Selasa, 23 Oktober 2012

Cerpen : Bad Surprise






Aku merapatkan jaketku  sambil berjalan menembus area parkiran di lapangan terbuka yang padat ini, mataku mengeryit terkena terpaan air bercampur angin yang makin lama makin kencang , setengah menunduk, setengah berlari, aku menembus derasnya hujan  melangkah ke teras cafe beratapkan hijau dengan uliran daun-daun merah itu. Aku berdiri ragu di sana, sementara air masih menetes-netes dari jaketku, membasahi lantai. 

Dia ada di dalam sana. Isteriku menunggu di dalam sana

Aku menghela nafas, sementara jantung yang tak tahu aturan itu berdegup makin lama makin kencang.

Sekaranglah saatnya bukan? Kau harus yakin Damar.

Kuhela nafas panjang sekali lagi untuk menguatkan diri,  sepagian ini aku berkutat dengan pikiranku sendiri seperti orang gila, menimbang-nimbang apakah kejujuran ini harus diungkapkan atau disimpan, yang pastinya tetap saja seperti menyimpan bom, suatu saat nanti akan meledak dan melukai banyak orang.

Tetapi siapkah aku mengungkapkan kejujuran ini di depan Renata? Akankah Renata menerimaku? Atau mungkin kemungkinan terburuk yang akan terjadi? Apakah Renata akan meninggalkanku setelah mengetahui ini semua?

Aku melepaskan jaketku yang basah kuyup dan meletakkannya begitu saja di bangku kursi kayu yang ada di teras cafe itu. Mataku melirik ke arah hujan yang makin deras turun sehingga hampir menyerupai tirai putih, lalu aku mencuri-curi pandang ke dalam cafe, dan menemukan sosok yang aku cari, duduk membelakangiku.
Itu dia. Renata sedang duduk di sana dengan gaun putih kesayangannya yang selalu membuatnya tampak cantik dan luar biasa.

Isteriku memang luar biasa, begitu sempurna dan membanggakan. Kami sudah menikah selama lima tahun dan pernikahan kami sangat bahagia. Hanya saja ahkir-ahkir ini ada permasalahan yang sangat mengganggu dan membuat aku dan Renata menjadi sedikit tertekan.

Dua bulan yang lalu ibuku datang berkunjung ke rumah kami, ibuku memang orang ningrat jawa asli, dan sejak dulu dia memang tidak setuju aku menikahi Renata yang notabene wanita karier sibuk bekerja.

“Seorang perempuan itu harusnya di rumah, mengurus rumah, biar nanti kalau suaminya pulang rumah sudah bersih, makanan hangat siap, baju-baju sudah rapi, itulah tugas isteri yang sebenarnya, bukan kayak isterimu itu Mar, kamu sama sekali nggak diurusnya, makanan yang masak pembantu, baju yang nyuciin pembantu, bahkan kadang dia pulang lebih malam dari kamu gara-gara kerjaannya”

Waktu diceramahi begitu aku hanya diam saja dan tidak mengatakan apa-apa, karena aku kenal sekali watak ibu, semakin dibantah beliau malah semakin keras. Aku pribadi sebagai suami tidak keberatan dengan kehidupan pernikahan kami, kami memang pasangan yang sibuk dengan karier kami masing-masing. Tetapi setidaknya di malam hari kami selalu menyempatkan diri berkomunikasi, di ahkir minggu sedapat mungkin selalu kami habiskan berdua, walau kadang-kadang Renata tetap harus melakukan perjalanan bisnisnya di ahkir minggu. Tetapi itupun tidak masalah, aku mencintai Renata dan dia mencintaiku. Kami bahagia, dan kupikir itu sudah cukup baik bagiku.

“Makanya Tuhan itu nggak mau nitipin anak ke isterimu itu, lha dia belum bisa membuktikan dia bisa menjadi isteri yang baik....”

Aku mengernyit lagi. Mulai lagi deh pembahasan tentang anak. Mataku melirik cemas ke belakang, Renata sedang mandi. Semoga dia lama di kamar mandi, doaku dalam hati, aku tidak mau dia mendengar percakapan ini. Kadang-kadang keterus-terangan ibu menyakitkan hati kalau didengar langsung, aku nggak mau Renata merasa tertekan karenanya.

“Ah memang belum waktunya saja bu. Damar yakin nanti kalau sudah waktunya, kami bisa memberikan cucu untuk ibu”

“Lha waktunya itu kapan datangnya toh Mar”, mata ibu semakin berapi-api, “Kalian itu sudah lima tahun menikah dan tetap isterimu itu belum hamil, kalau isterimu itu memang sehat dan normal, harusnya setelah menikah dia bisa langsung hamil. Kamu harus ingat kalau kamu itu anak satu-satunya pembawa trah Sosrodiningrat. Bapakmu bisa kelabakan di surga sana kalau tahu bahwa namanya tidak bisa diteruskan karena anaknya salah memilih isteri....”

