Jumat, 19 Juli 2013

The Vague Temptation Part 10



Alexa menatap jemari Daniel yang terulur, sejenak merasa ragu. Tetapi mungkin benar apa yang dikatakan oleh Daniel tadi, bahwa untuk mengenal seseorang, bisa dicoba dengan berdansa bersama.

Pada akhirnya, Alexa menerima uluran tangan Daniel.

Daniel tersenyum dan menggenggam tangan Alexa, dengan lembut mengajaknya ke tengah ruangan, tepat di bawah kubah yang beratapkan kaca memantulkan langit gelap berbintang yang indah.

Mereka berdiri berhadapan, dan Daniel lalu merangkulkan tangannya di pinggang Alexa, membawa tangan Alexa supaya melingkar di lehernya, tubuh mereka merapat, diiringi oleh suara musik lembut yang sangat pas.

Kaki Daniel bergerak, dan kaki Alexa mengikuti, tubuh mereka seakan diciptakan untuk berdansa bersama, begitu pas. Kepala Daniel berada di atas puncak kepala Alexa, dan lelaki itu tersenyum,

“Aku baru sadar bahwa kau begitu mungil, Alexa.”


Alexa mendongak, langsung bertatapan dengan mata abu-abu yang tampak demikian tajam di bawah bayangan gelap ruangan. Pipinya memerah, dan berharap supaya suasana cukup gelap sehingga tidak kelihatan.

“Mungkin kau yang terlalu tinggi.” Alexa menjawab sekedarnya, membuat Daniel terkekeh,

“Mungkin juga.” Lelaki itu merapatkan pelukannya di pinggang Alexa, membuat tubuh mereka makin merapat, “Sepertinya kita cocok bersama.”

Alexa tidak membantah, hanya diam saja dan menikmati dansa itu, mengikuti kemana tubuh Daniel membawanya. Alexa tidak pernah berdansa sebelumnya apalagi di usianya yang dewasa ini. Daniel adalah dansa pertamanya, tetapi mereka berdua melakukannya seolah-olah sudah bertahun-tahun berdansa bersama...

***

Renata masih tertegun, di bawah tatapan Nathan yang menunggu jawaban, dia menghela napas panjang dan menyandarkan tubuhnya ke kursi,

“Entahlah Nathan.” Tiba-tiba ekspresi wajah Renata yang keras dan angkuh tampak melemah, “Daniel pasti tidak akan suka dengan kehadiranku yang ikut campur.”

Nathan menganggukkan kepalanya, “Tentu saja dia akan tidak suka, saat ini benaknya hanyalah dibutakan oleh keinginan untuk mengalahkanku dan menguasai seluruh warisan kakek kami.. Dia pasti akan membenci kita karena mengganggu seluruh rencananya.” Nathan menatap Renata dalam-dalam seolah-olah ingin menembus ke dalam hatinya, “Tetapi ingat Renata, saat ini kita sedang mencoba menyelamatkannya. Kalau dia menikahi Alexa, sama saja dia mengingkari hati nuraninya demi harta dan kekuasaan.”

Renata menatap Nathan dan mengangkat alisnya, “Kau... bukankah kau juga berada di posisi yang sama dengan Daniel? Kau menutup perasaan dan belas kasihanmu, melakukan segala cara supaya bisa memasuki keluarga itu dan menguasainya bukan? Apa moivasimu sebenarnya, Nathan? Balas dendam?”

“Pengakuan.” Nathan membalas cepat, dengan tatapan mata yakin. “Aku hanya menginginkan pengakuan, Renata. Selama ini keberadaanku sebagai anak haram tidak diakui, pun keberadaan ibuku yang sudah meninggal dalam keadaan terlupakan. Lagipula aku tidak punya kekasih yang kutinggalkan demi untuk mengejar Alexa. Kalau Alexa bersamaku, itu akan lebih adil bagi Alexa... daripada kalau dia memilih Daniel sedangkan hati Daniel ada bersamamu.”

Renata terdiam, seolah-olah berusaha mencerna kata-kata Nathan, “Kalau memang aku setuju untuk membantumu. Bagaimana caranya kau mendekatkanku kepada Alexa dan Daniel?” Daniel sudah tidak pernah menghubunginya lagi sejak meninggalkannya. Hubungan keluarga mereka yang semula baikpun pada akhirnya merenggang.

“Kau adalah seorang pengacara keuangan yang sangat handal. Aku akan  memasukkanmu ke dalam perusahaan, sebagai konsultan hukum.”

Renata mengangkat alisnya sekali lagi, “Itu akan membuat Daniel marah besar. Dan kakeknya mungkin tidak akan setuju kau memasukkanku ke sana.”

