Senin, 01 Oktober 2012

Mencari Soulmate Part 1

Pesan Penulis :
"Apa yang saya bisa ungkapkan tentang cerita ini? Tidak ada! Hanya saja saya menangis pilu ketika membuatnya, dan semoga anda juga bisa meresapi kisah ini, hingga ikut menangis pilu bersama saya"



Mencari Soulmate part 1
By Santhy
1st Touch in Sept 29th 2010


Bahwa sesuatu yang biasanya ada bisa menjadi berarti karena ketiadaannya.
Seperti kenanganku tentangmu yang kusyukuri ditengah-tengah mereka yang tak sempat  mengenangmu waktu malam kelam membungkusku dalam pilu.


Dan kehadiranmu yang kuimpikan karena ketidakhadiranmu sampai matahari hampir terbit

Belum cukupkah sepi dimataku membuatmu jatuh kasihan lalu muncul untuk memelukku, wahai kau yang seharusnya membuat jiwaku terlengkapi?

Belum cukupkah keputusasaanku mencarimu membuat hilangmu berhenti, lalu kau datang dan tak lagi pergi...?
Membuatku tak terbunuh lelah mencari pasangan jiwaku.

...................................

Dalam malam yang kelabu, Elsa dan Louis sama-sama menunggu di sudut yang saling membelakangi. Mereka terpisah, meski tak sadar, dihujam perasaan yang menggilakan.
"Els...berhentilah mencari-mulailah menunggu, biar aku yang akan menemukan kamu.", demikian sebuah pesan sederhana, tersampaikan lewat jalinan sendu.
Lou ,cepatlah berkata...jangan terlalu lama…..


**********

Elsa melangkah terburu-buru di tengah derasnya hujan, rambutnya mulai basah kuyup, buku di tangannya mulai terasa berat karena ikut basah.

Langkahnya terhenti di sebuah emperan pertokoan, tempat beberapa orang yang senasib dengannya berteduh disana.

Dengan murung Elsa menatap ke langit, tempat tumpahan hujan menghujam bumi, seperti garis-garis tipis putus-putus tiada henti.

Hujan selalu membuatnya murung, tanpa tahu sebabnya.

Ponsel di sakunya bergetar-getar keras, dengan canggung, karena memegang 3 buah buku tebal yang berat, Elsa mengeluarkan ponsel itu dari sakunya

Louis calling.

"Halo ?"

"Berisik sekali disana, kau sedang dimana?", suara di seberang terdengar sedikit berteriak, mengalahkan keheningan.

"Di Luar"

"Hujan-hujan begini ??, di sebelah mana ?"

"Di dekat toko buku"

"Tunggu di situ sebentar, aku kesana"

Telephone ditutup tanpa menunggu jawaban Elsa.

Elsa mendesah, menatap ke langit, ke hujan yang tak mau mereda dan menghembuskan napas resah, merasa semakin murung.



..............

Setengah jam kemudian, sebuah mobil sport warna merah menyala berhenti tepat di depan Elsa berdiri,

Pintu terbuka, dan Louis menengok dari balik roda kemudi,

"Masuk Els", senyum khas itu langsung tampak begitu mereka bertatapan.

Dengan canggung Elsa menepiskan butiran air dari baju dan rambutnya yang basah, dan masuk ke dalam mobil.

Mereka melaju dengan pelan menembus hujan.

"Kenapa tadi tidak minta diantar?", Louis melirik Elsa yang hanya berdiam diri.

"Bukannya setiap jumat sore kau harus menjemput Jannette dan mengantarnya ke salon langganannya?"

Louis tersenyum,

"Elsa yang biasanya, yang selalu menghapal jadwalku di luar kepala", gumamnya riang, "Biarpun begitu, setidaknya kau bisa menelephon dan bertanya", Louis sengaja menghentikan ucapannya, menunggu Elsa bertanya.

Tapi Elsa diam saja, tidak mencoba bertanya.

Hening. Dan Louis mendesah,

"Jannette sakit kepala, jadi membatalkan jadwal ke salonnya, aku tadi mencarimu ke rumah, tapi ibu bilang kau sedang keluar" , Louis menyambung ahkirnya.

Elsa hanya mengangguk, lalu menatap keluar jendela, ke arah hujan, yang semakin membuatnya murung.

Elsa yang benci hujan, karena membuatnya murung", Louis tertawa.

"Dan Louis yang sangat mencintai hujan karena membuatnya riang seperti katak berbahagia menyambut hujan", sambung Elsa, cemberut.

