Senin, 22 Oktober 2012

Cerpen : Lelaki Tua dan Makam Sederhana




Lelaki itu renta, tubuhnya sudah rapuh dimakan usia, keriput di kulitnya begitu nyata dan kasar, mencerminkan perjuangan hidupnya yang penuh kesakitan. Tubuhnya sudah tidak tegak lagi, sedikit bungkuk seolah tulangnya tidak mampu lagi menopang dagingnya. Langkahnya pelan dan terseret-seret, penyakit stroke yang menyerangnya lima tahun lalu telah mengubah cara berjalannya.

Tetapi lelaki itu tetap tangguh, dia selalu datang di makam itu setiap sore. Menabur bunga di makam sederhana itu, lalu duduk lama disana sambil termenung, tidak pernah ada yang tahu apa yang ada di dalam pikiran lelaki tua itu. Penjaga makam sudah mengenalnya, pun anak-anak kecil dan wanita-wanita lusuh yang selalu berkeliaran di areal makam, membersihkan makam jika ada peziarah sambil mengharapkan sekeping dua keping uang untuk sekedar menyambung hidup.

Dan Lelaki tua itu seperti sudah menjadi bagian dari kehidupan areal pemakaman yang konstan dari hari ke hari, seperti memang sudah seharusnya lelaki itu ada di sana setiap sore, duduk termenung seperti larut dalam pemikiran sendiri selama hampir dua jam. Sampai matahari tenggelam dan meninggalkan semburat kemerahan di langit, barulah lelaki itu melangkah pergi, dengan langkah yang sama, bungkuk dan terseret-seret.


 Tidak ada yang mengganggu keheningan lelaki itu di depan makam tua yang selalu dikunjunginya, meskipun ada beberapa yang menebak-nebak apa yang ada dalam di pikiran sang lelaki tua. Sebagian mengira sang lelaki tua sedang mendaraskan doa yang panjang, dan sebagian lagi mengira lelaki tua itu melamun dan bercakap-cakap dalam hati dengan makam tua itu, sebuah monolog yang menyedihkan.







Hari ini lelaki tua itu duduk disitu lagi. Terpekur diam, sama seperti hari-hari sebelumnya, yang menjadikan lelaki itu bagaikan aksesoris patung bisu di samping makam.

Hari ini cuaca tidak bersahabat, gerimis turun rintik-rintik dan angin bertiup kencang, tapi apalah artinya itu bagi si lelaki tua? Dia sudah pernah duduk di situ bahkan ketika hujan deras menerpanya, atau bahkan  ketika udara yang kering dan panas  meniupnya. Membuatnya terbatuk-batuk.

Lelaki tua itu masih selalu duduk di situ, dalam keheningan misteriusnya, disamping sebuah makam sederhana, menabur bunga, penuh air mata. Lelaki tua itu selalu ada.

*****

"Selamat datang", sapaan itu terdengar lembut di ruang makan yang bersinar temaram.

Sajian makan malam terpapar di sana, tampak layu dan menyedihkan. Makan malam itu seharusnya disantap berjam-jam yang lalu, tetapi Norman tidak datang untuk makan malam. Dan Idha hanya bisa duduk termenung di samping meja makan karena suaminya tidak bisa dihubungi, suaminya seolah menghilang, tidak ada dimana-mana.

Tetapi seperti selayaknya isteri yang baik, yang dibesarkan dengan pendidikan jawa kuno sejak kecil, bahwa seorang isteri harus selalu mengabdi dan mengalah kepada suami, bahwa seorang isteri adalah pelayan yang tunduk, hanya sebagai pelengkap, maka Idha hanya bisa duduk pasrah, tidak pernah berargumentasi, tidak pernah membantah, padahal sebagai seorang Isteri, dia mempunyai hak untuk melakukan itu.

