Kamis, 20 Desember 2012

Perjanjian Hati Part 2

Created on Bandung, 15 Desember 2012




Part 2
Kalaupun demi cintamu
Kakakmu ini harus berkorban
Akan kulakukan
Akan kulakukan...
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Nessa membelalakkan matanya mendengar kata-kata Kevin. Sejenak dia mencoba mencerna apa yang barusan di dengarnya lagi, berharap ada kemungkinan dia salah dengar. Tetapi kemudian ketika dia menyadari bahwa apa yang dikatakan Kevin itu benar-benar seperti yang dimaksudkannya, wajahnya merah padam oleh kemarahan bercampur rasa terhina.
 
"Saya tidak tahu kenapa anda melakukan penghinaan yang begitu besar kepada kami. Tapi yang perlu anda tahu, kami tidak butuh uang atau pemberian apapun dari anda, coba anda tanyakan ini ke Ervan dan mungkin dia akan menghajar anda."
 
Kevin hanya diam di sana dan mengamati Nessa tajam, seolah-olah ingin menelanjangi seluruh isi hatinya. Lama kemudian lelaki itu tampaknya telah mengambil kesimpulan dan tersenyum,
 
"Oke, jangan marah. Kata-kataku tadi hanyalah ujian, aku memang mengatakannya kepada siapapun, yang dekat dengan Delina."
 
Nessa mengernyit,
 
"Apa?"
 
"Kau tahu, kata-kata itu tadi, bahwa aku akan membayar mereka dengan timbal balik mereka harus meninggalkan Delina." Wajah Kevin mengeras, "Kau akan terkejut mengetahui berapa banyak yang setuju untuk menyambar umpanku mentah-mentah."
 
"Tidak semua orang miskin tidak punya harga diri." sela Nessa sinis.





Kevin menatap Nessa lagi,
 
"Benarkah?" pertanyaan itu sepertinya tidak perlu jawaban, hanya sebuah retorika yang menyindir. Nessa menyadari bahwa berdasarkan pengalamannya, lelaki itu punya pandangan negatif kepada orang-orang tidak mampu. Dia tadi bilang banyak orang lain yang mau menerima penawarannya mentah-mentah.
 
"Apakah urusan kita sudah selesai?" Nessa melirik gelisah ke lorong TK yang sepi. Lelaki ini membuatnya tidak nyaman, entah kenapa.
 
Kevin menegakkan tubuhnya yang sedari tadi bersandar santai di pilar,
 
"Belum." gumamnya tenang, "Dan aku bersikeras untuk mengajakmu ke suatu tempat, dengarkan dulu." serunya ketika melihat Nessa akan membantah keras kata-katanya, "Kau adalah kakak Ervan, kekasih adikku. aku berjanji tidak akan melakukan sesuatu yang buruk kepadamu, demi adikku. Dan memang aku tidak punya niat buruk sama sekali, aku hanya ingin bicara."
 
"Bukankah saya bilang anda bisa membicarakan semua yang perlu anda bicarakan di sini?"
 
"Tolong jangan pakai istilah anda dan saya." Kevin mengerutkan alisnya, "Itu terlalu formal dan mengganggu. Aku ingin berbicara tentang Delina, penting."
 
Nessa menatap wajah Kevin. Lelaki itu tampak serius. Benar-benar serius. Sejenak dia ragu. Beranikah dia mempercayakan dirinya untuk pergi bersama lelaki ini?
 
Nessa menghela napas,
 
"Baiklah, tetapi hanya sebentar, kalau lebih dari jam dua siang aku belum pulang, orang rumah akan bertanya-tanya."
 
Kevin mengangguk,
 
"Hanya sebentar, kita bicara di restoran langgananku di dekat-dekat sini."
 
***
 
Restoran itu bertema garden restaurant dengan ruangan-ruangan yang redup karena rimbunnya pepohonan dan taman dan lampu-lampu berwarna kuning hangat yang menentramkan, seluruh dindingnya adalah kaca bening yang besar-besar, memantulkan suasana hijau di sekelilingnya. Hari ini mendung, dan berada di restoran yang begitu hijau itu membuat Nessa merasa semakin sejuk.
 
Dengan sopan, Kevin menarikkan kursi untuk Nessa, dan duduk di depannya, lalu memesankan makanan mereka kepada pelayan yang menunggu. Setelah itu menunggu pesanan datang, Kevin menyandarkan punggungnya di kursi dan menatap Nessa.
 
