Senin, 05 November 2012

Verna dan Hujan Part 2


Created on 03rd December 2010

 
 
Disclaimer : Bandung dengan hujannya yang ( hampir ) setiap hari melahirkan cerita ini. Mau tak mau membuat saya merenungkan hujan dari dua sisi, Hujan yang mendatangkan kebahagiaan bagi manusia yang mencintainya sepenuh hati, dan hujan yang mendatangkan kesedihan bagi manusia yang belum bisa melepaskan masa lalunya.


 
 
 
 
Verna terbangun dengan kepala pening dan pandangan mata berkunang-kunang. Dicobanya memfokuskan pikirannya, memfokuskan pandangan matanya, dan dia sadar bahwa dia sudah berada di kamarnya sendiri, terbaring di atas ranjangnya. Pikirannya berputar..... Tadi dia bertemu dengan Tanza di depan pintu kostnya, lalu semuanya tiba-tiba menjadi gelap.

"Tanza...?", dengan pelan setengah mengerang, Verna memanggil nama sahabatnya itu, ketika tidak ada sahutan, Verna mencoba bangkit dan duduk, tapi langsung terbaring lagi ketika rasa nyeri yang amat sangat menghantam kepalanya.

Saat itulah pintu kamarnya terbuka, dan Tanza masuk, sedikit basah karena hujan masih turun dengan derasnya di luar,

"Verna! Lo udah bangun?", Tanza berseru cemas melihat Verna yang setengah terduduk, lalu dengan tergesa-gesa melangkah menghampirinya, "gue tadi keluar bentar buat beliin lo obat, lo demam dan mengigau dalam tidur lo", dengan lembut Tanza meletakkan punggung tangannya di dahi Verna.

Verna langsung memejamkan matanya, tangan itu terasa sejuk di dahinya yang terasa panas membara, menenangkannya.

Tanza mendesah makin cemas merasakan dahi Verna yang panas, dia mengeluarkan obat yang dibawanya, mengambilkan air lalu mencoba menarik perhatian Verna yang terpejam, setengah tertidur lagi,

"Minum dulu obatnya Verna, ini penurun demamnya, setelah itu baru tidur", bisik Tanza lembut

Verna membuka matanya dan mengernyit, mencoba duduk tapi tak mampu karena nyeri itu menyerangnya lagi,

"Biar gue bantu", gumam Tanza lembut dan menyangga punggung Verna dengan hati-hati, lalu membantu Verna meminum obatnya, setelah itu membaringkan Verna dan menyelimutinya.

Hati Verna terasa hangat ketika tangan Tanza dengan lembut mengusap-usap dahinya, dengan lemah dipegangnya tangan Tanza,







"Terimakasih Tanza, maaf gue selalu ngrepotin lo"

Tanza tersenyum dan menggelengkan kepalanya,

"Ssshh... Ga usah minta maaf, gue nggak pernah ngerasa direpotin kok"

"Tapi gue selalu...."

"Shhh...", dengan lembut Tanza menyela ungkapan apapun yang ingin diucapkan Verna, "Tidurlah, biarkan obatnya bekerja, jangan pikirkan apa-apa lagi"

Jangan pikirkan apa-apa lagi..... Suara Tanza itu bagaikan pengantar tidur yang mendamaikan, yang menenangkan. Dan Verna menurut, tidak memikirkan apa-apa lagi, tenggelam dalam kedamaian.

***

Verna membuka matanya ketika mendengar denting cangkir beradu, pagi sudah datang meskipun masih temaram, sinar matahari menembus redup dari sela-sela jendela.

Tanza sedang memunggunginya, mengaduk sesuatu di cangkir, mungkin kopi. Dan Verna memuaskan ketidaktahuan Tanza bahwa dia sudah terbangun dengan mengawasi Tanza sepuas-puasnya, sebebas-bebasnya,

Ah.... Entah sejak kapan dia menyayangi sahabatnya itu. Perasaan sayang itu datang begitu saja. Dan berbeda dengan perasaannya kepada Bayu, dengan Tanza, tidak ada rasa cinta yang menggebu dan penuh gairah. Dengan Tanza, Verna merasa cukup puas bisa diberi kesempatan menyayangi Tanza, itu saja.

Seolah menyadari Verna menatapnyan tiba- tiba saja Tanza membalikkan tubuhnya, dan mereka bertatapan,

Segera Verna mengalihkan pandangan matanya, sedikit merona menyadari dirinya ketahuan sedang mengamati Tanza.

Tanza melangkah mendekat, dan duduk di pinggir ranjang, membawa cangkir yang masih mengepul itu ke dekat Verna

"Teh?", tawarnya lembut, "demam lo udah turun tadi pagi, gue lega"

Verna mencoba duduk, pertama-tama hati-hati karena takut rasa nyeri menyerangnya, kemudian ketika dirasanya nyeri itu tidak datang, Verna duduk dengan mantap

Tanza menyodorkan cangkir teh itu dan Verna menerimanya, menyesap isinya yang manis dan menyegarkan,

Setelah itu Tanza meletakkan cangkir itu di meja samping ranjang dan menyentuh dahi Verna sekilas,

"udah turun", gumamnya kepada diri sendiri, "Gue lega kita nggak perlu ke rumah sakit", tiba- tiba matanya menatap tajam ke arah Verna, "kenapa lo hujan-hujanan dan nangis kemarin?"

Verna langsung mengalihkan wajahnyan tak tahan ditatap setajam itu,

"Gue nggak nangis"

"Lo nangis, dan lo hujan-hujanan kayak orang bego, padahal gue tau lo selalu bawa payung di tas", sela Tanza dengan nada suara setajam tatapannya,

Verna diam dan mengarahkan pandangannya ke luar jendela, sepertinya pagi ini akan jadi pagi yang mendung...