“Ibu...”, suaraku mulai terdengar cemas karena aku mendengar pintu kamar mandi dibuka. Tapi ibu tidak peduli,

“Mungkin kamu harus suruh isterimu itu periksa, Sepertinya dia perempuan mandul...”

Ibu !!!”,

Ibu terhenti dan menoleh mengikuti arah pandanganku di belakangnya. Renata berdiri dengan wajah pucat pasi di sana.

Yang aku ingat kemudian suasana menjadi sangat canggung. Renata berusaha menjaga ekspresi wajahnya. Ibu tetap saja mendongakkan wajahnya dengan angkuh dan keras kepala,  sementara aku yang berada di tengah-tengah bingung harus bagaimana menyikapi keadaan tidak mengenakkan semacam ini.

Bukan sekali- dua kali ibu menyinggung tentang belum hadirnya anak dalam keluarga kami. Dan setiap itu terjadi Renata selalu menangis dan sedih. Tapi akulah yang paling tahu kalau Renata tidak mandul, atas inisiatif Renata sendiri, dia memeriksakan kesuburannya ke dokter. Aku sendiri yang mengantarkannya periksa ke laboratorium setelah insiden itu, dan hasilnya organ reproduksinya sehat. Sudah kutunjukkan hasil tes lab itu kepada ibu, tetapi ibu dengan pandangan kunonya tetap saja tidak percaya,

“Wanita yang menyalahi kodratnya seperti dia ndak akan bisa punya anak. Lha wanita kok kerja kantoran pulang malam, mau ngalahin lelaki dia?”

Begitulah tanggapan ibuku waktu itu.

Suara petir menghantarku kembali dari alam lamunan mengingat kejadian hampir dua bulan lalu lalu itu. Aku tersadar bahwa aku sudah berdiri lama  dengan pikiran menerawang di depan cafe ini. Mataku mencuri pandang ke arah Renata yang masih duduk dengan tenang memunggungiku disana. Ah isteriku itu memang selalu sabar, senyumku penuh kasih sayang.

Dengan masih tersenyum aku melangkah memasuki cafe itu dan berhenti di depan meja Renata, isteriku itu mendongak dan tersenyum manis, aku langsung menunduk dan mengecup keningnya sebelum duduk di depannya.

“Rambutmu basah”, jemarinya yang gemulai itu menyentuh rambut yang basah dan jatuh di dahiku, tanpa sadar aku memejamkan mata meresapinya, sentuhan Renata selalu membuatku merasa damai dan bahagia.

“Maaf aku terlambat, di luar hujan deras sekali, kamu sudah menunggu lama ya?”, tidak kukatakan bahwa aku sudah sampai sejak tadi tapi sibuk membuang waktu untuk menguatkan hati.

Renata tersenyum,

“Tidak apa-apa, aku tadi sudah bilang sekertarisku mau pergi lama, ada janji makan siang dengan suamiku untuk merayakan sesuatu”, senyumnya tampak penuh rahasia.

“Merayakan apa?”, aku jadi ingin tahu melihat binar di matanya,

Renata tergelak dan meremas jemariku,

“Nanti. Sekarang katakan apa yang ingin kau ceritakan padaku, kau tampak serius sekali ketika menelephone untuk mengajak makan siang tadi sayang”

Aku tercenung, tiba-tiba keberanianku lenyap sudah, melihat senyum dan tawa Renata itu, aku tidak tega menghancurkannya.

“Hmmm bukan hal yang penting kok “, tiba-tiba kuputuskan untuk menunda pengungkapan kejujuran itu kepada Renata, aku tidak berani, nyaliku menciut, karena itu aku mengalihkan perhatian kepada Renata, “Ayo ceritakan padaku apa yang akan kita rayakan, jantungku jadi deg-deg’an nih”,

Sekali lagi Renata tergelak, tawanya renyah, dia kelihatan bahagia sekali, sampai-sampai kebahagiaannya itu menulariku, membuatku ikut tertawa tanpa sebab,

Dengan lembut Renata meremas jemariku, lalu membuka tas yang sedari tadi di dekapnya di pangkuannya, mengeluarkan selembar amplop besar. Matanya begitu bahagia, pipinya bersemu merah ketika menatapku sebelum membuka amplop itu dan mengeluarkan kertas di dalamnya, menyerahkannya kepadaku.

Aku menerima kertas itu, tapi mataku masih menatap ke arah Renata. Bingung.

