Kamis, 27 Desember 2012

Perjanjian Hati part 3

 
Created on Bandung, December 22nd, 2012

Part 3
Terasa begitu menyakitkan kehilanganmu dulu..
Terasa begitu menghancurkan kalbu ketika mencoba melupakanmu....
Sampai akhirnya kusadari, kau tak seberharga itu
Dan ternyata aku tidak mencintaimu sedalam itu









Hening sejenak. Lalu Kevin berdehem di seberang sana.
 
"Kau yakin?'
 
Kenapa di saaat Nessa berusaha menguatkan dirinya demi adiknya, Kevin malahan bertanya seperti itu? Nessa mengerutkan keningnya.
 
"Ya. aku yakin."
 
"Aku akan marah besar kalau kau berubah pikiran di tengah-tengah rencana kita."
 
Memangnya dia siapa? dan apa peduli Nessa kalau Kevin marah? Tetapi tiba-tiba Nessa teringat bahwa Kevin bisa menakutkan kalau dia mau.
 
"Aku tidak akan berubah pikiran." gumam Nessa, berusaha terdengat meyakinkan.
 
"Bagus. Kalau begitu aku akan mengatur semuanya."
 
Lalu percakapan ditutup, tanpa ucapan apapun. Meninggalkan Nessa yang mengerutkan kening karena ketidak sopanan Kevin.
 
***
Aroma wangi menyeruak ke seluruh ruangan. Ibu benar-benar serius membuat makan malamnya kali ini. Nessa melangkah ke arah dapur sehabis mandi dan tersenyum melihat ibunya sedang memasukkan puding karamel yang terlihat lezat ke lemari es.
 
"Wow, kita makan malam besar hari ini." goda Nessa lembut sambil membuka tutup panci, di dalamnya ada sup jamur andalan ibunya yang paling enak.
 
Sang ibu tersenyum lembut pada Nessa,
 
"Ibu senang melihat Ervan bahagia Nessa, dia tidak pernah seperti ini sebelumnya."
 
'Ya ibu, Ervan benar-benar tampak dimabuk asmara." Nessa mencomot kue keju dari toples di meja makan dan mengunyahnya, "Ibu suka dengan Delina?"
 
"Dia anak yang sopan. Ibu cukup senang." Sang ibu lalu melirik Nessa dengan hati-hati, "Ibu tahu kau akan jengkel kalau ibu bertanya lagi, tetapi bagaimana denganmu Nessa? apakah kau sudah... sudah melupakan...."
 
Pertanyaan ibunya itu selalu membuat suasana hati Nessa mendung. Dulu ibunyalah yang paling keras mendorong semangat Nessa agar bangkit dari keterpurukan sejak ditinggalkan oleh Marcell, dan meskipun kadang jengkel dengan pertanyaan-pertanyaan ibunya, Nessa sadar bahwa ini semua karena sang ibu menyayanginya dan mencemaskannya karena selama ini Nessa tidak pernah terlihat menjalin hubungan asmara dengan siapapun.

"Ibu tidak usah mencemaskan Nessa, ya." Nessa mencoba tersenyum lembut dan menenangkan ibunya, "Nessa pasti akan menemukan seseorang yang baik pada saatnya nanti."
 
Tiba-tiba Nessa teringat akan Kevin. Kira-kira bagaimana perasaan ibunya ketika Kevin dan Nessa benar-benar melaksanakan perjanjian untuk bersandiwara ini?
 
***

"Delina sudah datang." Ervan berdiri dan melangkah ke pintu depan, sedang Nessa masih membantu ibunya membereskan piring dan menata meja makan.
 
Terdengar suara pintu dibuka, dan terdengar suara-suara percakapan. Lama-kelamaan Nessa mengernyit. Suara laki-laki yang dalam itu bukan suara Ervan... dia tahu persis itu suara siapa!
 
Belum sempat Nessa melakukan sesuatu, Ervan sudah masuk ke ruang tengah, dengan Delina dan Kevin ikut di belakangnya.
 
"Ibu, kak Nessa, Delina datang bersama kakaknya." gumam Kevin gembira.
 