"Aku sama sekali tidak menentang hubungan Nessa dengan Ervan." Kevin tersenyum lembut, "Kuharap kau mengerti. Aku hanya ingin menjaga adikku."
 
Nessa mengerti perasaan Kevin. Rasa ingin melindungi yang dalam, sama seperti yang dia rasakan kepada Ervan, adiknya satu-satunya.
 
"Ada yang harus kukatakan padamu." Kevin melanjutkan karena Nessa diam saja, "Sebelumnya kau perlu tahu bahwa aku sudah menyelidiki keluargamu, maafkan aku."  Kevin menatap Nessa dengan permohonan penuh permintaan maaf ketika melihat tatapan tersinggung dari Nessa, "Aku harus melakukannya supaya aku benar-benar yakin bahwa aku bisa mempercayai kalian."
 
Nessa mengangkat bahunya,
 
"Silahkan lalukan apapun sesukamu, toh kau tidak akan menemukan rahasia gelap keluarga kami, karena memang tidak ada."
 
Kevin mengangguk dan tersenyum, bersamaan dengan pelayan yang mengantarkan minuman mereka.
 
"Sejujurnya aku kagum ketika membaca berkas-berkas laporan tentang keluarga kalian. Tidak mudah tumbuh menjadi orang hebat ketika situasi keuangan keluarga tidak mendukung." Lelaki itu berdehem menyadari bahwa kata-katanya mungkin saja sudah menyinggung Nessa, "Kembali ke masalah tadi, setelah menerima laporan dari penyelidikku dan mempelajarinya, aku memutuskan kau adalah orang yang tepat untuk membantuku."
 
Nessa mengernyit, Kenapa laki-laki ini dari tadi berbicara dengan berputar-putar? Apa sebenarnya yang ingin dikatakannya?
 
"Perlu kau tahu, Delina dan aku bukan saudara kandung." Kevin menatap Nessa, menilai reaksinya, "Aku adalah anak pungut, yang diangkat dan dibesarkan oleh keluarga mereka dengan penuh kasih sayang dan tidak dibedakan sama sekali dari anak kandung mereka, Delina."
 
Itu informasi yang sangat mengejutkan dan Nessa tertegun mendengarnya. Kevin adalah anak angkat keluarga kaya itu? Kenapa Kevin membagikan informasi sepenting ini kepadanya
 
"Ya, mereka keluarga yang baik dan sangat menyayangiku. Sejak ayah kami meninggal lima tahu lalu akulah yang mengambil alih kendali perusahaan dan mengembangkannya dengan pesat sampai sekarang, sementara yang dilakukan mama kami adalah mencurahkan kasih sayangnya kepada kami dengan sepenuh hatinya. Tetapi kemudian ada satu masalah." Kevin menghela napas panjang, "Mama kami mempunyai ide yang menurutnya brilian, bahwa aku dan Delina, kami seharusnya menikah saja dan menjadi keluarga sejati."
 
Kali ini Nessa hampir-hampir tersedak oleh minuman yang dihirupnya, Apa??
 
"Tentu saja ide itu konyol untuk kami. Karena kami sudah dibesarkan begitu lama sebagai kakak adik, tidak mungkin kami berdua mengembangkan perasaan lebih dari itu. apalagi saat mama mengutarakan maksudnya, Delina sudah mempunyai Ervan."
 
"Mereka sepertinya saling mencintai." gumam Nessa ahkirnya.
 
"Ya, dari sisi Delina aku tahu dia mencintai Ervan." Kevin tersenyum, "Mulanya aku skeptis dan tidak yakin ketika Delina menceritakan tentang Ervan dengan begitu bahagia kepadaku. Katanya dia menemukan cinta sejatinya, padahal menurutku mereka masih anak kuliahan, hidup mereka masih panjang dan kekasih sejati yang dia maksud itu mungkin masih menunggu di depan sana. Apalagi dengan pengalaman burukku pada lelaki-lelaki yang mendekati Delina, hampir keseluruhan dari mereka menerima tawaranku untuk memberikan uang agar mereka mau meninggalkan Delina." Kevin tersenyum pahit.
 
"Aku minta maaf atas pengalaman pahitmu dengan orang-orang seperti kami." gumam Nessa ketus, "Tapi kau perlu tahu bahwa kami tidak seperti itu. Kalaupun kau memang ingin Ervan meninggalkan Delina, aku bisa berbicara dengan Ervan dan kami tetap tidak mau menerima sepeserpun darimu."
 