Louis tergelak,

"Hujan itu indah Els, bentuk berkat Tuhan pada manusia di bumi, tidakkah kau merasakan kesejukannya? Tidakkah kau merasakan harmoni suara air yang mengalir? Semua itu indah Els"

"Yang aku rasakan sekarang adalah dingin setengah mati", jawab Elsa datar.

Louis mengerutkan keningnya, berubah serius.

"Kenapa hujan selalu membuatmu murung Els ?", tanyanya pelan.

"Karena hujan terasa sangat menyedihkan kalau dinikmati sendirian."

"Aku ada disini bersamamu"

Elsa mengernyit,

"Kau bukan soulmateku"

"Ah, ya... Kembali pada masalah pencarian soulmate lagi ya?"

Elsa tidak menjawab, mulai memandang keluar lagi.

"Mungkin..... Mungkin kalau kau berhenti mencari-cari dan mulai menunggu.....,mungkin soulmatemu itu yang akan datang menemuimu", gumam louis tercenung

Hening.

Pikiran Elsa melayang jauh,

Belum cukupkah sepi dimataku membuatmu jatuh kasihan lalu muncul untuk memelukku, wahai kau yang seharusnya membuat jiwaku terlengkapi?

***********

Pemurung.

Itulah sebutannya. Elsa terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri untuk terlalu banyak berkata-kata. Di antara empat bersaudara, dia yang paling pendiam, selalu mengalah dan jarang mengungkapkan pikirannya.

Sampai dia bertemu Louis.

Mereka sangat bertolak belakang di semua sisi, dan entah kenapa mereka malah menjadi sahabat.

Louis yang sangat tampan

Elsa yang biasa-biasa saja

Louis yang berasal dari keluarga kaya raya

Elsa yang ( sekali lagi ) biasa-biasa saja

Louise yang selalu beruntung dalam masalah percintaan ( bagaimana tidak? Setiap perempuan yang menjadi kekasihnya selalu cantik dan sempurna, belum lagi puluhan gadis lain mengantri untuk menjadi kekasihnya)

Elsa yang selalu menunggu dan menunggu belahan jiwanya datang ( sampai kapan? Bahkan dia sendiri mulai meragukan kalau "soulmate" nya itu ada )

Louis yang selalu menghadapi dunia dengan senyuman, selalu memandang setiap permasalahan sebagai kesenangan yang tertunda.

Elsa yang selalu menghadapi dunia dengan skeptimisme tingkat tinggi, memandang setiap permasalahan sebagi tambahan beban di benaknya.

Kalau disebutkan satu persatu tak akan ada habisnya,

yang pasti, persahabatan mereka merupakan persahabatan paling aneh di dunia, dua manusia paling bertolak belakang yang seharusnya tidak perlu berinteraksi, tetapi malahan terikat dalam selubung persahabatan.

Elsa, 5 tahun yang lalu

Semua dimulai 5 tahun yang lalu, rumah mereka bertetangga.rumah mewah dengan pagar tinggi dan megah, bersanding dengan rumah mungil, hanya berpagarkan dedaunan. Sedikit menyedihkan untuk dilihat memang.

Elsa hanya mengetahui tentang Louis dari mobil mewahnya yang sering keluar masuk pagar, yang kadang berpapasan dengannya ketika dia berangkat kampus. Hanya itu, dan Elsa tidak pernah memikirkannya lagi. Tidak mungkin akan ada interaksi di antara mereka berdua, titik. Jadi buat apa dipikirkan?

Ternyata dia salah.

"Hey, kau itu ternyata tetanggaku ya?", suara itu membuyarkan Elsa dari lamunannya.

Saat itu hujan juga sedang turun dengan derasnya, Elsa sedang menunggu hujan reda, lupa membawa payung. Lobby kampus sudah mulai sepi, banyak mahasiswa lain yang nekat menembus hujan karena bosan menunggu hujan yang tak juga reda.

Louis berdiri di sampingnya, kelihatan sangat tampan dengan senyum riangnya,

Elsa mencoba tersenyum singkat, mengangguk, dan kembali menatap hujan. Berharap agar laki-laki tampan - yang salah tempat ini - menyadari kesalahannya menyapa gadis biasa yang tidak selevel dengannya, lalu pergi. Biar Elsa bisa melanjutkan lamunannya, sambil menatap hujan.

"Aku selalu melihatmu setiap berangkat, tidak disangka ya? Kita satu kampus, satu jurusan pula, biarpun kau adik kelasku", Tanpa peduli sikap acuh tak acuh Elsa, Louis tetap melanjutkan obrolan, berdiri disebelah Elsa, ikut menatap hujan.