Delina segera masuk dan tersenyum ramah lalu menyalami ibu Nessa, dan memeluk Nessa. Kevin menyusul di belakangnya dalam diam, menyalami ibu Nessa dengan sopan, kemudian berdiri di depan Nessa dan tersenyum.
 
"Hai Nessa." gumamnya penuh arti.
 
Nessa menatap Kevin dengan tatapan memperingatkan lalu mencoba tersenyum palsu,
 
"Selamat datang." senyumnya tidak sampai ke matanya. Dan segera setelah itu Nessa menggumamkan berbagai alasan dan melarikan diri ke dapur.
 
Tetapi ketika seluruh alasan sudah habis, Nessa terpaksa ke ruang tengah, dan mereka segera menuju ke ruang makan untuk makan malam bersama.
 
Entah memakai trik apa, Kevin pada akhirnya duduk di sebelah Nessa, dan lelaki itu seolah-olah sengaja, menyenggol tangan Nessa setiap saat sehingga membuat Nessa benar-benar jengkel.
 
Acara makan malam berlangsung menyenangkan karena Ervan dan Delina dengan senang hati meramaikan percakapan dengan kisah-kisah mereka. Nessa sendiri hanya tersenyum-senyum melihat tingkah pasangan yang sangat saling mencintai itu, begitupun ibunya.

Sementara Kevin... hah? apa yang dilakukan lelaki itu? meskipun menyantap makanan yang sederhana, gayanya benar-benar seperti makan di restoran bintang lima, sangat elegan. Dan dia banyak memasang ekspresi datar dan sopan, hanya tersenyum jika memang waktunya tersenyum.
 
Ketika makan malam sudah dibereskan, Kevin melakukan tindakan tak terduga dengan menatap Ibu Nessa lalu tersenyum lembut,
 
"Terimakasih ibu, masakannya enak sekali." gumamnya tetang, tetapi mampu membuat ibu Nessa yang sudah setengah baya itu tersipu malu.
 
Dasar Playboy. tukas Nessa dalam hati, sampai-sampai Kevin juga menebarkan pesonanya kepada ibunya.

Ibu Nessa tampak melirik anak perempuannya yang memasang wajah cemberut, lalu melirik ekspresi Kevin yang terlihat geli di sebelahnya, perempuan tua itu mengangkat alis lalu kemudian tersenyum,

"Ibu undur diri istirahat di dalam dulu ya, silahkan dilanjutkan kalau masih ingin mengobrol-ngobrol,"

Ibu Nessa pun melangkah masuk ke kamarnya di ruang belakang. Nessa langsung berdiri dan membereskan meja makan, sementara Ervan mengajak Delina dan Kevin ke ruang tamu.

Setelah membereskan meja makan dan dapur, Nessa termangu di sana. Haruskah dia keluar lagi ke ruang tamu? dorongan hatinya ingin masuk saja ke kamar dan tak keluar-keluar lagi. Kevin, entah kenapa terlalu menebarkan aura mengintimidasi kepada Nessa, dan itu mengganggunya.

Tetapi tentu saja Nessa tidak mungkin membiarkan Ervan sendirian di sana menghadapi Kevin bukan?

Sambil menghela nafas panjang, Nessa melangkah menuju ruang tamu.

***

Ketika Nessa masuk ke ruang tamu, Ervan tampak sedang bercakap-cakap canggung dengan Kevin, dan Delina duduk diam menyimak di sebelah Ervan,

Kevin sedikit melirik ke arah Nessa yang memasuki ruang tamu dan duduk di sudut sofa yang terjauh dari Kevin, lalu melirik jam tangannya.

"Sepertinya kita harus pulang Delina." gumam Kevin tenang.

Delina mengerutkan keningnya, menatap kakaknya memprotes. Dia masih ingin bersama Ervan lebih lama lagi,

"Tetapi aku masih ingin di sini, kakak pulang duluan saja, nanti aku biarkan di antar oleh Ervan."

Tatapan Kevin langsung menajam,

"Kau tidak bisa melakukan itu, Delina. Kau tahu mama seperti apa. Dia menyuruhku mengantarmu, dan aku juga yang harus membawamu pulang."

Suasana menjadi canggung dengan Ervan yang bingung harus berkata apa-apa di tengah-tengah ketegangan kakak beradik itu.