Lalu, setelah hampir lima jam duduk di kursi meja makan itu, tidak bisa mengantuk karena cemas, suara mobil Norman ahkirnya terdengar di halaman, Idha menunggu dengan penuh harap hanya untuk menemukan suaminya masuk dalam kondisi setengah mabuk, bau alkohol dan parfum asing menyeruak dari tubuhnya, matanya merah dan Norman tampak acak-acakan.

Idha segera bangkit dan menopang suaminya yang sempoyongan, hanya untuk di dorong dengan kasar.

"Perempuan tak berguna!", bentak Norman tak terkendali, "Perempuan yang tidak bisa menyenangkan suami!", mata Norman tampak nyalang dan tak fokus, dia menatap Idha dengan marah seolah ingin memukulnya, "Aku menyesal kenapa aku dulu memilih untuk menikahimu, aku membuang banyak kesempatanku untuk memilih perempuan yang lebih baik! Dan aku tidak tahan berpikir harus menghabiskan sisa hidupku dengan perempuan seperti kamu!", suara Norman semakin meninggi seiring dengan makin banyaknya cacian yang diucapkannya.

Idha hanya berdiri di situ, menerima segala cercaan suaminya. Itu sudah menjadi kebiasaan suaminya ahkir-ahkir ini, mencerca dan menyakitinya dengan kata-kata kasar dan bahkan hatinya sudah mulai terbiasa menghadapinya.

Dulu pernikahan mereka bahagia. Norman adalah pengusaha sukses yang berkecukupan, dan dulu dia mencintai Idha. Tetapi semuanya berubah setelah masa lima tahun pernikahan mereka berlalu dan Idha tak kunjung hamil. Keluarga besar Norman adalah keturunan ningrat dengan Norman sebagai anak satu-satunya. Mereka sangat ingin Idha bisa melahirkan penerus darah biru mereka, dan setelah lima tahun berlalu, kesabaran mereka habis, keluarga Norman tak henti-hentinya merongrong rumah tangga Idha dan Norman. Bahkan sang ibu mertua mulai melakukan Intervensi, mempengaruhi Norman untuk berpikir menceraikan Idha, atau mungkin mengambil isteri kedua, menjodoh-jodohkan Norman dengan anak-anak teman-temannya dari kalangan ningrat, karena Idha adalah perempuan mandul yang tidak bisa memberikan keturunan. Lagipula sang ibu mertua sama sekali tidak pernah menyukai Idha yang dianggapnya hanya mahluk rendahan dari kalangan biasa, yang menurutnya sama sekali tak sepadan dengan Norman, putra semata wayangnya.

Selama ini Idha selalu pasrah, dia menyadari kekurangannya yang tak sempurna sebagai perempuan. Dia rela dimadu, tetapi tidak mau diceraikan, karena bagaimanapun juga dia mencintai Norman, lagipula Norman memang pantas memperlakukannya seperti itu, karena dia sudah mengecewakan Norman sebagai seorang isteri. Dia tidak mampu memberikan keturunan yang selama ini sangat diinginkan Norman, Norman adalah anak tunggal yang selalu kesepian, Idha sangat paham betapa Norman sangat ingin membangun keluarga besar.

Dulu pada awalnya, Norman masih membela dan mendukungnya. Tetapi tahun-tahun belakangan ini Norman berubah dan berbalik menyerangnya. Mungkin itu terjadi karena Norman tidak tahan akan tekanan keluarga besarnya yang tak henti-hentinya mencibir kebodohan Norman karena dulu memilih Idha sebagai isterinya,  mungkin juga karena Norman benar-benar kecewa kepada Idha, sikap Norman makin lama makin berubah, dia menjadi dingin, kasar dan jarang pulang ke rumah, Lelaki itu lebih sering menginap di rumah keluarganya,  sikapnya penuh kebencian dan permusuhan.

Norman mengubah rumah mereka menjadi seperti neraka bagi Idha. Tetapi Idha tetap diam, dan pasrah, menerima semuanya. Bukankah sudah kewajiban seorang isteri, menanggung kemarahan suaminya? Lamunan Idha terhenti dan dia sadar dia hampir tidak mendengarkan cercaan Norman kepadanya, dengan takut-takut dia menatap ke arah suaminya, dan melihat Norman sudah terdiam dan menatap tajam ke arahnya.