Kevin terkekeh,
 
"Sepertinya kata-kataku selalu menyinggungmu ya." Lelaki itu mengangkat bahu, "Maafkan aku."
 
Hening, hening yang lama sampai kemudian pelayan datang mengantarkan makanan mereka.
 
"Lalu apa maksudmu menceritakan semuanya kepadaku?"
 
Kevin tercenung,
 
"Meskipun tidak setuju, Delina tidak berani membantah permintaan mama supaya dia menikah denganku. Dan aku juga tidak mau terjebak situasi pernikahan yang aneh, dengan adikku sendiri. Tetapi mama bukanlah orang yang mudah di bantah, dia bisa keras kepala kalau dia mau. Apalagi dia melihat kalau selama ini aku dan Delina belum berhasil dengan hubungan percintaan kami. Kau tahu, Delina belum berani mengenalkan Ervan kepada mama.", dengan tenang Kevin menatap Nessa, tajam, "Perlu kau tahu Nessa, mama menderita lemah jantung, kalau ada hal-hal yang menjadi beban pikirannya, atau membuatnya terkejut maupun sedih, kami khawatir akan berakibat fatal kepada kesehatannya. Belum lagi sebuah beban berat di pundakku, karena aku anak angkat yang berhutang budi kepada mama, aku tidak bisa menolak idenya mentah-mentah begitu saja."
 
Entah kenapa aku bisa mengerti dilema yang dirasakan Kevin. Batin Nessa.
 
"Kemudian sebuah ide tercetus di benakku." sambung Kevin, "Mama tidak akan sedih kalau tahu bahwa kami masing-masing punya alasan untuk menolak pernikahan itu. Delina bisa menunjukkan kepada mama bahwa dia bahagia kepada mama, dan aku akan melakukan hal yang sama...., Masalahnya...." Kevin memajukan tubuhnya, dan menatap intens kepada Nessa, "Aku tidak punya wanita yang bisa kubawa kepada mama."
 
Nessa mengernyit,
 
"Kau bisa membawa wanita manapun yang kau mau, begitulah yang kudengar."
 
Kevin terkekeh,
 
"Betul, sangat gampang mencari wanita yang mau denganku. Tetapi sangat susah membawa wanita yang bisa kubawa ke hadapan mama untuk kemudian diterimanya. Mama memiliki insting sangat tajam terhadap sesama wanita."
 
Nessa terdiam, entah kenapa merasa penuh antisipasi.
 
"Jadi Nessa, aku mengusulkan sebuah perjanjian untukmu. Maukah kau, berpura-pura menjadi kekasihku, calon isteriku untuk kubawa ke hadapan mama?"
 
***
 
Lelaki ini sudah gila rupanya. Menawarkan hal seperti itu kepadanya?
 
"Kau sepertinya perlu memeriksakan otakmu ke dokter." Nessa menggeram marah lalu berdiri hendak meninggalkan meja mereka, "Sepertinya sudah cukup aku berada di sini."
 
"Nessa." nada suara Kevin yang tenang itu entah kenapa berhasil membuat Nessa menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Kevin.
 
"Kau harus pikirkan ulang sebelum menolak ide ini. Mamaku merencanakan pernikahanku dan Delina ahkir tahun ini. Kalau kita tidak bisa bekerja sama demi adik-adik kita, mereka akan patah hati."
 
Nessa tertegun. Menyadari kebenaran perkataan Kevin, disini bukan hanya Kevin dan dirinya saja yang terlibat, ada kepentingan Ervan dan Delina di sini.
 
Entah apa yang akan terjadi nanti, tetapi yang pasti Nessa tahu bahwa perasaan yang dirasakan Ervan kepada Delina sangat kuat, Nessa yakin itu. Ervan tidak pernah secinta ini kepada seorang perempuan. Dan mengetahui bahwa Delina akan menikah dengan Kevin ahkir tahun ini pasti akan membuat Ervan terpuruk.
 
Tetapi ide untuk berpura-pura menjadi pasangan Kevin, berpura-pura menjadi calon isterinya, masih terasa seperti ide gila yang sedikit menakutkan di benaknya. Dia sama sekali tidak mengenal lelaki ini selain sebagai kakak Delina dan sedikit membaca kesan penakluk perempuan pada auranya. Beranikah dia?
 