"Ada apa Verna?", Tanza bertanya lagi, lembut tapi mendesak ketika Verna tetap saja tak berkata-kata.

Verna menarik napas panjang, berkali-kali sebelum ahkirnya mampu menjawab,

"Bayu", gumamnya pedih. Ya Tuhan, ternyata hatinya memang belum sembuh, menyebut namanya saja membuat hatinya terasa begitu sakit.

"Kenapa dengan Bayu?", kejar Tanza, tidak puas dengan jawaban singkat Verna.

"Bayu...", Verna menelan ludah, "Gue ketemu Bayu di toko buku, dia... Dia... Dia kacau Tanza, dia bilang dia nggak bisa ngelupain gue, ternyata... Dia.. Dia ngawasin gue diam-diam selama ini"

Tanza terpaku mendengar kata-kata Verna,

"Dia ngawasin lo diam-diam selama ini?", desisnya geram, "kurang ajar"

"Tanza", Verna mengernyit ke arah Tanza, "Kenapa lo marah? Bayu nggak salah"

"Nggak salah kata lo?", suara Tanza meninggi, "Dia sudah menetapkan pilihan, harusnya dia ngejalaninnya sepenuh hati, bukannya masih ngerecokin lo sama perasaannya!!"

"Dia menetapkan pilihan dengan terpaksa Tanza !! Apa lo pikir hatinya nggak sakit juga ?!"

"Kenapa lo terus ngebela dia?!", Tanza setengah berteriak, terbawa emosi, "Dia bahkan nggak punya nyali buat memilih lo !! Dia nggak memperjuangkan lo !!"

"Karena gue berada di posisi yang salah, lo harusnya ingat itu Tanza !!", Verna balas berteriak, "Gue yang salah !! Gue yang harusnya nggak ngeganggu hubungan mereka !! Dan gue juga yang memaksa Bayu supaya tetap bersama Nadia !!, dia juga sakit, dia juga tersiksa !!"

"Apa dia sesakit lo ?? Apa dia semenderita lo ??", sela Tanza marah, "Gue sedih ngeliat lo tau, ngeliat lo nangisin laki-laki yang bahkan nggak memilih lo, kalo gue..."

"Jangan !!", sela Verna panik, sudah tau apa yang akan dikatakan Tanza.

"Kalo gue, gue akan rela ninggalin Dania demi lo !!"

"Jangan Tanza !!", Verna setengah berteriak mendengar kata-kata Tanza. "Jangan katakan itu, gue mohon.."

"Kenapa lo nggak mau denger Verna?", Tanza bergumam sedih, "Lo takut gue akan ninggalin lo kayak Bayu? Gue nggak akan. Gue akan perjuangin lo kalo lo mau buka hati buat gue, gue cinta lo Ver !!"

"Nggak!! Lo nggak cinta gue !!"

"Gue cinta ama lo !! Sejak pertama gue denger suara tawa lo, gue langsung jatuh cinta!!"

"Lo nggak boleh jatuh cinta sama gue!!'

"Gue tahu, tapi mau gimana lagi ? Gue nggak bisa nahan perasaan gue, gue tau gue udah punya Dania, tapi hati gue milih lo Verna !!", dengan tegas Tanza menggenggam tangan Verna, "dan gue beda dengan Bayu, gue akan buktiin cinta gue, gue akan tinggalin Dania demi lo !"

"Tidak!!", seru Verna setengah menjerit, "Jangan Tanza !! Gue gak butuh bukti dari lo, gue gak butuh cinta dari lo!! Gue gak butuh apa-apa dari lo !!"

Tanza tertegun mendengar kata-kata Verna, lalu tersenyum miris,

"Ah... Ternyata sebegitu nggak berartinya gue buat lo...", dengan menyedihkan dia memalingkan wajahnya, "Gue pikir... Gue pikir kedekatan kita selama ini sedikit banyak udah bikin lo buka hati buat gue... Tapi ternyata... Ah, sudahlah..", tiba-tiba Tanza membalikkan tubuhnya, "Minum terus obatnya sampai habis, banyak istirahat, gue akan datang lagi buat ngecek kondisi lo"

Lalu dengan cepat Tanza melangkah keluar dari kamar, tidak membiarkan Verna mencegahnya, menunggalkan Verna sendirian dengan perasaan yang campur aduk.

Verna termenung dan air matanya mengalir, mendengar pernyataan cinta Tanza kemudian menolaknya, entah kenapa juga menyakitinya. Apakah tanpa sadar dia telah membuka hatinya buat Tanza? Meskipun dia masih mencintai Bayu?

***

Hujan turun dengan derasnya siang itu dan Verna duduk di bingkai jendela menatapnya, demamnya sudah turun, tetapi perasaannya terasa belum membaik.

Dengan bimbang Verna menimang-nimang handphone di tanggannya, menarik napas panjang, lalu bimbang lagi. Begitu terus sampai saat yang lama.

Lalu setelah tarikan napas panjang yang kesekian kali, Verna ahkirnya memejet nomor itu. Memejamkan mata dengan jantung berdegup liar ketika nada sambung terdengar.

"Verna ?", suara Bayu langsung terdengar, lelaki itu mengangkatnya pada dering pertama.

Verna memejamkan matanya, ah... Ternyata mendengar suara Bayu memanggil namanya masih menghangatkan hatinya begitu rupa.

"Gue pingin ketemu", gumam Verna dengan suara tertelan.

Hening sejenak, Bayu tampak kehabisan kata-kata di seberang sana,

"Lo yakin?", suara Bayu terdengar takjub, tak percaya, "Lo yakin pingin ketemu gue? Gue gak lagi mimpi kan?"

"Gue pingin ketemu", ulang Verna lagi, kali ini terdengar mantap,

"Kapan?"