Nessa langsung berdehem, mencoba menyelamatkan suasana,

"Mungkin kau bisa menunda kepulanganmu sebentar, Delina.", suara Nessa jadi tertelan ketika dia merasakan Kevin menoleh dan melemparkan tatapan mengintimidasi kepadanya, "Aku... aku ingin bicara dengan kakakmu dulu."

"Bicara apa?" sela Kevin sambil memiringkan kepalanya dan menatap Nessa menantang.

Dengan marah Nessa mengangkat alisnya, "Tidak di sini, mari ikut aku ke teras samping."

***

Kevin mengikuti Nessa melangkah ke teras samping yang menghadap kebun bunga, yang ditanam dan dirawat sendiri oleh Nessa. Teras itu kecil, tetapi cukup indah. Nessa senang sekali duduk-duduk di sana, di bangku kayu yang tersedia, sambil menatap kebun bunganya di sore hari.

Dia lalu duduk di bangku kayu itu dan menatap Kevin yang memilih bersandar di pilar kanopi sambil bersedekap dan menatap Nessa.

"Well? mau bicara apa?"

Nessa mendengus,

"Aku tidak mau bicara apa-apa denganmu, aku hanya memberi mereka kesempatan berduaan tanpa gangguanmu."

Kevin terkekeh, "Kau juga memberiku kesempatan berduaan denganmu."

Tatapan Nessa langsung berubah waspada,

"Memangnya kau mau apa?"

Mata Kevin menajam, seperti serigala yang berhasil memperangkap mangsanya, tetapi tidak berniat membunuhnya melainkan ingin memain-mainkannya dulu sebelum dimakan.

"Kenapa kau begitu takut kepadaku Nessa? kau selalu waspada ketika aku mendekat, menyentuhmu..... kau harus berlatih terbiasa dengan sentuhanku kalau kau ingin sandiwara ini berhasil."

Terbiasa dengan sentuhan Kevin? Tiba-tiba buku kuduk Nessa meremang.

"Aku tidak takut padamu. Aku cuma tidak suka dengan kedekatanmu yang kau paksakan."

"Hm.... kau tidak terbiasa berdekatan dan disentuh lelaki ya? aku paham, mengingat kekasih terakhirmu benar-benar lelaki yang tidak pantas disebut lelaki."

Pipi Nessa memerah, teringat kata-kata Kevin bahwa lelaki itu sudah menyelidiki keseluruhan kehidupannya, tidak bisa dibantah, Kevin pasti sudah tahu kisahnya dengan Marcell

"Jangan sebut-sebut nama Marcell di sini."

"Penyelidikku bilang kau patah hati dan hancur ketika Marcell mencampakkanmu, lelaki itu tidak bisa melawan permintaan ibunya yang masih menganut sistem feodal. Seharusnya kau bersyukur tidak jadi dengannya." Kevin menatap Nessa penuh perhitungan, "Aku bisa membantumu membalaskan dendam kepadanya."

"Aku tidak butuh membalas dendam kepada siapapun!", Nessa berdiri dengan emosi dan menatap Kevin dengan tatapan marah yang meluap-luap, "Sebelumnya, aku pikir bekerjasama denganmu adalah jalan yang terbaik, tetapi lama-kelamaan aku sadar bahwa aku salah! Aku tidak mau bersandiwara sebagai pasangan denganmu, membayangkannya saja aku muak."

Mata Kevin menyala, kalau Nessa lebih mengenal Kevin, dia seharusnya sadar bahwa dia harus mundur, tetapi sayangnya Nessa tidak tahu.

"Muak katamu? Kenapa kau muak kepadaku?"

"Karena kau lelaki kaya yang merasa bisa memainkan orang lain seperti boneka! dan kau suka merendahkan orang miskin!"

Kevin berdiri mendekat melangkah di depan Nessa, lalu mencengkeram pundaknya,

"Aku menawarkan perjanjian kerjasama itu demi adikmu juga. Seharusnya kau berterimakasih padaku." desisnya geram.

Nessa mencibir,

"Demi adikku? demi adik kita? bohong. Kupikir kau terlalu egois untuk berkorban demi seseorang, menurutku kau menawarkan sandiwara ini agar bisa terbebas dari kewajiban membalas budi kepada mamamu, padahal kau tak ingin menikahi Delina." Nessa menatap Kevin menantang, "Benar bukan? semua rencana ini, hanya demi kepentinganmu."