Elsa mengalihkan pandangan dari hujan dan mengernyit menatap Louis, kenapa dengan lelaki ini? Apakah dia belum menyadari betapa tidak pantasnya idola kampus bercakap-cakap dengan kutu buku seperti dia?

"Kau tidak pernah menyapaku", gumam Louis lagi, karena Elsa tak menanggapi perkataannya sebelumnya.

"Maaf", itu yang keluar dari bibir Elsa meskipun hatinya mencelos sinis, memangnya aku bisa menyapamu? Kau yang selalu dikelilingi para pengagummu? Kau yang berada di duniamu yang kelas tinggi itu ?

"Kenapa kau minta maaf?", Louise sedikit menunduk menatap Elsa

"Karena tidak menyapamu?", sahut Elsa spontan, bingung karena percakapan yang tidak lazim ini.

Louis tergelak,

"Kalau begitu, aku harus meminta maaf juga karena tidak menyapamu selama ini"

"Tapi aku yang wajib meminta maaf duluan, karena kau ahkirnya menyapaku dan aku tidak"

Louis makin tergelak, lalu mengulurkan tangannya,

"Sepertinya kita harus bersalaman untuk meresmikan permintaan maaf ini"

Elsa mendongak, menatap Louis yang lebih tinggi darinya, senyum itu begitu hangat, senyum itu begitu tulus, hingga tanpa sadar Elsa membalas uluran tangan itu,

"Louise Alexander, meminta maaf kepadamu dengan setulus hati", gumam Louis sambil menggenggam tangan Elsa kuat.

Elsa mengernyit,

"Apakah aku harus mengatakan hal semacam itu juga?"

"Tentu saja, kita harus membuatnya resmi bukan?"

Siapa yang mengharuskannya? Dan lagi kenapa dia menanggapi percakapan konyol ini ?

Tapi kata-kata itu terucap juga dari bibirnya,

"Elsa Vania meminta maaf padamu dengan setulus hati"

Louis tertawa lagi, lelaki ini benar benar riang. Tangannya masih menggenggam tangan Elsa, lalu menoleh menatap hujan, yang tanpa sadar, sudah reda.

"Hey, hujan sudah reda, maukah kau kuantar pulang ke rumah, wahai tetangga ?

Itulah awal persahabatan mereka. Persahabatan yang tak lazim antara dua orang yang bertolak belakang di semua sisi. Sang Pencerah dan Si Pemurung.

***************


"Sepertinya aku akan putus dengan Jannette minggu ini", Louis mengunyah pisang goreng buatan ibu Elsa,

Mereka duduk di teras belakang, tempat Louis biasanya duduk kalau sedang berkunjung ke rumah Elsa. Dalam tahun persahabatannya dengan Elsa, Louis seolah olah menjadikan rumah Elsa sebagai rumah ke duanya,

"Rumahku sepi, tidak ada orang, aku kesepian", gumam Louis dengan kesedihan nyata saat itu

Dan keluarganya langsung mengadopsi tak resmi Louis sebagai bagian keluarga mereka.

Elsa meletakkan dua cangkir kopi susu di meja di antara mereka lalu menatap Louis dengan tak senang,

"Putus lagi?"

Louis sangat pembosan, meski semua kekasihnya sangat cantik, mereka hanya bisa bertahan maksimal 3 bulan sebagai kekasih Louis. Lelaki itu selalu memperlakukan mereka seperti ratu, tapi dengan mudahnya mencampakkan mereka tanpa perasaan.

"Sudah tidak ada chemistry lagi Elsa, setiap bersamanya aku merasa hambar"

"Selalu begitu alasanmu,selalu hanya berjalan paling lama tiga bulan dan kau bilang tak ada chemistry, kalau begitu kenapa dulu kau berpacaran dengannya?"

Pertanyaan yang sama, yang selalu diajukannya setiap Louis memutuskan para kekasihnya, dan jawaban yang sama juga.

"Aku berharap mungkin akan ada chemistry di antara kami, kalaupun tidak ada, aku berharap rasa itu akan bertumbuh, ternyata tidak", Louis menoleh menatap Elsa yang cemberut lalu tertawa, "Dan jangan menceramahiku tentang lelaki brengsek yang akan menerima karma suatu saat nanti"

Elsa meneguk kopi susunya dan menatap Louis tajam,

"Mereka semua mencintaimu Louis, tidak baik menyakiti hati perempuan satu demi satu seperti itu"

Louise terdiam,

"Aku juga sedang mencari soulmateku, salah kalau aku mencari dengan cara yang berbeda denganmu?"

