Jumat, 31 Mei 2013

Embrace The Chord Part 4



Rachel membelalakkan matanya, tangannya yang sedang menyuap sarapannya terhenti begitu saja di udara, dia terperangah,

"Apa?"

"Itu Jason..." Mamanya masih memasang ekspresi takjub yang sama, "Dia menelepon sendiri tadi dan..." lalu mamanya seolah tersadar, "Cepat Rachel, selesaikan sarapanmu, kita berangkat sekarang."

Lalu tanpa menunggunya, mamanya bangkit dari kursi, merapikan riasannya, meraih tas dan kunci mobil. Setelah sampai di pintu, mamanya menoleh dan mengernyit melihat Rachel yang masih bengong melihat tingkah sang mama.

"Kenapa kau masih di situ Rachel? Ayo cepat kita berangkat."

Another 5% Part 5

PS : untuk yang menanti Embrace The Chord, InsyaAllah nanti malam yah,  ini daku sedikit meriang dan pusing hehehe...   Kalau naskah another 5% sudah siap dari kmrin2, jadi diposting duluan, kalau naskah Embrace The Chord baru 50%nya jd harus dikerjain dulu :)




Rolan menggendong Sabrina yang lunglai dan berjalan menuju sayap rumah sakit tempat penderita kanker di rawat intensif.

Suster yang berjaga di sana. Suster yang sangat dikenalnya karena Rolan juga lama di sini langsung berdiri dari tempat duduknya. Menyongsong mereka dengan panik,

"Astaga. Tuan Rolan. Bagaimana... Kenapa bisa nona Sabrina??" Lalu suster itu menyadari bahwa Rolan tampak begitu sehat dan kuat, "Anda tidak apa-apa Tuan Rolan? Anda menggendong Sabrina?"

"Aku tidak apa-apa." Rolan tersenyum penuh keyakinan, "Aku baik-baik saja suster, jangan cemaskan aku, dimana kamar Sabrina? Aku akan menidurkannya di sana."

Kamis, 30 Mei 2013

Another 5% Part 4

PS : untuk Another 5% ini full visualisasi yah biar puas pembaca membayangkan hihihihi ^__^



Suasana mendadak hening ketika Gabriel menyapa Selly, semua mata memandang ke arah Selly yang masih berdiri gugup di sana, sementara Gabriel tampak tenang-tenang saja, ada seulas senyum di bibirnya

"Kemarilah, silahkan duduk nona Selly." Gabriel menggerakkan tangannya, meminta Selly mendekat, ada senyum ramah di sana, senyum menenangkan yang membuat Selly akhirnya berani maju dan duduk di salah satu bangku yang mengitari meja bundar yang besar itu. Ibu Sandra ikut duduk di sebelahnya, tidak berkata apa-apa.

Rabu, 29 Mei 2013

Another 5% Part 3


PS : Happy Birthday To Mendy Jane ^_^V



"Tolong cek ulang hasil rekonsiliasi bank ini Selly, di sini dilaporkan ada transaksi debit di rekening koran yang belum dibukukan di General Ledger, tapi kulihat angka itu barusan sudah dimasukkan ke General Ledger tanggal 3 mei, mungkin kita bisa menyesuaikan rekonsiliasi ini sebelum tutup buku."
Ibu Sandra, atasan langsung Selly di bagian akunting kantor mendatanginya sambil menunjukkan berkas laporan Selly, Selly menerima berkas itu dan membacanya
"Saya akan melakukan koreksi angka, saya cek di General Ledger dulu." gumamnya sopan.
Ibu Sandra menganggukkan kepalanya.

Selasa, 28 Mei 2013

Another 5% Part 2

PS : Untuk Mendy Jane yang besok akan berulang tahun, kuberikan requestmu lebih cepat hee semoga besok ada lagi hadiah susulan untukmu *peluk*
 
 

 
 
 
Rolan menoleh dan melihat Shelly yang memandangnya dengan terkejut di pintu. Wajah Selly pucat pasi, perempuan itu benar-benar cemas. Selly segera meletakkan jeruknya di meja terdekat dan menghambur menghampiri Rolan,
 
"Rolan! Astaga! Kau bisa berdiri?" jemarinya menyentuh lengan Rolan, mencoba menopangnya. Tetapi entah kenapa lengan Rolan yang biasanya kuyu dan rapuh kini terasa begitu kuat dan kokoh. Selly mengerutkan keningnya. Dia mendongak dan menatap wajah Rolan, lelaki ini terasa berbeda. Bahkan pancaran wajahnyapun berbeda. Rolan sama sekali tidak tampak seperti orang sakit. Yah sebelumnya Selly maklum karena pengobatan terus menerus telah mempengaruhi kondisi Rolan, kulitnya menjadi kuyu dan kering, rambutnyapun menipis. Tetapi sekarang, lelaki di depannya ini tampak seperti Rolan yang dulu, Rolan sebelum sakitnya semakin parah.