“Kakek adalah urusanku.” Nathan tersenyum, “Dia mungkin akan mengangkat alisnya dan menyadari bahwa masuknya kau ke perusahaan adalah salah satu rencanaku untuk menjatuhkan Daniel, tetapi dia tidak akan berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Kakek kami orang yang adil, dia tahu bahwa yang paling ahli strategilah yang akan memenangkan persaingan ini.” Nathan mengulurkan tangannya dan menunggu balasan Renata, “Aku menganggap pertanyaanmu tadi sebagai persetujuan, jadi, apakah kita bisa dikatakan bekerjasama mulai sekarang?”

Renata menatap uluran tangan Nathan, masih mencoba berpikir ulang sebelum menyambut uluran tangan itu.

***

Ketika Nathan turun dari mobilnya di depan mansion itu, dia mendapati rumah itu sepi. Para pelayan biasanya banyak yang berlalu lalang kalau Albert Simon berada di rumah. Sepinya rumah menunjukkan kalau kakeknya itu mungkin sedang berada di luar kota.

Nathan membuka pintu besar mansion itu lang melangkah melalui lobby, hendak menaiki tangga menuju kamarnya, ketika dia mendengarkan suara musik.

Itu suara musik dansa lembut yang mengalir dari bagian belakang mansion, di ujung lobby di bawah tangga.

Siapa yang menyalakan musik dansa malam-malam begini?

Dengan penuh ingin tahu, Nathan melangkah menuju bagian ujung lorong, ke ruangan yang biasanya digunakan Albert Simon untuk menjamu tamu-tamunya di acara pesta dansa resmi yang dulu sering diadakannya.

Nathan berdiri di ambang pintu lengkung besar itu dan tertegun.

Di depannya terhampar pemandangan Daniel dan Alexa, yang sedang berdansa dengan rapatnya, posisi mereka seperti sepasang kekasih yang sedang menikmati alunan musik sambil berpelukan.

Alexa membelakanginya sehingga tidak menyadari kehadiran Nathan. Tetapi Daniel menghadap ke arahnya dan langsung menyadari kehadiran Nathan di ambang pintu.

Daniel melemparkan tatapan mata penuh kemenangan kepada Nathan, dan kemudian seolah sengaja, dia mempererat pelukannya ke tubuh Alexa.

Seketika itu juga Nathan menggertakkan gigi, dipenuhi amarah, karena tahu persis bahwa pada detik ini, Daniel sudah berhasil mengalahkannya.

Dengan langkah geram, Nathan membalikkan badan dan pergi meninggalkan ambang ruangan itu.

***

Musik itu berhenti.

Alexa membuka matanya, tersadar bahwa sedari tadi dia menutup matanya menikmati dansa itu. Dia mengangkat kepalanya dan menatap Daniel yang masih tersenyum.

“Maafkan.” Pipi Alexa bersemu merah, dan tanpa dinyana, Daniel mengulurkan jemarinya, menyentuh pipi Alexa.

“Kenapa kau minta maaf? Aku yang harusnya berterimakasih karena kau mau berdansa denganku.”
Alexa menganggukkan kepalanya, melangkah mundur, dan Daniel tidak menahannya, lelaki itu melepaskan pelukannya.

“Mungkin aku harus kembali ke kamar.” Alexa menatap ke arah langit kaca di atas, tidak ada jam di ruangan ini, mungkin mereka sudah berdansa cukup lama.

Daniel menganggukkan kepalanya, “Selamat beristirahat Alexa, kuharap kau menikmati dansa tadi.”

Alexa menganggukkan kepalanya, “Terimakasih Daniel, aku pergi dulu.” Tiba-tiba perasaan gugup yang dirasakan ketika bersama Daniel, yang tadi sempat menghilang ketika mereka berdansa, muncul lagi. Dia buru-buru membalikkan tubuhnya, menganggukkan kepalanya sekali lagi dengan sopan kepada Daniel, lalu melangkah pergi.

Sepeninggal Alexa, Daniel melangkah ke rak bar di ujung ruangan, menuang minuman untuk dirinya sendiri, dan kemudian membanting tubuhnya di sofa dengan gelas di tangannya.

Dia mendongakkan kepalanya yang bersandar di sandaran sofa, lalu menempelkan gelas berisi minuman dingin itu ke dahinya.

Perempuan mungil itu membuatnya bergairah. Saking bergairahnya hingga Daniel harus menahan Alexa agar tidak terlalu merapat kepadanya.