"Kau tidak mencari soulmatemu. Tidak kalau caranya hanya memakai satu persatu dari daftar pemujamu, mencobanya selama tiga bulan, lalu meninggalkannya hanya untuk berganti dengan yang lain"

Louis mengernyit,

"Kau membuatnya terdengar begitu tidak berperasaan"

"Memang kan?"

"Setidaknya aku mencoba menjalin hubungan, tidak seperti kau", Louis selalu serius kalau membahas ini, "Kau selalu mencari soulmatemu, tetapi kau tidak pernah mau mencoba"

"Aku akan mencoba kalau aku sudah yakin bahwa dia adalah soulmateku"

"Bagaimana kau bisa tahu kalau dia adalah soulmatemu kalau kau tidak mencoba?"

"Aku pasti tahu"

Louis terdiam. Hening.

"Bagaimana kau bisa percaya kalau dia benar-benar ada?", tanya Louis kemudian memecah keheningan.

Elsa tersenyum,

"Aku tidak tahu dia ada atau tidak, aku bahkan tidak yakin dia akan datang, tapi kata orang tidak akan ada surga bagi orang yang tidak percaya kalau surga itu ada, Itu kuterapkan dalam penantianku, tidak akan ada belahan jiwaku jika aku tidak mempercayai bahwa dia ada.... Jadi kuputuskan untuk percaya",

Louis menarik napas,

"Rumit memahami pemikiranmu", dia lalu meneguk kopinya dan menyentuh lengan Elsa, "Sekarang beri aku beberapa alasan yang bisa kugunakan untuk memutuskan Jannette, harus bilang apa ya?"

"Bilang saja kau tidak merasakan chemistry"

Louis tergelak.

"Itu akan menyinggung perasaannya"

"Tapi jujur"

"Lebih baik aku bilang ada wanita lain"

"Dia akan membencimu setengah mati,lalu menyumpahimu habis-habisan"

Tawa Louis memenuhi ruangan.

"Setidaknya dengan membenciku dia akan lebih mudah melupakanku, lalu bisa melangkah melanjutkan hidupnya"

Elsa tersenyum lembut, menatap Louis dengan sayang,

"Dasar, playboy yang terlalu baik hati"

Louis menatap senyum Elsa dan hatinya mencelos, nyeri bagai ditusuk sembilu.

Els, berhentilah mencari - mulailah menunggu. Biar aku saja yang menemukan kamu.......

Demikianlah sebuah pesan sederhana tersirat lewat jalinan sendu.


**************


"Kau harus segera mengambil keputusan Lou, ini masalah mendesak, bukan perkara kecil", Bayu mengisap rokoknya dengan hisapan terahkir yang dalam, lalu membunuhnya di asbak.

Louis menyandarkan tubuhnya di sofa dengan letih,

"Seorang dokter seharusnya tidak boleh merokok, apalagi perokok berat sepertimu",gumamnya, mengalihkan pembicaraan dari desakan Bayu sebelumnya.

"Dokter juga manusia", Bayu mengangkat bahunya, "Ini sudah kebiasaan sebelum aku menjadi dokter", jawabnya tak peduli.

"Kau harusnya menjadi contoh yang baik di depan pasienmu"

"Aku tak pernah merokok di depan umum", sanggah Bayu cepat.

"Kau merokok di depan Elsa."

Hening.

"Dia tak keberatan aku merokok di dekatnya"

Louis memijat kepalanya yang mulai terasa berdenyut nyeri,

"Dia keberatan, aku sangat mengenalnya, dia benci perokok"

"Lou", suara Bayu berubah tegas, "Aku tidak ingat pernah berjanji padamu untuk melakukan pengorbanan sebesar itu demi mendapatkan cinta Elsa"

"Yah....", Louis memijit kepalanya lagi, "Itu yang menyebabkan Elsa masih ragu apakah kau adalah soulmatenya, dia benci perokok"

"Elsa harus menyadari bahwa segalanya tidak sempurna, tidak mungkin dia bisa menemukan sosok belahan jiwa yang sempurna seperti yang dia mau. Prince charming seperti dalam cerita Cinderella itu hanyalah khayalan dongeng anak-anak, kau harus membuatnya menerima kenyataan Lou, bukannya malah berusaha mewujudkan fantasinya"

"Dia tidak mencari seseorang yang sempurna, kau juga tahu itu"

Mereka berdua terdiam, merenung, dua-duanya mencoba menelaah impian Elsa tentang sosok soulmate yang diimpikannya.

"Kau tahu Lou? Aku tidak pernah mencari sosok pria yang sempurna, aku hanya ingin menemukan pria yang mau mencintaiku sepenuh hati, dan bisa membuatku mencintainya"

"Dan apa yang harus dilakukan pria itu agar bisa dicintai olehmu?"