Embrace The Chord Part 3

PS : buat yg menunggu Crush in Rush dan Menghitung Hujan, Naskah masih dalam proses dipoles yah untuk episode sampai end khusus untuk blog ini :) jadi masih terpending postingannya kira2 tiga sampai empat hari lagi, semoga sabar menunggu yah. Untuk sementara Embrace The Chord dan Another 5% akan diposting secara berkala :) 


Musik itu mengalun memenuhi aula. Dan seketika itu juga Jason ternganga.
Anak perempuan ini.... anak perempuan ini...

Antusiasme langsung memenuhi diri Jason, membanjirinya, ini adalah rasa yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya. Rachel memainkan setiap gesekan nada dengan begitu mudahnya, seolah setiap nada bukanlah sesuatu yang sulit untuknya. Padahal musik yang dia mainkan membutuhkan latihan intensif dan konsentrasi tersendiri. Tchaikovsky tentu saja adalah favorit Jason. Dia menguasai semuanya, dan suka mendengarkannya, amat sangat tahu tingkat kesulitannya.

Senin, 27 Mei 2013

Visualisasi Novel Embrace The Chord, Crush In Rush & Menghitung Hujan & Another 5% [ Edited ]

Banyak yang nanya visualisasi buat ngebayangin yah hehehhe
mungkin begini versiku, kalau yang lain pasti punya visualisasi tersendiri sesuai dengan selera masing2 semuanya bebas ber-imajinasi hehehehe,
ini mungkin visualisasi versiku :)
 Untuk 4 judul novel yang masih bersambung di blog ini
selamat berimajnasi sebebas-bebasnya yaaa :))

Embrace The Chord Part 2

 
 
Anak Kecil?
 
Dalam sekejap Rachel merasa tersinggung. Apakah lelaki itu memanggilnya 'anak kecil' untuk menghinanya? Di usianya yang ke delapan belas tahun, tubuh Rachel memang kecil, mungil dan tidak seperti seluruh keluarganya yang bertubuh tinggi, Rachel pendek, kurus dengan bola mata nan lebar dan bening. Sekarang dia mengenakan celana pendek warna hitam dipadu dengan t-shirt biru muda yang sedikit kedororan. dari jauh penampilannya seperti anak lelaki. 
 
Pantaslah lelaki itu memanggilnya 'anak kecil'. Mungkin dia mengira Rachel adalah salah satu murid kelas yunior akademi yang tersesat. Ya, Rachel memang murid di akademi ini, tetapi dia adalah murid senior yang sudah lulus enam bulan yang lalu, sekarang dia dan mamanya, serta Calvin sahabatnya, datang ke akademi ini untuk mengambil formulir pelatihan khusus.
 
Pemain biola itu meletakkan biolanya, kemudian melangkah mendekat. Ketika dia makin dekat, Rachel langsung terpana. Astaga.... lelaki itu tampan sekali hingga mendekati cantik. Rambut hitamnya yang lurus dibiarkan memanjang sampai menyentuh kerah bajunya, bibirnya... matanya... semuanya sempurna. Mungkin jika lelaki ini kehilangan pekerjaannya sebagai pemain biola, dia bisa menjadi aktor atau model sempurna.
 
Jadi inilah dia penampilan langsung Jason, si pemain biola jenius yang begitu terkenal. Rachel sering melihatnya bermain di video-video latihannya, sering mendengarkan rekamannya yang brilian di sela-sela belajarnya bermain biola, tetapi rupanya, penampilan lelaki ini secara langsung benar-benar berkali-kali lebih mempesona daripada gambarnya di video-video itu.

Embrace The Chord Part 1




"Kau memang jahat!"
 
Perempuan berambut pirang panjang itu berdiri setengah menggebrak meja, menatap ke arah Jason yang hanya bersedekap tenang dan dingin. Mata perempuan itu berkaca-kaca, hampir menangis. Sementara itu Jason malahan melirik tak peduli.
 
"Aku memang jahat." lelaki itu tersenyum manis, wajahnya tampan tetapi sekarang terlihat penuh kebencian, "Kalau kau sudah puas melampiaskan kemarahanmu, kau boleh pergi."
 