Daniel sudah lama tidak bersama perempuan, sejak memutuskan untuk memenangkan persaingan ini dengan Nathan, Daniel meninggalkan semua perempuan di belakangnya dan berkomitmen dengan apa yang pernah dikatakannya, bahwa dia akan mengejar Alexa dengan kekuatan penuh.

Semula Daniel mengira ini semua akan mudah, Alexa sepertinya adalah perempuan yang lemah dan gampang ditaklukkan. Tetapi ternyata mengejar Alexa lebih sulit daripada mengejar wanita manapun di masa lalunya.

Biasaya Daniel bisa membaca perempuan, dia akan tahu apakah perempuan itu tertarik kepadanya, baik dari tatapan matanya maupun dari gerak-geriknya. Daniel sangat ahli mengenai perempuan, dan setahunya, hampir semua perempuan yang dikejarnya membalas perasaannya.

Tetapi Alexa berbeda, entah karena perempuan itu terlalu polos, atau memang Alexa sama sekali tidak tertarik kepadanya.... Daniel tidak bisa membaca Alexa. Dia tidak tahu apakah rayuannya berhasil atau tidak, dia tidak tahu apakah ada setitik ketertarikan Alexa kepadanya, yang bisa dibacanya hanyalah sikap gugup dan tidak nyaman kalau dia mendekati Alexa.

Alexa mungkin takut kepadanya akibat perkenalan kasarnya di bar waktu itu... karena itulah Daniel berusaha memperbaiki semuanya dengan bersikap lembut, berharap Alexa tidak takut kepadanya lagi.

Seorang perempuan yang takut kepadanya tidak akan mudah jatuh cinta kepadanya bukan?

Daniel mengernyit. Dan sekarang dia malahan merasa bergariah kepada Alexa, tubuh mungil perempuan itu, yang merapat ke tubuhnya, membuat dirinya bergejolak, sebuah perasaan yang tidak pernah dirasakannya kepada perempuan manapun... bahkan kepada Renata kekasihnya yang terakhir.

Mengingat Renata membuat Daniel merasa bersalah. Dia telah meninggalkan Renata begitu saja setelah memberinya sejuta harapan. Tetapi itu mungkin yang terbaik bagi Renata, dan bagi dirinya.....Seandainya saja Daniel bisa menjelaskannya kepada Renata, pasti akan dia lakukan, selain karena Alexa, Daniel punya alasan sendiri kenapa dia meninggalkan Renata, alasan itu tidak mungkin diungkapkannya kepada Renata karena akan lebih menyakiti perempuan itu. Biarlah Renata berada dalam kondisi yang sekarang, membencinya karena menjadi lelaki yang tidak bertanggung jawab.

Daniel tidak merasa bergairah kepada Renata. Renata adalah perempuan intelek, sangat pandai dan berasal dari keluarga kelas atas yang bersahabat dengan keluarganya, karena itulah ketika mamanya menyuruhnya mendekati Renata dan meninggalkan sikap playboynya di masa lalu yang suka mengencani perempuan-perempuan yang tidak berkelas, Daniel melakukannya tanpa pikir panjang. 

Bersama Renata memang menyenangkan, mereka bisa mengobrol dan berdiskusi dalam waktu panjang, menghabiskan waktu bersama tanpa terasa, dan menikmati hubungan mereka yang tanpa terasa berjalan begitu lama. Ketika Renata mengisyaratkan menginginkan hubungan yang lebih serius, Daniel tidak keberatan.... tetapi kemudian dia menyadari bahwa dia tidak pernah memandang Renata sebagai kekasih, dia mungkin menganggap Renata sebagai partner, sahabat, teman diskusi yang menyenangkan, tetapi bukan sebagai kekasih... Karena Daniel sama sekali tidak merasakan gairah sebagai seorang lelaki kepada perempuannya kepada Renata. 

Dia bahkan tidak mampu membayangkan berada di tempat tidur bersama Renata, kalau sudah begitu akan seperti apa hubungan mereka nanti sebagai suami isteri?

Daniel menggelengkan kepalanya, berusaha menepiskan pikirannya tentang Renata. Dia tidak akan bisa maju kalau terus menerus dibebani oleh rasa bersalah di masa lalu. Renata memang perempuan baik, yang terbaik dari semua mantan kekasihnya, karena itulah ada rasa bersalah yang pekat ketika dia harus menyakiti Renata, meskipun sebenarnya keputusan ini adalah keputusan yang terbaik bagi Renata dan dirinya.

Tetapi sekarang dia harus melupakan Renata, dan fokus kepada Alexa. Nathan melihat mereka berdua berdansa tadi, dan dia melihat kegeraman yang nyata di mata Nathan karena sudah kalah satu langkah dari Daniel, tidak tahu apa yang akan direncanakan Nathan nanti untuk mengejar ketertinggalannya. Yang pasti Daniel harus waspada.

