Minggu, 21 Juli 2013

Embrace The Chord Part 15



Rachel duduk di cafetaria kantin sambil menyesap kopinya, jemarinya bergetar dan perasaannya bergemuruh. Ekspresi sedih Jason tadi benar-benar tak terlupakan, sarat dengan kesedihan hingga Rachel tidak berani mendekati lelaki itu dan memilih melarikan diri ke lantai bawah, menyesap kopi untuk menenangkan dirinya.

Ponselnya berbunyi, dan dia melihat nama Calvin di sana. Calvin.... Rachel hampir-hampir melupakan Calvin, bukan karena perasaannya mulai pudar tetapi karena setelah insiden itu Calvin benar-benar menghilang dari kehidupannya, seolah-olah lelaki itu menghindari Rachel.

Hal itu membuat Rachel bertanya-tanya. Kenapa Calvin menghindarinya? Apakah karena lelaki itu marah kepadanya? Karena dia mengira - setelah melihat Jason dan Rachel berciuman - bahwa Jason dan Rachel menjalin hubungan cinta? Calvin sudah jelas-jelas menunjukkan ketidak setujuannya akan hubungan Rachel dengan Jason, lelaki itu memang menghormati dan mengagumi Jason dari permainan biolanya, tetapi Calvin mencemaskan reputasi Jason sebagai penghancur perempuan.

Seandainya saja Rachel bisa mengungkapkan kepada Calvin bahwa hubungannya dengan Jason hanyalah sandiwara, mungkin dia bisa menghilangkan kecemasan Calvin... sayangnya dia tidak bisa melakukannya.

"Rachel?" Suara Calvin terdengar di sana, memanggil-manggil Rachel yang masih melamun dan membuat Rachel mengerjapkan kedua matanya.

"Iya Calvin? Kau di mana saja? Rasanya sudah lama sekali kita tidak bicara." Rachel merindukan Calvin tentu saja.

Calvin berdehem, "Aku... aku tidak mau mengganggumu dengan Jason, dia kan sedang dalam masa pemulihan. Lagipula aku sedang intens menghabiskan waktuku bersama Anna..."

Anna. Hampir saja Rachel melupakan keberadaan perempuan itu. Terakhir, Calvin mengatakan bahwa dia sudah menyatakan cintanya kepada Anna dan Anna membalas perasaannya. Mereka berdua sekarang adalah sepasang kekasih... Anna yang memiliki Calvin. Rachel berusaha menekan perasaan pedih dalam suaranya.

"Aku mengerti Calvin...."

"Hari ini Anna dan papanya kembali ke luar negeri." Calvin melanjutkan, "Aku akan mengantarkannya ke bandara."

Rachel mengerutkan keningnya, "Anna sudah akan pulang? Jadi kalian akan menjalin hubungan jarak jauh?"

Suara Calvin tampak sedih dan tidak yakin. "Kami akan mencoba Rachel, meskipun aku tidak tahu apakah itu akan berhasil atau tidak." Keraguan dalam suara Calvin tampak nyata, "Karena aku... aku padamu...." suara Calvin menghilang, membuat Rachel mengerutkan keningnya semakin dalam.

"Kau kenapa Calvin?"

Hening sejenak, lalu Calvin berkata. "Tidak. Tidak ada apa-apa. Maafkan aku, mungkin aku hanya sedang bingung, kau tahu, aku sedih karena akan berpisah dengan Anna."

Rachel tersenyum lembut, "Aku mengerti perasaanmu, Calvin." 

"Kaulah yang paling mengerti/" Ada senyum di suara Calvin, tetapi senyum itu menghilang ketika dia bertanya kepada Rachel, "Aku tadi ke rumahmu, kata mamamu, kau sudah berkemas dan akan tinggal di rumah Jason untuk sementara."

Rachel berdehem, merasa tidak enak karena dia tidak tahu ketidaksetujuan hubungan Rachel dengan Jason.

