Jumat, 18 Januari 2013

Sweet Enemy Part 2

 
 
Keadaan makin buruk ya." Sefrina duduk di sebelah Keyna di kelas sambil menatap ke sekeliling, beberapa orang tampak langsung berbisik-bisik melihat Sefrina mendekati Keyna.
 
Keyna menoleh ke arah Sefrina dan tersenyum sedih, "Maafkan aku."
 
"Tidak perlu minta maaf." Sefrina terkekeh, "Pendapat orang-orang yang picik dan dangkal sama sekali tidak mempengaruhiku. Aku senang dengan yang kulakukan, lagipula aku dulu sama sepertimu, tidak punya teman."
 
Keyna menoleh ke arah Sefrina dan menatap dengan tertarik, "Benarkah?" Mana mungkin orang secantik Sefrina dan tampak jelas dari keluarga berkelas pula bisa merasakan tidak punya teman?
 
"Aku dulu sering sakit-sakitan dan tinggal kelas. Pada akhirnya aku harus diam di dalam rumah dan menjalani perawatan." Mata Sefrian menerawang jauh, "Dan kemudian teman-temanku hanyalah para dokter dan perawat dan hilir mudik."
 
'Kau sakit apa?"
 
"Bukan sakit yang penting." Sefrina memalingkan muka dan menatap buku di tangannya, "Sekarang aku sudah sembuh, dan aku masih tidak suka membicarakannya." Lalu perempuan itu menatap Keyna dengan mata bulatnya yang begitu bening, "Maafkan ya."
 
Keyna langsung luluh dan tersenyum pengertian pada Sefrina, "Tidak apa-apa. Yang penting sekarang kau sudah sembuh."
 
"Ya. Aku senang bisa berteman denganmu Keyna." jawab Sefrina, setengah berbisik.
 
***


"Kau sedang apa?" Davin tiba-tiba saja muncul di dapur dan mendapati Keyna sedang memanaskan sesuatu dan mengaduk-ngaduknya di panci, lelaki itu tampak tertarik dan melangkah memasuki dapur, mendekat ke arah kompor, kemudian mengernyit, "Apa itu?"
 
Keyna menoleh dan menatap Davin dengan malu, dia tidak menyangka akan dipergoki Davin di dapur selarut ini.
 
"Ini biji vanila yang direbus bersama susu putih cair."
 
"Untuk minuman?"
 
"Ya." Keyna mengalihkan pandangan ke panci, airnya belum mendidih tetapi sudah tampak makin menghangat, Keyna harus mengaduknya karena kalau sampai airnya mendidih dan tidak diaduk busanya akan naik dan tumpah dari panci, "Aku biasa meminumnya kalau sedang tidak bisa tidur."
 
"Kau bisa meminta pelayan membuatkannya untukmu."
 
"Tidak." Keyna bergumam, "Ini sudah jam sebelas malam, mereka semua sudah beristirahat, aku tidak mau merepotkan."
 
"Keyna." suara Davin berubah tajam, khas dikeluarkannya ketika dia merasa jengkel kepada Keyna, "Para pelayan di mansion ini dibayar untuk melayani majikannya. Dan kau adalah anggota keluarga ini, salah satu majikan mereka."
 
"Ya... aku tahu... hanya saja aku tidak ingin mengganggu orang-orang yang sudah beristirahat malam."
 
Davin menggeleng-gelengkan kepalanya atas sikap keras kepala Keyna. Dia melangkah, duduk di kursi kayu di depan meja kayu besar yang ada di dapur itu. susu itu sudah mengeluarkan aroma harum yang khas, aroma wangi vanila dan gurihnya susu menguar, memenuhi ruangan.
 
"Kau bilang tadi kau tidak bisa tidur? Kenapa?"
 
Kenapa Davin tidak pergi saja dan membiarkan Keyna memasak susu vanila hangatnya dengan tenang? Keyna membatin dalam hati. Tetapi kemudian menghela napas dan menjawab.
 