"Aku berjanji, ketika permasalahan sudah beres dan mama bisa menerima bahwa aku dan Delina berhak menentukan cinta sejati kami masing-masing, kita bisa melepaskan ikatan di antara kita tanpa masalah, mungkin aku bisa bercerita bahwa kau dan aku pada ahkirnya tidak cocok. Tentang Delina dan Ervan, biarlah mereka menentukan masa depan mereka masing-masing."
 
Perkataan Kevin terasa begitu menggoda, karena membuat semuanya tampak berjalan mudah. Nessa menghela napas panjang,
 
"Tolong berikan aku waktu untuk berfikir."
 
"Oke." Ervan menyerahkan kartu namanya kepada Nessa, "Hubungi aku di sini kalau kau sudah siap memberikan jawaban. Tapi ingat Nessa, jangan terlalu lama, waktu kita sedikit."
 
***
 
"Tadi aku menjemput kakak ke TK, tapi kepala sekolah bilang kakak sudah pulang, bersama seorang pria." Ervan menatap Nessa mengernyit, "Katanya pria itu naik mobil mewah," adiknya itu langsung menyambutnya ketika Nessa berjalan memasuki rumah.
 
Tadi Nessa tidak mau pulang diantar oleh Kevin, syukurlah. Tidak terbayangkan bagaimana kagetnya Ervan kalau melihat Nessa di antar pulang oleh kakak Delina.
 
Mungkin Ervan akan lebih kaget lagi kalau pada ahkirnya Nessa menyetujui kesepakatan yang diajukan Kevin. Tetapi itu nanti, Nessa harus memikirkan segalanya dengan baik terlebih dahulu.
 
"Kak?" Ervan mendesah ketika Nessa tidak menjawab pertanyaannya,
 
"Oh... yang pulang bersamaku? eh dia seorang teman kuliah kakak dulu, kami berjanji bertemu untuk membahas reuni angkatan kami." Jawab Nessa asal-asalan.
 
Dan rupanya jawaban itu tidak memuaskan Ervan,
 
"Pria itu bukan Marcell kan kak? aku tahu kita bertemu dengannya di pesta kemarin, dia adalah satu-satunya laki-laki yang pernah dekat denganmu, dan pernah menjemputmu dengan mobil mewahnya dulu..... maafkan pertanyaanku ini kak, aku cuma takut kau berhubungan lagi dengannya dan mengalami kesakitan seperti dulu lagi."
 
Sejenak Nessa mencerna kata-kata Ervan, semula dia hendak marah karena Ervan seolah menuduhnya, kemudian hatinya menyadari bahwa Ervan sungguh menyayanginya dan mencemaskan Nessa.
 
"Tidak Ervan, aku tidak pernah memikirkan Marcell lagi, meskipun hati ini masih sakit, tetapi perasaan itu sudah mati." Apalagi kemarin, setelah dia mengalami penghinaan oleh tunangan Marcell dan lelaki itu seperti tanpa daya tak mampu berbuat apa-apa. "Dan kau bisa tenang, yang menjemputku tadi benar-benar bukan Marcell."
 
Ervan menarik napas lega, lalu merengkuh Nessa ke dalam pelukannya,
 
"Syukurlah... aku sebenarnya mencemaskanmu kak, karena aku semalam ada di pesta itu, melihat sendiri kau bertemu dengan Marcell yang dulu pernah begitu kau cintai. Aku ingat betapa terpuruknya kau dulu, aku cuma takut kau, kakakku yang paling kusayangi disakiti lagi olehnya."
 
Nessa tersenyum penuh haru dan membalas pelukan Ervan,
 
"Aku sudah dewasa dan sudah kuat Ervan, tidak seperti dulu lagi, kau tidak perlu mencemaskanku seperti itu."
 
Ervan menjauhkan wajahnya dan menatap serius,
 
"Sebenarnya dari dulu aku sudah tidak suka dengan Marcell dari awal dia memang kelihatan seperti lelaki yang lemah, tapi waktu itu aku masih terlalu muda dan tidak berani berpendapat, apalagi ketika aku melihat kau begitu mencintainya, ketika kau dulu disakiti aku tidak bisa berbuat apa-apa. Sekarang aku juga sudah dewasa kak, kau bisa mengandalkanku. Kalau ada lelaki yang berani-beraninya mendekatimu, mereka harus melalui aku, dan kalau mereka menyakitimu, akan kuhajar mereka sampai babak belur."
 