Norman tampak jengkel melihat kediaman Idha, napasnya terengah, lalu dia membalikkan badan sambil menghentakkan kaki, seolah tak tahan menatap isterinya lama-lama. Dengan langkah sempoyongan dia melangkah ke kamar, dan membanting pintu dengan keras, meninggalkan Idha sendirian di luar.

Air mata Idha mengalir, dan dia tetap duduk terpaku di kursi itu, menatap pintu kamar yang tertutup rapat, menolak kehadirannya. Dia sudah kehilangan cinta suaminya, apalagi yang dimilikinya? Dia hanyalah seorang isteri mandul yg tidak bisa memberikan keturunan, yang sudah tidak dicintai suaminya lagi.

******

"Aku akan menikah lagi", suara Norman terdengar dingin dan tajam. Mereka sedang duduk bersama, sarapan.

Dada Idha serasa diremas, tapi dia menghela nafas dalam-dalam, menahan nyeri di hatinya yang bagaikan ditusuk sembilu,

"Kapan?", tanyanya hati-hati.

Norman tersenyum, seolah tidak menyadari betapa terlukanya Idha,

"Minggu depan. Ibu menjodohkanku dengan Anissa, hari ini Anissa pulang dari Belanda setelah menyelesaikan gelar masternya, kau ingat Anissa?"

Tentu saja Idha ingat. Anissa, keturunan ningrat  berdarah biru juga, sama seperti Norman. Perempuan yang dulunya memang hendak dijodohkan dengan Norman. Tetapi ketika Anissa bersekolah di Belanda, Norman bertemu Idha dan jatuh cinta kepadanya, lalu memutuskan untuk menikahinya.

Sekarang nasib membawa kembali Anissa ke dalam kehidupan mereka. Dunia kadang seperti sebuah lelucon yang penuh ironi, Idha meringis. 

Norman mengamati ekspresi Idha dan dahinya berkerut,

"Kau setuju kan Idha? Karena kalau kau tidak setuju, aku terpaksa mengikuti saran ibu untuk menceraikanmu..."

"Aku setuju mas", jawab Idha cepat-cepat, mencoba tersenyum meskipun suaranya bergetar menahan isak tangis.

"Bagus, dan cobalah bersikap baik kepada Anissa, sebab dia akan tinggal di sini bersama kita", Norman bangkit dari duduknya dan meraih kunci mobil, "Aku harus menjemput Anissa di bandara, mungkin nanti kami akan makan siang di sini, cobalah memasak makan siang yang enak, Anissa suka sekali masakan Indonesia seperti pecel dan gado-gado, mungkin kau bisa memasak itu, dia pasti akan sangat senang karena di Belanda dia susah menemui masakan seperti itu", Norman tersenyum dengan mata menerawang, seperti lelaki yang sedang jatuh cinta.

"Baik mas"

Dan kemudian setelah Norman pergi, Idha berdiri di dapur, menumbuk sambal kacang untuk gado-gado sambil bercucuran air mata.

******

Makan siang itu berlangsung lancar, terlebih karena Idha memilih diam dan bersikap pasrah. Anissa cantik seperti biasa, dan sedikit angkuh, seperti sifat bawaan wanita berdarah biru. Lagipula  Anissa memang tidak pernah menyukai Idha. Dia selalu memandang Idha sebagai perempuan yang pernah  merebut calon suaminya, dan sekarang, ketika keadaan berbalik membuatnya di atas angin, Anissa berpesta pora dengan kemenangannya.

"Enak sekali masakannya", gumam Anissa sambil mengelap mulutnya.

Norman tersenyum dan menggenggam tangan Anissa, tak peduli dia melakukannya di depan isterinya sendiri.
"Idha yang membuatnya khusus untukmu, benar kan Idha?", mata Norman melirik Idha, memperingatkannya untuk bersikap manis kepada Anissa.