"Kadang-kadang aku memang susah tidur, terjadi begitu saja. Tidak bisa dijelaskan kenapa."
 
"Hmmm." Davin menaruh tanganya di meja, "Karena banyak masalah di kampus?"
 
"Kenapa kau bilang begitu?" Susu di panci sudah mendidih dan Keyna mematikan kompor. Ketika akan menuang ke mug, dia menyadari bahwa isinya cukup banyak. "Mau?" tanyanya menawarkan ke Davin.
 
"Mau. Kebetulan aku juga sedang susah tidur." Lelaki itu menjawab sambil tersenyum. Senyum tulus yang sangat jarang muncul di wajahnya yang angkuh itu. "Karena aku mendengar selain si Sefrina itu, tidak ada yang mau berteman denganmu."
 
"Itu tidak masalah, aku kuliah bukan untuk berteman, tetapi menyelesaikan pendidikanku sehingga aku bisa segera mencari pekerjaan." Keyna menuang susu vanila itu ke dua mug, menyaring isinya supaya biji vanila tidak ikut masuk ke dalam mug.  satu untuknya dan satu untuk Davin. Dia lalu meletakkan mug itu di depan Davin. Lelaki itu langsung meraihnya dan menghirup aromanya, belum bisa mencicipinya karena masih panas sekali.
 
"Duduklah." Davin menatap Keyna tak terbantahkan, meskipun sebenarnya Keyna sangat ingin kembali ke kamarnya sendirian, dia akhirnya duduk di kursi kayu itu, di depan Davin.
 
"Dari kata-katamu, sepertinya kau ingin segera mencari pekerjaan."
 
"Ya. Supaya aku bisa hidup mandiri dan tidak merepotkan Nyonya Jonathan lagi." Keyna tersenyum tipis, "Aku tahu kalau mengganti seluruh biaya yang dikeluarkan Nyonya Jonathan kepadaku tidak mungkin, tetapi setidaknya aku ingin membalas budi, dengan uangku sendiri."
 
"Tetapi kau bagian dari keluarga ini, menurutku." Davin menatap Keyna dan bertanya-tanya, apakah Keyna tidak tahu bahwa ayah Keyna-lah yang menyelamatkan Davin di waktu kecil? mengorbankan tangannya, mengorbankan keahliannya, dan mengorbankan masa depannya? Kalau memang benar Keyna tidak tahu, bagaimana kalau Keyna tahu nantinya? Akankah dia membenci Davin? Karena kalau Robert, ayah Keyna itu tidak menyelamatkan Davin, dia mungkin akan menjadi pemain biola yang sangat tersohor dan Keyna pasti hidup layak, tidak seperti yang dialaminya. "Lagipula sepertinya mama tidak mengharapkan pengembalian darimu, dia cukup puas kalau kau mencapai nilai tertinggi, seperti biasanya."
 
Keyna tertawa pelan. "Ya. aku akan berusaha untuk poin nilai tertinggi itu. " Keyna mengamati Davin. Lelaki ini sungguh tampan, sekaligus terasa jauh, tak tersentuh, Keyna bahkan kadangkala merasa begitu canggung kepada lelaki itu, meskipun mereka tinggal serumah dan Davin melaksanakan janjinya untuk tidak mengganggu Keyna. Ngomong-ngomong... apa yang membuat Davin berubah pikiran secepat itu? Dari membencinya lalu berubah menerima kehadirannya di rumah ini? Bahkan lelaki itu sendiri yang menjemputnya. Apakah penyebabnya hanya karena penyesalan? Keyna sudah lama bertanya-tanya, tetapi tentu saja dia tidak berani menanyakannya langsung kepada Davin.
 
Mereka duduk berhadap-hadapan dalam keheningan, di ruang dapur yang temaram itu. Keyna meniup susunya dan menikmati aroma vanilla segar yang menyeruak, membuatnya santai.
 
"Ayahku dulu sering membuatkanku minuman ini di malam hari sepulang kerja. Aku akan meminumnya kemudian tertidur nyenyak dengan santai." Keyna menyesap minumannya dan tersenyum kepada Davin. Lelaki itu entah kenapa membalas senyumannya, lalu ikut meniup minuman di mugnya untuk kemudian mencicipinya.
 