"Ya. Jason memintaku tinggal di sana, karena dia ingin melatihku secara intensif. Selain itu... aku merasa bersalah karena akulah dia terluka."

"Itu bukan sepenuhnya kesalahanmu Rachel, penyergap itulah yang bersalah melukai kalian." Suara Calvin tampak ragu, "Apakah kau mencintai Jason?"

"Apa/" Rachel terbelalak, tidak menyangka Calvin akan menanyakan pertanyaan itu.

Calvin terdengar salah tingkah, "Aku... kau tahu, aku penasaran, Mereka semua bilang kalian adalah sepasang kekasih, aku bertanya-tanya apakah kau benar-benar mencintai Jason.... ataukah itu hanya didorong oleh rasa bersalahmu karena luka Jason?"

Bagaimana Rachel harus menjawab? Dada Rachel terasa sesak, penuh oleh rasa bingung. Tetapi pada akhirnya dia ingat kesepakatannya dengan Jason dan menguatkan dirinya ketika menjawab.

"Aku... aku menjalin hubungan dengan Jason karena aku mencintainya, Calvin." Dia harus menghilangkan kecurigaan siapapun tentang hubungan sandiwaranya dengan Jason, dia sudah berjanji kepada Jason. Meskipun sekarang rasanya begitu perih, berbohong bahwa dirinya mencintai lelaki lain, kepada Calvin, lelaki yang sesungguhnya dicintainya.

Hening lagi. Kali ini sedikit agak lama. Tetapi kemudian Calvin berdehem.

"Baguslah kalau begitu. Maafkan aku kalau sedikit mencampuri. Kau tahu aku mencemaskanmu."

Rachel tersenyum lembut, "Terimakasih, Calvin."

"Oke kalau begitu, aku harus ke bandara untuk mengantar Anna, sampai ketemu nanti ya."

"Iya." 

Dan kemudian percakapan mereka terputus, dengan suasana canggung yang entah kenapa. Rachel sendiri mulai meragukan perkataan Jason bahwa hubungan pura-pura mereka akan membuat Calvin memandang Rachel sebagai seorang perempuan.... rasanya tidak begitu, yang ada malahan Calvin menjauhinya dan membuat hubungan mereka yang dulunya erat menjadi canggung.

Dan sekarang Rachel terikat dengan Jason. Dia harus melakukan apapun yang diinginkan oleh Jason. Tetapi Jason mungkin berhak memperalatnya, menjadikannya pelayannya atau apalah. Dia telah menyebabkan kehilangan fatal bagi Jason......

Rachel mengernyit, kalau sampai Jason tidak bisa bermain biola lagi, maka kesalahan terbesar ada di pundak Rachel. Dia yang bersalah, dia yang bertanggung jawab.

Ponselnya tiba-tiba berbunyi, membuat Rachel terkejut dan hampir saja menjatuhkan cangkir kopinya. Dia melirik dan jantungnya berdebar ketika mengetahui bahwa Jason yang meneleponnya.

"Halo?" diangkatnya telepon itu dengan suara lemah, berusaha menyingkirkan ekspresi wajah Jason tadi yang membuatnya merasa sangat bersalah.

"Kau di mana? Aku menelepon ke rumahmu, kata mamamu kau sudah berangkat sejak tadi ke rumah sakit."

Rachel menghela napas panjang, berdoa semoga saja Jason tidak menyadari bahwa Rachel sudah sampai ke rumah sakit sejak tadi dan memergoki kegagalan Jason bermain biola tadi.

"Aku... aku baru sampai rumah sakit." Rachel menjawab cepat, "Aku akan segera naik."

"Aku tunggu." Jason langsung menutup ponselnya tanpa menunggu jawaban Rachel.

Rachel menyesap kopinya untuk terakhir kalinya, lalu beranjak berdiri. Bertemu dengan Jason, terlebih setelah menyaksikan ekspresi kesedihan lelaki itu karena gagal memainkan biolanya benar-benar membuat dada Rachel terasa sesak.

