Selasa, 18 Desember 2012

Perjanjian Hati Part 1


Created On 14 December 2012

Part 1

Tak pernahkah kau mengerti? Hatiku ini sudah ada dalam genggamanmu
Lalu kau buang begitu saja.....
Begitu saja....
 











Nessa menangis, sungguh-sungguh menangis mendengarkan alunan lagu itu dari pemutar musik miliknya. Hujan turun dengan derasnya di luar, tetapi sederas apapun hujan itu, tak akan bisa mengalahkan derasnya darah yang mengalir dari hatinya yang remuk redam, dihancurkan begitu saja oleh kekasihnya, tanpa ampun.
 
Ingatannya melayang pada sore yang berhujan, saat itu hanya ada dia, dan Marcell, kekasihnya.
 
"Kita sudah tidak boleh bertemu lagi."
 
Nessa mengernyit dan mendongak menatap Marcell yang lebih tinggi darinya,
 
"Apa maksudmu?"
 
"Aku sudah tidak bisa menemuimu lagi Nessa, maaf."

"Kenapa Marcell?", dia mulai gemetaran, menyadari bahwa semua ini benar-benar nyata.

"Kau tahu kenapa, aku sudah tidak kuat dengan desakan ibuku dan sebagainya. Maafkan aku Nessa, aku menerima pertunangan dengan Susan. Selamat tinggal."
 
Hanya seperti itu, tanpa penjelasan apa-apa, tanpa pelukan perpisahan, dan Marcell pergi meninggalkan Nessa dengan hati hancur.
 
***
Dua Tahun Kemudian.
 
Suara bel di taman kanak-kanak yang indah itu berbunyi. Nessa segera mengatur agar semua murid-muridnya duduk dengan rapi dan berdoa. Sangat susah mengatur anak-anak TK yang begitu aktif dan tak bisa duduk diam itu, tetapi Nessa senang, karena mereka adalah sekumpulan bocah tanpa dosa, yang penuh rasa ingin tahu dan kegembiraan murni dalam memandang dunia.
 
Selesai berdoa, anak-anak berjalan dengan rapi menyalami Nessa, lalu berhamburan menuju orang tua masing-masing yang sudah menunggu di luar. Nessa merapikan tas-nya ketika ketukan di pintu mengalihkan perhatiannya.
 
"Selamat siang ibu guru, jemputan sudah datang."
 
Nessa tersenyum, menatap laki-laki yang berdiri di pintu ruang kelasnya dengan tatapan jahilnya,
 
"Selamat siang juga, apa yang kau lakukan di sini siang-siang Ervan?", sambil meraih tasnya, Nessa menghampiri sang adik yang telah tumbuh dewasa menjadi lelaki yang begitu tampan.
 
"Aku tidak sengaja lewat sini sepulang mengantar teman kampus, dan menyadari bahwa aku lewat taman kanak-kanak tempat kakak mengajar, jadi kupikir ada baiknya aku menjemput kakak daripada kakak harus naik angkot."
 
"Naik angkot sebenarnya juga tidak apa-apa.", Nessa berjalan menuju parkirian, diiringi oleh Ervan dan menghampiri mobil tua warna hitam, warisan dari Almarhum ayah mereka yang sekarang dipakai oleh Ervan ke kampusnya,
 
Mereka masuk dan Ervan menjalankan mobilnya keluar dari halaman Taman kanak-kanak itu.
 
"Aku ingin minta bantuan kakak." Ervan mengernyitkan keningnya sambil menatap ke arah jalanan yang ramai.
 
"Bantuan apa?"
 
"Tentang Delina."
 
Nessa ingat tentang Delina. Perempuan itu adalah teman kuliah Ervan yang pernah diajak Ervan ke rumah beberapa hari yang lalu. Delina adalah perempuan cantik, dan tentu saja anak dari orang kaya, pikir Nessa pahit, berusaha menahan goncangan masa lalu yang tiba-tiba menusuknya, Tentu saja dia anak orang kaya, Delina datang ke rumah mereka dengan mengendarai mobil sport keluaran terbaru yang harganya mungkin saja mencapai sepuluh kali lupat harga jual rumah mungil keluarga Nessa.
 
