhan dari kantong Selly. Gabriel tidak tahu kapan perasaannya bertumbuh dan bagaimana, yang ada di benaknya sekarang adalah rasa pedih yang memenuhi jiwanya. Sadar bahwa semuanya sudah terlambat.

Jemari Gabriel gemetar ketika dia menyentuh pipi Selly, mencoba mencari kehangatan di sana, tetapi tidak ditemukannya. Kulit Selly begitu dingin, seolah aliran darah sudah berhenti di sana, tidak mengalir lagi.

Gabriel mengangkat tubuh Selly mendekatkan perempuan itu, mencoba mencari helaan nafas yang tersisa, tetapi tidak ditemukannya... dia mendekatkan telinganya ke dada Selly, mencari detak jantungnya, tetapi tidak ada apapun di sana, semuanya kosong...

Sesuatu yang hangat mengalir di sudut matanya, tetesan air mata yang tidak pernah lagi dialirkannya sejak kematian mamanya. Gabriel menangis, diliputi oleh kesedihan yang sangat dalam.

Dipeluknya tubuh Selly ke atas pangkuannya, dilingkarkannya lengannya ke tubuh Selly yang terkulai lemah, sekuat tenaga memeluk perempuan yang dikasihinya itu. Tubuh Gabriel berguncang menahankan tangis kesedihannya.

“Kau juga mencintainya ya?”

Suara itu membuat Gabriel mengangkat kepalanya, dan langsung bertatapan dengan Rolan. Kondisi Rolan tidak lebih baik darinya, lelaki itu tampak kacau balau, dan kesedihan tersirat di wajahnya, kesedihan yang dalam dan penuh arti.

Dua orang pemegang kekuatan yang saling bertentangan itu bertatapan, dengan perempuan yang sama-sama mereka cintai terkulai di antara mereka.

Gabriel menghapus bening di sudut matanya, “Ya. Dan Selly telah berkorban demi cinta sejatinya. Kekuatan 5% itu telah dipindahkan dengan ganti nyawanya.”

Rolan terpekur. “Apakah kita akan melanjutkan pertempuran ini? Yang satu membunuh yang lain?”

Gabriel menunduk, melihat ke arah Selly, lalu menggelengkan kepalanya dengan sedih,

“Tidak. Tidak ada gunanya lagi. Tidak ada gunanya lagi tanpa dia.” Dan kemudian, tiba-tiba Gabriel merasakan denyutan samar di dada Selly yang menempel di dadanya. Selly belum mati sepenuhnya, masih ada kehidupan yang tersisa di sana, masih belum terlambat untuk menyelamatkan Selly...

Gabriel mendongakkan kepalanya, menatap ke arah Rolan,

“Kau jaga dia baik-baik setelah ini jangan pernah kecewakan perasaannya lagi karena sesungguhnya dia perempuan baik yang begitu setia kepadamu....”

Rolan mengerutkan keningnya, ‘Kau akan melakukan apa?”

Tetapi Gabriel tidak menjawab, lelaki itu menundukkan kepalanya, dan mengecup bibir Selly penuh perasaan, membuat sesuatu berdenyut kencang di jantung Rolan melihatnya. Lalu setelah itu Gabriel memejamkan matanya, meletakkan jemarinya di dahi Selly.

Rolan langsung terpana. Dia mengenali metode itu, itu sama seperti ketika Matthias memindahkan kekuatan kepadanya.... apakah Gabriel memindahkan kekuatannya kepada Selly dengan mengaktifkan kekuatan otak Selly supaya bisa menyembuhkan dirinya sendiri?

Prosesnya tidak lama, bahkan tidak terlihat ada yang berbeda, selain ketika Gabriel membuka matanya, aura kejamnya sedikit memudar. Lelaki itu menggendong Selly yang lunglai dan berdiri tepat di depan Rolan, lalu menyerahkan Selly kepada Rolan.