Dengan lembut Idha mengangguk.

Anissa menatap Idha dengan tatapan merendahkan,

"Wah mbak Idha pandai memasak ya?", lalu Anissa mulai melancarkan mulutnya yang beracun, "Seharusnya mba Idha buka warung saja, dagang gado-gado dan pecel kecil-kecilan, pasti banyak yang suka"
Norman tertawa mendengarnya,

"Ah kau ini Anissa, nanti aku yang malu, dikira nggak bisa menghidupi isteri, masa isteri pengusaha sukses berdagang gado-gado"

"Tapi itu kan bisa membuat mbak Idha belajar mandiri dan mencari uang sendiri, nggak selalu bergantung pasokan keuangan dari mas Norman ya kan mbak?", senyum Anissa tampak begitu manis, "Lagipula daripada mbak Idha hanya diam saja di rumah, toh nggak ada anak untuk di urus"

Kata-kata terahkir itu menghantam Idha sekerasnya, wajahnya pucat pasi. Sedangkan Anissa tersenyum puas memandang ekspresi Idha. Rupanya itu memang efek yang diinginkannya.

Makan siang itu berlangsung bagai neraka bagi Idha, Norman dan Anissa tak henti-hentinya bermesraan bagai pasangan dimabuk cinta. Ketika Anissa mengulurkan jemarinya menggoda untuk mengusap bekas makanan di sudut bibir Norman, idha sudah hampir tak tahan lagi.

Tapi Norman lalu berdiri dan menggandeng Anissa,

"Kami akan ke rumah ibu, menemui keluarga besar untuk membicarakan persiapan pernikahan, kamu nggak usah menunggu kami, mungkin aku akan menginap di rumah ibu"
Norman tidak pulang hingga empat hari kemudian.

*******

Pernikahan Norman terjadi di hari minggu, dan Idha hadir di sana, duduk dengan hati hancur ketika suaminya mengikat janji dengan perempuan lain. Tetapi kehancuran ini baru awalnya dari kehancuran-kehancuran lainnya yang menyusul.

Anissa masuk ke rumah mereka, dan menguasainya. Dia mengusir Idha dari kamar utama - yang lalu Anissa tempati bersama Norman - dan membuat Idha tergusur ke kamar tamu, sendirian di sana, melewatkan malam-malamnya dalam sepi, karena sejak saat itu Norman tidak pernah mengunjunginya di kamar. Sampai kemudian Anissa hamil, dan tingkah jahatnya semakin menjadi-jadi, memperlakukan Idha seperti pembantu, sedangkan Norman sama sekali tidak membelanya. Idha hanya berdiri di situ, berusaha bertahan walaupun makin lama semakin terpinggirkan dari kehidupan Norman, lelaki yang dicintainya, dia seorang isteri yang dipaksa melihat kebahagiaan sang suami dengan keluarga barunya di depan matanya. Hatinya hancur sedikit demi sedikit dari dalam, yang kemudian menggerogoti tubuhnya. Dia menjadi makin kurus, makin lemah.

Pernah suatu hari Idha demam tinggi, dan dia meminta Norman mengantarnya ke dokter,

"Perutku sakit sekali mas, nyerinya tak tertahankan", Idha meringis, kesakitan setelah mencoba berdiri dan berjalan untuk menemui Norman yang sedang duduk di ruang tamu.

Norman mendongakkan kepalanya dan mengernyit, Isterinya tampak berubah, sangat kurus hingga hampir seperti tengkorak hidup, kulitnya pucat, tetapi kusam dan tidak sehat,

"Perlu ke dokter?", tanya Norman setengah hati, dalam hati membandingkan Idha dengan Anissa isteri mudanya yang sedang hamil 7 bulan, semakin bertambah usia kehamilannya, Anissa makin bertambah cantik, membuat Norman tak henti-hentinya ingin memamerkan isteri dan calon bayinya kemana-mana. Aku akan malu kalau harus memperkenalkan isteriku yang satu ini, gumam Norman dalam hati, mengamati penampilan Idha yang lusuh dengan daster yang sudah pudar warnanya. Seharusnya aku menceraikannya saja, gumam Norman dalam hati lagi.