“Bacalah mas”, suara Renata berbisik penuh semangat.

Aku menunduk dan membaca kertas yang penuh dengan tulisan istilah-istilah medis itu. Begitu aku memahami isinya, serasa ada aliran es yang menjalar pelan melalui ujung jariku, merambat ke seluruh tubuhku, Panas yang membakar.

“Aku hamil mas ! kemarin aku diam-diam tes urine sendiri, karena aku sudah telat haid dan hasilnya positif. Lalu untuk lebih akurat aku periksa ke dokter kandungan , tadi siang dokter menelephone katanya hasil lab sudah keluar dan aku positif hamil 6 minggu, kita ahkirnya akan punya bayi mas!”, Kebahagiaan meluap-luap di wajah Renata, tapi lalu dia mengernyit ketika menyadari ekspresiku. 

Wajahku pucat pasi, dingin seperti es. Dan mataku berkaca-kaca.

“Lho ? mas kenapa ?”, Renata berusaha meraih tanganku dengan bingung, tapi aku menepisnya. Suaraku goyah ketika berkata,

“Sesuatu yang ingin kubicarakan itu.... “, suaraku menghilang dan gemetaran,

Kutatap Renata dalam-dalam, mencermati wajah isteri yang kucintai itu, isteri yang kupercayai, sebuah hantaman kepedihan memukul dadaku, membuatnya terasa begitu sakit dan sesak sehingga aku mengernyit tanpa sadar.

Aku mengeluarkan kertas dari sakuku, selembar kertas yang sudah lecek terlipat menjadi empat bagian, begitu leceknya karena sepagian sudah kubuka dan kulipat berkali-kali dalam pergulatan batinku. Dengan hati hancur kuserahkan kertas itu kepada Renata.

Isteriku itu meraihnya, dan membacanya. Lama kutatap ekspresinya, yang semakin lama semakin memucat, sama pucatnya dengan diriku.

“Kemarin aku juga diam-diam melakukan tes kesuburan”, suaraku masih bergetar, “Hasilnya keluar tadi pagi, itulah yang ingin kusampaikan kepadamu..... Aku mandul, spermaku tidak mengandung sel sperma yang sehat, aku tidak bisa punya anak. Aku tidak akan pernah bisa menghamili siapapun.”

Renata mendongakkan kepalanya, menatapku. Matanya penuh air mata, penuh rasa bersalah. Aku hanya diam, mencoba menahan seluruh pertanyaan dan kemarahan yang menggedor-gedor perasaanku.

Hujan deras di luar sudah hampir reda, tapi hujan deras di hatiku baru saja dimulai

Begitu saja. Begitu saja. Duniaku runtuh begitu saja. Ya Allah.....

Selesai

22 komentar:

  1. wwwwwwwwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa............. anak siapa itu????????????????????????????

    buset, kaget banget aku pas baca perkataan Damar kalo dia mandul.... ikut deg-geg an nih....
    tak pikir Damar punya anak dengan wanita lain, ternyata.......... Renata-lah yang punya anak dengan laki-laki lain.....
    Hujan deras di kepalaku juga dimulai....

    BalasHapus
  2. farrriiiiiiilllllll.......... ( ikutan teriak) hehehehe
    aaaah berhasil syukurlah nggak ketebak sama faril kali ini, kalau yang cerpen pillow talk kemarin kan faril berhasil nebak :D

    iyaa ternyata renata yang selingkuh, atau mungkin bukan selingkuh faril, mungkin dia udah putus asa karena dituduh mandul sama ibu mertuanya, jadi dia menempuh jalan pintas :)

    BalasHapus
  3. wwaaaaaaaaaa..... *masih njerit lagi*
    iya, salah nebak nih....
    keren abis dah,, tak acungi 4 jempol yang kupunya...
    jadi, penulisnya sendiri belum bisa memastikan Renata selingkung atau meminta donor sperma di Rumah Sakit (kayak bayi tabung gitu)??