"Kenapa dengan Delina?", batin Nessa berteriak, dia sebenarnya tidak ingin Ervan berdekatan dengan Delina. Orang kaya selalu memandang rendah orang miskin, Itu fakta, itu pula yang dilakukan keluarga Marcell kepadanya dulu. Nessa hanya tidak mau Ervan mengalami kekecewaan seperti dirinya sesudahnya. Tetapi semua larangannya tertahan, dia tak tega mengatakan semua itu kepada adiknya yang sekarang sedang berbinar-binar matanya, mabuk kepayang kepada perempuan impiannya.
 
"Delina dan aku, kami saling mencintai dan berniat menjalin hubungan serius.", Ervan mendesah, "Tetapi ada masalah dengan keluarganya.'
 
Nessa mengernyit. Pasti akan selalu ada masalah, ketika keluarga kaya menemukan anaknya berpacaran dengan keluarga miskin, pasti akan selalu ada masalah.
 
"Keluarganya mengundang kita dalam sebuah makan malam mewah di rumah mereka, pesta itu diadakan oleh kakak Delina, seorang pengusaha yang kaya raya... kakaknya, ingin bertemu denganku dan aku... aku agak ngeri karena desas desus yang berkembang, kakaknya itu sangat kejam dan jahat.", Ervan menatap Nessa dengan tatapan memohonnya, yang selalu berhasil digunakannya untuk meluluhkan hati kakaknya, "Kau mau menemaniku ke pesta itu kan ya?"
 
"Kenapa harus denganku?", Nessa merengut, mencoba berkelit.
 
"Karena kakaknya ingin bertemu dengan salah satu keluarga kita, kau kakakku satu-satunya, aku kan tidak mungkin mengajak ibu, penyakit rematiknya parah dan tidak bisa keluar malam."
 
"Apa yang ingin dilakukan kakak Delina? Kenapa dia ingin bertemu dengan salah satu keluarga kita?", Nessa menerka-nerka dan sebuah pikiran pahit berkecamuk di benaknya, jangan-jangan si kakak itu ingin mencemooh dan menghina mereka di pesta itu?
 
"Yah... aku adalah pacar Delina, kakaknya itu sangat protektif kepada Delina, mengingat sebelum-sebelumnya banyak lelaki yang mendekati Delina demi mengincar harta keluarga mereka, aku maklum kalau kakaknya ingin mengenal kita dan memastikan aku baik untuk Delina."
 
Tentu saja Ervan baik untuk Delina. Nessa mengernyit, dialah yang akan maju pertama kali kalau ada yang meragukan kebaikan hati Ervan. Mereka berdua adalah anak yang dibesarkan dari seorang ibu yang berjuang seorang diri karena suaminya telah meninggalkannya dengan dua anak yang masih kecil. Ibunya berjualan kue basah dan menitipkannya ke warung-warung, Nessa masih ingat ketika dia dan Ervan sepulang dari Sekolah Dasar membantu sang ibu menarik wadah-wadah tiipan dari warung-warung tersebut sambil berjalan kaki.
 
Dan hidup dengan keprihatinan dan kesederhanaan telah membuat Nessa dan Ervan tumbuh menjadi pribadi yang bersahaja, mereka membantu sang ibu dengan bekerja sambilan untuk membiayai pendidikan. Ahkirnya setelah Nessa lulus dan menjadi guru sebuah TK, Ervan mendapatkan beasiswa di sekolah Teknik ternama di kotanya, dan kepandaiannya membuatnya mempunyai masa depan yang cukup cerah. Kepandaian otaknya, ketampanan fisiknya dan kebaikan hati Ervan membuat Nessa yakin bahwa adiknya adalah pasangan paling sempurna bagi siapapun.
 
***
 
"Selamat datang.", Delina menyambut Ervan dan Nessa dengan bahagia di pintu, pipinya bersemu merah dan matanya berbinar ketika melihat Ervan. Nessa mengamatinya dan mau tak mau tersenyum. Bagaimanapun  juga, Delina benar-benar tampak seperti perempuan yang baik dan sungguh-sungguh mencintai Ervan,
 
"Terimakasih kak Nessa mau menemani Ervan kemari", dengan sopan dan ramah, Delina menyalami Nessa, "Mari silahkan masuk, pestanya sudah dimulai."
 