Idha memegang perut kanannya dan meringis,

"Sepertinya aku harus ke rumah sakit mas, nyerinya tak tertahankan dan aku makin khawatir, di bagian ini perutku mengeras",

Dengan bersungut-sungut Norman berdiri dan meraih kunci mobil,

"Kita kedokter dulu saja, mungkin cuma masuk angin. Jangan terlalu manja", ketika Norman berdiri dengan Idha yang melangkah tertatih-tatih di belakangnya, mereka berpapasan dengan Anissa yang sudah segar, baru selesai mandi. Daster hamilnya tampak modis dan dia berias lengkap. Kehamilannya membuat kulitnya semakin mulus dan berkilauan, dan tubuhnya jadi berisi dan menggiurkan.

"Mau kemana mas?", Anissa tersenyum manja kepada Norman, lalu mengernyit melihat Idha yang mengikuti Norman di belakangnya.

"Mau ke dokter, Idha sakit",

Anissa menatap Idha dari ujung kepala ke ujung kaki, lalu mencibir,

"Mbak Idha manja sekali sih, aku saja yang hamil tujuh bulan masih segar dan kuat, mungkin karena mbak Idha malas, kurang gerak jadinya badannya lemas. Sekali-kali ikutlah aku jalan-jalan pagi mbak, bukannya tidur saja", dengan manja Anissa merangkul Norman, "Mas, anakmu disini pingin makan manisan mangga, kita beli yuk?", gumamnya sambil mengelus perutnya yang membuncit.

Norman berdiri di sana meragu, di satu sisi dia ingin menyenangkan isterinya dan calon bayinya, di sisi lain Idha tak bisa disangkal lagi tampak begitu pucat.

Anissa menyadari kebimbangan Norman dan mencebik manja,

"Mas kasihan anakmu ini, aku sebenarnya sudah pingin lama tapi aku menahannya karena tidak ingin merepotkanmu, tapi hari ini aku pingin sekali mas, rasanya badanku sakit semua kalau belum berhasil mencicipi manisan mangga itu", Anissa menatap ke arah Idha, "Mba Idha paling cuma masuk angin biasa, tidur sebentar juga sembuh, nanti sambil beli manisan, sekalian deh kita beli tolak angin buat mbak Idha ya?"
Dan disanalah Idha, berdiri lunglai menahankan kesakitannya, sambil menatap mobil Norman melaju dengan Anissa di sisinya, meninggalkannya di rumah.

******

Sebulan kemudian, Idha benar-benar terkapar di rumah sakit, livernya sudah mengeras dan kondisinya kritis. Malam itu, malam ke empat belas Idha dirawat, ketika Idha meregang nyawa, dia membisikkan nama suaminya. Tetapi suaminya tidak menungguinya di sana, hanya bik Sumi, pembantunya yang setia menungguinya sambil bercucuran air mata, tak sanggup melihat kondisi nyonyanya yang mengenaskan.

"Mas Norman nggak datang bik?", Mata Idha sudah tidak fokus, tetapi dia tetap menanyakan suaminya.

Bik Sumi menggeleng dengan sedih, suaranya tercekat di tenggorokan. Bagaimana mungkin dia tega mengatakan bahwa pada saat Idha meregang nyawa, Norman dan Anissa sedang tertawa-tawa di sana, mereka berdua sedang mempersiapkan kamar bayi, di kamar yang seharusnya masih menjadi kamar Idha, Tadi boks bayi besar warna biru baru saja di datangkan ke rumah, sebagai hadiah kejutan Norman untuk Anissa, dan isteri muda tuannya itu memekik bahagia lalu menciumi suaminya, mereka terkekeh-kekeh tertawa bersama mengagumi keindahan boks itu. Itulah pemandangan terahkir yang disaksikan bik Sumi sebelum dia naik ke angkot untuk ke rumah sakit menjenguk nyonya majikannya yang terbaring tak berdaya.