"Yang pertama, pria itu tidak akan pernah menanggapi keluh kesahku dengan pertanyaan 'kenapa?', dia juga akan selalu menganggap setiap pilihanku berharga, walau beberapa kali dia mempunyai pilihan berbeda, dan yang terahkir, dia bisa mengerti bahwa yang aku perlukan hanyalah keberadaannya, tanpa perlu kata apa-apa, tanpa perlu rencana apa-apa, hanya ada dan tidak berprasangka. Aku tidak minta macam-macam bukan?"

Louis tercenung dalam lamunannya,

"Dia masih belum berhenti mencari", gumamnya pelan.

Bayu mendesah,

"Aku berjanji akan membuatnya berhenti mencari, kau tahu aku sangat mencintainya, aku akan berusaha dengan segala ketidak sempurnaanku ini untuk membahagiakannya jika dia mau menerimaku"

Louis menghembuskan napas pelan, lalu menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa dan memejamkan mata.

"Kau tidak apa-apa?", tanya Bayu sambil menatap Louis tajam.

Louis menggeleng, tetap memejamkan mata.

"Tidak apa-apa, aku cuma sedikit lelah, biarkan aku terlelap sebentar"

Bayu menyalakan rokoknya lagi, matanya menerawang, sibuk dengan pikirannya sendiri.

***************


"Kenapa tidak kau santap makananmu?"

Suara Bayu membuat Elsa tersentak dari lamunannya, dia tersenyum malu,

"Eh... Iya, maaf.... ", gumam Elsa pelan, mencoba menelan makanannya dengan canggung.

Bayu tersenyum lembut,

"Memikirkan Louis?"

Pipi Elsa memerah, membuktikan kalau kata-kata Bayu mengena.

"Aku mencemaskannya, dia tampak aneh tadi... Buru-buru masuk kamar dan menyuruh kita pergi makan malam berdua, padahal biasanya dia senang pergi makan malam bersama",

"Mungkin dia sedang ingin istirahat."

"Apakah dia sakit..... ?", Elsa setengah merenung.

Bayu terkekeh pelan,

"Menurutku dia sehat-sehat saja"

"Apakah itu berdasarkan kacamata kedokteran?"

Senyum Bayu berubah lembut,

"Bukan, itu dari kacamata seorang saudara"

"Kalau dari kacamata kedokteran?"

Beberapa detik Bayu terdiam, seolah ada kalimat tertahan di tenggorokannya, lalu mengangkat bahu,

"Dia baik-baik saja Elsa",

Elsa menelan suapan terahkirnya,

"Aku berpikir, jangan-jangan dia murung gara-gara habis putus dengan Jannette, apa mungkin dia patah hati? Mungkin dia menyesal sudah putus dengan Jannette?"

"Louis??? Patah hati ???", Bayu tergelak, "Kau mulai berpikir macam-macam Elsa, Louis tidak mungkin patah hati dengan perempuan semacam Jannette, dia bisa mendapatkan berpuluh-puluh wanita lain semacam itu hanya dengan menjentikkan jari"

Lalu tatapan Bayu berubah serius,

"Berhentilah mencemaskan Louis, aku ingin membicarakan tentang kita"

"Kita?"

Bayu menggenggam tangan Elsa

"Apakah tidak pernah ada 'kita' dalam benakmu?"

kata-kata itu membuat pipi Elsa merona, lalu mendesah,

"Tentu saja ada"

"Lalu ?"

"Aku... Aku....", Elsa bingung harus berkata apa.

"Apakah kau masih tidak yakin padaku?"

Hatinya tidak bergetar, bukankah seharusnya kalau dia bertemu dengan soulmatenya dia langsung merasakan getaran yang berbeda?

Elsa mendesah, bagaimana dia menjelaskan hal itu tanpa melukai Bayu?

Bayu, saudara sepupu Louis adalah sosok yang sempurna, melebihi sosok soulmate yang diimpikan Elsa, dokter muda dari keluarga kaya, tampan, berkepribadian baik dan seolah-olah sudah diciptakan untuk melengkapi Elsa.

Kadang Elsa bertanya-tanya, Bayu seperti sudah mengetahui apa yang Elsa mau sebelum Elsa meminta, menebak apa yang Elsa pikirkan meskipun Elsa hanya berdiam diri.

Dan lelaki itu mencintainya.

Bukankah itu point penting dalam pencarianmu? "Aku ingin bertemu seseorang yang mencintaiku sepenuh hati, dan bisa membuatku mencintainya"

Tanpa sadar Elsa mendesah. Kalimat kedua itu yang dia masih belum yakin. Dia belum yakin bahwa dia mencintai Bayu sepenuh hati.

