Tak pernah ada yang mencintai Marlon sebesar aku mencintainya, aku yakin itu. Dari semua perempuan di dunia ini, cintakulah yang paling besar, pun demikian juga dengan cemburuku. Setiap hari kuhabiskan dengan tersiksa menahan kecemburuan gila yang merajalela di hati. Cemburuku akut, bahkan ketika kulihat hembusan angin yang berani-beraninya menerpa rambutnya, membuatnya liar dan berantakan. Aku marah. Aku kesal. Aku tidak rela. Hanya aku yang boleh menyentuhnya. Hanya aku yang boleh melihatnya. Hanya aku yang boleh mendapat perhatiannya.
Tetapi tak mungkin bukan, jika aku membuat semua orang di dunia ini buta, agar mereka tak bisa melihat kekasihku? Tak mungkin pula aku memaksa semua orang mengacuhkannya, tak memperhatikannya. Marlon terlalu istimewa, terlalu tampan, dan dia bagaikan cahaya mentari yang membuat semua orang berlomba mengerubunginya. Tentu saja aku tidak rela! Marlon Milikku!
Sampai ahkirnya aku sampai di titik batas pertahananku. Cemburuku meledak hingga menelan kewarasanku. Yang kuinginkan di dunia ini hanyalah Marlon dan aku. Di setiap detiknya aku hanya ingin berdua dengannya. Hanya berdua.
Kutuangkan kopi untuk Marlon, seperti biasa setelah dia mandi sepulang kantor, Marlon meminumnya tanpa curiga sambil tersenyum kepadaku, Kangen, katanya. Aku membalas senyumnya dengan tak kalah manis, menyimpan rapat-rapat rencana di benakku. Tenang saja Marlon, setelah ini kita tak perlu saling menahan rindu lagi. Sebentar lagi kita akan bersama selamanya...
Marlon meneguk kopi itu. Manis tentu saja, aku selalu membuat yang termanis untuk Marlonku. Dan aku mengamati, mengamati detik-detik Marlon tertidur pulas, kemudian larut dalam kegelapan yang panjang, untuk selamanya.
Senyum liarku mengembang. Dia sepenuhnya milikku sekarang. Kuambil peralatan yang sudah kusiapkan di kamarku. Aku akan mengawetkan Marlon, kusimpan sebagai mummi yang akan selalu bersamaku di kamar. Mulai sekarang aku dan Marlon akan selalu bersama. Di setiap detiknya. Hanya akan ada aku dan Marlon
***