"Bilang sama mas Norman kalau aku nanti tak sempat bertemu ya bik, bilang padanya kalau aku mencintainya"

Bik Sumi mengangguk, air mata mengalir deras di pipinya.

"Jangan nangis bik, aku tidak apa-apa kok, aku malah lega, sepertinya semua nyeri ini akan segera berahkir", Idha tersenyum lembut dan memejamkan matanya. Lalu nafasnya pelan-pelan melemah dan menghilang sama sekali. Pergi dalam damai.

Dan begitulah ternyata ahkir kisah Idha yang menyedihkan, hampir satu tahun setelah dia dimadu. Idha meninggal dunia dalam kesedihan karena cinta suaminya yang direnggut darinya. Dokter mendiagnosanya menderita kanker hati yang terlambat diketahui dan terlambat ditangani, tapi bagi orang yang mengerti, Idha meninggal karena patah hati.

*****

"Aku mencintaimu isteriku", lelaki tua itu mengusap air mata bening yang menetes di sudut matanya, menatap makam sederhana berusia dua puluh tahun itu, "maafkan aku, maafkan aku...", Norman menunduk dan menahan serak di tenggorokannya, Tubuhnya sudah begitu renta, penyakit stroke yang menggerogotinya sejak lima tahun lalu semakin membuatnya lemah dan menua lebih daripada yang seharusnya.

Hujan rintik-rintik menerpanya, tetapi Norman tidak merasakannya, seakan dia ingin mati saja di sana, tepat di depan nisan ini. Tetapi entah kenapa Tuhan seolah-olah sengaja mempertahankannya dalam kesakitan dan kerentaannya, lalu menghukumnya untuk selalu kembali dan kembali ke sini, ke makam almarhumah isterinya, Idha yang meninggal dua puluh tahun lalu, untuk memohon ampun di pusaranya.

"Ternyata aku yang mandul", Norman mengulangi kata-kata yang sama, yang diucapkannya setiap dia mengunjungi makam Idha, "Ternyata akulah yang tidak mampu memberikan keturunan, dokter memastikannya ketika aku memeriksakan diri karena tak kunjung mendapatkan anak kedua", tatapan Norman menerawang, melayang ke masa lalunya, "aku marah besar saat itu, menuntut kebenaran dari Anissa tentang anak yang dilahirkannya" suara Norman tertahan oleh emosi, "Ternyata Alfi bukan anakku, dia anak kekasih Anissa...",

Tangan Norman mengusap lembut pusara di depannya, yang bertaburkan bunga mawar, "Aku marah sekali saat itu Idha, marah sekali, tapi aku tidak berdaya, sebelumnya Anissa sudah berhasil membujukku untuk memindahkan seluruh harta kekayaanku atas nama Alfin, rumah... mobil... perusahaan... Semua lepas dari tanganku, Anissa menguasai semuanya, Idha...", dengan sedih Norman menangis, "aku tidak pernah menyesali hilangnya hartaku, tapi aku menyesali semua yang aku lakukan kepadamu, kau isteriku yang terbaik, mencintaiku apa adanya, tapi lihat apa yang kulakukan kepadamu, aku menghancurkan hatimu, aku menyakitimu, bahkan mungkin pada ahkirnya aku yang membunuhmu.... Aku menyesal Idha, aku sungguh-sungguh menyesal, dosaku kepadamu sungguh tak termaafkan, dan aku terima semua ini terjadi kepadaku sebagai balasan atas semua kesakitan yang pernah aku timpakan kepadamu", suara Norman tercekat oleh tangis yang dalam.