Kali ini api di mata Kevin makin membara,

"Berani-beraninya kau mengataiku seperti itu..."

Lalu tanpa di duga, lelaki itu tiba-tiba menarik pundak Nessa mendekat dan mendorong belakang kepalanya dengan sebelah tangannya ke arahnya, bibir Nessa berada dekat sekali dengan bibir Kevin, dan hanya beberapa detik kemudian, bibir Kevin melumatnya, dengan begitu ahli, sementara Nessa hanya terpaku kaget.

Setelah itu dengan santai Kevin melepasnya dan mengecup dahinya dengan lembut.

Dengan Lembut? Nessa termangu masih terlalu shock atas perbuatan Kevin yang tiba-tiba itu, lalu dia melirik ke belakang punggung Kevin dan melihat Ervan bersama Delina sedang berdiri terpaku di lorong, tak kalah kaget melihat adegan Kevin dan Nessa.... jadi itu alasannya.
 
Kevin menoleh dan aktingnya kagetnya ketika melihat Ervan dan Delina yang berdiri di lorong teras begitu bagus hingga Nessa mencibir benci melihatnya,

"Ah... Delina, Ervan... kalian sudah lama di sini?"

Ervan dan Delina saling berpandangan, salah tingkah.

"Kami baru saja ke sini, Delina ingin pulang jadi kami kesini dan..." suara Ervan tertelan, dan dia menatap ragu ke arah Nessa, Ervan sangat mengenal kakaknya, sejak dicampakkan oleh Marcell kakaknya itu jadi menutup diri terhadap semua lelaki, khususnya lelaki kaya. Tetapi kenapa sekarang kakaknya berpelukan dan berciuman dengan Kevin? sosok lelaki yang sudah pasti masuk ke kriteria yang dibenci kakaknya?

Sementara itu Delina menatap ragu ke arah Kevin. Dia juga sangat mengenal kakak lelakinya yang satu ini. Kevin tidak pernah suka menjalin komitmen dengan siapapun, karena itulah dia selalu menjalin hubungan dengan perempuan modern dan bebas yang bersedia menjalin hubungan tanpa status dengannya. Tetapi sekarang, Kevin dengan kak Nessa?
 
Kevin berdehem, kemudian merangkul Nessa dalam lengannya dan merapatkan tubuh Nessa ke arahnya,

"Karena kalian sudah melihat kami, mungkin kami harus menjelaskan," Kevin menoleh dengan tatapan mesra yang palsu pada Nessa, "Kita jelaskan saja pada mereka ya sayang?"

Pipi Nessa memerah, dan dia hanya bisa mengangguk. Masih terbayang olehnya bibir Kevin yang panas melumatnya tanpa permisi. Kurang ajar lelaki itu!

"Kakakmu dan aku sebenarnya sudah mengenal sejak lama, Ervan .....  kalau boleh dibilang, aku yang mengejarnya." Kevin terkekeh, "Dan kakakmu sangat susah didapatkan... meskipun aku tidak menyerah untuk mendapatkannya." Senyum Kevin melebar, "Ketika mengetahui di pesta itu bahwa Nessa adalah kakakmu, aku sangat senang, tetapi Nessa menyuruhku berpura-pura tidak mengenalnya dulu, karena dia belum menjelaskan hubungan kami kepadamu....." dengan lembut Kevin mengeratkan pelukannya pada Nessa, "Barusan Nessa menerima pernyataan keseriusanku, aku terlalu bahagia sehingga tidak bisa menahan diri untuk menciumnya, dan ternyata kalian melihatnya sebelum kami sempat menjelaskan."

Ervan dan Delina tampak mencerna penjelasan Kevin yang sangat lancar itu, Kemudian Delina yang tersenyum duluan. Dia teringat tuntutan sang mama yang begitu membebaninya, dan menyadari bahwa kedekatan Kevin dengan Nessa adalah jalan keluar yang sangat tepat untuk menolak tuntutan mamanya tanpa menyakitinya atau mengganggu kondisi kesehatannya.

Dengan ceria dia melangkah mendekat, lalu memeluk Nessa yang masih diam tak bisa berkata-kata.