"Malam ini"

"Gue akan ke kost lo", gumam Bayu segera, seolah takut Verna akan berubah pikiran.

"Jangan"

"Jangan? Lalu dimana kita ketemuan?"

Verna menyebut nama sebuah cafe di pinggiran kota, tempat dia dulu sering melewatkan waktu di saat-saat kebahagiaannya yang egois bersama Bayu.

"Oke, gue ga perlu jemput lo?"

"Gue berangkat sendiri aja"

"Jam 7 tepat gue ada di sana"

"Oke"

Hening lagi, lalu Bayu berdehem agak salah tingkah,

"Verna ?"

"Ya?"

"Gue...", Bayu tampak kesulitan menyusun kata-kata, "Gue seneng lo nelpon gue, gue seneng lo ngajak ketemuan... Rasanya... Rasanya seperti mimpi..."

Mau tak mau Verna tersenyum mendengar kata-kata Bayu yang diucapkan dengan penuh perasaan,

"Gue juga Bayu, gue juga...."

***

Café itu tampak temaram, dan Verna melangkah masuk dengan langkah pelan dan hati-hati. Déjà vu, perasaan yang sama ketika saat-saat yang lalu di pertemuan rahasia mereka Verna melangkah masuk dengan hati-hati dan penuh antisipasi, bedanya dulu dia selalu diliputi oleh kebahagiaan yang meluap-luap. Sekarang, yang meliputinya adalah kesedihan dan penerimaan akan kenyataan yang tak tergoyahkan, kenyataan yang sangat menyakitkan.

Dan Bayu ada di sana, di tempat duduk biasanya, dengan tatapan penuh cinta yang sama, kerinduan yang sama, ah… betapa inginnya Verna berlari dan memeluk lelaki itu, seperti yang selalu mereka lakukan dulu, mengawali pertemuan mereka dengan pelukan, dan mengahkirinya dengan pelukan pula.

Tetapi sekarang yang dilakukan Verna hanya berdiri dan menatap Bayu. Lelaki itu serentak juga berdiri begitu menyadari kedatangan Verna,

“Hai”, sapa Verna lembut.

Bayu tersenyum sedih mendengar sapaatn formal itu, lalu menarikkan kursi untuk Verna,

“Hai juga, duduklah”

Dengan patuh Verna duduk.

Sejenak suasana hening dan mereka hanya saling bertatapan, tak bisa berkata-kata.

“lo tampak pucat”, Bayu bergumam pelan, menatap wajah Verna dengan lembut dan penuh perhatian hingga tanpa sadar Verna mengernyit, tatapan itu, perhatian penuh ketulusan itu, betapa dia merindukannya.

“Gue kehujanan”

Bayu langsung tampak cemas,

“lo demam ?”, tanpa canggung lagi Bayu meraih jemari Verna, menggenggamnya, “Suhu tubuh lo hangat Verna !, seharusnya lo berbaring dan istirahat, atau setidaknya kalau lo pingin kita ketemuan, lo bisa nyuruh gue datang ke tempat lo, Gue kan bisa…”

“Bayu”, Verna bergumam lembut, mendiamkan lelaki itu, “Gue nggak apa-apa”

“Tapi lo demam”

“Hanya sedikit demam, Gue udah minum obat dan badan gue terasa enak”, dengan lembut Verna mengamati wajah Bayu, menelusurinya pelan-pelan, menyimpannya dalam ingatan. Ah, betapa ternyata dia merindukan lelaki ini, lelaki yang tak boleh dimilikinya, “Dan lo… lo tampak kurus”

Kata-kata itu membuat Bayu tersenyum pedih,

“Nggak bisa berhenti mikirin lo Verna, kau lo mau tau”

Sejenak suasana hening, dan pengakuan Bayu itu seakan menggantung di udara,

Verna menggerakkan tangannya dalam genggaman Bayu,

“Gue pingin bertindak egois malam ini”

Bayu langsung mengangkat kepalanya, menatap Verna dalam kebingungan,

“Maksud lo ?”

“Gue pingin milikin lo buat malam ini – kalau lo bersedia – hanya kita berdua, menghabiskan waktu bersama-sama, melupakan seluruh dunia, melupakan segala halangan yang ada di antara kita, berpura-pura bahwa kita memang ditakdirkan untuk bersama, berpura-pura bahwa kita saling memiliki”

‘Tapi kau lo memang milikin gue”, bantah Bayu pedih, “Lo milikin gue, Verna, seluruh gue, hati gue, semuanya milik lo, Gue milik lo Verna”

Verna menggelengkan kepalanya,

“Gue bisa milikin lo….. tapi gue nggak diizinkan buat milikin lo, itu adalah kenyataan yang harus gue tanggung seumur hidup gue, mencintai lo tapi nggak diizinkan milikin lo”, Dengan lembut Verna melepaskan genggaman tangan Bayu, lalu menyentuh pipi Bayu, “Tapi hanya malam ini gue pingin melanggar semua rasionalitas gue, gue pingin bersama lo dan melupakan seluruh dunia…….. apakah lo bersedia ?”