“Jaga dia baik-baik. Sekarang kalian bisa bersama selamanya. Kalian sama-sama abadi, jadi hanya kau yang bisa menjaganya.” Mata Gabriel menatap Rolan dengan serius, “Jangan pernah percaya pada apapun yang dikatakan Sabrina, Rolan. Dia jahat. Bahkan jiwanya lebih jahat dan kelam daripada diriku, dia telah merencanakan semuanya dari awal untuk merusak hubunganmu dengan Selly, dan sekarang dia sudah menanggung hukumannya sendiri. Lupakan Sabrina dari benakmu dan fokuslah untuk mencintai Selly.”

Lalu Gabriel itu membalikkan badan dan melangkah pergi, meninggalkan Rolan yang terpana, mau tak mau menerima tubuh Selly yang lunglai ke dalam pelukannya.

***

Carlos dan Marco berdiri dalam diam, melihat semua itu dan kemudian saling bertatapan.

Sungguh akhir yang tidak diduga, Gabriel sang pemegang kekuatan yang begitu kejam, pada akhirnya lebih memilih menyelamatkan cinta sejatinya daripada mengejar ambisinya untuk membalas dendam...

Lelaki itu melepaskan kekuatannya, melepaskan keabadiannya, untuk menyelamatkan nyawa Selly.

Carlos merasa ada yang hilang jauh di dalam dirinya, sekian lama dia mengabdi kepada Gabriel tuannya, dan sekarang dia memiliki majikan baru... Selly... tuannya yang baru.

***

Ketika pulang ke rumah sambil membawa Selly, diikuti Carlo dan Marco, Rolan melangkah dan meletakkan tubuh Selly yang masih belum sadarkan diri ke atas ranjang di kamar tamunya. Tanda-tanda kesembuhan sudah tampak di diri Selly, sudah ada rona di kulitnya, napas perempuan itu sudah teratur dan jantungnya berdetak kencang, tanda vitalitas hidupnya yang semakin membaik.

Tetapi perasaan mengganjal itu terus menyisa di benak Rolan ketika dia mengamati Selly.

Selly telah mengorbankan nyawanya demi memberikan 5% kekuatan kepada sang cinta sejati.... tetapi...

“Tuan Rolan!”

Itu suara Marco, dia memanggil dengan panik membuat Rolan menoleh, dan mengerutkan keningnya.

“Anda harus ke kamar anda, nona Sabrina...” Marco melanjutkan dengan nada tinggi karena tertelan kepanikannya, dia tidak menunggu Rolan bertanya, langsung membalikkan badannya ke arah kamar Rolan tempat Sabrina ditempatkan.

Dan ketika sampai di sana, keduanya sama-sama terpana. Menatap ke arah ranjang yang kosong, hanya menyisakan seberkas abu yang bertebaran di sana.....

Rolan menatap Marco dengan penuh rasa ingin tahu,

“Apakah... apakah Sabrina..” matanya menatap ke arah debu yang berada di atas tempat tidur itu.

Marco menganggukkan kepalanya dengan muram, “Sepertinya itulah yang terjadi kepada Sabrina, dia terbakar habis menjadi debu, oleh darah yang mengalir di tubuhnya.... manusia biasa tidak akan mampu menampung darah dari dua pemegang kekuatan yang bertolak belakang secara bersamaan...”

Rolan tiba-tiba merasa bersalah, “Apakah itu berarti akulah yang membunuh Sabrina? Aku memberikan darahku kepadanya, bukan.”

“Anda tidak perlu merasa bersalah.” Carlos, yang sekarang mengabdi kepada Selly muncul entah dari mana seperti biasa, “Anda memberikan darah anda kepada nona Sabrina karena anda dimanipulasi. Semua ini karena kesalahan nona Sabrina sendiri, mencoba mencari supply darah dengan memanfaatkan kebaikan hati sang pemegang kekuatan.” Mata Carlos menatap Rolan dengan tajam, “Tak perlu membuang kesedihan untuk perempuan jahat seperti nona Sabrina, seperti kata tuan Gabriel tadi, anda harus fokus kepada nona Selly, beliau sekarang sudah sadar.”

“Selly sudah sadar?” Rolan tersentak, “Aku harus menemuinya.”