Pesta itu benar-benar pesta mewah yang elegan, yang memang diperuntukkan untuk kelas atas. Semuanya berpakaian indah, dan syukurlah meski tidak mahal gaun hitam Nessa yang sederhana tampak begitu cantik dipakainya.
 
"Sendirian di sini?", seorang lelaki tiba-tiba sudah ada di sebelahnya dan menyapanya,
 
Nessa menoleh dan menemukan lelaki paling tampan yang pernah dilihatnya. Dengan rambut disisir rapi, dagu yang sudah dicukur bersih, dan pakaian yang sepertinya dijahit khusus untuknya, lelaki muda itu tampak seperti pangeran dari negeri dongeng,
 
"Tidak... saya bersama pasangan saya." Tiba-tiba Nessa merasa gugup. Penampilan lelaki itu dan aura yang dibawanya entah kenapa membuatnya merasa gugup dan tiba-tiba saja ingin melarikan diri.

"Oh? benarkah, sepertinya aku tidak melihatnya." Lelaki itu menatap ke arah Nessa tajam meskipun bibirnya tersenyum, "Sungguh pasangan anda orang yang sangat ceroboh membiarkan perempuan cantik sendirian di sini."

Nessa mengernyitkan keningnya,

"Maaf... saya akan mencari pasangan saya."

Dengan buru-buru Nessa membalikkan badannya dan mencoba pergi, aura lelaki membuatnya gelisah tidak tertahankan lagi, cara lelaki itu menatapnya bagaikan harimau mengincar mangsanya.

"Nessa?"

Nessa langsung tertegun mendengar suara itu, suara yang dikenalnya, suara dari masa lalunya yang sudah bertahun-tahun berusaha dilupakannya. Suara Marcell.

Dengan gugup didongakkannya kepalanya, dan tertegun, itu memang benar Marcell yang sama, hanya sekarang lebih tampan, lebih dewasa. Dan hati Nessa luar biasa sakitnya mengingat kenangan itu, ketika Marcell meninggalkannya, begitu saja tanpa penjelasan apa-apa, karena dorongan keluarganya.

Nessa ingat sekali ketika itu ibu Marcell, seorang nyonya besar yang kaya raya tidak menyetujui hubungan Nessa dengan Marcell, karena Nessa hanyalah perempuan biasa, dari keluarga biasa, apalagi ibu Marcell sudah menyiapkan calon untuk Marcell, anak dari temannya, keturunan ningrat yang saat itu sedang menyelesaikan magisternya di australia, bernama Susan.

"Hai Marcell, apa kabar?", suara Nessa terdengar lemah, terlalu terkejut.

Marcell tersenyum miris.

"Kabar baik Nessa, kau sendiri? bagaimana kabarmu?"

"Aku baik.". tiba-tiba saja Nessa ingin menangis, kenapa dia harus bertemu Marcell di sini? Marcell adalah satu-satunya lelaki yang tidak ingin ditemuinya di dunia ini, "Dimana Susan?", tanya Nessa mencoba tegar.

"Ah, Susan...", Marcell tampak salah tingkah, "Dia ada di sana, sedang berbicara dengan temannya, eh.. kami sudah bertunangan, tanggal pernikahan kami ditentukan 2 bulan lagi, segera setelah Susan mengurus kepindahannya dari australi, aku harap kau mau datang."

Bagaimana mungkin Marcell tega mengucapkan kalimat menyakitkan itu tanpa rasa bersalah sedikitpun? Tidak ingatkah dia betapa dia telah menyakiti hati Nessa dengan begitu kejam, meninggalkannya tanpa perasaan? membuat Nessa ahkirnya tidak bisa mencintai lelaki lain?

"Aku... aku tidak bisa berjanji....aku..."

"Marcell, teman-temanku ingin berbicara denganmu, dear." Perempuan cantik itu tiba-tiba datang dan menggayuti lengan Marcell dengan manja, dia lalu menatap Nessa dan mengangkat alisnya, "Eh... siapa ini?"

Marcell tampak gugup dan menelan ludah.

"Ini Nessa, teman kuliahku dulu, kami sudah lama tak bertemu dan kebetulan bertemu di sini."