Tiba-tiba saja Daniel mengingat Alexa, dan kemudian menelaah gairahnya sendiri kepada perempuan itu.

Yah. Kalau memang ternyata gairahnya sebesar ini kepada tunangannya itu, hal itu akan menghilangkan kekhawatirannya akan pernikahannya nanti dengan Alexa.

Kalau mereka bisa begitu cocok dalam berdansa, bisa dipastikan mereka akan sangat cocok di tempat tidur.


***
Nathan menggenggam rokok di tangannya dan meremasnya dengan geram. Dia selalu merokok ketika tidak bisa menahan emosinya, menenangkan dirinya dengan menghisap asap rokok sambil menghitung sampai sepuluh. Tetapi rokok itu hancur di tangannya, menjadi serpihan menyedihkan beraroma tembakau dan mint.

Nathan membuang serpihan rokok itu ke lantai dan menyalakan sebatang lagi, jemarinya masih bergetar ketika menyulut api dari pemantiknya ke batang rokok di bibirnya. Ketika rokok itu berhasil menyala, Nathan menghisap dan menghembuskan napasnya. Berhasil menarik napas dan menenangkan dirinya setelah hisapan ketiga.

Dia menyandarkan tubuhnya dalam kegelapan kamarnya. Telinganya menajam ketika mendengar suara pintu kamar di sebelahnya di buka.

Alexa sudah masuk ke kamar rupanya dia tidak berlama-lama berdansa dengan Daniel...

Bayangan Daniel yang sudah berhasil mengajak Alexa berdansa bersama dengan begitu intim membuatnya marah luar biasa. Daniel selalu mengalahkannya, lelaki itu selalu merenggut apa yang seharusnya menjadi milik Nathan.

Masih diingatnya memori tahun berlalu, ketika Nathan berusia belasan tahun dan berusaha melacak siapakah ayahnya. Dari seluruh informasi yang dikumpulkannya, pada akhirnya dia berhasil menemukan alamat rumah lelaki yang diyakininya sebagai ayah kandungnya, seorang pria asing yang dulu dekat dengan ibunya, dan kemudian menghilang beberapa saat sebelum ibunya mengandung dirinya.

Hari itu hujan turun dengan derasnya, dan Nathan berdiri di seberang jalan, membawa payung besar, dan berdiri tak kentara di bawah pohon, mengamati rumah besar dan megah milik ayah kandungnya.

Dia hanya ingin melihat ayah kandungnya, hanya ingin tahu seperti apa rupanya. Nathan berusaha meyakinkan dirinya untuk menahan diri dan tidak langsung menemui ayahnya. Dia masih harus memastikan apakah ayahnya akan menerimanya ataukah akan menolaknya mentah-mentah.

Lalu sebuah mobil hitam yang besar datang memasuki pekarangan rumah itu. Nathan menajamkan matanya, dan kemudian dari pintu belakang, sosok laki-laki asing keluar dari sana.

Melihat parasnya, seketika itu juga Nathan tahu bahwa laki-laki itu adalah ayah kandungnya, karena dia bagikan melihat sosok dirinya sendiri ketika sudah menua di cermin, semua yang ada di lelaki itu, ikal rambutnya, mata cokelatnya, bentuk wajahnya, semuanya sama seperti yang diwariskannya kepada Nathan.
Dengan penuh semangat, melupakan tekadnya untuk hanya melihat dari kejauhan, Nathan mendekat, ingin lebih nyata melihat ayah kandungnya.

Tetapi ketika dia sudah berada di belakang mobil itu, sosok yang lain keluar dari dalam mobil, sosok seorang perempuan yang sangat cantik dengan pakaian mahal, dan sosok anak lelaki remaja sebaya dirinya.

Anak lelaki itu berpakaian mahal tentu saja sangat bertolak belakang dengan Nathan yang berpakaian sederhana dan usang hasil dari cucian berkali-kali dan terlalu sering karena dia tidak punya banyak pakaian. Dan Nathan langsung menyadari bahwa yang ada di depannya ini adalah keluarga ayahnya. Ayahnya ternyata memiliki keluarga sendiri. Sebuah keluarga sempurna dengan isteri cantik dan anak yang tampan.

Anak lelaki itu menatap Nathan dan mengangkat alisnya, menatap Nathan yang terpaku ke arahnya,

“Siapa kau?” gumam anak lelaki yang mungkin adalah saudara tirinya itu. Suaranya terdengar sombong, mungkin karena dia terbiasa menjadi anak lelaki kaya.