"Kak Nessa, aku turut senang, kuharap kita bisa menjadi keluarga yang sebenar-benarnya, kakak pasti sudah tahu, aku dan kak Kevin bukan saudara kandung, jadi kakak bisa menikah dengan kak Kevin nantinya dan aku dengan Ervan.", gumamnya dalam senyum.

Nessa hanya menganggukkan kepalanya, bingung harus berkata apa. Dengan cerdiknya Kevin sudah menempatkan di Nessa pada posisi tidak bisa mundur lagi.

"Sama-sama Delina.", bisiknya lembut, "Aku senang kau menjadi adikku."

Nessa melirik ke arah Ervan dan menilai ekspresinya. Kecurigaan di mata adik lelakinya itu sudah memudar, Nessa merasa lega.

Dan sekarang sudah terlambat untuk mundur, meskipun Nessa tidak yakin, apa yang akan terjadi nanti.

***

Nessa melihat lelaki yang berdiri di lorong TK itu dan mengernyit, Untuk apa Marcell datang ke sini?

Langkahnya melambat ketika makin mendekati Marcell, sedangkan Marcell yang semula berdiri santai langsung berdiri tegak ketika mereka berdiri berhadap-hadapan.

"Ada perlu apa?" tanya Nessa langsung.

Marcell tampak salah tingkah dan tersenyum,

"Apa kabar Nessa?"

Kenapa Marcell kemari? pertanyaan itu berkutat di benaknya, membuat dahinya berkerut.

"Kabarku baik, kau bisa lihat sendiri." Aku bisa bangkit tanpamu dan melanjutkan hidupku. Sambung Nessa dalam hati.

Marcell berdehem tampak salah tingkah,

"Aku terkejut melihatmu di pesta itu... apalagi mengetahui bahwa kau kekasih Tuan Kevin...", lelaki itu memandang sekeliling seolah menghindar, "Susan bercerita pada mama tentang pertemuannya denganmu, dan mama merasa cemas.... dia... dia menyuruhku kemari untuk memastikan bahwa tidak ada sakit hati antara kita di masa lalu, kau tahu... perusahaan keluarga kami merupakan mitra bisnis Tuan Kevin dan kemitraan ini sangat penting... Aku hanya ingin memastikan hubunganmu dengan Tuan Kevin tidak akan mempengaruhi kebijakannya atas perusahaan kami."

Hati Nessa terasa di gores-gores dengan cakar tajam mendengar perkataan Marcell. Lelaki ini datang kepadanya bukan untuk minta maaf karena telah mencampakkannya dengan kejam dua tahun lalu, karena telah memperlakukannya seperti sampah atas kemiskinannya. Lelaki ini datang hanya sebagai boneka mamanya, untuk kepentingan bisnis perusahaannya.

Kenapa dulu aku bisa jatuh cinta kepadanya? Kepada lelaki yang bahkan tidak bisa menghargai perasaan orang lain?  Hati Nessa terasa sakit.
 
"Aku sudah melupakanmu Marcell, bahkan tidak terpikirkan sama sekali tentangmu. Tidak ada dendam masa lalu di hatiku, kau bisa tenang." Nessa bergumam, berusaha terdengar tegas.

Marcell menatap Nessa dalam-dalam. Apakah benar Nessa melihat sekilas ketersinggungan Marcell ketika Nessa mengatakan bahwa dia dengan mudahnya bisa melupakan Marcell?
 
"Oh begitu.", Marcell tersenyum, "Kalau begitu aku akan menyampaikannya kepada mama, oh ya, kau dapat salam dari mama, kalau kau ada waktu, mainlah kapan-kapan ke rumah."

Nessa terkenang hari di mana Marcell membawa Nessa ke rumahnya. Mama Marcell adalah perempuan dingin berwajah aristrokat yang memandang Nessa dengan mencemooh, bahkan tidak mau menjabat tangan Nessa. Apakah hubungannya dengan Kevin menaikkan derajatnya di mata mama Marcell? sebegitu dangkalkah penilaian mama Marcell terhadap manusia? hanya berdasarkan hartanya?

"Ya. sampaikan salam kembali pada mamamu." Nessa melangkah hendak melewati Marcell, "Kalau begitu aku permisi dulu."