*** 

"Menurutmu, apakah perempuan bernama Rachel itu adalah kekasih Jason?" Joshua meletakkan garpunya di atas piring yang telah kosong. Mereka berada di apartemen Jason, bekas apartemen mereka dulu dan melewatkan pagi dengan sarapan bersama. Kiara, dengan keahliannya memasak seperti biasa telah membuatkan Joshua omelet keju kesukaannya, sekaligus membawa kenangan di masa-masa dulu ketika hati mereka belum bertaut sepenuhnya.

Kiara menyorongkan gelas berisi jus jeruk ke depan Joshua lalu bertopang dagu menatap suaminya,

"Kenapa kau bertanya seperti itu?"

Joshua terkekeh, "Ayolah sayang, kau tahu sendiri bagaimana tipe kekasih Jason sebelumnya, Rachel benar-benar di luar kategori itu, selain dia masih terlalu muda, dia adalah tipe 'perempuan baik-baik'."

Kiara menatap suaminya dengan wajah masam, "Jadi menurutmu Jason selalu berpacaran dengan perempuan tidak baik-baik?"

Kali ini kekehan Joshua berubah menjadi tawa, "Tepat seperti itu maksudku. Dia mempunyai obsesi aneh untuk menyakiti perempuan."

"Jason selalu baik kepadaku, dia tidak memukul rata semua perempuan." Kiara membantah

Joshua menganggukkan kepalanya, "Benar, karena itulah tipe kekasih Jason sangat spesifik, dia selalu memilih perempuan yang lebih tua, dengan watak yang aku asumsikan mirip dengan ibu kandungnya."

Mereka berdua tentu saja tahu bagaimana jahat dan serakahnya ibu kandung Jason. Hal itulah yang membuat Jason menjadi seperti ini, mengumpulkan reputasi sebagai penghancur perempuan.

"Mungkin dia benar-benar serius dengan Rachel, kau tahu aku membaca beberapa berita tentang Rachel. Dia sangat berbakat dalam bermain biola, para kritikus musik itu tidak ada yang mencelanya, semuanya memujinya dan menyebutnya sebagai Jason yang akan datang." Mata Kiara mengerjap. "Rekaman ketika Jason dan Rachel bermain biola tersebar di media, aku melihatnya dan merasa begitu takjub, aku memang tidak tahu tentang musik, tetapi telinga awamku bisa memastikan kalau permainan mereka berdua sangat sempurna dan berpadu dengan indahnya."

"Aku juga melihat rekaman yang menghebohkan itu. Setahuku Jason ingin membuat Rachel menjadi murid khususnya yang pertama. Aku tidak tahu kalau dia menjadikannya pacarnya." Mata Joshua berkilat, "Mungkin pada akhirnya Jason berlabuh pada perempuan yang lugu." dia menatap Kiara dengan tatapan menggoda, "Seperti diriku."

Pipi Kiara langsung memerah, berusaha menghindari tatapan mata Joshua, "Jadi sekarang kau sudah benar-benar berlabuh ya?"

Joshua terkekeh, melangkah mengitari meja dan memeluk Kiara dari belakang, mengecup pundaknya dengan mesra dan lembut, 

"Tentu saja, aku punya isteri yang sempurna. Apalagi yang aku inginkan? Aku sudah lengkap."

Kiara tersenyum, menyandarkan tubuhnya kepada Joshua, membalas pelukan erat suaminya, "Aku bahagia karena kau memilihku untuk berlabuh." gumamnya serak, penuh perasaan.

"Aku berlabuh pada perempuan yang tepat." Joshua membalik tubuh Kiara, lalu mengecup bibirnya dengan lembut, ketika dia mengangkat kepalanya, matanya berbinar nakal, 'Kau mau mencoba ranjang di bekas kamarku itu sekali lagi? Mengenang bulan madu kita dulu?"

