Kamis, 14 Maret 2013

Membuang Hati



Caranya tertawa membuatku jatuh cinta.

Dan kemudian aku tergelincir semakin dalam, mencintai lelaki itu hingga hampir memujanya. Tetapi kusembunyikan semuanya di dalam hatiku. Karena aku tahu, aku tidak boleh.

Namanya Reno, laki-laki yang memenuhi seluruh kriteriaku dalam semua hal, calon suami idaman..... kekasih pujaaan. Sayangnya dia bukan kekasihku. Sama sekali bukan, dia adalah kakak kekasihku. Yah, sayangnya seperti kisah sial yang dialami oleh pasangan kekasih di cerita-cerita tragedi, kami terlambat jatuh cinta. Dia dan aku mungkin memang ditakdirkan saling menatap dari kejauhan dengan batin teriris dan nadi berdenyut menjerit. Reno dan aku tidak ditakdirkan bersatu.

"Jangan cemberut Kiran...nanti olesan fondationmu pecah di sekitar bibirmu." , mamaku yang duduk dengan asyik sambil mengamatiku di dandani oleh perias itu langsung berkomentar ketika melihat sudut bibirku mengerut tanpa sadar ketika membayangkan Reno.

Aku mencoba tersenyum meski senyum itu tak naik ke mataku. Kutatap bayangan wajahku di cermin, perias itu benar-benar ahli, aku didandaninya sedemikian rupa sehingga benar-benar cantik, alisku dibentuk melengkung ke atas dan feminim seperti alis para artis, begitupun riasan mataku yang mencolok berwarna emas dan cokelat dipadukan dengan buku mata palsu yang berat, tetapi tampilannya sepadan.

Aku benar-benar sudah siap untuk menjadi pengantin wanita hari ini.


Tiba-tiba rasa pedih menyayat hatiku. Membuatku ingin menangis tetapi tentu saja tidak bisa. Rasa pedih yang seolah mengejek dan menghina semua prinsip yang pernah kupegang. Dulu dengan lantang aku selalu berseru kepada siapapun, bahwa aku hanya mau menikah dengan orang yang kucintai. Dulu aku selalu yakin bahwa pernikahan itu hanya bisa terjadi karena cinta. Tetapi aku dihadapkan pada kebenaran yang menggigit, bahwa kadangkala kenyataan itu seperti drama yang pahit. Aku hari ini akan menikah dengan Aldo, adik Reno, lelaki yang tidak kucintai.

Ah ya, dulunya aku mengira bahwa aku mencintai Aldo... sampai aku bertemu dengan Reno, pertama kali dia tertawa mendengar candaku, aku langsung tahu kalau dia adalah cinta sejatiku, diapun demikian adanya, menggenggam tanganku dengan tatapan menyesal, mengatakan bahwa sayang sekali bukan dia yang menemukanku lebih dulu. Ironisnya, seperti yang sudah kubilang di awal tadi, semua sudah terlambat. Cincin pertunangan sudah melingkar di jari manisku, dan persiapan pernikahan sudah dilambungkan dengan bersemangat oleh keluargaku dan keluarganya. Tidak bisa mundur lagi. Aku terjebak antara sebuah keputusan salah dan cinta sejatiku.

Bagaimana mungkin aku akan menjalani hari-hariku selanjutnya? Bisakah aku bangun di sebelah Aldo setiap pagi, menjalani kehidupan pernikahan yang tidak pernah kuingini, pura-pura bahagia, hamil dan mengandung anak Aldo... sementara lelaki yang kuinginkan berada dekat... dekat sekali namun tak bisa kugapai.

"Sudah siap." Ibuku tersenyum puas, pun dengan perias itu, yang menatapku seolah aku adalah mahakarya. Hiasan pengantin di kepalaku terasa berat, dan aku meringis perih ketika ibu menggandengku keluar. Menuju   tempat calon suamiku menunggu, dengan penghulu dan saksi yang tak sabar, menanti ijab kabul yang membahagiakan diucapkan. 