Dengan penuh keyakinan, Bayu merengkuh tangan Verna di pipinya, lalu mengarahkannya ke bibirnya, dan mengecupnya,

“Gue akan mengambil apapun yang bisa lo tawarin, sesedikit apapun itu…… bahkan jika memang hanya beberapa jam yang bisa lo luangin buat gue

***

Pantai itu cerah, dengan bintang-bintang yang bertebaran dengan kekontrasan yang menghiasi langit. Titik-titik putih yang berkelap kelip tersebar berserakan di langit yang hitam pekat. Angin bertiup dengan kuatnya diiringi suara deburan ombak yang begitu keras. Verna tertawa sepuasnya ketika Bayu mengejarnya dan berhasil menangkapnya, mereka berpelukan, napas terngah-engah karena habis berlari, dan mereka tertawa seperti orang gila bersama-sama,

“Benar-benar seperti kelinci, susah ditangkap”, Bayu bergumam dalam tawa, membenamkan wajahnya di buraian rambut Verna yang berserakan tertiup angin,

Verna tertawa keras-keras, hatinya bahagia sekali, dengan ceria dia merapikan rambutnya dan mendongak menatap Bayu yang memeluknya,

“Mungkin lo yang terlalu lambat? Mengingat usia lo yang udah separuh baya ?”, candanya

Kata-katanya membuat Bayu tertawa geli dan mencubit hidung Verna,

“Gue masih muda dan bersemangat, tadi Gue pura-pura pelan dan nggak bisa ngejar biar lo senang”

Verna mencibir dan langsung membuat Bayu tertawa keras. Mereka berpelukan lagi, dan ketika tawa dan canda itu usai, mereka masih berpelukan erat, memejamkan mata, menikmati intensitas perasaan yang dihasilkan dari sebuah pelukan, dari sebuah kedekatan antara dua anak manusia yang saling mencintai.

“Gue bahagia”, desah Bayu memejamkan matanya dan mengetatkan pelukannya, “terimakasih karena sudah bikin gue bahagia”

Verna hanya diam, tidak menanggapi perkataan Bayu dengan kata-kata, tetapi pelukannya yang makin mengetat di punggung Bayu menunjukkan intensitas perasaannya, Bahwa dia mengalami hal yang sama, bahwa dia mengalami kebahagiaan yang sama.

“Seandainya saja waktu berpihak pada kita”

“stttt…”, Verna mendongak dan meletakkan jemarinya di bibir Bayu, membuat kata-katanya terhenti, “Manusia tidak akan pernah maju jika dia menghabiskan waktunya dengan berandai-andai, kita harus menerima apa yang ada dan menjalaninya. Semua pasti terjadi karena ada makna di baliknya, pertemuan kita, cinta kita yang terlambat, pasti ada makna di baliknya”

“Dan apa maknanya, kalau gue boleh tau ?”, sela Bayu membantah, “Karena selama ini gue cuma bisa menyesali kenapa kita terlambat bertemu dan kenapa gue nggak bisa milikin lo”

Verna tersenyum ceria, mengecup pipi Bayu penuh sayang,

“Mungkin agar kita bisa belajar bagaimana mencintai tanpa keegoisan, bagaimana kita bisa mencintai tanpa dorongan posesif untuk memiliki. Hanya mencintai dan tidak ingin apa-apa lagi. Hanya ingin mencinta dan tidak membutuhkan yang lain lagi…”

“Verna…”, Bayu mengerang penuh kepedihan dan merengkuh lagi Verna ke dalam pelukannya, “Gue cinta lo, sangat ! dengan intensitas yang mungkin akan bikin lo lari ketakutan kalau lo bisa mengukurnya”

Verna tersenyum di dada Bayu, menikmati pernyataan cinta Bayu itu dengan bahagia,

“Dan gue juga cinta lo. Dulu gue sering meratapi lo Bayu, menangisi ketika harus menerima kenyataan bahwa kita nggak bisa bersatu, bahwa gue nggak akan bisa milikin lo, tapi sekarang gue disadarkan, kalo yang namanya cinta itu nggak usah pake persyaratan bahwa nantinya gue harus dimiliki atau memiliki. Yang penting gue mencintai lo, itu udah cukup, dan ternyata Tuhan baik sama gue, dia bikin lo juga mencintai gue. Itu udah cukup, meskipun pada ahkirnya nanti lo bukan jadi milik gue, gue tetep bahagia dan bisa senyum”

"Verna", Bayu mengerang lagi, lalu mengetatkan pelukannya, "Lo selalu bisa bikin gue tetap bersyukur bahkan di waktu gue merasa pedih sekalipun"

Verna tersenyum lembut dan menatap Bayu penuh sayang,

"Gue pingin setelah ini lo bener-bener ngelepasin gue dan memusatkan diri buat bahagia bersama Nadia"

Bayu memalingkan mukanya,

"Gue nggak bisa janji", jawabnya pahit, "saat gue harus mengikat komitmen sama Nadia, itulah saat kematian buat hati gue"

"Bayu, lo nggak boleh gitu, gue nggak mau lo sebut-sebut mati atau apalah itu, gue mau lo bahagia, hidup dan bahagia"

Bayu meraih tangan Verna dan mengecupnya lembut,

"Gue akan hidup, tubuh gue akan terus hidup, tapi hati gue sama aja udah mati, seluruh hati gue udah gue kasih ke lo"

Air mata menggenangi mata Verna ketika mendengar kata-kata Bayu, dia menggeleng-gelengkan kepalanya,

"Kalau gitu, gue nggak mau terima hati lo! Gue nggak akan terima hati lo kalau itu sama aja bikin lo seperti mati"

Dengan lembut Bayu menangkup pipi Verna dengan kedua tangannya, lalu menundukkan kepalanya dan mengecup air mata Verna,

"Verna, hati itu, kalau yang dituju nggak mau menerimanya, dia akan melayang-layang di udara, nggak bisa kembali ke yang punya hati lagi, karena yang punya hati sudah memberikannya, sudah melepaskannya dengan ketulusan", Bayu menarik napas panjang, "Lagipula orang nggak punya hati, dia masih bisa melanjutkan hidupnya kok, dia masih bisa tertawa, dia masih bisa berbahagia....", Bayu tersenyum sambil menarik napas, "Dan dia masih punya nafsu... Untuk modal reproduksi", sambungnya setengah tertawa ketika Verna memelototinya. Tapi dia lalu berubah serius lagi dan menatap Verna dalam-dalam, "Dia cuma nggak bisa mencintai lagi, karena katanya cinta itu cuma berasal dari hati"

Sejenak hening, dan mereka cuma bertatapan dalam. Mencari makna dibawah tatapan mata mereka, mencari pemahaman dibalik duka mereka, lalu Verna tersenyum.