Dan kemudian dia melangkah menuju ke kamar tamu tempat Selly dibaringkan.

***
Rolan memasuki kamar itu dengan hati-hati dan melihat bahwa Selly sudah terduduk, sadarkan diri di atas ranjang dengan tatapan mata kosong.

“Hai.” Rolan menyapa lembut sambil duduk di sebelah ranjang Selly, “Bagaimana keadaanmu?”

Selly mengangkat matanya dan menatap Rolan, lalu tersenyum lembut, “Apa yang terjadi?”

‘Kau tidak ingat?” Rolan mengerutkan kening

Selly memegang kepalanya dengan bingung, “Semuanya bercampur aduk di kepalaku, pertempuran itu.. lalu aku tidak ingat apa-apa lagi..”

Rolan meraih tangan Selly dan menggenggamnnya, “Maafkan aku Selly, tanpa sengaja aku mengenaimu dan membuatmu terluka... lalu... lalu kau mengorbankan dirimu demi memberikan kekuatan 5% kepada cinta sejati.”

“Aku mengorbankan diriku?” Selly membelalakkan matanya, menatap dirinya sendiri yang baik-baik saja, “Tetapi aku tidak mati. Bukankah katanya pengorbanan itu adalah pengorbanan nyawa? Dan kalian berdua, kau dan Gabriel... apakah kalian melanjutkan pertempuran itu?” Mata Selly melirik ke arah Carlos yang berdiiri diam di sana, tiba-tiba merasa cemas, “Kenapa Carlos ada di sini? Di mana Gabriel?”

Suasanya menjadi hening. Rolan sendiri menelan ludahnya dan tertegun. Ekspresi wajahnya tampak sedih.

“Kau hampir meninggal setelah melakukan pengorbanan diri, Selly. Dan Gabriel menyelamatkan nyawamu, tidakkah kau merasakannya? Aliran kekuatan itu di tubuhmu?”

“Apa maksudmu?” Selly terperangah dan kemudian dia menyadari, ada yang berbeda di tubuhnya, seluruh inderanya terasa lebih peka, seluruh tubuhnya terasa lebih kuat... apakah dia.. apakah Gabriel.. “Apakah Gabriel memberikan kekuatannya untukku?” suara Selly meninggi diliputi oleh kebingungan yang dalam, “Apakah Gabriel menyelamatkan nyawaku dengan memberikan kekuatannya untukku?”

Carlos menghela napas panjang, saling melempar tatapan dengan Rolan dan pada ahirnya dialah yang menjawab,

“Ya Selly. Gabriel, dia menyelamatkan nyawamu, dia menyerahkan kekuatannya dengan mengaktifkan kekuatan otakmu dan menjadikanmu pemegang kekuatan gelap yang baru, Carlos sekarang mengabdi kepadamu.”

Selly merasakan seluruh tubuhnya gemetar, ‘Kenapa Gabriel melakukannya? Kenapa?”

“Karena anda adalah cinta sejati tuan Gabriel. Saya sudah mengatakannya kepada anda bukan? Sejak kekuatan tuan Gabriel tidak mempan kepada anda, saya sudah menduganya.”

Dia? Cinta sejati Gabriel?

Tetapi dia mengorbankan dirinya untuk memberi tambahan kekuatan lima persen kepada Rolan bukan?

Matanya menatap Rolan, menyiratkan pertanyaan itu tanpa kata-kata. Dan Rolan langsung paham, ekspresi tegarnya langsung runtuh, berganti dengan kesedihan yang luar biasa.

Lelaki itu menggelengkan kepalanya.

“Tidak Selly. Kau tidak memberikan tambahan lima persen kekuatan itu untukku. Semula aku mengira kau melakukannya untukku..” Rolan menelan ludah, suaranya tampak tercekat di tenggorokan, “Tetapi ketika aku sadarkan diri setelah ledakan itu. Aku merasa sama... tidak ada tambahan kekuatan untukku, aku berdiri mencarimu, dan menemukan Gabriel sedang menangis sambil memeluk tubuhmu yang sekarat...”

Gabriel menangis...? Menangis untuknya?