Nessa terkekeh geli dan tiba-tiba terlintas di benaknya, kalau dia benar-benar menerima kesepakatan dari Kevin, situasi antara mereka berempat, Nessa, Ervan, Kevin dan Delina pasti akan menjadi sangat lucu.
 
"Bagaimana kabar Delina?" Nessa bertanya untuk mengalihkan pikiran tentang Kevin. Mendengar nama perempuan yang dicintainya itu, seketika itu pula tatapan Ervan berbinar.
 
"Delina sungguh perempuan yang luar biasa." Ervan tertawa sendiri, "Dengan latar belakangnya yang seperti itu, dia sungguh nggak keberatan jalan-jalan dengan mobil butut kepunyaan kita, makan di warung bakso pinggir jalan, aku benar-benar jatuh cinta kepadanya kak. Semoga kemarin kesan kita ke kakak Delina bagus ya. Aku nggak bisa membayangkan kalau kami harus menghadapi ketidaksetujuan dari keluarga Delina, karena saat ini kami sungguh menghadapi setiap waktu dengan berbahagia." Ervan menggesek-gesekkan telapak tangannya dengan bersemangat, "Malam ini aku mengajak Delina supaya makan malam di rumah kita, agar dia bisa lebih mengenal ibu. Ibu juga senang sekali. Beliau sedang ke pasar untuk berbelanja untuk masakan makan malam."
 
Nessa tersenyum, antara miris sekaligus tersentuh dengan kebahagiaan Ervan. Tiba-tiba sebuah keputusan sudah muncul di benaknya.
 
Sambil beralasan ingin berganti pakaian, Nessapun melangkah memasuki kamarnya, Tetapi yang dilakukan pertama kali adalah duduk di tepi ranjang, dan mengeluarkan kartu nama Kevin dari saku bajunya.
 
Saat ini, sebagai seorang kakak, mungkin inilah yang bisa dilakukannya demi kebahagiaan Ervan.
 
Dikeluarkannya ponselnya dan di pencetnya nomor itu. Kemudian tegang menunggu hubungan tersambungkan.
 
Dalam deringan ketiga, ponsel diangkat dan suara Kevin yang dalam menyahut di sana.
 
"Halo?"
 
Nessa menelan ludah, suaranya terasa tercekat dan tenggorokannya terasa kering ketika akan menyatakan keputusannya itu,
 
"Halo... ini Nessa.... aku... aku cuma mau bilang, aku akan melakukan kesepakatan yang kau bicarakan tadi." 
 
***
 
Bersambung Ke Part 3
 

46 komentar:

  1. Hmm pengorbanan yg mulia, seneng deh niy ikatan persaudaraan'y kuat bgt. Peluk mb santhy, bagusss

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju sama ina....
      pengorbanannya nessa moga gak sia-sia ya, na....

      mba santhy pinter menggambarkan ikatan persaudaraannya mereka
      walau delina n kkevin gak bersaudara kandung,,,,,

      *peluk ina n mba santhy,,,,,

      Hapus
    2. Peluuk fatty n mb santy, memang mb santhy itu pinter mendalami karakter tokoh" d setiap novelnya.

      Hapus
    3. heeeee kalo Nessa sih tulus sama adeknya dear
      kalo Kevin masih perlu dipertanyakan dear, jangan2 dia cuma mau cari jalan keluar aja soalnya masih mau bebas, ga mau nikah sama Delina hehe :)

      Hapus
    4. kalo gitu aku jadi mau nempiling s kevin nih....

      atau si kevin mang dah jatuh cinta sama nessa kali yah.....

      Hapus
  2. Huaaaa...terjebak di pelukan arjuna...
    Mau dooong!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehe kalo mau bukan terjebak lutfi hihihi, hayuuu dear kita masuk ke pelukan para arjuna :D :D

      Hapus
  3. Lanjutkan mbak shanty, selalu suka dgn ide cerita mbak shanty deh:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. heee makasih sayaaang... siaaaap lanjutkaaann ( gaya ala slogan pemilunya SBY dulu) hihihihi

      Hapus
  4. Debes dah ah ma mpo Nessa..bae bgd ma ade nya...
    Abang kevin keren....

    Blh minute krt namanya abang kevin ğªќ mba santhy?? ♓έ:p♓έ:p♓έ:p♓έ:p
    *smbl bisik2 blgnya...:D

    BalasHapus
    Balasan
    1. dona, aku punya kok, mau??
      hehehehee

      Hapus
    2. eh kok ngomongnya pada bisik bisik hmmm pasti ngomongin sesuatu yg mencurigakan hihihihihi
      boleeeeh *peluk sayang* ;p

      Hapus
    3. mba mau apa???
      kartu namanya mas kevin juga

      via email ya mba
      hehehehe
      *peluk sayang mba santhy balik....