"Kalo gitu, gue akan terima hati lo, akan gue taruh di tempat yang aman di hati gue, jadi hati itu nggak akan terkatung-katung di udara lagi",

Bayu tersenyum dan mengecup dahi Verna,

"Terimakasih udah nerima hati gue, jaga baik-baik ya"

Verna melingkarkan lengannya di tubuh Bayu, dan memeluknya erat-erat, dihela angin pantai yang meniup rambutnya dan deburan ombak yang mengiringi keheningan mereka,

"Lo harus janji ke gue bahwa lo akan bahagia", desah Verna lembut,

"Gue akan bahagia, asal gue yakin kalo lo bahagia", jawab Bayu cepat

"Bahagia lo yang paling penting"

"Enggak, bahagia lo yang penting buat gue"

Verna membuka mulutnya untuk membantah, lalu menahan diri dan tertawa,

"Gue rasa kalo gue lanjutin, perdebatan ini nggak akan ada selesainya", gumamnya di sela tawa, lalu berjinjit dan mengecup pipi Bayu, "Kalau begitu kita harus berjanji kepada kita, bahwa kita akan bahagia, meskipun kita nggak berujung bersama, dan nggak akan pernah ada 'kita' untuk sekarang ataupun nanti"

Tangan Verna meraih jemari Bayu, lalu mengaitkan kelingkingnya,

"Janji ya?", tanyanya ketika Bayu hanya diam saja.

Bayu menatap Verna sendu dan membalas tautan kelingking Verna,

"Janji", jawabnya pelan.

Mereka terdiam, saling bertatapan dalam kediaman yang syahdu, lalu Bayu mengajak Verna duduk di pasir, dan merangkulnya, menatap ombak dalam kegelapan, menatap langit yang penuh bintang. Menikmati saat-saat berharga itu sepuasnya, saat berharga, yang mereka berdua tahu, tidak akan pernah terulang lagi di masa depan,

"Verna", Bayu bergumam serak

"Ya?"

"Gua sangat sangat sangat cinta sama lo", bisiknya penuh perasaan.

Verna memejamkan matanya, menyandarkan kepalanya di bahu Bayu,

"Dan gue juga, sangat sangat sangat cinta ama lo", desahnya pelan, tersapu angin, terbawa suara debur ombak, melayang bersama mimpi-mimpi mereka, mimpi dua anak manusia yang saling mencintai, yang hanya ingin diizinkan untuk mencinta dan dicinta

***

Hati Verna terasa ringan ketika melangkah pulang ke tempat kostnya, dia dan Bayu, berpisah pagi itu dengan kebahagiaan luar biasa. Kebahagiaan yang diiringi penerimaan, bahwa meski tidak bisa saling memiliki, mereka sudah diberikan anugerah karena bisa saling mencintai.

"Lepaskan gue seperti gue telah ngelepasin lo", bisik Verna di telinga Bayu dalam pelukan terahkir mereka sebelum Verna melangkah keluar dari mobil Bayu

Dan Verna sekarang benar-benar melepaskan Bayu, saat-saat berharganya bersama Bayu semalam telah menyadarkannya dan mengobati semua luka hatinya. Penerimaan darinya dan penerimaan dari Bayu benar-benar membuat hatinya bebas dan lepas. Dulu setiap mengingat Bayu dia selalu ingin meratap, selalu ingin menangis, selalu merasa bersalah, padahal tidak ada yang salah dengan dia mencintai Bayu, tidak ada yang salah dengan cinta, karena cinta nggak pernah salah. Sekarang, Verna bisa mengenang Bayu sambil tersenyum, tersenyum dan bersyukur karena Tuhan sudah memberikan kesempatan padanya untuk mencintai seseorang dengan begitu dalamnya,

Langkah Verna melambat ketika melihat sosok Tanza yang terduduk di bangku di teras kost-nya,

"Tanza ?", Verna menyapa hati-hati ketika melihat Tanza tampak melamun, tidak menyadari kehadirannya.

Lelaki itu mendongak, kaget, tampak tidak menyangka menemukan Verna berdiri di depannya. Kemudian secepat kilat dia bangkit berdiri dan meraih pundak Verna dengan kedua lengannya, merengkuhnya,

"Verna", serunya dalam kelegaan luar biasa, "Ya Tuhan !! Lo kemana aja ?!!"

Verna masih terpana, tak menyangka akan dipeluk seerat itu, jantung Tanza berdegup tak beraturan di pipinya yang menempel di dada lelaki itu, dan Tanza memeluknya begitu kuat, seakan ingin meremukkannya.

"Gue kesini semalam, lo nggak ada, hape lo mati, gue cari lo kemana-mana, nggak ada yang ngeliat lo, gue cemas setengah mati !", seru Tanza berkejaran, lalu dia meraih pundak Verna, menjauhkannya, sedikit menunduk agar matanya sejajar dengan Verna, lalu dia menatap Verna dalam-dalam, "Kemana aja lo ? Dan sebaiknya lo punya jawaban yang bagus karena lo udah bikin gue hampir gila mencemaskan lo"

Ditatap sedalam itu Verna menelan ludah dengan gugup, otaknya berputar, tidak mungkin kan dia mengatakan bahwa dia menghabiskan semalaman di pantai bersama Bayu ? Tanza akan marah besar mengingat betapa antipatinya lelaki itu kepada Bayu.

"Verna ?", Tanza mengernyit, tatapannya semakin tajam ketika Verna tak kunjung menjawab.