“Kesedihan Gabriel karena takut kehilanganmu begitu nyata hingga jantungkupun terasa terkoyak ketika melihatnya.” Rolan melanjutkan, matanya berkaca-kaca. “Dan kemudian ketika kami berdiri berhadapan, dengan kau dipeluk erat dalam gendongannya, barulah aku menyadari.... bahwa kau...” Rolan menghela napas panjang, seperti kesulitan berkata-kata, “Bahwa kau memberikan pengorbanan 5% mu bukan kepadaku, melainkan kepada Gabriel, Gabriel-lah cinta sejatimu.”

Selly ternganga, begitupun Marco dan Carlos yang berada di ruangan itu, semuanya semula mengira bahwa Selly memberikan 5% pengorbanannya untuk menambahkan kekuatan otak Rolan.

Jadi.. Gabriellah yang disempurnakan kekuatan otaknya menjadi 100% ketika itu? Jadi Gabriel-lah yang berada di atas angin waktu itu? Dengan kekuatan otak sempurna 100% Gabriel bisa dengan mudah menuntaskan dendamnya, membunuh Rolan, sang pemegang kekuatan terang dengan gampang.

Tetapi ternyata itu tidak dilakuaknnya, karena Selly..

“Aku bertanya kepada Gabriel, apakah dia akan melanjutkan pertarungan ini. Aku yakin dia sudah menyadari bahwa dirinyalah yang terbangkitkan 100%, aku yakin dia menyadari kalau dia melanjutkan pertarungan ini, dengan mudahnya dia akan meraih kemenangan dan membunuhku.” Rolan bergumam dengan suara sedih, “Tetapi dia bilang dia tidak ingin melanjutkan pertarungannya, dia bilang tidak ada gunanya jika tidak ada kau Selly.... lalu dia melakukan itu, memberikan kekuatannya kepadamu, membuat dirinya menjadi manusia biasa yang lemah tanpa kekuatan apa-apa.” Napas Rolan tercekat di tenggorokan, “Aku merasa malu, sungguh merasa malu.... aku selama ini merasa bahwa aku adalah cinta sejatimu, merasa bahwa kau amat sangat mencintaiku, tetapi perlakuanku kepadamu tidak mencerminkan cinta sejatiku kepadamu, aku berkali-kali mengecewakanmu, melukai perasaanmu, dan bahkan berani-beraninya mencium perempuan lain dan merasakan perasaan lebih kepada perempuan itu.” Mata Rolan tampak berkaca-kaca, “Sudah sepantasnya perasaanmu kepadaku terkikis habis dan pada akhirnya kau mengalihkan perasaanmu kepada lelaki lain yang tanpa kau sadari selalu ada untukmu dan menjagamu.”

Air mata mengalir di pipi Selly mendengar perkataan Rolan, rasa haru dan sedih menyeruak di dadanya, memenuhinya hingga membuat bening di matanya mengalir tanpa henti. Astaga.... dia bahkan tidak menyadari perasaannya, tidak sampai Rolan mengatakannya. Mungkin nuraninya yang paling mengerti sehingga ketika dia melakukan pengorbanan dalam kondisi sekarat.... pengorbanan itu diberikan untuk Gabriel.

Dan lelaki itu, Gabriel. Dia bisa menghancurkan dunia ini dengan mudah, dia bisa mengalahkan Rolan dengan gampang.... karena Selly telah membuat kekuatan otaknya sempurna. Tetapi lelaki itu lebih memilih untuk menyelamatkan nyawanya.... memberikan kekuatannya kepoada Selly, serta membuat dirinya sendiri menjadi manusia biasa.

“Gabriel menyuruhku menjagamu.” Rolan melanjutkan, jemarinya menyentuh pipi Selly mencoba menghapus air matanya, “Dan jika kau bersedia, aku dengan tulus akan menjagamu, seperti dulu Selly, kita bersama-sama saling mencintai, hanya saja kali ini mungkin kisah kita akan abadi, kau dan aku sama-sama pemegang kekuatan dan kita bisa hidup bersama selamanya.