Kiara terkikik, dan menurut ketika Joshua menghelanya memasuki kamar.

*** 

Rachel mengetuk pintu kamar Jason, dan mendapati lelaki itu sedang duduk di kursi di samping ranjang dan merenung. Lelaki itu sudah berpakaian lengkap, siap untuk pulang.

"Keyna dan Davin akan menjemput kita, sebentar lagi mereka datang." 

Rachel menganggukkan kepalanya, melangkah mendekati Jason ke tengah ruangan dan mengamati lelaki itu. Jason tampak seperti biasa, dengan ekspresi datarnya yang tidak tertebak. Tidak kelihatan bahwa barusan dia telah menampilkan ekspresi sedih luar biasa yang membuat siapapun yang melihatnya merasakan kesedihan yang sama.

"Kenapa?" Jason mengangkat alisnya, menatap Rachel yang mengamatinya, membuat Rachel langsung mengalihkan matanya dengan gugup.

"Eh... tidak ada apa-apa." Mata Rachel beralih ke arah biola Jason, itu Paganini miliknya, yang diletakkan di atas meja.

Jason melihat arah pandangan Rachel dan tersenyum, "Aku meminta biola ini untuk diantarkan kemari." Matanya menatap Rachel dengan tajam, "Aku ingin memberikan biola itu kepadamu."

Wajah Rachel langsung pucat pasi. Kenapa Jason memberikan biola itu kepadanya? setahu Rachel, Jason sangat menyayangi biola ini, hadiah yang diperolehnya di sebuah negara karena pertunjukan biolanya yang luar biasa. Lelaki ini selalu menggunakan biola ini di setiap pertunjukan dan konsernya. Apakah... apakah Jason memberikan biola ini kepadanya... karena dia tidak bisa bermain biola lagi?

Jason rupanya mengamati ekspresi Rachel yang berubah-ubah, lalu terkekeh pelan. 

"Jangan berpikiran terlalu jauh Rachel, kau tampak kebingungan dan ekspresimu seperti buku yang terbuka. Aku memberikan biola itu karena kau akan menjadi murid spesialku. Selama aku menyembuhkan diri, aku akan menggunakan waktuku untuk mengajarimu. Karena itu aku ingin memberikan kepadamu biola yang terbaik. Nanti setelah kemampuanku pulih, aku bisa menggunakan Stradivarius milikku, warisan dari ayahku."

Jason mengatakan hal itu dengan tenang, seolah-olah ada keyakinan di dalam dirinya bahwa dia  bisa pulih seperti biasa, dan Rachel menggenggam keyakinan itu kuat-kuat, berharap bahwa hal itu benar adanya.

*** 

"Ini kamarmu." Jason membukakan sebuah pintu yang berada di sebelah kamarnya, mereka berada di rumah besar keluarga Jason. Mama dan Papa Jason tinggal di sini. Keyna dan Davin tinggal di kediaman mereka sendiri tentu saja, meskipun Keyna mengatakan bahwa dia akan sering berkunjung selama Jason dalam proses pemulihan.

Rachel memandang kamar itu dan tersenyum kepada Jason, 

"Kamar yang indah, terimakasih Jason."

Jason hanya tersenyum lembut, lalu membuka pintu kamar itu semakin lebar, dan masuk ke dalam mendahului Rachel,

"Ayo masuklah, kamar ini biasanya digunakan untuk tamu mama, sudah dibersihkan karena akan kau tinggali." Jason melangkah ke jendela besar di ujung kamar yang menghadap ke arah taman, dan membuka jendela itu, membiarkan udara segar dan secercah sinar matahari masuk. "Kenapa tidak kau mainkan biolamu untukku sekarang?"

Lelaki itu berdiri di depan jendela, membelakangi cahaya matahari yang melingkupinya, begitu tampan dalam setengah siluetnya bagaikan seorang pangeran dari negeri antah berantah yang muncul entah dari mana. Dan beberapa saat Rachel terpana, terpesona akan kesempurnaan fisik lelaki di depannya.