Dengan gugup Verna mencoba membalas tatapan mata Tanza,

“Gue pulang”, jawabnya cepat, berdoa semoga semalam Tanza tidak kepikiran untuk mencarinya ke rumah.

“Pulang ?”, dahi Tanza berkerut, “Tapi lo kan selalu menghindari pulang ke rumah, kenapa ?”

“Gue…. Eh… gue kangen sama mama”, Verna bersyukur karena dengan cepatnya dia bisa menemukan jawaban dengan cepat.

Tanza termenung, sejenak menatap wajah gugup Verna dengan curiga, tapi lalu menghela nafas,

“Oh… begitu, tapi kenapa ponsel lo sama sekali nggak bisa dihubungi ?”

“Ponsel gue ketinggalan di kost, mungkin sekarang mati karena baterainya habis”, Verna tidak bohong karena memang dia tanpa sengaja meninggalkan ponselnya di kamarnya, “Maafin gue Tanza, gue sama sekali nggak berfikir lo bakalan nyari gue”

Lagi-lagi Tanza menghela nafas kemudian menangkup wajah Verna dengan penuh sayang,

“Nggak nyari lo ?. gue kesini buat nengokin kondisi lo cuma buat nemuin kamar lo kosong, lo nggak ada dimana-mana, lo nggak bisa dihubungi, padahal gue tau lo masih sakit dan perasaan lo lagi nggak enak, lo tau gimana perasaan gue ketika mencoba nelp ponsel lo dan nggak nyambung? Pikiran-pikiran buruk langsung menyerang gue, tapi gue ngerasa nggak berdaya, lo tau rasanya? Rasanya kayak mau mati aja”, dengan pedih Tanza memejamkan matanya, “Gue sayang banget sama lo Verna, tolong jangan lakuin hal kayak gini lagi sama gue”

"Tapi kemarin lo marah... lo pergi..."

"Gue memang marah, tapi bukan berarti gue nggak mencemaskan lo Verna !", sela Tanza tegas

Tenggorokan Verna terasa tercekat karena rasa haru,

“Lo… nungguin disini semaleman?”

“Semalem gue kemana-mana buat nyariin lo, ke kampus, ke temen-temen lo, ke tempat-tempat yang biasa lo datengin, tapi hasilnya nihil, ahkirnya gue sampe di keputusan buat nungguin lo di kost-an, setidaknya gue bakalan tau kalo lo pulang….”

“Tanza, maafin gue”

Dengan lembut Tanza membelai rambut Verna,

“Nggak apa-apa Verna, yang penting lo pulang dengan selamat dan nggak apa-apa, itu yang penting”

Jawaban itu membuat Verna dengan spontan langsung memeluk Tanza, dan lelaki itu membalasnya dengan memeluknya lebih erat lagi,

“Gue nggak berencana buat menyayangi lo sejauh ini”, desahan Verna tenggelam di dada Tanza, “Tapi iya, Gue terlanjur menyayangi lo”

Pelukan Tanza makin erat, seakan mau meremukkannya,

“Dan gue menyayangi lo juga Verna, lebih dari yang lo tahu”

“Gue tahu, maafin gue, kemarin lo marah sama gue”

“Karena lo bilang nggak butuh cinta gue, itu nyakitin gue Verna”

“Maafin gue….”, Verna memejamkan matanya pedih, “Gue nggak tahu harus jawab apa tentang perasaan lo Tanza, ini sama kayak déjà vu, seolah gue mengulang kesalahan yang sama di masa lalu, semuanya sama persis, dengan kondisi yang sama…..”

“Gue beda sama Bayu”, jawab Tanza mantap, “Dan Dania bukan sodara kembar lo, beban lo nggak seberat itu kalo sama gue”

Verna menggeleng-gelengkan kepalanya dan mendongakkan kepalanya untuk menatap Tanza,

“Ini bukan masalah Dania sodara kembar gue atau bukan, gue memang nggak dekat dengan Dania, tapi sama saja, Dania juga perempuan, sama seperti Nadia, dan gue ngerasa berdosa, hati nurani gue menolak kalau gue lagi-lagi harus berada di posisi orang ketiga, merusak hubungan orang lain yang sudah terjalin dengan begitu kuatnya, gue nggak bisa Tanza, gue nggak mau lagi”

“Lo mikirin perasaan Dania, tapi apa lo nggak mikirin perasaan gue?”, sinar kepedihan muncul di mata Tanza, “Gue nggak bisa membohongi perasaan gue Verna, gue cinta sama lo, cinta ini lebih besar dari cinta yang pernah gue rasain sama siapapun, dan lo sama sekali nggak salah kalo gue jadi cinta sama lo dan mengkhianati Dania, gue yang salah di sini, tolong pertimbangkan perasaan gue, Verna”

Verna menggelengkan kepalanya,

“Maafkan gue Tanza. Gue nggak bisa, gue nggak mau jadi penyebab putusnya lo sama Dania”, dengan pelan Verna melepaskan diri dari pelukan Tanza, “Gue sayang sama lo, lo ada disaat gue ngerasa ancur, lo yang bantu gue, entah sejak kapan gue jadi terbiasa bersandar sama lo, entah sejak kapan gue ngerasa gue sayang banget sama lo, tapi…. Untuk memiliki lo dengan menghancurkan hati perempuan lain…”< Verna menggelengkan kepalanya, “Gue nggak bisa, maafin gue Tanza”

Dengan pelan, Verna membalikkan tubuhnya dan melangkah ke teras kostnya,

“Verna”, Tanza memanggil, masih berdiri di tempatnya semula, tidak mencoba mendekati Verna, “Gue akan putus dengan Dania, sama aja, itu sesuatu yang nggak bisa dicegah biarpun lo nggak mau nerima gue”

Verna memejamkan matanya sedih,

“Gue nggak bisa Tanza, maafin gue….gue nggak bisa….”, kemudian dengan cepat dia membuka pintu kamar kostnya dan menutupnya di depan muka Tanza.