Mata Selly tampak ragu, “Bagaimana dengan Sabrina?”

Rolan tertegun, seketika itulah dia menyadari betapa Sabrina benar-benar menjadi ganjalan di hati Selly, betapa dirinya telah menyakiti hati Selly dengan menggunakan sebagian besar waktunya untuk Sabrina...

“Aku sudah mengatakannya kepadamu, bukan? Sabrina hanyalah perempuan penipu... dia... dia ternyata merencanakan semuanya.” Suara Rolan tercekat di tenggorokannya, lelaki itu menyentuhkan jemarinya dengan lembut ke rambut Selly, “Aku akan menceritakan nanti kepadamu. Yang pasti, Sabrina tidak akan menjadi penghalang di antara kita lagi.” Rolan mengambil jemari Selly dan membawanya ke mulutnya, “Dan jika kau mau memberiku kesempatan kedua, aku berjanji, segalanya akan lebih baik kini, aku akan berjuang untuk memenangkan cintamu lagi.”

Bagaimana dengan Gabriel?

Selly bertanya-tanya, kini setelah dia menyadari perasaannya yang sesungguhnya, setelah dia mengetahui pengorbanan Gabriel untuknya, lelaki itu tidak bisa lepas dari benaknya. Dan bagaimana mungkin Selly menerima tawaran Rolan untuk berbahagia bersama dalam kehidupan abadi, sementara Selly mengetahui bahwa di luar sana.... ada Gabriel yang menyerahkan keeabadiannya, menjadi manusia biasa.... demi menyelamatkan nyawa Selly?

Rolan tampaknya bisa membaca apa yang ada di benak Selly,

“Gabriel memintaku untuk menjagamu Selly, dia sendiri yang menyrahkan dirimu ke dalam tanganku sebelum pergi....”

Gabriel pergi ke mana?

Selly langsung meneriakkan pertanyaan itu dalam benaknya, ditatapnya Rolan, lelaki yang pernah amat sangat dicintainya, Rolan masih tampak sama, begitu lembut, tampan dan penuh kasih. Tetapi Selly-lah yang berbeda... perasaannya berbeda sekarang, mungkin rasa kecewa yang bertubi-tubi telah membuatnya tanpa sadar memasukkan lelaki lain ke dalam benaknya....

Ditatapnya Rolan dengan tatapan mata bersalah, ketika berbicara, suaranya terdengar serak.

“Maafkan aku...” Selly hanya mampu mengucapkan satu patah kata itu, air mata bergulir di benaknya seiring kejujuran yang mengalir dari mulutnya, ‘Maafkan aku Rolan.”

***

Marco membukakan pintu mobil untuk Selly. Mereka berhenti di depan sebuah rumah besar di pedesaan yang indah, penuh dengan pepohonan besar yang menghijau. Rumah itu terletak di tengah hamparan padang rumput yang luar biasa luas. Berwarna putih menjulang dengan pagarnya yang tinggi, tampak megah di tengah keheningan.

Selly berdiiri dengan ragu, merasakan tiupan angin yang membuat rambutnya berantakan dan roknya berkibaran. Dia lalu menatap ke arah Marco,

“Apakah dia ada di sini?”

Marco yang sekarang menjadi pelayannya yang setia menganggukkan kepalanya.

“Dia selalu ke sini. Saya masih bisa merasakan kehadirannya meskipun samar.”

Selly menghela napas panjang, kemudian dia memantapkan diri untuk melangkah mendekati rumah itu. Gerbangnya terkunci tentu saja, tetapi sekarang Selly memiliki kekuatan, dia hanya menyentuhkan jemarinya dan gerbang rumah itupun terbuka.

Selly melangkah masuk melewati halaman depan yang lengang, langsung ke pintu depan. Di bukanya pintu itu dan dengan hati-hati dia melangkah melalui lorong yang sedikit remang, hanya diterangi oleh cahaya sore yang menembus tirai-tirai putih di jendela-jendela kacanya.

Entah kenapa Selly tahu.... dia melangkah menuju ujung lorong, ke ruangan yang paling ujung dan membuka pintunya.