"Oh", Susan menatap Nessa dari kepala sampai kaki dengan pandangan meremehkan, "Aku pernah dengar dari ibumu kalau kau dulu pernah punya kekasih bernama Nessa yang kau tinggalkan, hmmmm....", Susan tersenyum mencemooh, "Pantas saja kalau begitu, dia tidak selevel dengan kita, bukan begitu dear?"

Marcel tampak kehilangan kata-kata sedangkan Nessa berdiri dengan muka merah padam atas penghinaan terang-terangan yang diucapkan dengan lantang tersebut.

Sebelum mereka dapat berkata-kata, sosok pria tampan yang tadi menyapa Nessa tiba-tiba melangkah mendekat dan mengamit lengan Nessa dengan mesra.

"Kau tidak mengenalkan mereka kepadaku, sayang?"

Nessa mendongak, mengernyitkan alisnya sambil menatap lelaki tak dikenal itu, apa katanya tadi?

Tetapi kemudian perhatiannya teralihkan oleh wajah Susan dan Marcell dan memucat,

"Kau mengenal Tuan Kevin, Nessa?" tanya Marcell seolah tak percaya.

Pria bernama Kevin itu semakin mendekatkan tubuhnya pada tubuh Nessa,

"Tentu saja, Nessa adalah kekasihku, dan sepertinya kalian mengenalku ya?"

"Keluarga kami menjalin hubungan bisnis dengan anda Tuan Kevin.", kali ini Susan yang menyahut sambil tersenyum manis, "Sungguh suatu kehormatan bisa bertemu dan bercakap-cakap langsung dengan anda di sini."

Kevin ganti menatap Susan dengan pandangan mencemooh,

"Hmmm.... kehormatan bagimu juga mungkin bisa berbicara dengan kekasihku yang luar biasa ini." Lalu Kevin tersenyum pada Nessa, tidak mempedulikan muka Susan yang memerah karena jawaban kasarnya itu, "Ayo sayang kita pergi, masih banyak tamu-tamu penting yang harus kita temui."

Kemudian Kevin membalikkan tubuh Nessa, membawanya dalam gandengan lengannya, meninggalkan Marcell dan Susan yang berdiri dengan terhina di sana.

***

"Kenapa kau membantuku?" Nessa berbisik pelan setelah mereka menjauh dari pasangan Marcell dan Susan.

Kevin tergelak dan kemudian melepaskan genggaman lengannya,

"Aku melihat seorang perempuan yang hampir dipermalukan oleh kekasih yang dengki, dan aku merasa harus turun tangan untuk membantu." kemudian lelaki itu mengulurkan tangannya, "Kita tidak sempat berkenalan tadi karena kau buru-buru kabur."

"Oh" pipi Nessa memerah, "Te... terimakasih atas bantuannya, aku....."

"Kakak?" kali ini suara Delina yang menyela. Kevin dan Nessa menoleh serentak, dan berhadapan dengan Delina yang sedang bersama Ervan

Delina tersenyum ceria ketika melihat Nessa,

"Ah... kulihat kakak sudah berkenalan dengan kak Nessa, kakaknya Ervan.... Kak Nessa ini kakakku yang kuceritakan ingin berkenalan."

Sedikit terkejut atas informasi baru itu, Nessa melirik ke arah Kevin. Sekilas Nessa menyadari rona wajah Kevin yang hangat berubah menjadi dingin. Apakah lelaki itu menjadi dingin ketika mengetahui bahwa Nessa adalah kakak Ervan? Nessa masih ingat cerita Ervan bahwa kakak Delina ini sangat mencurigai orang miskin sebagai pengincar harta mereka.

Apakah kisahnya bersama Marcell akan  terulang pada Ervan? dicemooh dan diremehkan hanya karena mereka berasal dari keluarga sederhana?

"Oh... ini Ervan yang kau ceritakan itu?" Kevin berucap lambat-lambat dan kemudian membalas uluran tangan Ervan, setelah selesai berjabat tangan, dia menoleh lagi kepada Nessa, "Dan kau Nessa, kakaknya Ervan.....senang berkenalan denganmu.", Lelaki itu mengulurkan tangannya kepada Nessa, dan mau tak mau Nessa menerima uluran tangan itu.