Sebuah tamparan dari jemari lentik berkuku merah berkilauan itupun melayang, mengenai pipi Jason dengan kerasnya, luapan emosinya akibat perlakukan kejam Jason kepadanya. Jason menerimanya dengan tenang, dia sudah terbiasa. Perempuan-perempuan emosional biasanya akan berusaha menyakiti lawannya ketika dia disakiti, itu memberikan kepuasan, rasa yang sepadan bagi mereka.

Minggu, 26 Mei 2013

Crush In Rush Part 12





William masih ternganga akan kata-kata vulgar Kiara, sementara Carmila melemparkan pandangan jijik kepada Kiara. Kiara sendiri tidak peduli, dua orang di depannya itu sudah menganggapnya sebagai kelas rendahan hanya karena dia bukan bangsawan dan tidak jelas asal usulnya, jadi biar sama mereka berpikiran semakin buruk kepadanya.

“Kau membuatku tak sabar untuk masuk kamar.” Joshua berbisik mesra, tangannya semakin memeluk pinggang Kiara dengan posesif, sengaja memberikan isyarat di sana agar tamu mereka malu.

Tetapi rupanya Carmila bukanlah perempuan yang mudah menyerah. Tentu saja, dia tidak akan diangkat menjadi CEO perusahaan multinasional yang sekarang kalau dia menyerah dengan begitu mudahnya.

“Aku ingin kau memberiku kesempatan.” Gumamnya tegar, membuat Joshua mengerutkan keningnya sambil menatap Carmila.

Sabtu, 25 Mei 2013

Embrace The Chord [ Prolog }

 
 
Perempuan itu racun. Perempuan itu jahat. Mungkin mereka tampak cantik dan lembut di luar, tetapi siapa yang tahu betapa kejinya jiwa yang tertanam di sana.
 
Itulah yang tertanam di benaknya, di hari itu, hari yang dingin dan berkabut, ketika ibunya membangunkannya di dini hari. Waktu itu dia masih menghabiskan malam-malamnya dengan menangis, menangis karena sudah hampir dua minggu dia dipisahkan dari adik kesayangannya, dari ayahnya yang lembut dan baik hati.
 
Sekarang dia terpaksa tinggal bersama ibunya, yang membawanya pergi begitu saja dari rumah dan kemudian tinggal di rumah teman laki-lakinya.

Jumat, 24 Mei 2013

Crush In Rush Part 11


 
Mata Joshua tampak menggelap mendengar kata-kata arogan Wiliam, bibirnya menipis menahan marah,

“Berani-beraninya kau menghina calon isteri pilihanku.” Gumamnya gusar, “Keluar dari rumah ini sekarang.”

William tampak kaget diusir dengan tidak sopan seperti itu. Dia terbiasa dihormati, orang-orang terbiasa membungkuk hormat kepadanya. Dan sekarang dia diusir oleh anak kandungnya sendiri? Sungguh penghinaan yang menyinggung harga diri William, tetapi dia menahankannya. William membutuhkan Joshua. Hanya anak itulah satu-satunya laki-laki keluarga Sinclair yang masih hidup. Selama berapa dekade ini, keluarganya telah dikutuk selalu melahirkan anak perempuan yang tentu saja tidak bisa diandalkan untuk meneruskan nama gelarnya. Lalu penyakit jantungnya yang menyebabkannya tidak bisa mempunyai keturunan meyerangnya. Membuatnya tergantung hanya kepada Joshua. William akan rela menahankannya. Tidak apa-apa, asalkan gelar dan nama keluarga selamat di masa depan.

Kamis, 23 Mei 2013

Crush In Rush Part 10


 
 
Hari masih pagi ketika Kiara bangun dan menyiapkan sarapan, kamar Jason dan Joshua masih tertutup rapat, kalau Joshua, Kiara sudah maklum karena lelaki itu selalu menggunakan waktu paginya untuk tidur karena semalaman hampir tidak tidur. Tetapi rupanya Jason juga bangun kesiangan pagi ini. Kiara mengernyitkan keningnya karena tidak biasanya Jason kesiangan.

Setiap hari lelaki itu selalu bangun pagi, sudah mandi dan rapi dengan aroma segar yang menyenangkan lalu duduk di meja dapur, makan sarapannya bersama Kiara.

Sudah hampir dua minggu berlalu sejak Jason datang untuk tinggal di apartemen ini. Dan dalam dua minggu itu, banyak sekali kejadian, dan perubahan, terutama bagi Kiara.