      Hapus
  5. Ditunggu lanjutannya ya mba.. jd penasaran gimane ntar kevin n nessa saling jatuh cinta.. Hatiku berdebar debar nunggu bab 3.. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehe iyaaaah semoga prosesnya so sweet yah :) makasih sayaaang sudah mau menunggu kisah ini *peluk*

      Hapus
  6. nexp part mba...ceritany menarik!

    BalasHapus
  7. mmm...koq gak di share di twitter ya?
    smga cerbungnya ada yg dijadiin FTV :)
    semangaaaaat mbak santhy!

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa deaaar kelupaan hehehehehe
      amin dear kalo jd FTV nanti aku polling ke pembaca siapa yg jd castnya hihihihihi *bermimpi dulu*

      makasih sayaang dorongan semangatnyaa :)

      Hapus
    2. ya mba tumben..
      biasanya aku dapat notif di twit....

      hiksss

      Hapus
  8. ah pasti ntr Kevin bnran cinta ma Nessa.. Nessa kan cantik n baik *.*
    *peluk mba santhy*
    happy ending ya? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihihi amiiin mari kita doakan dua orang itu bisa saling mencintai yah :)

      Hapus
  9. nice story mbakkkk.....

    posting lnjutannya jgn lama2 ya mbakkk.. heheehehhee...

    BalasHapus
    Balasan
    1. xixixixi iyaaa sayaaang, semoga bisa cepet yaah *singsingkan lengan baju*

      Hapus
    2. hehehehee...

      SEMANGAT mbakk cantikk....

      Hapus
  10. mba' santhy,makasih....ceritanya seruuuu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. sayaaang, sama2 makasih udah mau baca yaaah *peluk*

      Hapus
  11. Baru slesai baca 2 bab prtama,,,
    & akhirny hanya kata KEREN yg bisa t'ucap,,,,
    Beneran mba Santhy,,, #super-super duper serius,,,

    **ngayal si Kevin nawarin ke aq proposalny itu,,,whuahahahahaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehhe mbaaaa riskaaa aku baru buka blog lagi setelah liburaan hehehehe jd tersipuu baca komentnya :D

      Hapus
  12. hm ..kevin bkal suka bnran dh ama nessa !!hhhe
    smga endingnya bsa bhagia yah .. crta nya pnuh kjutan mba dan aku suuuukaaa !!!hhhe ayo smngat mba di tunggu part 3 nya hhhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehhee iyaaa kali aja Kevin punya maksud tersembunyi ituu hehhe
      amiiin semoga happy ending yaah :)

      Hapus
  13. wah mba shanty mang paling bisa n' paling jago y bikin penasaran....wah baru baca ja aku dah suka ayo dong mba part selanjutnya di posting hehhehehhehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehe makasih sayaaaang, part selanjutnya sedang disiapkaaan :D *peluk*

      Hapus
  14. wahhh g sabar nungguin part slanjutnya........
    mbk shanty mang pling jago bkin orng deg deg an

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehehe semoga mau menunggu yaaah, part selanjutnya sedang disiapkaan :D

      Hapus
  15. Salam kenal mb santi
    Aku salah satu penggemarku
    Hihihihi
    Awalnya tau dari portnov
    *salaman*

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaah namanya samaa ada santi nya hihihihihi
      salam kenal juga sayaaang
      *salaman sambil peluk*
      makasih yaa sudah mau baca tulisan2ku :)

      Hapus
  16. eeehhh iya lupa blm knalan sm mbk shanty udh comment dluan,lm knal ya mbk shan.......
    smoga mbk shanty sukses sll.amin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal juga sayaaaangg hihihihihi
      makasih doanyaaa hueee terharuuu
      *peluk erat*

      Hapus
  17. mba santhy ditunggu nich part selanjutnya......

    BalasHapus
  18. part 2 ... yeeee ceritanya menarik mba: ) hihihi

    BalasHapus
  19. Saya sudah baca 1 cerita penuh pake HP .. Kau benar benar membuat saya terbawa dalam alunan ceritaa..
    Super dah mbaa, Serasa jadi kevin:v

    BalasHapus