Seketika Kevin menggenggam tangannya yang mungil itu dengan kuat dan dominan, seperti mengisyaratkan sesuatu.

"Well, sepertinya kita akan banyak bertemu nanti Nessa." gumamnya penuh arti

Nada suaranya ramah, tetapi entah kenapa Nessa merasa ngeri.

***
Seperti biasa Nessa melangkah keluar kelas setelah memastikan semua muridnya benar-benar pulang dalam jemputan keluarga mereka.

Taman kanak-kanak itu tampak lengang, dan sepi. Yah biasanya yang membuat ramai adalah kehadiran murid-murid kecilnya yang berceloteh riang kesana kemari.

Sekarang tinggal guru-guru yang sibuk merapikan barang-barang mereka di ruang guru.

Nessa mendesah dan mengambil tasnya lalu melangkah ke lorong TK itu, entah kenapa sejak pesta itu batinnya kembali terasa sakit, sakit hati yang telah coba dilupakannya begitu lama. Sakit hari karena kepedihan ketika Marcell meninggalkannya dengan kejam, kini semua itu kembali lagi.

Mungkin ini semua karena di pesta itu dia bertemu kembali secara langsung dengan Marcell, melihat langsung bagaimana Marcell sudah melukapannya dan berbahagia dengan tunangannya.

Pernikahan mereka dua bulan lagi....

Tiba-tiba saja batin Nessa berdenyut dan terasa sakit. Kenapa hatinya sakit? apakah dia masih menyimpan cinta itu kepada Marcell? bahkan setelah dia dicampakkan dan dikhianati sedemikian rupa?

"Hati-hati, nanti kau tersandung."

Suara maskulin itu tiba-tiba muncul, tak disangka-sangkanya. Begitu mengejutkan hingga Nessa mengeluarkan suara pekikan kaget.

Dia mendongak ke arah suara itu, dan menemukan Kevin, kakak Delina, sedang bersandar di tiang lorong Taman kanak-kanak itu, masih mengenakan setelan jas kantornya yang elegan.

"Kenapa anda ada di sini?" tiba-tiba Nessa merasa waspada.

Kevin tersenyum misterius.

"Ada yang ingin kusampaikan kepadamu, kalau kau tidak sibuk."

"Darimana anda tahu tempat saya berkerja?", kali ini perasaan Nessa di dominasi oleh rasa curiga, jangan-jangan lelaki ini sudah membayar orang untuk menyelidiki Ervan dan keluarganya?

Kevin terkekeh melihat tatapan curiga Nessa,

"Jangan menatapku seperti itu, aku tidak mengambil informasi lewat jalan belakang." dengan elegan dia mengangkat bahunya, "Aku mendapat informasi dari Delina bahwa kau bekerja di sini, dia sering bercerita tentang Ervam, tentang kau."

"Oh." Nessa tercenung, "Apa yang ingin anda sampaikan kepada saya?"

Mendengar pertanyaan Nessa, tatapan Kevin berubah serius.

"Mungkin kau bisa ikut aku ke suatu tempat untuk membicarakannya?'

Alarm peringatan langsung berbunyi di benak Nessa, mengingatkannya, Entah kenapa meskipun tersenyum ramah, aura Kevin tampak mendominasi dan menyimpan sesuatu yang misterius. Nessa tidak mau pergi kemanapun dengan lelaki itu.

"Kalau memang bisa kenapa tidak kita bicarakan di sini saja?"

Kevin menatap tajam, kemudian sekilas tampak geli melihat ketakutan Nessa yang berusaha disembunyikannya dengan baik.

"Oke kalau begitu, meskipun aku sebenarnya ingin membicarakannya di tempat yang lebih pribadi.", Tatapannya berubah serius dan dalam sekejap auranya berubah dingin, "Begini nona Nessa, aku ingin menawarkan sejumlah uang kepada keluargamu supaya kalian semua menjauhi Delina."