Tiba-tiba Marcell meraih lengannya, setengah mencengkeram,

"Tunggu dulu Nessa, ada yang ingin kukatakan... kau... apakah kau mencintai Tuan Kevin? sungguh-sungguh mencintainya dan sudah melupakan aku?"

"Tentu saja dia mencintaiku dan sudah melupakanmu. Aku tidak bisa dibandingkan denganmu."

Suara dalam yang khas itu membuat Nessa dan Marcell sama-sama kaget, pegangan Marcell ke tangan Nessa langsung terlepas,

Kevin entah kenapa sudah berdiri di sana dan menatap Mercell dengan tajam, lalu tersenyum palsu menatap Nessa,

"Hai sayang, maafkan aku terlambat menjemputmu ya, tadi aku terhambat sebentar di jalan." Kevin langsung melangkah mendekati Nessa, berdiri sedikit di depan Nessa, seolah menghalangi Marcell berdekatan dengan Nessa.

"Oh... selamat siang tuan Kevin." Marcell tampak gugup, menatap sekeliling, seolah-olah ingin segera lari dari situasi yang tidak mengenakkan ini, tiba-tiba wajahnya tampak cerah seolah mengingat sesuatu, dikeluarkannya amplop cantik nan elegan berwarna ungu dari saku dalam jas nya, "Saya hanya ingin menyerahkan undangan pernikahan ini untuk Nessa." di letakkannya amplop itu di tangan Nessa, "Untuk Tuan Kevin undangan sudah di sampaikan secara resmi melakui sekertaris anda.", Marcell mencoba tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya, "Kalau begitu saya permisi dulu."

Nessa menatap punggung Marcell yang melangkah menjauh, kemudian menghela napas dan menatap undangan cantik di tangannya, pernikahan Marcell dan Susan yang akan berlangsung sebentar lagi.

"Kau akan mendampingiku datang di pesta itu." gumam Kevin datar, "Kau bisa datang dengan kepala tegak dan tunjukkan kepada laki-laki bodoh itu kalau kau terlalu baik untuknya."

Tanpa sadar Nessa tersenyum simpul mendengar kata-kata Kevin yang mirip seperti pembelaan untuknya. Dia menganggukkan kepalanya,

"Mungkin bisa dibicarakan nanti saja." desahnya, lalu menatap Kevin dan mengernyit bertanya-tanya kenapa Kevin tiba-tiba saja sudah ada di TK tempatnya mengajar tanpa pemberitahuan, "Kenapa kau kemari?"

Lelaki itu tersenyum dan mengangkat bahunya,

"Well waktunya sudah tiba, mama ingin bertemu denganmu. Aku harap kau sudah mempersiapkan aktingmu sebaik-baiknya."

***

Bersambung ke Part 4

Baca Part 1 http://anakcantikspot.blogspot.com/2012/12/perjanjian-hati-part-1.html
Baca Part 2 http://anakcantikspot.blogspot.com/2012/12/perjanjian-hati-part-2.html
Baca Part 4 http://anakcantikspot.blogspot.com/2012/12/perjanjian-hati-part-4_28.html
Baca part 5 http://anakcantikspot.blogspot.com/2012/12/perjanjian-hati-part-5.html#more

 

64 komentar:

  1. thank mbak santhy, ditunggu part 4 nya...
    mbak, novel unforgiven hero kapan bisa diposting di PN?. jangan lama-lama ya mbak... :)

    BalasHapus
  2. wahhh seru bgt mdh2an Mamanya Kevin bisa nerima Nessa dan ga curiga bahwa mereka lg bersandiwara...