Itu sebuah kamar, kamar yang sangat luas bernuansa cokelat maskulin, jendela-jendela kacanya sangat besar di ujung sana, memasukkan cahaya keemasan matahari sore ke dalamnya. Meskipun begitu, tidak ada pencahayaan lain di kamar itu, membuat suasana tampak gelap dan remang.

Kamar itu kosong.

Selly mengamati sekeliling ruangan, mencoba merasakan kehadiran seseorang, tetapi dia tidak bisa merasakannya.

Tiba-tiba.... sesuatu yang keras menempel di belakang kepalanya. Sebuah pistol.

Dan lelaki itu, lelaki itu berdiri di belakangnya, menodongkan pistol ke kepalanya.

“Siapa kau, berani-beraninya memasuki rumahku tanpa izin?” Gabriel setengah menggeram di belakang Selly, suasana yang gelap sepertinya membuat Gabriel tidak menyadari bahwa sosok yang berdiri di depannya itu adalah Selly,

Selly langsung merasakan seluruh tubuhnya gemetar karena antisipasi ketika menyadari bahwa Gabriel, lelaki itu berdiri di belakangnya. Dia membalikkan badannya, tidak mempedulikan pistol yang ditodongkan di kepalanya, dan berdiri berhadapan, begitu dekat dengan Gabriel.

“Gabriel.” Cukup satu kata, yang dibisikkan dengan penuh perasaan. Dan Gabriel langsung menurunkan pistol yang dipegangnya.

“Selly?” suaranya ragu, terdengar tidak yakin.

Selly merasakan bening yang menetes di pipinya. Akhirnya! Setelah kerinduan yang tertahankan, dia bisa menemukan di mana Gabriel menghabiskan waktunya akhir-akhir ini, dengan bantuan Marco yang amat sangat mengenal mantan tuannya itu, tentu saja.

“Ini aku.” Selly mengusap air mata yang mengalir di pipinya.

Gabriel tanpa di duga langsung mengulurkan jemarinya, menangkup pipi Selly. Sejenak seperti tidak mampu berkata-kata.

“Apa yang kau lakukan di sini, Selly?”

Selly mengulurkan tangannya, menangkup tangan Gabriel yang ada di pipinya,

“Aku mencarimu... aku...”

“Bagaimana dengan Rolan?” Gabriel menyela. “Apakah kau meninggalkannya untuk mencariku?” Lelaki itu menggelengkan kepalanya, tampak muram, “Seharusnya kau tidak melakukannya Selly. Kau dan dia, kalian sama sekarang, kau bisa berbahagia bersamanya.”

Selly langsung menggelengkkan kepalanya kuat-kuat, “Bagaimana mungkin aku bisa berbahagia dengan orang yang bukan cinta sejatiku?” Matanya menyala mantap ketika menatap Gabriel, “Mungkin pikiranku ketika itu tidak mengetahui siapa yang benar-benar kucintai. Tetapi hatiku tahu, aku memberikan pengorbananku untukmu bukan?”

Gabriel tercenung, ekspresinya tampak keras, datar dan tidak terbaca, seperti biasanya.

“Dan kenapa kau melakukan itu Selly? Memberikan 5%mu untukku?”

Selly menelan ludah, semula tampak kesulitan mengungkapkan apa yang ada di benaknya, tetapi kemudian dia memantapkan diri. Gabriel, di balik sikap dinginnya, pasti membalas perasannya. Lelaki itu tidak akan mungkin mengorbankan kekuatannya untuk menyelamatkan Selly kalau dia tidak mencintai Selly bukan?

“Karena aku mencintaimu.” Selly setengah berbisik, lembut dan pelan, menyatakan cintanya dengan hati-hati.

Lapisan datar dan keras yang melingkupi Gabriel langsung memudar seketika. Lelaki itu mengerutkan keningnya, tampak menahan diri sekuat tenaga.

“Selly.” Bisiknya sepenuh perasannya, “Katakan sekali lagi.”

Selly tersenyum, kali ini sedikit merasa yakin ketika mengulang kembali pengakuan cintanya,

“Aku mencintaimu Gabriel.”