"Enak." suara Davin berubah serak, "Aku rasa aku akan tidur nyenyak juga malam ini."
 
***
 
Davin memarkir mobilnya di pelataran kampus. Kedatangannya di kampus Keyna ternyata memang mencolok. Beberapa orang tampak berkerumun dan mulai menatapnya dengan tertarik. Beberapa perempuan tampak tak malu-malu melemparkan tatapan mata memuja.
 
Davin sudah terbiasa menerima tatapan semacam itu, dari tatapan kagum, tatapan iri, tatapan memuja dan banyak lain jenisnya. Dia sudah belajar untuk tidak mempedulikannya. Dengan tenang dia melangkah melalui pintu kaca besar di gedung kampus itu dan melangkah menuju hall depannya.
 
Kedatangannya rupanya sudah menyebar dengan cepat, karena salah satu petinggi kampus tampak turun dari tangga dan menyambutnya. Pengaruh mama Devin memang besar di kampus ini. Karena mama Devin adalah pemilik kampus swasta paling megah di kota ini. Meskipun itu tak menghentikan mereka membenci anak angkat mama. Batin Davin, mencibir dalam hati.
 
"Tuan Davin, kenapa anda tidak mengabarkan  kedatangan anda sebelumnya?" Petinggi kampus itu menyambutnya dan menyalaminya.
 
Davin menyambut uluran tangan itu dan tersenyum, "Saya bukan dalam kunjungan resmi menemani mama saya. Saya hanya kebetulan lewat dan sekalian mampir untuk menjemput adik saya."
 
"Adik anda?" petinggi kampus itu mengerutkan keningnya, "Maksud anda, Keyna?"
 
"Yah. Siapa lagi." Davin melirik beberapa orang yang tampak begitu tertarik, menguping percakapannya dengan sang petinggi kampus ini. "Terimakasih atas sambutan anda, sekarang saya akan mencari adik saya dulu."
 
"Eh... Apakah anda ingin duduk dan masuk di ruang tamu atas dulu, tuan Davin?"
 
"Tidak. Mungkin lain kali." Davin menganggukkan kepalanya dan melangkah meninggalkan petinggi kampus itu. Dia menelusuri koridor demi koridor berlantai marmer itu dengan tenang. Seluruh bagian dari kampus ini sudah sangat dihafalnya, karena dulu dia juga bersekolah di sini sebelum melanjutkan magisternya di England. Dia melangkah menuju kelas Keyna, seharusnya, kalau Keyna belum pulang, dia ada di sana.
 
Davin rupanya tidak salah. Dia menemukan Keyna sedang duduk di salah satu sudut kelas, sendirian dan membaca buku yang tampaknya sangat menarik baginya karena dia seperti larut di dalamnya, tak peduli dengan dunia luar. Rupanya perkuliahan sudah selesai dan sekarang para mahasiswa sedang berdiskusi santai sebelum pulang. Davin melangkah mendekat dan begitu orang-orang menyadari dia datang, suasana langsung berubah. Semua menatap ke arahnya, tetapi Davin tidak peduli,
 
"Keyna." panggilnya lembut.
 
Keyna yang sedang menunduk mengangkat kepalanya, menatap ke arah Davin, lalu matanya membelalak, kaget. "Kenapa kau di sini?" suaranya setengah berbisik, setengah tercekik.
 
"Menjemputmu. Aku kebetulan lewat."
 
Keyna menoleh ke arah sekeliling. Davin benar-benar membuktikan kata-katanya. Dengan kedatangannya ke sini, terang-terangan menjemput Keyna, dia benar-benar ingin menunjukkan bahwa Keyna adalah bagian dari keluarga Jonathan yang harus dihormati, Davin terang-terangan menunjukkan bahwa Keyna harus diperlakukan sama seperti ketika mereka semua menghormati keluarga Jonathan. Semua orang memandang ke arah mereka. Dan ketika Keyna menatap orang-orang itu, semuanya mengalihkan pandangan. Tidak berani balas menatap. Well, ternyata kehadiran Davin cukup mengintimidasi di sini.
 