"Kau tahu aku bersedia menunggumu, aku mencintaimu Elsa"

Elsa tersenyum lembut,

"Aku juga menyayangimu Bayu"

Menyayangi, bukan mencintai,

Bayu meringis. Sampai kapan Elsa akan bersikap seperti ini kepadanya?

"Apakah ini tentang pencarianmu terhadap sang soulmate? Kenapa kau begitu mempercayai bahwa seseorang yang sempurna sudah disiapkan Tuhan untukmu?"

"Louis yang cerita?"

Bayu tersenyum,

"Aku yang bertanya, jangan salahkan dia, menurut Louis itu adalah salah satu keunikanmu, seorang gadis yang selalu mencari soulmatenya, percaya tanpa putus asa bahwa dia akan dipertemukan dengan seseorang yang diciptakan khusus untuknya", Bayu mempererat genggaman tangannya di jemari Elsa, "Dan aku akan sangat bangga jika kau mempercayai bahwa akulah dia"

"Bayu....."

"Tidak, jangan jawab sekarang, kau tahu aku bersedia menunggu, cintaku padamu cukup besar untuk menanggung penantian panjang agar dapat bersamamu pada ahkirnya"

Elsa mendesah

"Terimakasih Bayu"

Bayu mengangkat tangan Elsa ke bibirnya dan mengecupnya lembut,

"Dengan senang hati"


*************

"Dia menolakku lagi", Bayu melempar kunci mobil ke meja dan membanting tubuhnya ke ranjang Louis.

Louis yang sedang menghadap layar monitor memutar kursinya dan menatap Bayu serius.

"Kupikir malam ini dia akan menerimamu"

Bayu menata bantal di belakang punggungnya agar nyaman, lalu berselonjor menghadap Louis,

"Karena itukah kau tadi sengaja menghilang ke kamar dan meminta aku makan malam hanya berdua dengan Elsa?"

"Kau tahu aku tidak dengan sengaja melakukan itu, kau tahu kenapa aku tidak bisa ikut makan malam tadi."

Bayu tercenung mendengar nada tajam dalam suara Louis, lalu menatap penuh perhatian,

"Kamu tidak apa-apa? Apakah perlu aku...."

"Aku tidak apa-apa", Louis langsung menyela dengan cepat, "Cukup tentang aku, bagaimana tadi?"

"Sudah kubilang dia menolak aku, dia masih mencari belahan jiwanya, aku sekuat tenaga berusaha meyakinkannya, tapi dia masih ragu untuk menerimaku"

"Kau kurang berusaha mungkin?"

Bayu melempar bantal dengan jengkel ke arah Lou yang segera menangkapnya dengan sigap,

"Aku kurang berusaha apa ? Aku mencintainya sepenuh hati, aku bersedia menunggunya, tapi dia belum yakin padaku, aku bisa melihat di matanya, dia masih belum yakin kalau aku adalah soulmatenya"

Louis terdiam, bingung.

"Aku ingin dia berhenti mencari, dia sudah terlalu lama mencari"

"Kenapa bukan kau sendiri yang berusaha membuatnya berhenti mencari Lou?" Tanya Bayu hati-hati.

Louis menatap Bayu dalam,

"Kau yang harus membuatnya berhenti mencari, bukan aku"

"Bagaimana kalau memang bukan aku yang dicarinya? Bagaimana kalau memang bukan aku yang ditakdirkan menjadi soulmatenya? Tuhan punya takdir sendiri Lou, kita tidak bisa memaksakan kehendakNya"

Lou menggelengkan kepalanya keras kepala,

"Seharusnya dia yakin bahwa kau adalah sosok yang ditunggunya selama ini, kau tidak pernah menjawab keluh kesahnya dengan pertanyaan 'kenapa', kau selalu menghargai pilihan-pilihannya, kau selalu bersedia ada untuknya"

"Karena kau yang memberitahukan hal itu padaku", sela Bayu cepat, "Aku muncul, menjadi sosok seperti yang diinginkannya bukan karena aku seperti itu tetapi karena kau yang membentukku seperti itu", Bayu mengacak rambutnya frustasi, "... Aku masih saja merasa sudah bertindak curang terhadap Elsa "

"Kau tidak bertindak curang, aku yang bertindak curang padanya, biar aku yang menanggung semua ini"

Els, berhentilah mencari, mulailah menunggu. Biar aku saja yang akan menemukannya untukmu.......


****************


"Sepertinya Cindy yang akan menjadi kekasihku berikutnya", Louis menatap Elsa dari atas majalah yang dibacanya.