Langkahku pelan tapi miris, menahan dorongan kuat untuk berbalik dan kabur dari sini.

*** 

Lalu aku menangis ketika semua usai dan pernikahan ini di sah-kan.

Tangisan itu bukanlah tangisan bahagia dan terharu ala pengantin perempuan yang merasakan kesakralan dan kebahagiaan luar biasa, dinikahi oleh lelaki pujaannya. Tangisan itu adalah tangisan pedih, karena setelah janji-janji itu diucapkan, jalanku untuk mundur dan melarikan diri sudah tertutup, aku sudah menjadi isteri Aldo. Air mataku mengalir semakin deras, membuat ibu memberikan saputangannya kepadaku, dia tampak bahagia dengan air mata yang merembes di matanya...... Semua orang menatapku, tetapi apa peduliku? Aku tetap memangis sesenggukan, toh mereka semua tidak akan pernah tahu bedanya, dipikirnya aku pasti sedang menangis haru dan bahagia.

Kecuali satu orang. Sudut mataku menatap sosok Reno yang duduk di sana, di belakang kedua orangtuanya, menatapku dengan mata pedih dan berkaca-kaca. Hanya dialah yang tahu arti dari tangisanku ini.

Semuanya berlangsung begitu cepat, bagaikan acara sandiwara yang sudah diatur dengan naskah sebelumnya. Tangan-tangan menyalami, makanan mengalir melimpah ruah, musik-musik diperdengarkan,  nasihat-nasihat pernikahan di bicarakan dengan selipan humor-humor lucu di dalamnya. Tetapi tentu saja aku tidak bisa tertawa. Pernikahan ini bagaikan lelucon pahit, yang lebih menyesakkan dada dibandingkan semua lelucon di dunia ini.

Aku mencoba menahan, merasakan sudut bibirku kaku karena memaksakan senyuman palsu. Tanganku pegal karena banyaknya yang menyalami, penuh semangat dan doa atas kehidupan baru yang akan kutempuh. Kehidupan baru macam apa yang akan kujalani nanti? Aku sendiri tidak tahu, yang kurasakan hanyalah kehampaan dan rasa getir yang meyeruak. Kakiku mulai gemetar dan lelah, tetapi aku mencoba bersandiwara, menahankan diri sampai semuanya usai.

Dan akhirnya tamu-tamu sudah mulai menipis, musik bergaung seadanya, kursi-kursi sudah mulai kosong dan petugas catering membereskan piring-piring kotor. Aldo, suamiku.... memeluk pingganggu erat dan mengecup pipiku dengan sayang ketika beberapa kerabat menggoda kami dengan guyonan-guyonan yang menyerempet malam pertama. Aku mendesah, merasa iri pada Aldo. Dia pasti bahagia dengan pernikahan ini. Tidak seperti aku yang tersiksa menghitung detik demi detik.

Lalu Reno datang, dengan senyum dalamnya yang khas, mendekati adiknya dan menyalaminya. Dua kakak beradik yang sungguh mirip. Sayangnya aku melemparkan hatiku pada yang satu, dan menyerahkan tubuhku pada yang lainnya. Reno memeluk adiknya penuh sayang. Lalu dia menatapku, memberikan senyum dalam, dan menyalamiku erat.

"Selamat Kiran." suaranya serak, mengingatkanku pada tangisannya semalam, ketika dia menyelinap ke kamarku dan memelukku erat sambil menangis putus asa, mengajakku kawin lari, yang tentu saja kutolak mentah-mentah. Aku mencintai Reno, tetapi aku masih punya logika. Tidak mungkin kutimpakan semua rasa malu dan terhina kepada keluargaku dan keluarga Aldo. Pernikahan ini terjadi karena salahku, terburu-buru mengambil keputusan, memperkosa hati dan memaksa bilang aku jatuh cinta, tidak sabar menunggu karena takut di kejar usia, dan pada akhirnya terpaksa menikah dengan lelaki yang bukan belahan jiwaku.