Another 5% Part 1

Dahulu kala diciptakanlah dua kekuatan yang saling menyeimbangkan
Masing-masing memiliki 95% kekuatan otak yang telah diaktifkan, mendekati sempurna.
Kekuatan tak terduga yang diserahkan kepada dua anak manusia yang terpilih, kekuatan yang bertolak belakang.
Yang satu hitam dan yang satu putih, saling menyeimbangkan.
Karena dunia hanya bisa seimbang jika ada lawannya. Jahat dan baik.... hitam dan putih.,derita dan bahagia, gelap dan terang....
Dua kekuatan itu ditakdirkan sama hebatnya, demi keseimbangan dunia.
Seharusnya dua kekuatan itu berjalan selaras dan damai, seharusnya dua kekuatan itu saling menghargai dalam kediaman yang sunyi...
Sayangnya ketika dua kekuatan itu harus saling bertentangan, satu-satunya cara memenangkan pertarungan adalah dengan mendapatkan keunggulan 5% yang tersisa....




"Bagaimana keadaan anda, Tuan Rolan?" Dokter Beni, dokter setengah baya yang menangani Rolan itu tersenyum ramah kepadanya. Yah Rolan sudah begitu lama di rumah sakit ini hingga setiap dokter mengenalnya dengan baik. Mereka selalu melemparkan tatapan ramah dan iba.... iba karena umur Rolan mungkin tidak akan lama lagi.

"Saya baik-baik saja dok." Rolan tidak berbohong. Dia merasa amat sangat sehat, tidak ada lagi rasa sakit yang menderanya, rasa pusing yang membuat kepalanya terasa dipukul-pukul oleh palu pun sudah menghilang, rasa nyeri di sekujur tubuhnya, menjalari aliran darahnya sebegitu seringnya hingga membuatnya terbiasa, sekarang sudah tiada. Rolan merasa aneh, hampir terlalu lama dia merasakan rasa sakit itu hingga terasa begitu familiar, dan sekarang begitu rasa itu tidak ada, dia merasa aneh.... aneh yang menyenangkan.

Rabu, 22 Mei 2013

Crush In Rush Part 9


 
Kiara benar benar terkejut dan tak menyangka kalau Deliah bukanlah perempuan tulen, oh ya ampun tiba-tiba saja Kiara merasa malu, bagaimana bisa Deliah yang bukan perempuan tulen tampak begitu cantik? Apalagi kalau dibandingkan dengan dirinya......

Joshua sendiri mengamati reaksi Kiara dan tersenyum geli,

"Jangan merasa rendah diri, Deliah memang selalu berusaha lebih cantik dari perempuan manapun di dunia ini, tapi dia sahabat yang baik dan dia akan membantumu."

"Membantuku?"

"Ya. Akan kujelaskan nanti, yang jelas, beberapa hari ini kau akan sering bertemu dengannya."

Kiara menatap Joshua, tetapi lelaki itu tampaknya sudah menghentikan pembahasan mereka tentang Deliah. Pada akhirnya Kiara hanya terdiam, menyimpan pertanyaan dalam benaknya.

Nanti. Gumamnya dalam hati, nanti pasti Joshua akan menjelaskan kepadanya. Dam sekarang seperti yang diminta Joshua. Kiara akan menuruti rencana Joshua, dia bertekad menjadi pelayan yang baik untuk Joshua.

***

Senin, 20 Mei 2013

Menghitung Hujan Part 14



Kau dan aku lebih murni dari petikan sastra romantis,
meski kisah kita tak seindah cinta dalam sejarah.
Kita dan dua cangkir kopi,
lalu menghitung hujan sambil mendengarkan debaran sendiri
Dua cangkir kopi berteman hujan
Dua cangkir kopi lebih indah dari simfoni
Jadi tetaplah ada.
Kau dan aku, dan dua cangkir kopi.




“Ini adalah kakak lelakimu.” Ibu Dewi menunjuk ke anak lelaki kurus di foto itu, yang dirangkul oleh ayahnya, kemudian menatap Diandra dengan sedih, “Seandainya saya punya kesempatan untuk memberitahu tentangnya sejak awal Diandra, tetapi kau telah hidup dalam kehidupan baru yang bahagia, dan orangtuamu memutuskan untuk menjagamu dengan tidak memberitahukan informasi apapun, hal itu menahan saya untuk mengganggu kehidupanmu dengan informasi ini.”