***

“Verna”, suara panggilan itu membuat Verna menoleh mendadak dengan wajah pucat pasi,

Nadia berdiri di depannya, Nadia yang sama persis dengannya, versi feminim dan lebih cantik dari Verna,

“Nadia”

Nadia mengangguk, wajahnya datar. Saat itu mereka berada di kantin kampus Verna, suasana sangat ramai karena itu jam istirahat sehingga Nadia mengernyit,

“Bisa kita bicara di tempat lain ? kita perlu bicara”,

Tentang apa ? jantung Verna berdegup kencang, terasa sesak. Selama waktu-waktu pelariannya, menjauhi Nadia, menjauhi Bayu, menjauhi keluarganya, seperti yang Nadia minta padanya dulu, saudara kembarnya ini sama sekali tidak pernah repot-repot menghubunginya. Dan sekarang Nadia ada di sini, untuk apa ?

“Kita bisa ke café seberang kalo lo mau”, Verna melirik ke sebuah Café kecil di seberang kampusnya, Café itu kecil dan nyaman, dan yang penting cukup tenang untuk tempat mereka berbicara. Hujan mulai turun, rintik-rintik dan langit begitu mendung, begitu gelap.

“Oke”, Nadia mengangguk, lalu melangkah mendahuli Verna berjalan ke sana, menembus hujan rintik-rintik, Verna mengikutinya di belakang dengan pedih, mereka berjalan dalam diam, dalam kecanggungan. Oh Tuhan, rasanya Verna ingin menangis saja, dulu mereka begitu akrab, Nadia dan Verna, saudara kembar yang tak terpisahkan, mereka adalah satu yang menjadi dua, dua yang menjadi satu, satu hati, kembar identik yang sangat saling menyayangi, mereka tidak pernah berjalan bersama tanpa bergandengan, tanpa berangkulan, tanpa tertawa bersama, tetapi entah kenapa sekarang hubungan mereka menjadi begitu canggung dan dingin,

Salah gue, putus Verna sambil memejamkan matanya, Dia yang salah karena meletakkan hatinya pada orang yang salah, pada tempat yang salah, pada waktu yang salah. Dan sekarang dia harus menanggung konsekuensinya,

Mereka memilih tempat duduk agak di pojok, dan dengan elegan, setelah mengibaskan titik-titik air yang sedikit membasahi rambutnya, Nadia memesan menu makanan untuk mereka berdua, Nadia tidak perlu bertanya apa yang diinginkan Verna untuk dimakan, dia sudah tentu tahu.

Kemudian Nadia menatap Verna dalam-dalam, mereka duduk berhadapan, dua wajah yang sama persis, yang satu merupakan versi feminim dari yang lain,

“Gue rasa lo yang berhak tahu kabar ini pertama kali”, gumam Nadia tenang.

Sekali lagi, jantung Verna berdegup penuh antisipasi,

“Tentang apa ?”, matanya bertanya, ingin tahu sekaligus takut mendengar apapun yang akan diucapkan oleh Nadia,

Nadia menatap Verna lurus-lurus, dan kata-kata itu kemudian terucapkan dari bibirnya. Kata-kata yang menghancurkan Verna hingga menjadi serpihan-serpihan kecil, hancur lebur tak bersisa sama sekali,

“Gue mau percepat nikahan gue sama Bayu. Bulan depan”

***

Bersambung ke Part 3

Baca Part 1 :   http://anakcantikspot.blogspot.com/2012/10/verna-dan-hujan-part-1.html
Baca Part 4 : http://anakcantikspot.blogspot.com/2012/12/verna-dan-hujan-part-4.html
Baca Part 5 : http://anakcantikspot.blogspot.com/2012/12/verna-dan-hujan-part-5.html
Baca Epilog : http://anakcantikspot.blogspot.com/2012/12/verna-dan-hujan-epilog.html

33 komentar:

  1. akhirnya yg ditunggu-tunggu muncul,tks ya mb
    a santhy

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa dear enik hee maap telat, kmrin sibuk pindahan rumah jd ga bisa online hiks

      Hapus
  2. sampe part berapa ya verna ini?jadi penasaran he....

    BalasHapus
    Balasan
    1. cuma dikit kok part-nya soalnya cerpen ;) kurang dr lima heee :)

      Hapus
  3. Mba part3 nya kapan diposting??? Verna gimana??huhuhu kasian

    BalasHapus
    Balasan
    1. heee sabar nunggu yaaah hiks kalo ga besok lusa yaah :)
      ini cuma dikit kok part_nya ga sampai 5 :)

      Hapus
  4. Mbak san...part 3 nya blom di share ya???
    penasaran sangat,,hihihi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. beluum deaar hikss krn sibuk pindahan rumah belum sempat edit script-nya hikss tunggu yah mungkin weekend *peluk* heeeee

      Hapus
    2. masih menantikan part 3 nya mbak...