Detik itu juga, Gabriel langsung meraih Selly ke dalam pelukannya, memeluknya begitu erat, menumpukan seluruh kerinduan yang tertahan sebelumnya.

“Aku mencintaimu.” Gabriel berbisik, menenggelamkan wajahnya di keharuman rambut Selly yang mungil dan pasrah dalam rangkulan lengannya, “Rasanya aku hancur ketika tahu bahwa aku akan kehilanganmu, ketika itulah aku menyadari bahwa aku mencintaimu, bahwa tidak ada artinya bagiku bisa menguasai seluruh dunia dan seluruh kekuatan di dalamnya kalau tidak ada kau.” Gabriel meraih bahu Selly, mengangkat dagu perempuan itu dan mendekatkan ke wajahnya, ‘Kau telah mengambil hatiku tanpa aku menyadarinya Selly, begitu baik hati, begitu mudah dicintai, bertolak belakang dari semua yang kuyakini sebelumnya, aku kehilangan pertahanan dan tanpa kusadari telah menyerahkan segalanya untukmu.”

Air mata mengalir lagi dari sudut mata Selly, air mata haru dan penuh kebahagiaan.

“Terimakasih Gabriel, terimakasih telah menyelamatkan nyawamu, terima kasih telah begitu mencintaiku...”

Selly tidak menyelesaikan perkataannya, karena Gabriel mendekatkan bibirnya dan mengecupnya. Kecupan itu semula lembut, hanya sebagai peredam gejolak perasaan dan kerinduan yang meluap-luap. Tetapi kemudian semakin dalam, Gabriel melumat bibir Selly dengan sepenuh perasaannya, mencecap seluruh rasanya, menikmati dan memujanya.

Hingga ketika ciuman itu selesai, napas keduanya terengah-engah.

Gabriel mengecup dahi Selly dan kemudian menenggelamkan perempuan itu ke dalam pelukannya.

Mereka begitu menikmati kebersamaan mereka. Memang masih banyak yang perlu dibicarakan, masih banyak yang perlu diungkapkan. Tetapi saat ini yang penting adalah kebersamaan mereka, menikmati kehadiran satu sama lain. Cinta sejati.

Gabriel telah begitu lama tenggelam dalam kekelaman, melingkupi jiwa dan benaknya, membuatnya menjadi begitu getir dan kejam. Tetapi kehadiran Selly yang begitu baik hati, telah melembutkan jiwanya yang begitu keras tanpa sadar.

“Terimakasih Selly, telah membuat hatiku yang kukira tidak mungkin mencinta ini, jatuh cinta kepadamu...” Gabriel berbisik, haru dan penuh perasaan.

Selly menganggukkan kepalanya, masih penuh air mata, dia menatap lelaki itu. Gabriel yang tampak begitu tampan dengan rambut hitam gelap dan mata cokelatnya yang tajam. Lelaki ini dulunya tampak begitu jauh, hingga bagi Selly tidak mungkin kalau hati mereka akan bertaut. Tetapi ternyata takdir menggariskan lain. Selly ternyata telah jatuh hati kepada Gabriel tanpa dia sadari, dan pengorbanan Gabriel untuknya, membuat cintanya semakin dalam.


Dia menenggelamkan kepalanya di dada Gabriel, memejamkan matanya dan tersenyum. Nanti mereka akan membicarakan segalanya, sekarang, dia akan menikmati kebersamaan mereka yang membahagiakan  dan mensyukuri semua yang ada di dalam pelukan lengannya.

-End-

25 komentar:

  1. Aaaakkkkkkkk.... Haiiiiii Mba Santhyyyyyy apa kabaarrrrr???kangeeeeennnnnnnnnn......
    Smg smw urusan Mba Santhy dmudahkan yaaahhhhh..... Hukz....