Seandainya aku mau menunggu lebih lama.... akankah aku bisa berujung bahagia?

Ah, aku memalingkan muka ketika Reno melepaskan genggaman tangannya dan melangkah pergi dengan bahu melorot dan langkah gontai. Kucoba menyembunyikan setitik air mata yang menetes di sudut mataku. Sementara itu kudengar Aldo di sebelahku tertawa keras, menyambut lelucon mesum salah seorang kerabat yang menggoda kami. Tiba-tiba aku membentengi hatiku. Keras, kering, dan rapat, menutupi hatiku yang mulai retak berkeping-keping di dalamnya.

*** 

Pesta benar-benar usai, meninggalkan rumah yang berantakan serta orang-orang yang lalu lalang, masih bekerja membereskan semuanya. Malam sudah menjelang, dan suamiku menggandengku tak sabar, mengajak memadu hasrat di kamar pengantin yang tersedia untuk kami berdua. Mataku memutar ke segala arah, mencari sosok yang kucintai itu dengan putus asa, ingin melihatnya terakhir kali sebelum aku melangkah menyerahkan diriku tanpa sukarela kepada suamiku.

Lalu kulihat Reno di ujung sana, dalam bayangan gelap, menatap kami berdua. Matanya sedih dan ekspresinya begitu menyayat. Aku langsung merasakan perih yang sama. Gemetaran seketika. Suamiku berbisik mesra menggodaku dan membujukku supaya jangan takut, mengira aku gemetar akan antisipasi malam pertama kami. Tetapi gemetarku berbeda. Dalam tatapan mataku yang terpaut bersama Reno, kami sama-sama paham artinya. Ini adalah waktunya membuang hati, Jemariku selayaknya merogoh ke dalam dadaku, mengambil hatiku, lalu membuangnya tepat di depan pintu kamar pengantinku, teronggok di sana, retak dimana-mana dan kepingannya berhamburan menyedihkan. 

Tak kutolak suamiku yang menarikku masuk ke kamar pengantin. Dan seiring pintu kamar pengantin tertutup di belakangku. Aku memejamkan mata. Merasakan rongga kosong di dadaku, rasa sakit itu masih ada membuncah di mana-mana. 

Ternyata membuang hati itu, tak semudah yang kukira sebelumnya....


END

33 komentar:

  1. mbak shan, sedih bngt ceritanya. Aku heran, kok n0lak kawin lari? Aku pasti sudah kabur kalau nikah tanpa cnta, hdp cuman sekali. Sayang sekali kalau ternyata akhrx seperti ini. Thank u mbak santhy *lope*

    BalasHapus
    Balasan
    1. heeee karena kiran masih mempertimbangkan keluarganya sayang... jd dia pada akhirnya memilih untuk nggak bikin malu keluarganya hiks hiks

      Hapus
  2. Santy.... Suka bgt ceritanya...:)
    Meskipun sedih tapi aku suka dgn keputusan kiran... Gak tau kenapa aku suka...:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. nitaaa ahehehehe
      iyaaaaa, dan keputusan kiran itu biasanya adalah keputusan yang akan diambil kebanyakan perempuan :))

      Hapus
  3. Cuma bilang : kiran2...kalau keputusanmu memang menikahi aldo...y jangan mencari2 lagi si reno...kasian aldo secra tdk lgs dia memperkosa kiran...
    Inilah kalau nafsu mencintai sudah diutamakan...sampai detik terakhir aja msh kepikiran kawin lari...reno jg tega itu kekasih adeknya gt loh, kiran lebih kejam lg...
    Ah pasti ada lanjutannya nih mbak?biasanya kalo udh gini,dlm kenyataan pasti ada aja jalan untuk mreka selingkuh...ga bakal awet pernikahan kiran + aldo...selama ada reno (pdhl reno kakaknya aldo) ampuun...
    Lebih baik ga dua2nya...menjauh dr reno + aldo...hasil akhirnya pasti menghancurkan bkn 1 orang saja melainkan banyak orang, termasuk ortu, keluarga si reno + aldo...
    Ckck ckck