Ibu Dewi menghela napas panjang lalu melanjutkan, “Kakak lelakimu berumur tiga tahun ketika kecelakaan yang menewarkan kedu orang tuamu terjadi, kalian berdua diserahkan di panti asuhan ini bersama-sama. Sayangnya, kakakmu terlalu besar usianya dan anak yang sudah terlalu besar biasanya jarang sekali diminati untuk diadopsi. Pada akhirnya kakakmu harus berpisah denganmu karena orangtua angkatmu memilihmu untuk diadopsi.” Ibu Dewi menatap Diandra lembut, “Meskipun terpisah, saya tahu kakakmu selalu mencintaimu. Dia tumbuh dan besar di sini, kami menyekolahkannya karena dia sangat pandai, di pagi hari dia bersekolah dan setelahnya dia membantu di panti asuhan ini, bekerja apapun yang bisa dilakukan untuk membantu kami. Dan ketika usianya 17 tahun, dia memutuskan bahwa dia sudah dewasa sehingga meninggalkan panti asuhan ini dan menjalani hidupnya sendiri. Dia sukses dalam kehidupannya, dan walaupun begitu kakakmu tidak pernah lupa mengunjungi kami, katanya dia menganggap panti asuhan ini adalah rumahnya, Saya ingat dia selalu datang di hari raya, membawakan makanan dan baju baru yang begitu banyak untuk anak-anak panti di sini.” Mata ibu Dewi menerawang.

Minggu, 19 Mei 2013

Crush In Rush Part 8


PS : Hujan deras dan macet menghalangi jalanku pulang. Tetapi akhirnya bisa pulang juga dan posting, semoga penantian all readers tidak sia-sia yah :))
 
 
 
 
“Teganya kau memanfaatkan gadis sepolos itu sebagai tameng?” Jason mengernyitkan keningnya, “Dan tameng seperti apa maksudmu?”

Joshua mengangkat alisnya, menatap Jason setengah mencemooh, “Benarkah yang kudengar ini? Seorang Jason yang selalu menyakiti hati perempuan tanpa pandang bulu tiba-tiba mencemaskan kepolosan seorang perhempuan?”

Jason membalas tatapan mata Joshua dengan serius, “Aku sungguh-sungguh dengan perkataanku Joshua.... kau tahu semua perempuan yang pernah menjadi korbanku, mereka memang pantas mendapatkannya, tetapi Kiara.... dia benar-benar perempuan polos yang tidak tahu apa-apa, apapun yang kau rencanakan terhadapnya, kau akan bersikap kejam kepadanya.”

Joshua membeku, dia lalu mengangkat bahunya,

“Kiara adalah satu-satunya orang yang paling tepat untuk ini.”

Crush In Rush Part 7

PS : aku janjiin tiga part part 6, 7 dan 8... tapi part 8nya minggu agak siang2 yah dear... duh udah ngantuk banget soalnya ini ternyata mau posting lagi sudah ga kuat matanya udah buram hehehe....cuma kuat begadang sampe jam segini, tadi niatnya sampai jam enam pagi melek terus ternyata ga kuat .... huhuhu maapkan yaah, yang part 8 minggu siang yah :))
 


“Sudah berapa lama kau di situ?” suara Jason bahkan sedingin tatapannya. Tiba-tiba saja Kiara merasa takut. Kenapa Jason yang berdiri di depannya ini sangat berbeda dengan Jason yang ramah, yang tadi pagi berbelanja kepadanya?

“Eh... saya memanggil karena makanan sudah siap.” Kiara bergumam gugup bingung menghadapi tatapan mata Jason yang dingin dan penuh kemarahan. Sebenarnya lelaki itu sedang marah kepada siapa? Kenapa dia memainkan musik seperti itu? musik yang bergolak yang membuat siapapun yang mendengarkannya pasti tahu bahwa sang pemain biola sedang marah.

Tetapi kemudian Jason tampaknya bisa menguasai diri. Kemarahan tampak surut dari matanya, dan dalam sekejap ada senyum di sana. Ekspresi lelaki itu kembali penuh canda dan ramah seperti yang selalu ditampilkannya di depan Kiara sebelumnya, 

Crush In Rush Part 6





PS : Untuk siapapun yang sedang begadang, semoga kisah ini bisa menemani minggu pagimu yang pasti indah :)
 
 
Jason berdiri disana dengan senyum lebarnya dan tatapan mata tidak berdosanya, sama sekali tidak menyadari kalau Irvan hampir saja melotot melihat penampilannya.