***

Bersambung ke Part 2

Baca Part 2 : http://anakcantikspot.blogspot.com/2012/12/perjanjian-hati-part-2.html#more
Baca Part 3 : http://anakcantikspot.blogspot.com/2012/12/perjanjian-hati-part-4.html
Baca Part 4 : http://anakcantikspot.blogspot.com/2012/12/perjanjian-hati-part-4_28.html
Baca Part 5 : http://anakcantikspot.blogspot.com/2012/12/perjanjian-hati-part-5.html#more
 

39 komentar:

  1. Hancurkan marcel #eh...

    Paling sebel ama makhluk mcm marcel...endingnya jgn ama si ini ya mbak :p *maksa

    Kevin : kebanyakan uang nih ya Mr.Kevin...*cubit, cubit cubit biar ga sombong lg...

    Bagus mbak kelihatannya cerita ini, asal jgn sad ending kek biasanya y mbak :D jgn kelamaan jg lanjutannya...

    *duduk manis nungguin lanjutan

    BalasHapus
  2. oh My God.. Kevin ngaku2 kekasih nessa krn nessa cantik :D *becermin* hihi

    kasian Nessa, si Kevin koq ngomong gitu ya? :/
    *peluk mba santhy biar part 2 menysul*

    BalasHapus
  3. ih kevin sotoy tuh...

    mbak Shanty bab 2 kapan :-p

    *dag dig dug nungguin....

    BalasHapus
  4. Marcell plinplan bgd jadi cowo ya!huft.

    Kevin kerennnn,jadi ingat mikail sama damian!

    BalasHapus
  5. bakalan jadi cerpen yang di tnggu2 nih krlanjutan nya..
    bab 1 aja udh cetar membahana..
    req ending cerpen ini ny jangan nge galau in ya teh. . hhe

    BalasHapus
  6. Gemes bgt sma si Kevin..Щ(ºДºщ)
    Mau ditabok rsany..
    Tpi ksian jga sih..--
    Ckep soalny..=D
    D tnggu mbak lnjutanny..:D
    Bkal jdi fave nih mbak..
    Hahaha

    BalasHapus
  7. *toyor kevin* sombong tingkat dewa.. Tp ngingetin abang damien n mikail, mb shanty jgn sad story Ɣª *pecinta happy ending garis keras* ƗƗɑƗƗɑƗƗɑ tp appn ttep mb shanty is the best #peyuuk erat mpe megap2#

    BalasHapus
  8. Yeaaahh the new romantic story is back!
    Bener mbak, mdh2an gak sad ending trus sama dia jadinya haha
    keep writing, jgn lama2 yaa postingnya :))

    BalasHapus
  9. Aduh mba..crt awalnya ky kisah hdup qu,tp nessa nya jd dona..
    Sma2 ğªќ bs brsama stlh 2th,guru TK pula..cma bkn krn harta,tp krn agama.. :'( *jd curhat..

    Back to story..crtnya ☺k ☀⌣☀☺k ☀⌣☀ punya ni,mba santhy mank wokeh deh..

    *Timpuk mr.kevin pake perosotan* kq pke acara nawarin uang c...

    Mba santhy sllu bwt galau ni..cpt lnjutannya ya mba..
    °•♥°τhαnк чöü°♥•° mba.. *peluk cium

    BalasHapus
  10. asik,da yg bru.keren euy,wah kevin jahat.dtgu next part y mba,jgn lm2.eheheh

    BalasHapus
  11. Gk sabar nunggu part 2 nya..jgn lama" yah mba santhy..(˘⌣˘)ε˘`)

    BalasHapus
  12. tega banget si kevin :(
    ayo post part 2nya kak
    :)

    BalasHapus
  13. Mbaaaaa santhy... aku... aku.. aku... jatuh cinta sama cerita ini.. suka sekali.. terima kasih ya mbaa.. hari2 ku merasa lebih indah ditemani oleh karya2 dari mbaa.. ditunggu ya mba lanjutannya.. ^^

    BalasHapus
  14. mbak santy .....aq sngt benci sama orang yg kayak kevin tlg buat dia merana dulu ya mbak.....(harap2 cemas) tapi tetep endingnya yg happy.

    BalasHapus
  15. mbak santy .....aq sngt benci sama orang yg kayak kevin tlg buat dia merana dulu ya mbak.....(harap2 cemas) tapi tetep endingnya yg happy.

    BalasHapus
  16. Pliiss jangan lama2 part 2nya.
    Bocoran dong mba,ada berapa part inih?