"Aku tidak perlu kau melakukan ini semua." Keyna berbisik lirih, yang hanya bisa didengar oleh Davin saja.
 
Hal itu membuat Davin terkekeh, "Aku cuma datang menjemputmu Keyna, jangan berpikiran terlalu rumit. Ayo kemasi barang-barangmu, ikut aku."
 
Ketika itulah Keyna menatap kedatangan Sefrina dari pintu kelas. Tadi Sefrina bilang mau ke kamar kecil, dia mengajak Keyna untuk mampir ke toko roti di dekat kampus sebelum pulang dan Keyna sudah bilang iya. Jadi dia tidak mungkin mengikuti Davin pulang begitu saja,
 
"Sefrina." Keyna memanggil Sefrina yang tampak ragu melangkah ketika menyadari sosok Davin yang berdiri menghadap Keyna, membelakangi Sefrina.
 
Davin yang menyadari nama Sefrina disebut langsung menoleh, penuh ingin tahu. Kata mamanya Sefrina adalah mantan tunangannya. Dan sejauh yang diketahui Davin, kedatangan Sefrina kemari, meninggalkan London, kota yang bisa dikatakan merupakan tempat dia menghabiskan sebagaian besar hidupnya masih misterius. Belum lagi alasannya mendekati Keyna yang masih dipertanyakan.
 
Yang berdiri di depan Davon adalah seorang perempuan yang cantik. Dengan tubuh mungil yang tampak rapuh dan rambut panjang menjuntai. Sefrina tampak seperti peri yang sangat cantik. Aku mungkin harus memprotes mama karena membatalkan pertunangan itu, Davin bergumam dalam hati, tetapi kemudian menatap Keyna dan senyumnya semakin dalam, tetapi bagaimanapun juga Keyna terasa lebih menarik, entah kenapa. Mungkin karena mereka berasal dari latar belakang berbeda, sehingga Davin merasa akan terus menemukan hal-hal baru jika bersama Keyna.  Davin lalu mengalihkan pandangannya kembali kepada Sefrina,
 
"Hai, aku sering mendengar namamu dari Keyna." Davin bersikap ramah, seolah-olah tak tahu kalau Sefrina adalah mantan tunangannya.
 
Sefrina mengamati wajah Davin lama, sebelum kemudian tersadar dan menjabat uluran tangan Davin, "Aku Sefrina."
 
"Terima kasih sudah mau berteman akrab dengan adikku. Keadaan sulit baginya di sini, dan aku senang dia bisa menemukan teman yang bisa mendukungnya."
 
Sefrina tertawa, "Aku cuma mengikuti kata hatiku, dan tidak peduli dengan pemikiran dangkal orang-orang. Keyna sungguh teman yang baik."
 
Keyna yang masih duduk di kursi kelasnya mengamati kedua orang di depannya itu. Mereka tampak sangat cocok ketika berhadap-hadapan seperti itu. Tampan dan cantik, dan berkelas, dan sudah pasti sama-sama dari keluarga kaya. Kalau mereka berpasangan pasti akan menjadi pasangan yang membuat iri orang-orang yang memandangnya saking cocoknya.
 
"Keyna. Ayo kita pulang."
 
'Eh.. " Keyna tersadar dari lamunannya. "Tapi aku sudah berjanji kepada Sefrina untuk menemani ke toko roti..."
 
"Lain kali saja Keyna, kasihan Davin sudah susah-susah menjemputmu kemari." Sefrina tersenyum manis, "Lagipula kita kan bertemu lagi besok, kita bisa kesana sepulang kuliah besok."
 
"Oh. Oke. maafkan aku Sefrina." Keyna beranjak dari duduknya dan memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. " Aku tidak sabar menanti besok." Dia membiarkan Davin dengan gentle meraih tasnya dan membawakan tasnya.
 