Tentu saja, Kiara yang dikenal oleh Irvan pastilah tidak mungkin dekat dengan pria-pria berpenampilan elegan semacam ini. Kiara yang dikenal irvan sangat sederhana lugu dan pemalu, sangat bertolak belakang dengan lelaki tampan itu, yang dengan santainya melingkarkan lengannya di pundak Kiara.

Apakah lelaki ini majikan Kiara yang diceritakan sebagai pemilik apartemen tempat Kiara bekerja? Tetapi seorang majikan mana mungkin merangkulkan lengannya dengan akrab seperti itu? atau jangan-jangan lelaki ini pacar baru Kiara? Kalau begitu beruntung sekali Kiara bisa mendapatkan pacar lelaki yang jelas-jelas berasal dari kalangan atas itu.... tapi kalau begitu kenapa Kiara masih bekerja sebagai pembantu? Kalau memang pacarnya kaya bukankah Kiara tidak perlu bekerja lagi?

Kamis, 16 Mei 2013

Menghitung Hujan Part 13



Kalimat-kalimatmu seindah hujan di pagi hari, sehalus ungkapan hati yang tak bertepi.
Dan hatiku hanyalah setetes embun sisa hujan di malam hari, menggayutkan mimpi bisu, menunggu matahari mengeringkannya.
Hanya.....Ragaku sendiri bukan raga yang sama, dan cintaku sendiri bukan cinta yang mudah.
Akankah aku bisa membuatmu bertahan.
Atau haruskah aku memendam perih lagi,
Menatap punggungmu yang berlalu dan kemudian pergi?






“Mungkin saya akan menjelaskan tentang orangtuamu sebelumnya, Diandra.” Ibu Dewi tersenyum lembut, meminta Diandra untuk bersabar, “Saya harap itu bisa membantumu menerima semuanya nanti.”

Diandra hanya bisa menganggukkan kepalanya menunggu, meskipun hatinya penasaran setengah mati.

“Tidak seperti anak-anak lain kebanyakan di sini, sebenarnya kau cukup beruntung. Sebagian besar yang ada di sini merupakan anak buangan, tidak bisa melacak asal usulnya lagi, benar-benar tidak bisa menemukan asalnya. Tetapi aku bisa memastikan asal-usulmu.” Ibu Dewi melanjutkan, “Orangtuamu sebenarnya sangat menyayangimu,  mereka memang tidak kaya tetapi mereka berusaha mencukupimu, itulah yang kutangkap dari petugas dinas sosial ketika mengantarkan bayimu kemari, sayangnya umur mereka tidak panjang dan mereka tidak punya sanak keluarga, sama-sama sebatang kara. Karena kejadian itu, para tetangga menemui dinas sosial dan diputuskan untuk menitipkanmu di sini. ”

“Orang tua saya sudah meninggal?” Diandra merasakan dadanya ditonjok keras-keras. Meskipun sudah menduga hal ini sebagai kenyataan yang paling buruk, tetap saja informasi ini menghentak batinnya.

“Ya Diandra, maafkan saya harus menceritakan kenyataan ini kepadamu. Tetapi setidaknya kau bisa merunut asal-usulmu, kau bukan anak buangan yang tidak jelas siapa asal usulnya. Mereka mengalami kecelakaan dan meninggal, saat itu usiamu tiga bulan, dan kau selamat dari kecelakaan itu.”

Rabu, 15 Mei 2013

Menghitung Hujan Part 12



 



...Itu untukku..itu bukan untukku...
Dia untukku...dia bukan untukku...
 
 
 
 
 
 
 
“Aku mengetahuinya tanpa sengaja. Beberapa waktu yang lalu.” Axel menatap Diandra lembut, setelah lama akhirnya Diandra bisa sedikit tenang dan mendengarkan Axel, “Waktu itu ayah dan ibumu sedang berbicara dengan nenek di dalam, mereka membicarakan tentang adopsimu dan sebuah kabar dari panti asuhan tempatmu dulu di adopsi.... mereka tampak cemas... “ Axel menghela napas panjang, “Tentu saja aku terkejut luar biasa, aku kemudian diam-diam pergi  sehingga sampai sekarangpun, mereka tidak tahu bahwa aku tahu.”

Diandra terdiam menatap Axel, tiba-tiba merasa ingin tahu. Laki-laki ini, yang seumur hidupnya dianggap sebagai kakak kesayangannya, sepupunya yang paling dekat.... menciumnya. Apakah yang ada di benak Axel?