"Rachel? Mainkanlah biolamu untukku." Ekspresi Jason sedikit mencari, tiba-tiba saja Rachel bisa melihat kilat kepedihan di sana, "Aku sudah lama tidak mendengar permainan biola yang indah sejak aku sakit, aku ingin mendengarkannya."

Jantung Rachel serasa diremas. Permainan biola yang indah itu tentu saja bisa didengarkan dari permainan Jason sendiri seandainya saja tangannya tidak sakit, tetapi karena Rachel, Jason tidak bisa bermain bola lagi.

Rachel meletakkan wadah biola Paganini dari Jason dengan hati-hati di atas meja, membukanya dan menelusuri permukaan biola berumur ratusan tahun itu dengan penuh rasa kagum. Ini kali kedua Rachel akan memainkan biola itu setelah dulu Jason pernah meminjaminya dalam pertunjukan bersama mereka dulu. Dan dia masih terkagum-kagum dengan keunikan dan keindahan biola Paganini yang begitu kontras antara nada tinggi dan nada rendahnya itu.

Dia masih tidak percaya bahwa Jason memberikan biola ini kepadanya untuk dia miliki.....

Jason meraih sebuah kursi, duduk dan menatap Rachel dengan serius.

"Mainkankah untukku."

Rachel menurut, mengambil biola itu dengan hati-hati, meletakkannya di pundak kirinya, dan mulai menggesek senar unik bawaan biola Paganini itu.

Nada indah langsung mengalun lembut memenuhi ruangan kamar itu. Carmen Fantasy by Pablo de Sarasate, adalah salah satu permainan biola yang menjadi musik tema untuk Opera berjudul Carmen yang sangat terkenal dan sering dimainkan di berbagai opera internasional. Rachel memainkan nada dengan pelan pada mulanya, lalu semakin bersemangat ke depannya, permainan biolanya mewakilkan sosok Carmen, perempuan gipsy cantik yang rapuh sekaligus kuat. Kisah seorang perempuan yang berada di antara dua pilihan, dua lelaki yang menjadi cinta sejatinya, cinta segitiga di antara Carmen dengan seorang perwira tampan dan sang matador yang notabene adalah lelaki biasa. Musik yang dimainkan Rachel meledak-ledak memenuhi ruangan, menggambarkan seorang perempuan yang panas dan kuat, mampu mengangkat dagunya menghadapi kekuasaan dunia yang didominasi oleh para lelaki. Dan tetap mengangkat kepalanya dalam kebanggaan meskipun kisah cintanya pada akhirnya berakhir tragis, dengan kematiannya di ujung pisau oleh karena kecemburuan lelaki yang tidak dipilihnya.

Rachel melupakan keberadaan Jason yang mengamatinya di sana, dia membayangkan padang rumput yang luas, di mana seorang perempuan cantik berpakaian gipsy yang khas dengan rok lebarnya yang berwarna cerah, dengan rambut panjang bergelombang yang terurai dan tubuh indah yang tegak, melompat dengan lincah, bertelanjang kaki dan mengikuti musik, bebas merdeka membawa kebanggaannya sebagai perempuan dan tak mau takluk di kaki laki-laki manapun.

Ketika dia mengakhiri permainan biolanya dengan akhir yang indah, Rachel membuka matanya, napasnya terengah ketika dia menurunkan biola itu dari pundaknya, ditatapnya Jason dan menyadari bahwa lelaki itu juga memejamkan matanya.

Ketika Jason membuka matanya, tatapan matanya tampak tajam.

"Aku tidak pernah mendengarkan musik Carmen diamainkan dengan intepretasi seberani dan seindah itu. Suaranya serak, penuh perasaan.

Pipi Rachel bersemu merah mendengarkan pujian itu. Pujian dari seorang mastro seperti Jason tentu saja amat sangat berarti.