"Aku juga tidak sabar." Sefrina melambai, masih dalam senyum manisnya.
 
Keyna lalu melangkah mengikuti Davin. Meninggalkan Sefrina yang berdiri diam, mengamati mereka berdua sampai menghilang.
 
***
 
Malam itu hujan turun dengan lebatnya. Tak terkira, diiringi suara angin dan hujan. Sementara Keyna berbaring diranjangnya gemetaran. Mencoba menutupi seluruh tubuhnya dari ujung kaki sampai dengan kepala dengan selimut. Tetapi setiap suara guntur menggelegar dia terlonjak kaget lalu meringis ketakutan.
 
Tidak ada yang tahu selain ayahnya. Tetapi Keyna memang takut dengan guntur.
 
Dulu sewaktu kecil kalau mendengar suara guntur, Keyna akan menangis meraung-raung. Dan ayahnya akan memasukkannya ke dalam selimut bersamanya. Ketika Keyna beranjak dewasapun sama saja, dia akan mengetuk pintu kamar Ayahnya dan minta izin untuk bersembunyi di balik selimutnya sampai badai guntur di luar reda.
 
Ayahnya adalah satu-satunya tempat Keyna bergantung. Guntur berbunyi lagi, kali ini demikian kerasnya sampai membuat kaca-kaca dan kusen jendela bergetar menimbulkan bunyi yang tak kalah kerasnya. Keyna berusaha menahan ketakutannya, sambil menyusut air matanya. Ayah... ayahnya. Di saat seperti ini dia merasa amat sangat merindukan ayahnya, dan berharap ayahnya masih hidup.
 
Tiba-tiba lampu mati, gelap gulita. Cahaya yang masuk hanyalah kilatan-kilatan guntur yang menembus kegelapan, menimbulkan bayangan bayangan menakutkan yang kemudian menghitam secepat kilat. Keyna makin gemetar, makin takut. Astaga. Kapan siksaan ini akan berakhir? Kapan hujan guntur itu akan berhenti? Keyna begitu takut, ketakutan yang tidak mampu dijelaskannya ketika mendengar suara guntur. Ketakutan yang menggelayutinya, entah kenapa, dan entah karena apa.
 
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.
 
"Keyna, kau tidak apa-apa? Lampu mati sebentar sepertinya ada pohon tumbang menimpa kabel listrik di luar, Tetapi sedang diperbaiki....."
 
Itu suara Davin. Dan kemudian, tanpa mempedulikan rasionalitasnya, meskipun nanti kalau dia sudah tidak ketakutan Keyna pasti akan merasa malu, dia melompat dengan histeris dari ranjang, melemparkan selimutnya dan setengah berlari, lalu menubruk Davin dengan kerasnya, hingga tubuh lelaki itu sempat mundur sedikit, lalu memeluknya erat-erat. Pada saat yang sama guntur menggelegar lagi dengan kerasnya, dan seluruh tubuh Keyna mulai bergetar.
 
"Keyna?" Davin tidak menolak pelukan Keyna. Dia balas memeluk perempuan kecil itu, berusaha menenangkan tubuh kecil yang gemetaran tenggelam di pelukannya. Ketika petir menggelegar lagi dan Keyna berjingkat kaget lalu makin erat memeluknya, Davin tahu, Keyna takut pada suara petir. "Sttttt.... " dia berbisik lirih, berusaha menenangkan Keyna. Perempuan ini memeluknya begitu erat sampai membuatnya susah bernafas, dan Keyna pasti melakukannya tanpa sadar. Davin tersenyum, kalau Keyna sadar, dia pasti tidak akan mau memeluknya seperti ini. Tiba-tiba Davin teringat, lalu tersenyum penuh syukur, untunglah hujan deras waktu itu, ketika dia menemukan Keyna setelah terusir dari mansion, hujan deras waktu itu tidak dihiasi oleh petir yang menggelegar seperti ini. Kalau tidak mungkin Keyna sudah melemparkan dirinya ke pelukan siapapun yang dia temukan, Davin tersenyum kecut,
 
"Sttttt ... tenanglah sayang, jangan takut. Ada aku di sini. Lampu akan menyala sebentar lagi, Ayo akan kutemani kau sampai tertidur."
 