Axel rupanya sadar bahwa Diandra sedang menebak-nebak perasaannya, dia tersenyum dengan rasa bersalah yang kental,

Crush In Rush Part 5



 
Tampan Sekali.
 
Kiara hampir saja tidak bisa menutupi rasa kagumnya akan ketampanan lelaki yang baru masuk itu. Luar biasa. Bahkan dia sebagai perempuan merasa dirinya kalah cantik dibanding lelaki itu. Meskipun wajahnya cantik tetapi tidak ada sikap yang mengarah ke arah feminim sama sekali dari penampilan lelaki yang dipanggil Joshua dengan nama Jason itu. Jason tampak maskulin dan sinar matanya tampak sedikit bandel, seperti anak lelaki kecil yang nakal.
 
Detik ketika Jason masuk itulah dia menyadari kehadiran Kiara di sana, duduk di sofa ruang tengah, lelaki itu langsung melemparkan pandangan berganti-gani penuh arti ke Kiara dan Joshua,
 
"Ah, maaf, aku tidak tahu kau sedang ada tamu." Jason tersenyum ramah, senyum yang mempesona kepada Kiara, "Johua biasanya tidak pernah menerima tamu di apartmennya, kecuali tamu yang memaksa seperti aku." Lelaki itu terkekeh sendiri, lalu melangkah mendekat, "Kau pasti perempuan istimewa."
 
"Jangan ganggu dia, Jason. Dia pelayanku."

Senin, 13 Mei 2013

Crush In Rush Part 4


 
Kiara melirik ke arah Joshua dengan takut-takut, mendadak merasa tidak nyaman berada di dalam mobil itu, apalagi ekspresi Joshua tampak sangat marah, sedikit menakutkan.

Lelaki itu mencengkeram kemudi kuat-kuat dan kemudian sedikit mengebut, untunglah mereka ada di jalan tol yang lengang, sehingga mereka sedikit aman. Tetapi walaupun begitu, jantung Kiara serasa berpacu ketika Joshua semakin dalam menginjak gas mobilnya, membuatnya berpegangan pada sabuk pengamannya dan berdoa dalam hati karena ketakutan.

Kalau gaya Joshua menyetir seperti ini, dia tidak akan mau pergi semobil berdua dengan laki-laki itu lagi. Kiara berjanji dalam hati,  melirik ekspresi lelaki itu yang sangat gusar.

Kenapa Joshua tampak begitu marah? Telepon siapa itu tadi?

***

Rabu, 08 Mei 2013

Membebaskan Dewi



Keisha mengerutkan keningnya memandang hutan karet yang terbentang di hadapannya, dia benar-benar tidak menyangka bahwa tempat KKN-nya benar-benar terpencil. Hampir 40 kilometer dari pusat kota, perjalanan harus ditempuh dengan jalur darat, melewati hutan yang gelap dan jalanan yang jelek tidak beraspal, membuat tubuh mereka berguncang-guncang di perjalanan, di dua konvoi mobil yang mereka naiki. Mereka satu team ada bersepuluh, Keisha sendiri dari Fakultas Ekonomi sedang teman-temannya yang lain berasal dari fakultas yang berbeda-beda.

Sekarang sudah hampir dua bulan Keisha di sini, masa KKNnya sudah hampir habis. Perasaan lega dan puas bercampur aduk di benaknya. Setidaknya dia telah melakukan sesuatu. Penduduk sekarang tahu cara pengolahan sampah organik menjadi kompos, mereka juga telah melakukan daur ulang sampah menjadi sesuatu yang berguna. 

Selasa, 07 Mei 2013

Crush In Rush Part 3

Untuk Novi M yang sedang berulang tahun ^__^V



Menjadi pelayan?

Kiara mengerutkan keningnya dan seketika itu juga wajahnya pucat pasi, menjadi pelayan ini apakah menjadi pelayan seks dari Joshua? Kiara sering melihat kisah-kisah sinetron dan film dimana tokoh wanita yang miskin pura-puranya ditolong oleh lelaki kaya, tetapi kemudian dia disekap dan dijadikan budak seks.... Ya Ampun! Kiara harus menyusun rencana melarikan diri dari rumah ini!

Joshua yang melihat perubahan ekspresi Kiara langsung merasa geli. Dia sudah pasti bisa menebak pikiran apa yang lalu lalang di benak Kiara, ekspresi wajah Kiara yang polos mengungkapkan semuanya karena perempuan itu benar-benar seperti buku yang mudah dibaca. Joshua memutuskan akan menggoda perempuan ini,

"Jadi sebagai pelayanku kau harus berlatih untuk memuaskanku." Joshua tersenyum lebar sampai barisan gigi putihnya yang rapi terlihat, setengah mati menahan geli melihat ekspresi shock dan pucat pasi di wajah Kiara.