Tiba-tiba saja Jason berdiri, dan kemudian dengan gerakan secepat kilat, lelaki itu memeluk Rachel erat-erat.

Rachel benar-benar terkejut, dia berusaha meronta, tetapi pelukan Jason begitu erat seolah-olah ingin meremukkan tubuhnya yang mungil. Pada akhirnya, Rachel menyadari bahwa Jason gemetar.

Lelaki itu membungkukkan tubuhnya, menenggelamkan kepalanya di pundak Rachel.

"Aku takut." Getaran di suara Jason semakin dalam seiring dengan pelukannya yang semakin erat. Jason benar-benar menenggelamkan tubuh Rachel ke dalam lingkaran lengannya, menekankan tubuh mungil Rachel seakan ingin menyerap kekuatannya. Lelaki itu menghela  napas panjang seolah sesak napas, lalu bergumam.  "Aku takut tidak akan bisa bermain biola lagi."


Bersambung ke Part 16

39 komentar:

  1. Akhirnya diposting, thanks mbk san

    BalasHapus
  2. sepertinya Jason dan Biola seperti sudah menjadi satu.. jika Jason tak mampu bermain lagi... sama saja mati...

    BalasHapus
  3. teh san... yg bagian deket pintu harusnya Rachel yg ngetuk pintu ya?
    ujungnya sedih... hu

    BalasHapus
  4. Mirisssss liat jason sedih gitu:""( plisssss mbak santhyyy jgn bikin jason gak bisa main biola lagi:"(

    BalasHapus
  5. akhirnya yg di tunggu-tunggu muncul jg
    thanks mba san,,,keep writing :) :)

    BalasHapus
  6. semoga jason dan rachel bahagiaa :)
    makasih mbak santhy :)

    BalasHapus
  7. aduuh,kak shanty..
    Jasonnya pulih aja deh ya tangannya..
    Gak tega aku kak(?).-.
    Kaaak,post 1 part lagi dong.. .-.v

    BalasHapus
  8. moga2 tangan jason nggak papa ya makasih postingannya ditungguin sih bolak balik tau nya ada

    BalasHapus
  9. bisa kok Jason...pasti bisa men biola lagi. iya kan mbak? *menatap penuh harap*

    arigatou mbk shanty

    BalasHapus
  10. akhirny.....postingin atu lg dunk mb.....pleezzzeeee
    bnran loh mb wajib nambah 1bab lg:)(y)

    BalasHapus
  11. Scene terakhri Jason kayak anak kecil yang tak berdaya wkwkw. Rachel keren main biolanya, emang denger langsung?? Maksudnya penggambaran cewe yang gak mau takluk sama laik-laki manapun yang bikin kereennn...
    Suka penggambaran oas Rachel main biola. Makasih mbak Santhy :)

    BalasHapus
  12. mbak san.. akhirnya ETC diposting.. makasih yak.. tp ada typo tuh..
    "Menurutmu, apakah perempuan bernama Keyna itu adalah kekasih Jason?"
    kan rachel mbak san..
    selamat hr libur.. selamat puasa..

    BalasHapus
  13. AKHIRNYAAAAA *peluk mba san,peluk jason,peluk rachel*


    Mba san,please berikan keajaiban utk tangan jason,jgn biarkan nasip jason berakhir tragis seperti ayahnya T.T

    BalasHapus
  14. Kasian jasonnyaaaa ..... :(

    BalasHapus
  15. amu pasti sembuuuh jasooon.....
    aku yakiiiin.....
    aku bisa merasakan ketakutan n kesdihan yg kw rasakan....
    hikz...hikz...
    #ikut nangis breng jason...