    BalasHapus
  3. Kerennnnnn as always.
    Thank u mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama2 sayaaang
      duh kucingnya lucu ndut hihihihi

      Hapus
    2. Namanya Sweety mba...
      Mba juga punya pet juga kan Berry yah klo gak salah namanya

      Hapus
    3. xixixi si Berry mah pet merangkap penjaga rumah alias satpam dear hehehe soalnya rumahku sering kosong huhuhuhu :D

      waaa lucuuuu mukanyaa sweety kayak kucing yg dikartun itu lho siapa yah yg item putih itu hihihihi :D

      Hapus
    4. gARFIELD YAH..... kucing Rusia dy mba.
      Udah gak tinggal sama q lagi gak ada yang jagain
      Jadi q titipin sama Emak

      Hapus
  4. ga sabar nunggu kelanjutannya...hhhhhh...smoga segera y mba santhy..*pleaseee*..:)

    BalasHapus
  5. keren mbak santhy,penasaran kelanjutanya,,,
    big hug mbak santhy,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih sayaaang
      semoga mau menunggu yaaah
      *balas peluk* hehehe

      Hapus
  6. tidak terduga siang2, lagi fak mood dg pekerjaan bisa menemukan perjanjian hati...tks mb santhy

    BalasHapus
    Balasan
    1. heeeeee steffieee apa kabar :D
      semoga bisa jadi hiburan siang2 yaah :)

      Hapus
  7. wahhh kevin nya bikin kaget aj tba"muncul gtu--"
    semangat nessa !!:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehe :D
      iyaaa semangaattt nesaaa *sambil teriak*

      Hapus
  8. aih akhir'y penantian qu b'akhr u/ part 3 *.*
    Thanks mba santhy.. good as well :D
    Kevin main cium ajh ne >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe iyaa tuh kevin menghayati banget sandiwaranya hihihihihi :)

      Hapus
  9. Huaaaa,,,keyeeennnn,,keyeeennnnnn...
    Mbaaaaa Saannnn..jgn lm2 yakz posting lnjutanny??xixixi *banyak maunya*
    Hmmmm,,,sukaaaa sm Keviinnnn... *peluk2 Kevin* #loohh??
    (Smntra teralihkan dr Mikail yg udh g nongol2 lg di PN,,hehehe)
    Mksh Mba Santhy..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehee iya vieee semoga bisa jadi selingan ringan yaah sambil nungguin novel2 diposting di PN ;)
      sama2 sayaaaang, makasih sudah mau baca yah dear *tersipu malu sambil peluk2*

      Hapus
  10. mksih mba snthy...btw cepat postng part 4 ya...gak sabar

    BalasHapus
  11. HA!!!!! udah ada...uda ada.... *kalap*

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihih *sambil sembunyi di balik pohon* takut soalnya Yana kalap :D :D

      Hapus
  12. Aaaakkkhirnya diposting... asyikk.. makasih mba santhy.. gak sabar nungu lanjutannya.. nessa diterima ga ya.. ama mama kevin..,???

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehe kalo mamanya Kevin kayaknya bakal suka dear, soalnya dia orangnya modern dan sedikit nyentrik #kasih bocoran

      Hapus
  13. ye ye la la la....
    marcell cemburu ya?????kasian dah terlambat..
    keviiiinnnn jgn sakitin nessa ya...hihihihi..
    mbak san,,thanks ya...
    *peluk erat..^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehe Marcell telat dear, dan dia memang pengganggu hehehehe :D

      *balas peluk*

      Hapus
  14. ya ampuun mba shanthy aq sukaa ma cerita ini.
    jangan lma2 y mba posting selanjutnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. halooo deaaaar hehehehe
      iyaaaaa semoga sore nanti sudah ada yah dear :*

      Hapus
  15. ooooo...
    skarang koment nya bisa langsung muncul ya...
    hihihihi^^...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihihi iyaaa deaaar soalnya banyak yang nanyain juga, lama2 kasihan kalau sampai ada yg ngulang2 koment krn ga bisa muncul dear, semoga sekarnag bisa lebih nyaman yaaaah *kecup*

      Hapus
  16. banyak anak PN yah dimari... aq nunggu complete aja mbak sansan... kepikiran terus ama ceritanya nih... hari2q jadi bimbang..(halah)

    BalasHapus
    Balasan
    1. yuhu *.*
      PN rame *peluk semua*
      #lagi gaje inih

      Hapus
    2. xixixixi iyaaaaah aku ga bisa lepas dari PN, G+ dan semuanya, asyiiik ngobrol sama semuanya, bikin hari jadi cerah hehehe ;)