    BalasHapus
  4. (buka rahasia)
    sebenarnya waktu nulis, cantik berpikirnya condong ke arah bayi tabung sih soalnya cantik sebenarnya adalah penyuka cerita happy ending ( tp entah kenapa cenderung membuat cerita2 tragedi) hehehe

    tapi sengaja dibikin ending begitu biar pembaca bisa berpikir sendiri, apa kisah ini akan dibuat happy ending atau sad ending

    makasih faril jempolnya *peluk*

    BalasHapus
  5. uwaaaaaaaa bagus :)
    sakura likes this bbbb(4 jempol)

    BalasHapus
  6. makasih yaaaaa sudah suka :)
    *peluk erat*

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku juga mbak, salah satu yg setelah menikah 6 tahun baru punya anak :)
      tadinya sih mertuaku juga sempat komplain tp untungnya gak sengotot ibunya Damar, hehehehe...
      btw mbak, aku kok gak bisa komen di kolom biasa ya, bisanya cuman di kolom balas ini

      Hapus
    2. waah masak sih vivi?
      aku coba cek settingannya dulu yaaahh...
      tp biarpun di kolom balasan tetep kubaca kook
      heee makasih ya udah komen
      aku jg harap2 cemas, nikah baru 1 tahun sih tp rasanya hati ini iri melihat mereka yg bisa hamil begitu cepat hiks hiks

      Hapus
    3. Iya tuh mbak santy bner kta novi klo komen biasa g nongol" ktanya nunggu d approve..
      Btw ini cerita persiss bgt ma pasien dokter x tempat kerjaku
      tapi suaminnya gak se shok itu, dia malah nganggep dokternya yg salah periksa krn istrinya bisa hamil.. Sampe punya 2 anak
      akhirnya dokternya pnasaran trus tanya ke sang istri jawabnya psssst...iya dokter bner aku main sm sahabat ku (it's real story)

      Hapus
    4. dear lutfi
      wah kmrin kita sampe bahas kemungkinannya dr kisah ini :
      1. Si isteri memang selingkuh
      2. hasil tes mandul si suami salah, jd isterinya ga selingkuh
      3. Si isteri pake donor sperma
      4. Hasil tes kehamilannya si isteri yang salah
      heeeeee

      eh gawai itu isteri pasien dokternya... dengan entengnya ada main sama sahabatnya dan sampai punya 2 anak? dan suaminya sama sekali ga curiga yah
      waaaah kirain nggak ada di dunia nyata ini hiks

      Hapus
  7. Bener2 un-expected,kayak cerita lelaki tua dan makam sederhana...gelap banget nuance-nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Aini, ini waktu itu lagi eksperimen sama cerpen2 shocked ending :)*peluk erat*

      Hapus
  8. Wah critanyaa mang bikin shock..gk d sangka gk d duga..kirain suaminyaa punya anak dr wanita laen..eh tnyta oh tnyta :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. heeeee iyaaaa ini shock ending, seneng banget kalo ternyata efeknya berhasil :D

      Hapus
  9. Salam kenal. Aku br tau blognya nih. br baca 3 cerita tapi udah suka bgt sama cerita2nya. Kalau yg ini,aku pikir damar diam2 nikah lagi. :)

    BalasHapus
  10. Salam kenal. Aku br tau blognya nih. br baca 3 cerita tapi udah suka bgt sama cerita2nya. Kalau yg ini,aku pikir damar diam2 nikah lagi. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal Mureee,,,, hehehe makasih yah sudah mampir ke sini dan baca cerita2nya, semoga selalu ada makna yang bisa diambil di setiap cerita yah :)

      Hapus
  11. halo mba santhy salam kenal yaaaa...
    aku seneng banget baca karya mba santhy apalgi arsas ceritanya kerenn bgt gk kalah deh ama novel terjemahan...

    tdnya aku gk pnya blog tapi abis baca blognya mba santhy jadi pengen ikutan nulis,,soalnya aku orangnya pendiem jd kebanyakan ngomongnya lebih suka kebentuk tulisan,,,

    mba santhy jd bkn inspirasi deh..*peluk cium erat2* hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuliii salam kenal jugaa maaf baru balas yaah baru buka blog :)
      waaah baguss ituuu mana blognya biar aku bisa follow yaah ;)
      hmmm biasanya kalo orangnya pendiem lebih lancar dalam menulis lho :) ga sabar baca blognya Yuli nih ayuuk menuliss :)

      Hapus
  12. salam kenal sista. Kyaknya nambah fans nih. Baru nemuin blog ini lgsg jatuh cinta. Cerpen2nya keren abis. Ending2nya jga kdg diluar prediksi. Semangat nulis terus ya, biar aq ga kehabisan stok bacaan ...he...he...he...

    BalasHapus
    Balasan
    1. lanaaaa salam kenal wah nama Lana sama dengan nama tokoh di novelku Sleep With The Devil hehehe
      iya yah aku suka banget sama shock ending soalnya hehehe :D
      oh ya Sleep With The Devil sudah akan mulai di posting per bab di www. portalnovel.blogspot.com heee

      Hapus
  13. sumpahh syok bngt bacanya, kirain suaminya mau ngeluarin surat cerai, eh gataunya....
    bener bener bad surprise
    cantik, cerpennya di lanjutin aja donggg.. pasti seru.

    BalasHapus