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju mba astrid, Kiran harus komitmen dengan keputusannya menikahi Aldo, dia nga boleh memposisi kan aldo jd orang ketiga krn Aldo jauh lebih berhak dan layak dicinta karena dia suami kiran yang sah.

      sudah sepantasnya seoang istri mencintai suaminya dan melayaninya dengan penuh kasih.

      reno cuma godaan cinta retak yang harusnya bisa bikin kiran melabuhkan hati ke belahan jiwanya sekarang yaitu Aldo.

      Hapus
    2. Setuju...Kasian aldo dy ga tw apa2 tp diposisikan sbg penghalang cinta...padahal reno lah yg menghalangi, dan kiran yg memberikan hati pdhl dy sendiri yg berkomitmen kpd aldo :d tapi kenyataannya kl udh spt ini logika ga jalan mbak linda...
      Kiran aja sudah tidak rela memberikan tubuhnya, pdhl sdh keputusan dy nikah ama aldo...
      Dr awal sudah terpaksa, bagaimana menjadi mungkin kehidupan pernikahan mreka bakal adem ayem...
      Ak pernah dengar cerita nyata mirip kaya gini, walau si laki bukan sodaraan...tapi hasilnya selingkuh bahkan ampe tidur bareng (ga mikir suaminya sama sekali) kalau udh gini hrs bagaimana coba?apa gunanya menikah...

      Hapus
    3. yap memang kondisi ini sering terjadi di kehidupan nyata
      Kiran pada awalnya merasa terdorong untuk segera menikah, ketika dia bertemu aldo dia merasa sudah pas, aldo mapan, ganteng dan siap berkeluarga, baik lagi, apalagi dia dikejar2 umur dan dia merasa siap buat menikah, maka ketika aldo melamarnya dia bilang iya
      dia gak menyangka kalau dia akan ketemu sama reno dan merasa jatuh cinta yang sebenar2nya... ttp seperti kisah tadi, semua sudah terlambat
      apalagi keluarga besar sudah sama2 cocok dan merencanakan kebahagiaan :))

      sebenarnya aku pernah mengenal orang yang sama persis seperti ini kisahnya. Tetapi dia mengambil keputusan tepat, daripada akhirnya dia berselingkuh, berbuat dosa, atau melukai orang yg tidak tahu apa2, dia memutuskan pergi dengan berani :D

      Hapus
    4. Itu dia mbak san, kl temennya temenku itu endingnya udh selingkuh, tidur brg, bilangnya pergi ama temenku pdhl ama selingkuhannya, suaminya ngamuk ama temenku trus akhirnya KDRT deh krn si suami merasa disepelekan dan tdk dihargai...
      Keren tuh kl bisa pergi dgn berani ga milih dua2nya...biasanya sih lebih milih yg kedua, tp kl kasus si kiran, yg dia nikahi adik dr yg dia cintai, lebih baik jauh drpd hub sodara putus...

      Hapus
  4. mbak Santh,,,punya nopenya Reno???
    Aq mw ngajakin dy kawin lari....wkwkwkwkwk


    Makasiih mbakku saiank,,,
    Mmuaachhh utkmu seorang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk...
      Mba riska niat banget..

      Hapus
    2. hihihihihihi ada riskaaa hihihi... waaduuuh jangan menikah sambil lari2 riskaaaa capek nanti kita yang ngejarnya hihihihihi

      Hapus
  5. fiuh.. kiran gimana sih, gak ada pendirian.. kok bisa2nya begitu cepat berpaling dari aldo ke reno. tak bisakah menjaga satu HATI dan yang lain HATI-HATI..