      *peluk balik mbak santhy dgn sangat erat*
      hohohoho

      Hapus
    3. iyaaah :) hari ini rencananya diposting yah ;)

      Hapus
  5. banyakin dong mba.....
    biar makin seru :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. heeee iyaaaah tunggu yah, kmrin badai flu melanda, jd semua rencana gagal,,, srooottt *sambil usap ingus* hihihi jorok yah :D
      tungguin yah deaar :)

      Hapus
  6. selalu ditunggu mba santhy....

    mba santhy sehat dulu yg terpenting itu.....

    bang tlg tissue untuk mba santhy hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa sampe skrng masih meriang2 plus pilek2 gimana gitu, jd pengin minum air jahe yang panas2 hehehe

      eeeh itu abang2 siapa yang dimintain tissue buat aku? abang Damiankah? hihihi

      Hapus
  7. Balasan
    1. semoga endingnya ga mengharu biru tp bahagia yah rena *menarik napas panjang* heeee :D

      Hapus
  8. jgn panas2 mba nti lidahnya kepanasan....
    mba dah sehatan blom sekarang??

    sedih dgr mba sakit,,,,

    abang rafi aja yah untuk mba,,, abang damiannya untuk aku hehehe
    :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. udah sehat fathy, cuma mampet hidungnya aja ini, sama batuk2 dikit tp aku dah mulai ngemil segala macam, kalo kmrin kan ga doyan apa2 hihihi
      waaah nanti di kejar2 Serena sambil bawa pisau lho hihihihi :D

      Hapus
  9. alhamdulillah udah ngemil... yg banyak y mba ngemilnya biar ndut :)
    smoga batuk n mampetnya cepet ilang juga....

    tenang mba, serenanya udah aku iket tuh di kamar mandi biar g bisa kejar aku :d

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa walah jangan tambah ndut lagi, aku ini mau sakit mau sehat kok ya berat badan nambah terus ya hihihi :D

      itu kejaaaam sama Serenaaa hehee

      Hapus
  10. berarti mba santhy bahagia selalu, pikirannya mba bebas kaya burung *jgn jauh2 terbangnya nti kasihan mas irawannya sendirian hehehehe :)

    pinjem bentar lumayan dingin2 dipeluk sama mas damian hehehehehe

    BalasHapus
  11. waaaaa,,, bersambung lagi.. gue jadi gila nih ngikutin perasaan Verna...

    mana link ke part 3, mana link nya... hahaha *dejavu

    BalasHapus
  12. waaaaa... makin gila karena nggak nemu link ke part 3!!!!
    mbak, sembuhkan kegilaanku karena penasaran!!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehe ini draftnya baru kupegang bab 3 nya fahril :D tungguin yah semoga sabar :p

      Hapus
    2. Verna, kasian banget sih kamu.. Malah Bayu datang lagi di part 3, membuatmu makin hancur.. Ada rahasia lagi di part 3 yang membuatku syok.. Tentang kenyataan Tanza mendekati Verna karena apa dan rencana busuknya di awal..

      Mbak, cerita mbak diprotes temenku. Kan kalo co-ce saling suka dan punya perasaan gitu, mereka menyebutnya bukan "lo-gue" lagi, tapi pake sebutan "aku-kamu".. Aku juga nemuin hal itu dari temen2ku yang tinggal di Jakarta seperti itu.. Gimana nih, mbak Santhy?

      Hapus
    3. Aku kenal juga orang yang menanggung beban karena dia nggak lagi bersama orang yang dicintainya.. Tapi si fulan terus memberi perhatian dan dekat dengannya, jadinya perasaannya makin kuat ke orang tersebut.. Tapi si fulan cuma ngasih perhatian, tanpa bisa memberi "hubungan". Tentu saja hal ini makin memperparah kondisi si ce..
      Sumpah, pas aku denger cerita itu dari si ce, rasanya pengen banget bilang ke fulan supaya menjauhinya, karena perhatian yg dia berikan justru semakin menghancurkan si ce.. Mungkin persis seperti perasaan dan apa yang ingin dilakukan si Tanza ke Bayu..

      Hapus
    4. faril : untuk kondisi perempuan yg faril ceritain, aku tau banget rasanya lho. Mencintai tapi nggak bisa memiliki, dan hanya merasa puas bisa mendapatkan perhatiannya, padahal tahu pasti kalau nggak bisa memiliki *hiks usap air mata* itulah tema novel2 ku selama ini. Saranku buat temannya faril, ketika masih ada kesempatan untuk memiliki, Perjuangkan habis2an krn kita nggak tahu Jalan Tuhan akan seperti apa. Tetapi ketika benar-benar mentok, hapus rasa itu dengan segera, berbaliklah dan tinggalkan rasa itu. Si perempuannya juga harus tegas nolak cowoknya *meskipun aku tahu rasanya luar biasa sulit* heeee :D

      Hapus
    5. hihihihi faril jd kalo pacaran manggilnya aku kamu yah?
      aku memang sengaja ga ganti, krn ga tau dan selain itu megang aturan ke konstanan penyebutkan tokoh dalam cerita,,,, soalnya sering di protes kalo misal di paragraf awal pake 'saya' eh pas ujungnya ternyata ganti 'aku'
      sama juga kayak verna dan hujan ini, takutnya diprotes kalau dari gaya bahasa lo gue jd aku kamu hihihihi maafkan aku yaaaa... salam kecup buat temen farill :p

      Hapus
    6. iya,mbak.. Kasian banget si ce.. Alhamdulillah, selama ini aku kasih dukungan dan sekarang dia udah lupa sama si fulan.. Semoga dia benar2 bisa lupa akan si fulan yg PHP..

      Hapus
  13. Mba Santh,,,aq koq g bisa buka yg part 3 nya???

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaaa link nya salah mbaaa aku benerin dulu yah bentar 2 menit tunggu hehehehe

      Hapus
    2. Udah klar kubaca mba Santhy,,,hehheheee,,
      Maaph, ngrepotin jadiny aq nigh,,,hehhehee,,,
      & Verna ma Hujanny keren abis,,
      Jadi ke inget ma tman yg dulu bgitu,,

      Hapus
    3. lanjut ke mencari soulmate mba ( 2 part) recomended kalo mau bermendung ria di luar dan dihati hehehehhe *peluk sayang*

      aku sudah mantap : nanti sore aku pulang mau beli donat + gula halus di jajanan depan rumah hihihihi

      Hapus