Elsa mengganti channel TV yang menayangkan acara kriminal ke acara musik, Mereka berdua duduk di ruang tamu rumah keluarga Elsa yang sederhana, menonton TV.

"Cindy yang mana ?", tanyanya tanpa mengalihkan tatapan matanya dari televisi.

"Yang model itu"

Benak Elsa melayang, kesosok wanita cantik, tinggi dan sempurna yang pernah dilihatnya bersama Louis beberapa waktu lalu,

"Tipe seperti itu lagi?"

Louis menggulung majalah yang dibacanya dan memukulkannya ke kepala Elsa,

"Tipe seperti apa maksudmu?"Elsa tertawa,

"Tipe boneka barbie"

Kali ini gantian Louis yang tergelak,

"Kejam"

"Dan kau", Elsa menunjuk ke hidung Louis, "Hipokrit !"

"Kau perfeksionis

"Kau hedonis !!"

"Kau..Kau..." Louis tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena tertawa keras. Menertawakan tingkah spontan kekanak-kanakan mereka.

"Apa yang lucu?", Elsa mengerutkan keningnya, meski dengan senyum tertahan.

Louis mengacak rambut Elsa dengan sayang,

"Kau yang lucu", gumamnya penuh sayang, matanya berubah serius, "Bayu ke rumah kemarin, katanya kau menolaknya lagi untuk kesekian kalinya"

Elsa memutar bola matanya, topik yang ingin dihindarinya ! Dan Louis langsung menyodorkannya ke depan hidungnya !

"Aku masih tidak yakin Lou, entah kenapa....."

"Aku akan memaksanya berhenti merokok", gumam Louis penuh tekad

Mau tak mau Elsa tersenyum,

"Bukan karena itu Lou", mata Elsa menerawang, "Kau ingat saat aku bilang bahwa aku pasti akan tahu ketika aku dipertemukan dengan soulmateku?"

Louis mengangguk,

"Yah...kupikir..", Elsa mengangkat bahu, "kupikir ketika aku bertemu dengan belahan jiwaku, dunia akan terasa meledak di bawah kakiku, hatiku akan berseru-seru, 'itu dia! Itu dia!, setidaknya aku akan merasakan getaran yang berbeda"

"Dengan Bayu tidak terasa begitu?", Louis menebak,

Elsa tidak menjawab, tapi Elsa memang tidak perlu menjawab, Louis sudah tahu.

Dengan muram, tiba-tiba merasa amat lelah, Louis menyandarkan kepalanya ke belakang dan memejamkan mata,

"Louis ?", Elsa memanggil ketika mendapati Louis tidak bersuara.

Louis tertidur, pulas.

Elsa mengernyit, sepertinya itu sudah menjadi kebiasaan Louis ahkir-ahkir ini, dia sering tertidur dimana-mana, di kursi teras belakang, disofa ruang tamu Elsa, di bioskop saat mereka nonton bersama,bahkan saat mereka pergi bertiga bersama Bayu, Louis tidak pernah menyetir lagi, lelaki itu lebih memilih duduk di jok belakang dan tidur selagi ada kesempatan. Apakah pekerjaannya begitu berat ahkir-ahkir ini sehingga dia selalu kelelahan?

Elsa mengamati Louis yang tertidur dengan wajah damai,

Betapa tampannya lelaki ini, Elsa mengernyit karena baru menyadarinya. Selama ini yang ada di ingatannya hanyalah keceriaan Louis, dia selalu mengingat profilnya yang ceria dan menyenangkan, dia tahu Louis tampan, tapi tidak pernah memperhatikannya secara eksplisit.

Tapi hati memang tidak pernah memperhatikan penampilan fisik bukan?

Elsa mengernyit menahan perih yang menyeruak di dadanya,

Belum cukupkah keputusasaanku mencarimu membuat hilangmu berhenti, lalu kau datang dan tak lagi pergi...?
Membuatku tak terbunuh lelah mencari pasangan jiwaku.

Lou ,cepatlah berkata...jangan terlalu lama…..

************

"Lalu apa yang harus aku lakukan ??!", Bayu setengah berteriak, marah, "Kalau dia memang tidak merasakan getaran itu padaku, aku harus berbuat apa??, hatiku sudah cukup sakit menyadari perasaannya tak sebesar perasaanku padanya, dan sekarang kau masih menyalahkanku???", nada frustasi terdengar jelas di suaranya.Louis mengetatkan gerahamnya,

"Kau tak perlu emosi seperti itu"

"Tak perlu emosi ???!!, kau pikir aku mau berada di situasi seperti ini? Kau yang membuatku berada di posisi menyakitkan ini, dan sekarang berani-beraninya kau menyalahkan aku karena Elsa tidak merasakan getaran yang berbeda ketika bersamaku !!!"