    BalasHapus
  16. Hueeee kasihan Jason_nya mb Santhy ...
    Thanks mb postingannya :)

    BalasHapus
  17. Jason pasti bisa maen biola lagi kok.. bener kan Mbak San ? *mata melotot penuh ancaman*
    miris banget nasib Jason kalau dia harus mengalami hal yang sama kae ayahnya..
    Mbak San jangan jadi sadis ya ama Jason..

    makasih Mbak..
    ditunggu next partnya ya.. ^^

    BalasHapus
  18. mba san ada beberapa yg typo :D , tp gpp aku seneng udah di posting ceritannya thengkyuu , makin penasaran >.<

    BalasHapus
  19. ya ampun berhenti nya pas bgt. mengira ngira rachel akan berbicara apa nanti.huhuhu

    kasihan jason .

    BalasHapus
  20. Jason akhirnya curhat jg sm rachel he he he lanjuttt mba santhy...

    BalasHapus
  21. Jason kasian banget :( akhirnya dia menunjukkan sisi lemahnya di depan Rachel.. semoga dia masih bisa main biola lagi.. :)

    BalasHapus
  22. AHHHHH Mbak san itu penutupannya >.< ini ampe berapa bab mbak??? *sedih mode on*

    BalasHapus
  23. Akhirnya ketemu Jason tapi kenapa dia sedih begitu.... kamu pasti bisa Jasooon....

    We love you ♥

    BalasHapus
  24. hoahhh akhirnya di posting, makasih mbak santhy :*
    Jason, semangat semangat :)
    Aaaa kangen Joshua, seneng dia muncul lagi walaupun bentar..

    BalasHapus
  25. HWAAAAAAAAAAA NGGAK MUNGKIN JASON NGGAK BISA MAIN BIOLA!!!!OMG!!!! :'(

    BalasHapus
  26. aku suka bagian kalau joshua dan kiara pasangan favoret ku, moga kebersamaan Rachel dan Jason nanti membuat hati Rachel jadi berubah cinta ,yakin dehh Jason masih bisa main biola

    BalasHapus
  27. ya ampun jason dah segitu nyatunya ama biola, ketakutan saat ia tak yakin ia masih bisa memainkan biola lagi.. Ayo rachel kasih semangat buat jason

    BalasHapus
  28. laptopnya dah sembuh ya mba, duuh rasanya lama banget gak ketemu sama jason ....akhirnya kesampaian juga rindunya .....makasih mba

    BalasHapus
  29. makasih mbak santhy... buat epilog CIR nya... semoga sisa tujuh bab ETC *kalau gak salah inget* bisa habis sebelum lebaran.... #biar sholat ied gak kepikiran jason... hahhahaa.... ;D

    BalasHapus
  30. Yaa Tuhan hiks semoga Jason masih trus bisa main biola, kasian kalo sampe ga bisa lagi ga tega bacanya T_T

    BalasHapus
  31. jason miip bngt kya kevin di novel mba san "perjanjian hati" :)
    ih...nambah sayang mba san ^^

    BalasHapus
  32. duuh Jason yang pas adegan terakhirnya,memperlihatkan sisi lain Jason yg gapernah Jason perlihatkan ke cewek sebelum2nya.. Disana dia rapuuh bgt.. Biolanya udah kayak belahan jiwanya aja.. :(( kak shan.. Pliis jangan biarkan Jason menderita. :"""""(

    BalasHapus
  33. Yang dibagian akhir, jason kasian banget!!

    BalasHapus
  34. Jasoooonnnn,
    jd pengin ngs...
    hiks hiks hiks,..
    perasaan saia jd mendayu2 pas baca ending nya. Huhuhu...

    mba San, makasih ya, *peluk*

    BalasHapus
  35. Huaaaaaa,,Jasooooooonnnnnnnnn.... Hukz,,hukz,,hukz... *ngelap ingus*
    Rachel,,jgn jht2 sm Jason,,kesian pan... Smg Rachel cpt sk sm Jason,,jgn sm Calvin lg..
    Mksh Mba Santhyy...

    BalasHapus
  36. mba san jasonnya tambah ganteng aja. hihihi

    BalasHapus
  37. huaaa disini juga takut dikau gabisa main lagi><

    BalasHapus