Seluruh tubuh Keyna bergetar ketika Davin mengangkatnya seolah dia sangat ringan, lalu meletakkannya di ranjang, Davin duduk di tepi ranjang dan menyelimuti Keyna.
 
"Tidurlah, aku akan ada di sini menemanimu."
 
Keyna mengangguk, dan memejamkan matanya. Petir menyambar-nyambar di luar dan suara guntur menggelegar, tetapi kehadiran Davin rupanya membuat Keyna lebih tenang. Perempuan itu masih mencengkeram jemari Davin seolah takut di tinggalkan. Dan kemudian lampu menyala kembali, memenuhi kamar dengan nuansa kuning lampu tidur yang temaram. Hujan mulai reda pada akhirnya, lama kemudian, meskipun aliran airnya masih tercurah ke bumi.
 
Keyna tampaknya sudah di ambang tidurnya, dia menatap Davin dengan mata setengah terpejam dan tersenyum,
 
'Terimakasih, Davin." gumamnya pelan sebelum larut di dalam tidurnya.
 
Davin hanya menatap Keyna yang sudah terlelap itu. Dia lalu hendak melangkah berdiri, tapi tangan mungil Keyna ternyata masih menggenggam tangannya begitu erat. Lelaki itu lalu duduk lagi dan termenung di atas ranjang, kembali menatap wajah Keyna dalam-dalam.
 
Bersambung ke Part 3
 

62 komentar:

  1. aku jg kadang suka takut klw ada guntur.
    mbg shan UHnya kapan mau dpost.....?????

    BalasHapus
    Balasan
    1. UH di portalnovel tanggal 25 Januari sayang :) tungguin yah

      Hapus
  2. asyik..asyikk,ada crita seru lgi nihh...
    ditunggu lnjutannya ya mbak...

    semoga sehat slalu yaaa... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih sayaaang doanyaaa
      heeee maapkan telat balas komennya huhuhuhuhu
      semoga suka sama kisah ini yaah :)

      Hapus
  3. hayo, kayaknya devin seneng d peluk keyna.. Jiah.. Thanks mbak san.. D tunggu lanjutanya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. apa mbak shanty sehat2 sja? Aku harap begitu... Banyak2 istrht, mbak san jngn smpai kecapaian... Minum vitamin dn air putih...

      Hapus
    2. iya nisa, aku tuh suka dimarahin soalnya ga suka minum air putih
      tiap hari minum air putih paling cuma 2 gelas ( seharian) sisanya minum teh dan kopi huhuhu gaya hidupnya salah yaaah
      makasih sayaaang aku akan berusaha sehat ;)
      *peluk2*

      Hapus
  4. davin mulai ada rasa nih.....ditunggu part selanjutnya...
    tks mba santhi..


    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe kayaknya begitu :P
      semoga mau menunggu yah InsyaAllah hari ini diposting part 3 nya :)

      Hapus
  5. mbak santhy.... ( dengan raut wajah yang sumringah ^^)
    akhirnya hampir sebulan (lebay tingkat tinggi hahahah...)menunggu SE-nya di publikasikan juga.
    syukurlah mbak santhy udah baikan.di tunggu lanjutan cerbungnya ...^^

    *peluk* hangat di hari yg mendung ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. aniiiik hehehehehe iyaaaa waah sebulan yah dari oneshoot yang terakhir kmrin heeeee semoga anik suka yah dengan pengembangan kisahnya :)

      makasih sayaaang aku akan berusaha makin sehat heee
      *balas peluk hangat*
      aku suka mendung dan hujan dan ditemani sahabat heee

      Hapus
  6. Hore "sambil lompat2"
    yang di tunggu akhirnya muncul
    Mbk Santi :D thanks y mbk bwat lanjutan SE nya
    di tunggu part selanjutnya
    *peluk sayang mbk santi