"Aku tidak menyalahkanmu, aku hanya bilang kau kurang berusaha"

Jawaban itu semakin menyulut emosi Bayu,

"Kurang berusaha katamu? Kurang berusaha apa aku??!! Kau yang datang padaku setahun yang lalu, memintaku,Memaksaku untuk jatuh cinta pada Elsa, membentukku menjadi sosok yang sempurna untuknya, dan aku mau melakukannya, aku bahkan benar-benar jatuh cinta pada Elsa, dan sekarang, ketika aku menghadapi kepahitan karena Elsa tidak mencintaiku, kau menyalahkan aku karena kurang berusaha ??"

"Bayu", Louis bergumam tenang, mencoba meredakan emosi Bayu, "maafkan keegoisanku"

Dan berhasil, emosi Bayu mereda, lelaki itu mengacak rambutnya frustasi,

"Maafkan aku", gumam Bayu lemah, "Pikiranku kalut,

"Aku mengerti, ini semua kesalahanku, ini semua karena keinginan egoisku agar Elsa berhenti mencari, agar Elsa menemukan soulmate yang selama ini ditunggunya, aku ingin Elsa menemukannya, dan aku memperalatmu"

Bayu menghela napas,

"Aku senang bisa diperalat, setidaknya aku mencintai gadis yang benar-benar berharga"

Hening. Hanya helaan napas masing masing yang terdengar, mencoba meredakan sesak di dada.

"Lou, kalau kau begitu mengerti tentang Elsa, kalau kau menyadari kau sendiri bisa menjadi sosok sempurna yang diinginkan Elsa, kenapa kau tidak pernah mencoba ?, setidaknya....."

"Kau tahu aku tak bisa", Louis menyela, kepedihan yang kental memenuhi suaranya, kesedihan yang berat menggantung di udara.

"Dan kalian pikir aku menemukan soulmateku sendiri ???"

Suara bergetar Elsa di belakang mereka berdua membuat keduanya terperanjat, serentak menoleh ke belakang.

Elsa berdiri di sana, di pintu rumah Louis yang terbuka, tubuhnya bergetar oleh emosi, matanya berkaca-kaca.

"Elsa...?", Lou terdengar panik, berusaha menjelaskan. Tapi tatapan tajam Elsa yang penuh kebencian membuat kata-katanya terhenti.

“Tidak kusangka aku hanya menjadi ajang permainan di antara kalian berdua”, Elsa tidak dapat menyembunyikan kejijikan di dalam nada suaranya, “Tidak kusangka……”, kini air mata mulai mewarnai suara Elsa, "Pantas Bayu seperti jelmaan sosok soulmate yang kuimpikan.... pantas.....". suara Elsa tertelan oleh isakan.

“Aku tidak akan pernah mau bertemu kalian berdua lagi !”, serunya lagi sebelum air mata menetes di pipinya.

Dia tidak akan menangis di depan kedua laki-laki ini !!

“Els, Kau Harus dengar dulu……Els !!!!!! “, Bayu berteriak langsung melompat mengejar Elsa yang membalikkan badannya dan berlari menjauh,

Louis terdiam di tempatnya, tidak berusaha mengejar,

pedih.

Bahwa sesuatu yang biasanya ada bisa menjadi berarti karena ketiadaannya.
Seperti kenanganku tentangmu yang kusyukuri ditengah-tengah mereka yang tak sempat mengenangmu waktu malam kelam membungkusku dalam pilu.


*************

12 komentar:

  1. love,, love,, penasaran knpa ya ci lou??

    BalasHapus
  2. hmmm harus lanjut ke part 2 nih kayaknya ;)

    BalasHapus
  3. Mba santhy cpt di lnjut??
    Penasaran ma si Lou

    BalasHapus
  4. mb san terusin dunk ni ceritany...:)plezzzeeee....

    BalasHapus
  5. lanjuutttt....lanjuuttt....

    BalasHapus
  6. lanjuutttt....lanjuuttt....

    BalasHapus
  7. lanjuutttt....lanjuuttt....

    BalasHapus
  8. lanjuutttt....lanjuuttt....

    BalasHapus
  9. lanjuutttt....lanjuuttt....

    BalasHapus
  10. ka santhy aku aku suka bngt cerita" novelmu :D!!! yg ini nyesek ...

    kaka aku minta izin remakin cerita ini ya?

    BalasHapus
  11. Suka... seru banget mbak San.. jd sembab deh mataku malam ini.

    Mbak San, minta izin kutip yah,,, bisa?

    BalasHapus