    BalasHapus
  6. Slm knal....sedih bnget critanya....mksih y mba santhy....saya suka bnget karya2 mba

    BalasHapus
  7. bagus banget mbak ceritanya

    anik boleh usul tidak g mana kalau dijadikan cerita bersambung ?
    g mana kehidupan kiran sama aldo sehabis pernikahan itu trus reno apa dia bisa menemukan belahan jiwanya ?

    hehehhehe cuma usul aja mbak, siapa tahu di pertimbangkan
    * Peluk cium dan sayang *

    BalasHapus
  8. Oh wow,,*nangis bneran dkntor bcny*...
    Ummm,,si Aldo dbkin gay ajja Mba San klo mw dlnjutn,,or sblm smpt MP Aldo kna srangn jantung..*mengarang bebas*
    Aarrgggg tp bkn slh Aldo jg pan,,mrk cm d dtmpt yg slh,,dwktu yg slh.. HaduUuhhhhhH,,Reno kshn..hukz..
    Mksh Mba Santhy

    BalasHapus
  9. Aku ikutan sedih mbak Shanty .....hiks hiks hiks

    BalasHapus
  10. kisah singkat yang tragis dan membuat terharu. suamiku bukanlah belahan jiwaku.
    ya ampun sedih banget.

    walaupun cinta itu datang terlambat, tapi tidak ada yg bisa menolak takdir tuhan.

    cinta boleh terpaut dihati yg lain, jodoh yang datang siapa yang tahu. kasihan Kiran dan Reno harus membuang hati hanya karena permainan waktu.

    bagus mba santhy, kisahnya lumayan bikin dilema hati buat nemukan belahan jiwa, agar tidak menyesal nantinya seperti Kiran dan Reno.

    BalasHapus
  11. Hiks hiks hiks, pasti merana skali idupnya

    BalasHapus
  12. mba emang sneng bkin yah aku galau ... crtanya sad truuuss mba hikshiks ...

    BalasHapus
  13. OMG.. naas bgt critanya.. dan tragisnya bahkan blum berakhir smp tulisan end.. (bner2 deh mba san,itu gambar hatinya pantes aja dijait2 gt,uhh sakit d mesti, kyk nih mata yg perih gara2 dilap terus)..

    BalasHapus
  14. Mbak,, lanjutan cerita diandra sama reno Ϋά̲̣̥ηġ transpalasi jantung koq Ъќ>:/ prnh ℓαğΐ Θî lanjutin???

    BalasHapus
  15. ngiris hati beneran ini
    cerita yang begitu singkat
    tapi mempunyai makna yang begitu dalam
    membuang hati,tak pernah terpikir sama aku

    makasih mbak sekali lagi mbak santhy dah bikin aku nangis

    BalasHapus
  16. Cerita baru lagi? Waa.. How fast u are but i love it. Satu lagi a complicated plot yg bakal mengegar dada ini... Huh oksigen.. Oksigen... she love the brother in law??? Oh my.... Speechless
    I'm gonna love this story. Thankzz sista

    BalasHapus
  17. Mlm pRtma kiran pura2 pingsan aja, trus ngIgo mgGil2 nMa renO d smping aldo, bereskan. . ! Hehe. . !

    BalasHapus
  18. Ah, mbak Santhy, sukanya bikin cinta yang berakhir tragedi.. mewek ki aku.. padahal mau berangkat kerja gini malah membuang hati di depan pintu rumah.. hohoho

    BalasHapus
  19. sdih bgt sih mbak..:'(
    nyesek bgt rsany..:'(
    oh ya.. mnding ni crita d bwt lnjutanny..:D
    kykny apik deh mbak..:D

    BalasHapus
  20. Sedih amat ya..
    Kasihan ketiga2nya :(

    BalasHapus
  21. Sedih amat ya..
    Kasihan ketiga2nya :(

    BalasHapus
  22. Sedih amat ya..
    Kasihan ketiga2nya :(

    BalasHapus