Senin, 06 Mei 2013

Crush In Rush Part 2



Joshua  menahan keinginannya untuk mendatangi cafe itu lagi. Perempuan pelayan cafe itu, di luar dugaannya sungguh sangat menarik perhatiannya. Membuatnya ingin melihatnya setiap hari. Joshua sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya dia rasakan kepada perempuan pelayan itu. Dia berhati dingin, jiwanya yang kejam adalah pembawaannya, sehingga dia  cenderung tidak peduli kepada orang lain. Tetapi perempuan pelayan itu begitu mungil, begitu tak berdaya dan harus menjalani pekerjaan yang begitu berat. Joshua bertanya-tanya apakah perempuan itu punya keluarga atau orang lain yang bisa mengurusnya.

Diluar kebiasaannya juga, Joshua memberikan uang kepada perempuan pelayan itu. Dia mengangkat bahunya dan sedikit merasa lega, mungkin perempuan itu bisa menggunakan uang itu untuk memenuhi kebutuhannya. Uang sebesar itu hanyalah recehan bagi Joshua, tetapi dia tahu uang itu sangat berarti bagi perempuan itu.

Tiba-tiba Joshua tersadar... kenapa dia terus menerus memikirkan perempuan itu?

Menghitung Hujan Part 11


Tak pernah kuduga, ternyata jalinan kisahku akan seberat itu
Ternyata sesuatu yang sempurna pada akhirnya bisa terasa melelahkan
Ternyata sesuatu yang kukira kuat, bisa menjadi rapuh dan terlalu lemah untuk bertahan
Pantaskah untuk diperjuangkan kisahku ini?
Jika ternyata kusadari, bahwa harga sebelah jiwa...

Begitu mahalnya....



Yang dilakukan Diandra pertama kali adalah mendorong Axel keras-keras, sejauh mungkin. Napasnya terengah atas ciuman yang sama sekali tidak diduganya itu, dia menatap Axel bingung berlumur kemarahan,

"Kenapa kau lakukan itu Axel?" Diandra sendiri tak habis pikir. Oh astaga. Axel menciumnya! Itu adalah hal yang sama sekali tidak disangkanya. Axel adalah sepupunya! Saudaranya! Dari kecil mereka bersama, dan Diandra selalu menganggap Axel sebagai kakaknya. Tetapi lelaki itu barusan menciumnya, dan Diandra merasa pening yang amat sangat, Axel saudaranya bukan? Dan saudara tidak mungkin berciuman!

Diandra memundurkan langkahnya, menatap waspada ke Arah Axel, tangannya mengusap bibirnya yang masih terasa panas bekas ciuman lelaki itu.

Axel sendiri menatap Diandra dengan tatapan berlumur penyesalan, matanya meredup, ragu,

Rabu, 01 Mei 2013

Another 5% [ Prolog ]


Note penulis : karena Menghitung hujan sudah hampir tamat, maka dipostinglah cerita ini sebagai persiapan penggantinya. Cerita ini adalah cerita lama, dengan genre yang agak berbeda dari semua kisah santhy agatha. Semoga kalian semua tetap bisa menikmatinya yah ^__^

 
Bagaimana jika kau bisa mengaktifkan kekuatan otakmu hingga 95% ? Bagaimana jika kau mempunyai kekuatan  hampir setara kekuatan Tuhan? Bagaimana jika kehancuran dunia ini ada dalam genggamanmu? dan bagaimana jika pilihannya adalah memiliki kekuatan tak terbatas, atau kehilangan kekasih yang sangat kau cintai?

 
PROLOG : ANOTHER 5%

 
 
"Aku pulang dulu sayang, nanti sore aku kembali lag.i"

Rolan memejamkan mata ketika dengan lembut Selly mengecup dahinya, seperti biasa,  ketika mereka akan berpisah. dan seperti biasanya pula, Selly akan menyempatkan diri membelai seluruh wajah Rolan dengan jemarinya,

"Kau akan baik-baik saja kan kutinggalkan?"

Dengan susah payah, meskipun tersenyum adalah hal terahkir yang diinginkannya, Rolan tersenyum, demi Selly, demi kekasihnya,

"Aku akan menunggumu datang kembali nanti sore," suaranya serak dan lemah. Rolan benci itu.