Kemudian lelaki tua itu termenung, lama, seperti yang selalu dilakukannya. Mendera dirinya dengan penyesalan dan rasa bersalah sampai lama, sampai senja mulai tenggelam dan langit mulai gelap. Setelah puas menyalahkan dirinya sendiri, dengan susah payah lelaki itu menundukkan tubuhnya dan mengecup nisan sederhana itu sepenuh perasaan,

"Sudah malam, aku harus kembali, mereka akan mencariku, beristirahatlah dengan tenang isteriku, aku akan datang lagi besok"

Lalu lelaki tua itu bangkit dengan tertatih-tatih. Keriputnya semakin dalam ketika menahan sakit saat menyeret kakinya yang setengah lumpuh karena stroke, punggungnya bungkuk di terpa usia.

Lima tahun lalu, ketika kehancuran rumah tangganya membawanya kepada penyakit stroke yang parah. Anissa mengirimnya ke sebuah panti jompo, dengan deposit pembayaran 10 tahun, lalu tidak pernah menengoknya lagi. Dia sudah membuang Norman. Sekarang Norman tidak punya keluarga. Orangtuanya sudah meninggal dan seluruh keluarga besarnya meninggalkannya ketika dia terpuruk di bawah kekuasaan Anissa. Norman sebatang kara, tidak punya siapa-siapa. Menghabiskan masa tuanya dalam kesepian di panti jompo, hanya menunggu ajal menjemputnya.

Dan lelaki tua yang melangkah bungkuk terseret-seret di makan usia itu pergi dengan satu pertanyaan yang mengusik hatinya.

"Kalau aku mati nanti.... Siapakah yang akan menabur bunga di pusaraku...?"

THE END

23 komentar:

  1. Nangis bacanya :'''(( bagus mbakkk

    BalasHapus
  2. Heeee *tersenyum malu2 - dr kmrin dipuji Helda terus* makasih yaaa *big hug*

    BalasHapus
  3. Bener2 tak terduga kayak Bad Surprise...

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup Aini.... bad surprise, yang tak tersampaikan dan pillow talk ( semua cerpen dipindah di halaman depan atas permintaan beberapa pembaca) semua endingnya tak terduga heeee :D

      Hapus
  4. Pantesan...waktu buka kembali blognya mb Santhy,perasaan udah baca deh...jadi berasa masuk lorong labirin.*te2p terhibur dg tulisan mbak...*smoga minggu ke-7 beneran positive yach...Amin.peluk hangat dr kota ApeL

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiiiin ainiiii :D
      heee iyaaa ini repost aini hee
      amin atas doanya yaaa,,,, peluk hangat juga dr sini
      *wah kota apel yang sejuk yaah jd pingin liburan kesana, terahkir kesana waktu kelas 1 SD tamasya sekolah hiks hiks*

      Hapus
  5. Hukz,,hukz,,,
    Mksh Mbaaaa,,wlw g niat nangiss n berusaha nahan nangiss tp ttp kluar aer matany,,keyeeennnn Mbaaa...keyeenn bgtz bwt hti yg lg galau,, *ambil tissue*

    BalasHapus
    Balasan
    1. @Vie : waaaa jangan menangisss *usap air mata vie pakai tissue*
      sedih yah kisahnya, tp semoga ada hikmah yg bisa diambil dari kisah ini yah vie *peluk*

      Hapus
  6. Kayaknya hampir semua cerpen,tulisan,noveL ataupun quotes yg mb Santhy hadirkan selalu membawa hikmah baik yg terang2an maupun terselubung.IMO(In My Opinion),bahkan ARSAS dr tiap bab aj,ada nilai yg bisa dipetik(apalg the whoLe chapter),jg BaD Surprise,PiLlow TaLk,Yg tak Tersampaikan,termasuk Lelaki Tua ini...mb Santhy,suka deh cara+gaya mb mencuiL episode2 "kehidupan" dr berbagai sisi dan tetep ada nuansa humanis,tanpa judging...*keplok2Pramuka*
    Oya,knp gk bwt tulisan dg juduL "You've Got My from HeLLo"...lupa di bagian mana baca ini,seingatku ini ungkapan Mas Irawan bwt Mb Santhy yach...*romantisnya ARSAS couple nie,doakan ak lekas menyusul ya,mbak...ada maunya,hihihi*