    BalasHapus
  17. Pliiss jangan lama2 y part 2nya.
    Bocoran dong mba,ada berapa part ini?

    BalasHapus
  18. Akuuu sukaa akuuuu suka
    Mcm Deja vu bc ni kykny..
    Tp aku sukaaaa,, Mba Santhy keyEeeeennnn ...

    BalasHapus
  19. makasih ya mbak santhy ceritanya bagus aku suka,semoga part 2 uploadnya lebih cepet heheheheee,,,
    oh ya aku mau nanya sama mbak santhy,
    mbak santhy tu suka sama hujan ya?

    BalasHapus
  20. mbak next chap kpn???
    Bagus seperti biasa,,,
    #peluk mba shanty

    BalasHapus
  21. Ya ampun.... Masa orang kaya tuh gituuuus semua...
    Orang miskin kan juga pengen ngerasain jadi kaya juga...
    Ku kutuk kau kevin jg pangeran kodok! Jgn pamer dui sm aku! G mempan!
    Klo mau jd orang minta cium dulu tuh ma nessa...

    BalasHapus
  22. @deal all : rencana sebenernya mau upload bab dua sore ini tetapi apa daya aku harus meeting sampai malam gara2 tutup buku 2012 huhuhuhuhu jd belum bisa diupload hehehe

    ide cerita ini sebenarnya berasal dari Meteor Garden ( masih pada inget gak yah ) yang ada gap jauh antara orang kaya+orang miskin :D tapi tentu aja lebih kompleks karena alasan tertentu, pada ahkirnya antara dua tokoh utamanya akan ada perjanjian pernikahan yang semoga bisa berubah ke -----> perjanjian hati hehehe

    Cerbung ini disetting tamat cuma di bab 5 kok, kayak Verna dan hujan :)

    semoga bisa menghibur yaah *peluk*

    BalasHapus
    Balasan
    1. hiksss,,,
      gak boleh sedih karena mba santhy harus kerja
      bawa spanduk depan kantor mba santhy biar tetep semangat....
      *kabur mau digetok satpam hehehehe

      mba makasih ya di sela-sela kesibukannya masih sempet bikin cerita n posting...

      love u, mba... *peluk paling hangat untuk mba canti*

      Hapus
  23. okkeh mba santhy, ditunggu :*
    *peluk cium uat Mas Irwan, eh mba santhy mksud'y :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hmmmm *melirik kejam sambil asah pisau* hihihihi :)

      Hapus
  24. hihihih ko mr kevin ya gitu sih mba santhy gimna gitu ngengemesin deh tp sombong banget en bikin sya penasaran deh,,,,,,ditggu bab 2 ya seru banget nih bikin sya dek,,,dek,,,dekan deh menunggu lanjutan ya. trims

    BalasHapus
    Balasan
    1. siaaap semoga bab dua dan selanjutnya makin bisa bikin deg2an hihihihi :)

      Hapus
  25. mba' santhy hatur nuhun ya tuk cerita barunya,aku suka banget...smoga happy ending :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiiiiin :D semoga mau menemani sampai endingnya yaah :)

      Hapus
    2. download aja novel nya di playstore

      Hapus
  26. aww... Kevin kau mengalihkan duniaku.. *balik kerja lagi*

    BalasHapus
    Balasan
    1. hayoooo
      *pak boosss ini ada anak buahnya yang intip blog di jam kerjaaaaa* (teriak2 ngadu ke bos-nya Yana hhiihihihii)

      Hapus
  27. surprise ... crtanya mnarik mba !!ahh sayang aku tlat ngkrong ke blog mba hhhe
    wow mr.kevin akankh suka ama nessa (dagdigdug sndiri nih hihihi)

    BalasHapus
    Balasan
    1. heeeeee semoga mereka happy ending yah, saling suka gitu hihihihihi :)

      Hapus
  28. dear mbk santhy...

    baru sempat bc diblog ini,siplah lanjut ke part 2. uhuk mau diberi uang...


    love,

    BalasHapus
  29. aaahh mba santh baru buka buka blog mba lagi.huhuhu dan dapay cerita yang menarik lagi diblog mu mba: ) senangnya.. keep writing and healthy mba santhy: )

    BalasHapus