    Huaaaaaaaaaaa,,Gabrieelllllllll akuuhhhh pdamuuuuuuhhh...
    G nygkaaa,,g nygka bgtz akhrnya beginiiiiii.. Keeyeennnnnnnn.. Mba Santhyyy keyeeeennnnnnn....
    Ttp smgt yah Mba Santhy,,jgn nyerah sm keadaan,,smg smw urusan Mba Santhy dmudahkan... *peluuukkkkkk2*

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Ya ampuunn,,sakingg smgtnya smpe double komennya... *nunduk*
    Maap...

    BalasHapus
  4. mbak.....tvt dipost pleaseee......*edisi maksa.hehehee.....

    BalasHapus
  5. Mbak Santhy kangeennnnnnnn ..
    Ini kan lom liburan Natal mb tapi uda post hihi, thanks mb :*

    Akhir yang tak terduga Sely akhirnya dengan Gabriel

    BalasHapus
  6. Mbak san, rolan tak ajak blind date boleh gak? Hihihi, kali aja cocok :D

    BalasHapus
  7. mbak saaaannnn akhirnya engkau kembali.........

    BalasHapus
  8. Akhirny... Stelah skian lma bsa bca jga.. Mkasih bgt mbak Santhyyy!!!:*:*:*

    BalasHapus
  9. mba shanty makasih banyak yaa di upload lagi kelanjutannya :)

    BalasHapus
  10. Terharu mb san,akhir y sally sama gabriel juga hikz hikz hikz

    BalasHapus
  11. Cry... Terharu... But happy ending.. I like it..

    BalasHapus
  12. alhamdulillah mba sant balik lagi, terima kasihhh mba santh:*

    BalasHapus
  13. aaaaa mbak akhirnya balik juga dirimu *kecup basah* makasih banyak mbak udh sempatin waktunya

    BalasHapus
  14. Mbak Santhy kangen banget aku sama kamuuuu *peluk* dan aku nangis banget baca ini.. huhu makasih udah dilanjutin :*

    BalasHapus
  15. Huaaaa mengharukan banget endingnya mb san
    Akhirnyaaa selly ama gabriel jugaaa
    Makasih mb saan...

    BalasHapus
  16. Ahh itu pas bagian Selly bikin kesel banget, bisa kena ke dia ya? Kalo jadi Rolan mending mati daripada ngegituin cinta sejati sendiri, Gabriel keren banget! Cari yg beginian di mana? Udah dari awal setujunya sama Gabriel! Kali-kali tokoh baik gak harus bahagia juga hahhaha. Gabriel juga baik, cuma mukanya aja gitu wkwkw. Puas sama ending!

    BalasHapus
  17. akhirnya gabriel-lah yg menang...! Asyiiiik....

    BalasHapus
  18. "Marco yang sekarang menjadi pelayannya yang setia menganggukkan kepalanya."

    Ini ga ketuker kah? Bukankah Marco pelayannya Rolan? Kalo Selly dpt kekuatan dari Gabriel, berarti yg jd pelayannya Carlos dong. Eh iya gak sih? -_-

    BalasHapus
  19. "Marco yang sekarang menjadi pelayannya yang setia menganggukkan kepalanya."

    Ini ga ketuker kah? Bukankah Marco pelayannya Rolan? Kalo Selly dpt kekuatan dari Gabriel, berarti yg jd pelayannya Carlos dong. Eh iya gak sih? -_-

    BalasHapus
  20. huahahaha... akhirnya.. maaf telat bingit berkunjungnya..
    tuh, kann.. feeling ku k Gabriel bener.. cucokk bray..

    BalasHapus
  21. mbaa, kok ga pernah nulis lagi :( kangen baca karya mba santhy nih :'(

    BalasHapus
  22. Wooww.. namaku Selly dan suamiku namanya Rolan.. agak kaget pas baca ini :D tapi harusnya Selly sama Rolan nih mba :)

    BalasHapus
  23. Hai, kamu mau baca novel romantis lain yang nggak kalah serunya?
    berkunjung ke blog ku yuk!

    http://karyacinta-rita.blogspot.co.id/

    BalasHapus
  24. Huwaaaaaa senenggggnyaaaa, ternyata sama gabrielll.emang feelnya dapet sama gabriel dr pada rolan..hahahhhhaha.

    BalasHapus