      Hapus
  17. hah mba akhir nya di posting jga ...
    hm kevin2 bkin kget aja !!mba pstingin crta di PN lagi donk hhhe
    udah kngeeen nih .. sma novel mba !!hhhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehe iyaaa Ida, naskahnya baru disiapkan---> proses editing untuk di PN, karena naskah2 di PN harus spesifik sesuai ketentuan blognya :D semoga mau menunggu yaah, mungkin Unforgiven Hero/ From The darkest Side ;)

      Hapus
  18. mba santhy,kren.aq sll menunggu krya mu,jdny UH dluan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayaknya UH duluan dear, kalo mau selang seling, harus nunggu naskah FTDS beres editing juga ( sekarang yg proses editing baru UH ) jd bisa mundur postingnya di PN mungkin akhir Januari ;)

      Hapus
  19. Mba santhy,,keren skli ceritay
    fira suka sama kevin,,
    jangan lama2 yaa posting bab 4 yaaa,
    dah gak sabaaaar niii

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehe makasih fira sayaaang, semoga tokoh Kevin bisa sedikit mengisi hati selama jeda menunggu postingan di PN yaaah *peluk*

      Hapus
  20. Balasan
    1. Mendyyy sudah sehatkah sayaang? i miss u ;)
      waaaah masih ada yaah? nanti aku cek lagi yah dear untuk koreksiannya
      makasih sayaang ;)

      Hapus
  21. Balasan
    1. makasih juga sayaaang :) semoga sabar menunggu yaah ;*

      Hapus
  22. Hwaaa finally !
    aku tiap hari buka blog ini ngecek apa cerbung ini udah diposting
    ><
    kyaakkk makasih mba santhy :)
    jangan lama2 lagi ya, hehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehe semoga nanti sore bab 4 nya udah keluar yah :) *peluk*

      Hapus
  23. mba Santhy.. baru tau ada cerita baru..huhuhuhu...
    ga sabar baca yang part 4..
    sukak sama Kevin :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehe banyak yang suka sama tokoh Kevin yang masih kontradiktif ini yah :)
      semoga di bab2 berikutnya makin suka sama kevin hihihihi
      iyaa arini,,, ini cerbung ringan sebagai selingan pengisi waktu mungkin yah, semoga bisa menghibur :)

      Hapus
    2. sangat menghibur sekali ini mah mba..hihihi
      posting nya sehari sekali ya mba?

      Hapus
    3. iyaaaa deaaar tp besok sd selasa kayaknya libur soalnya kantor libur, di rumah susah internet hehehe cuma kalo nanti ada sinyal pasti diposting kelanjutannya ;)

      Hapus
  24. hay mbg shanty sy pendatang baru ni dsn ceritanya keren2 y....
    mksh y mbg shanty buat ceritanya.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. sayaaang makasih yah sudah mau mampir dan baca2 di sini hehehehe
      salam kenal amandaaa *peluk sayang*

      Hapus
  25. horeeeeeeee aq juga disapa sama mb santhy.....*peluk-peluk* dulu ya mbak....

    BalasHapus
    Balasan
    1. xixixixi soalnya paling seneng baca komen2 disini kalo pagi datang ke kantor pasti yg dibaca duluan komen di blog ;)

      *balas peluk2 sambil ngajak steffie lari2 keliling lapangan*

      hihihihi

      Hapus
  26. Makasih kk cantik dipost jg. Kk aku nuii @nui_inuii hehehe
    Kk semangat ya, trs berkarya. Kk ga sombong sm penggemarnya ya di PN, twitter smp blog sllu kk bls post penggemarnya. Semangat. Jgn lp post lg, trs jgn sedikit partnya, :'D

    BalasHapus
    Balasan
    1. oooooh nuii yang di twitterr... aku tauuu aku kenaal aku ingaaat *kegirangan* hehehe
      ;)
      hehehehe siaaaap sayaaang,aku yang makasih ke semuanya karena mau komen di blog,PN, twitter dan email. InsyaAllah pasti dibalas meskipun kadang telat huhuhu maafkan yaa T___T
      eeeh part 4 nya sudah ada lhoo hehehe ;)

      Hapus
  27. Aku udh bc sm comment, kk nanti mrk slg cintakan? Hehehe, pgn tau bgt aku..


    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehhee semoga perjanjian sandiwara ini akan menjadi perjanjian hati yang sesungguhnya ya :D

      Hapus