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehe syukurlah sayang suka yaaah
      part selanjutnya hari ini yaah ditunggu :)

      Hapus
  7. aih... Ending'y gmn ya? hmmm *berpkir keras... *eh bru jg awal udh mkir ending u,u
    Thank you mba Santhy sayang...
    *peluk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Endingnya? hihihihi endingnya dihiasi oleh hal2 tidak terduga :)
      hehehehe
      sama2 sayaang, seneng sila mau baca karyakuu, makasih yah sayang ;)
      *peluk*

      Hapus
  8. Aaakkkk sooooooo sweeettttttt...
    Cokiber baruuuu,,cokiber baruuuu...

    BalasHapus
  9. Bsk posting lagi yah part 3 nya :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe part 3 nya sore ini yah afni semoga mau menunggu :)

      Hapus
  10. Mbaaak Santh,,,,makin penasaran aq ma Davin, Keyna & Sefrina,,
    Hmmmmm,,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehe iya nih Riska sayang semua masih bikin penasaran yah.... belum lagi Jason yang sempat muncul sebentar kemarin :)

      Hapus
  11. duh keren ni,tp davin galau jg y ma sefrina.hohoh dtgu next chapter,mksh mba santhy :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe iya dasar Davin ga bisa lihat cewek cakep hihihihi
      :)
      ditunggu part 3 nya hari ini yah sayang :)

      Hapus
  12. mba yg ini ada berapa part?????

    BalasHapus
    Balasan
    1. baru jalan part 9 sayang, tetapi belum ending ;)

      Hapus
  13. Makasih mba san.. senang liat davin suka ama keyna.. hmmm takut pula ntar sefrina jadi tembok tengah bagi mereka berdua.. anyway.. akan terus sabar nungggu next chapter..

    BalasHapus
    Balasan
    1. heeee iyaaa yah soalnya sefrina ini masih samar2 perannya ;) kira2 dia apaan yah antagonis atau protagonis :)

      Hapus
  14. sefrina... hmm... cucok jdi nama penyihir |apeu| :D |ampun mba santhy jgn digaplok y sya....|

    mba santhy nieh produktif bgt nulisnya |kgum|.sya doain mba santhy sehat & smngt trus jdi bsa sllu nyuguhin kisah2 indah buat kami2...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihihi ini insting para perempuan kayaknya bisa mendeteksi sesama perempuan yg mencurigakan yah hihihihihi

      waaa amin sayaaang, semoga dengan makin sehat makin produktiv nulis yaaaah, aku paling seneng baca komen2 dibawah postingan bikin aku senyum2 bahagia sendiri hee :)

      Hapus
  15. Mba Santhy penasaran neh ma lanjutannya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. heeee tunggu yah part 3 diposting hari ini

      Hapus
  16. wah...penasaran nih mbak shanty
    kapan nih posting sambungannya, ditunggu....(menunggu dengan wajah memelas supaya mbak shanty cepat2 posting sambungannya)
    hehehehehehehe.......

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehhe part 3nya hari ini yah sayaang, semoga mau menunggu yaah :)

      Hapus
  17. so sweettt..davin manis deh klo gtu..haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehhe kayak judulnya yah, sweet enemy :)

      Hapus
  18. Thanks mba Shanty.

    Pas bgt moment ujan petirnya...
    Mia jg takut petir... kayak kmren pas ujan deres.... langsung nglingker sambil meluk guling....

    Seandainya ad Davin disini....
    xixixixixii....