    BalasHapus
    Balasan
    1. heeee iya ainiii makasih yaaah
      duh aku sampai berdebar2 trus rasanya berbunga2 baca komentar arini ini :)
      hmmmmm aku rencana bikin cerita pendek dengan judul itu, aini tahu aja hehehe
      makasih yaaa ainiii aku akan berusaha membuat kisah2 yang menarik buat dibaca yah doakan akuuu semangatttt
      hehehehe
      waaaa aku pasti selalu mendoakanmuu *peluk erat* hehehe

      Hapus
  7. Gila,,, sedih kisahnya.. Idha sosok wanita Indonesia jawa tulen yg penuh kelembutan,, berkaca-kaca bacanya tp G smpai netes dih mbak cm lap ingus(?)
    Ceitax mengharu biru mbak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihihi jadiii maksudnya yang netes ingusnya yaah hihihi :D iyaaa pas baca miris yah, aku pribadi sebagai pengarang bilang : sukurin sama norman hahahaha... tp kasihan juga sih ;D

      Hapus
  8. Balasan
    1. iyaaaa *peluk* ironis kisahnya mungkin inti ceritanya adalah "penyesalan selalu datang terlambat" yah ;)

      Hapus
  9. makin galau.... huhuhuhuhuhuhu
    mba kereeeennnnnn
    semua jempol aku pinjem buat mba....
    ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. *peluk erat cherry*
      heeee iya nih dulu spesialis bikin cerpen galau hiksss...mungkin krn suasana bandung yang mendung mendukung yah hihihi

      Hapus
  10. mbak, kamu kog suka bikin cerita yang membuat perempuan jadi korban sih? sedih aku jadinya..

    tapi pas bilang Norman yang mandul, kog rasanya kurang deg nggak kayak di Bad Surprise.. apa mungkin karena aku udah baca Bad Surprise ya??

    BalasHapus
  11. @Faril : mas farill hehehe :D iyah mas itu Bad Surprise barengan bikinnya sama ini, soalnya dulu dipake kumpulan cerpen buat dilombakan hihihi
    eeeh iya mas baru sadar ternyata disini cowoknya sama-sama mandul :)
    hihihi iya mas bikinnya wanita menderita terus yah, mungkin krn aku wanita kali yah mas hikss jd kayaknya yg antagonis laki2nya hihihi maafkan akuu *peluk*

    BalasHapus
  12. Kyaaaa~ *nyusut ingus* sedih. Hurt banget! Ngejleb bgt! Norman pasti nyesel seumur hidupnya. Good job, mbak. Sukses maen d genre angst! :D *lanjut baca cerpen yg lain*

    BalasHapus
  13. mbak...tega banget...
    selalu sukses bikin nangis ...huhuhu
    tisuku udah abis beneran

    BalasHapus
  14. Nangis bacanya :( Aku kasian banget sama Idha tp sekaligus kesel abis kok mau aja digituin. Mending dicerai deh drpd dibudakin begitu..
    Tapi pas akhir2 kasian jg sih sama Norman abis dia jg disudutkan ama keluarganya.
    Mbak Santhy bikin cerita ttg Anissa nya dong biar dia gantian kena karma hehe..

    BalasHapus
  15. Nangis bacanya :( Aku kasian banget sama Idha tp sekaligus kesel abis kok mau aja digituin. Mending dicerai deh drpd dibudakin begitu..
    Tapi pas akhir2 kasian jg sih sama Norman abis dia jg disudutkan ama keluarganya.
    Mbak Santhy bikin cerita ttg Anissa nya dong biar dia gantian kena karma hehe..

    BalasHapus
  16. ini cerita bener2 menguras air mata T___T awal2nya sih cuma kesel sama norman tapi pas baca ke bawah2 nih air mata akhirnya ngalir juga..sedih bgt pokoknya hikss

    BalasHapus