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaaa mia juga takut sama petir?
      *langsung kirim Davin buat nemenin mia* hehehehe

      Hapus
  19. Mbak Santhy, makasih udah di update Sweet Enemy-nya..... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. heee... sama2 sayaaang semoga suka yaah :)

      Hapus
  20. waahh mlm ini diganti sm SE hehehe
    keknya davin suka tuuuhh suit suiit
    eehh iya ditambah 'keyna' tuh mba baru ingeet hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehe iyaa Davin mulai ada rasa yah hehhe
      ;)

      Hapus
  21. aloha mbk santhy...

    cie cie cie davin ada rasa nih ma kayna...
    Ayo mbk part 3 yg sweet sweet ya....


    love

    BalasHapus
    Balasan
    1. halo sayaaaang maapkan akuu telat banget balas komennya yah :D
      hehehehe iyaa Davin duluan nih kayaknya yg ada rasa ;p

      Hapus
  22. luph u mba santhy.....
    luph u davinnn.............

    BalasHapus
  23. Soooo cutenya davin n keyna ini...
    Aaiiih....gemeyy deehh..
    Mau lanjutannya lagii dunk mbak San...
    Anywayy aq kok pnya negatif thinking sm sefrina...
    Jgn2 di serigala berbulu domba deh...

    #kepo

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihihi iya yah pasangat sweet ini makanya alurnya agak lambat yah, tapi nanti banyak adegan romantisnya kok :)
      waaaa ada lagi yang curiga sama sefrinaa hehehe

      Hapus
  24. ahhhhhh... ><" *senyum2 gaje*
    sweet enemy makin co cuitttt kak..
    Aigoo.. Itu pas adegan pelukan waktu petir ahhhh.. Aku mesem2 bca'y kkk .. :p
    knp gk seklian nemenin tidur diranjang kak*plakk*

    tapi kereeennn sumpah manis banget,, jangan smpe sefrina ganggu mereka be2 ya.. Aamiin.. *usap muka*

    dtunggu part 3'y kak.. Jan lama2 yaa.. *peluk2kak san* hehee

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihihi waaah kalau sekalian tidur di ranjang nanti bisa terjadi hal2 yang diinginkan hihihihi :D

      syukurlah sayang suka yaaah, semoga banyak adegan manis, seperti judulnya, sweet enemy hehehe

      waah banyak yg curiga sama sefrina yah ;)

      Hapus
  25. Asyik, Co Cwett..
    Sweet Enemy lg berbunga2..
    Menghitung Hujan bergalau ria..
    Kira2 part selanjutnya ada apa lgi ya..???
    Penasaran... Penasaran..

    Thanks ya mbak santhy cantik dah diposting..
    Moga2 Mbak santhy yg slalu cantik sehat teruss biar nulis N postingnya lancarr teruss.. Aminn.
    Peluk Sayang Bwat Mbak Santhy Cantikkk..

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiiin makasih naora sayaaang atas doanyaa aku akan berusaha hehehe ;)
      iya sweet enemy sama menghitung hujan auranya berbeda
      jd bisa jadi selingan yah, semoga menghibur yah
      hihihihi :D

      Hapus
  26. jiaaahh davin curi*ksemptan nih .. mba san tau aja bkin suaana yng pas nya hhhe
    sweet enemy bner* co cwitt deh ..
    smngat trus mba cantik chayooo !!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa sweet enemy alur jatuh cintanya agak lambat, tp nanti banyak adegan romantisnya :)

      makasih sayaaang ;)

      Hapus
  27. Saya tunggu kelanjutannya mbak Shanty yang caem hehehe , makasih :)

    BalasHapus
  28. wahh davin,,,,,seneng ya dipeluk Keyna,,,, ohh sefrina penggambarannya cantik, keyna cantik juga gk ya??
    gak sabar pgen cpt lanjutanya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe Davin pasti punya rasa lebih yah :)
      heee tunggu yah sayang lanjutnannya hari ini :)

      Hapus
  29. lg sibuk ya mbak santhy .....? kok tumben lama posting ceritanya,

    semoga sehat selalu ..^^

    *peluk cium* untuk memberikan energi tambahan

    BalasHapus
    Balasan
    1. heeee iyaa anik sayang
      kmrin sabtu paman ( adiknya ibu) ada yg meninggal di bekasi jd kita ke bekasi sekeluarga baru pulang :)
      hari ini InsyaAllah SE 3 diposting yah, mungkin agak sorean ;)

      Hapus