Nathan bergeming bingung harus menjawab apa, dan kemudian isteri ayah kandungnya menyentuh bahu anak lelaki itu,

“Sudahlah Daniel, mungkin dia hanyalah orang yang meminta-minta, berikan saja uang kepadanya dan dia akan pergi. Ayo masuk, hujannya semakin deras saja, nanti kau basah.”

Isteri ayah kandungnya lalu mengamit lengan ayah kandungnya yang sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Nathan ingin berteriak, memanggil ayah kandungnya tetapi suaranya tercekat, hingga kemudian, anak lelaki berpakaian mahal itu melemparkan uang ke arahnya, jatuh ke tanah, tepat di antara kedua kakinya. Dan kemudian anak lelaki itu membalikkan tubuhnya, meninggalkan Nathan yang masih terpaku di sana.

Nathan masih ingat, dia membungkuk dan mengambil uang itu, lalu menggenggamnya ke dalam tangannya. Uang itu adalah lambang penghinaan anak lelaki yang kemudian diketahuinya bernama Daniel kepadanya, lambang penghinaan dari perempuan itu yang ternyata adalah isteri sah ayahnya.

Seharusnya Nathan bisa menjadi anak dari ayahnya, merasakan kasih sayangnya, diakui sebagai keluarga, seharusnya ibunya bisa menjadi isteri yang diakui, bukannya menderita hidup sebagai seorang buruh, membanting tulang mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus hanya agar dia dan Nathan bisa makan.

Kematian ibunya yang mengenaskan dalam kemiskinan dan penderitaan tidak akan pernah dilupakannya. Ibunya meninggal dalam penderitaan, padahal ayahnya begitu kaya. Tekad Nathan untuk membalas dendam semakin besar sejak kejadian di hari itu.

Dia bahkan masih menyimpan uang dari Daniel di kala itu, uang itu selalu menjadi pengobar dendamnya, di saat-saat Nathan memilih untuk menyerah.

Ketika Nathan kuliah mati-matian dan sekaligus bekerja untuk membiayai kuliahnya, Nathan sempat ingin menyerah saja. Tetapi dia menatap uang yang selalu disimpannya di kotak kecil dari perak miliknya, mengingat kembali rasa terhina yang menjalari tubuhnya ketika Daniel melemparkan uang itu kepadanya, menganggapnya sebagai gembel peminta-minta. Semua kebencian langsung menyeruak di sana, menjadi bahan bakarnya untuk bertahan.

Hingga di sinilah dia sekarang, siap membalas dendam dan menuntut balas.

Nathan membunuh rokoknya di asbak, dan kemudian menatap kelamnya malam dari jendela kaca yang terbuka ke arah balkonnya.

Dia tidak akan kalah dari Daniel. Lelaki itu dan mamanya sudah merebut ayah kandungnya, merebut kehidupan Nathan sebagai anak yang seharusnya bisa diakui, dan merebut apa yang seharusnya berhak menjadi milik ibunya....... dan Nathan tidak akan membiarkannya memenangkan persaingan ini dan merebut Alexa...


Bersambung ke Part 11


42 komentar:

  1. makin seru..makin seru...lanjut mbak santhy
    smoga lappynya gk da masalah lagi..

    BalasHapus
  2. ya ampun,
    ga bisa komen apa2 -,- tambah penasaran..
    mbak santhy lanjutnya jgn lama - lama ya hehehehe

    BalasHapus
  3. kasian jg kisah bang nathan,aku jd iba .
    Kalo nathan gk berjodoh ma alexa,sini merapat kepangkuanku aja.Dengan senang hati aku akan menerima,hehe.

    Makasih mbak san buat postingannya,
    ganbate ia,dan mga puasanya lancar.
    Salam buat om irawan,:)

    BalasHapus
  4. Makin penasaran nih......
    Buat kak shanty , makasih udh di posting lg........
    Moga segala urusan kak shanty slalu lancar......

    BalasHapus
  5. makin seru,,,daniel mulai ada rasa sama alexa tu......

    makasi udah posting mba san,d tunggu ke lanjutannya,, (^_^)

    BalasHapus
  6. jd aku kasian liat nathan menderita bgt kl dia nggak dapet alexa sini buatku aja wkwkwkwk tp msh pilih daniel deh

    BalasHapus
  7. huaaaa ngerii ni nathan..keknya bls dendamny bakalan sadis huhuhu
    ayo danieeelll semangattt^^
    kejutan nii dr mba san dkasih tvt part 10..hihihi makasi mbaaa :))

    BalasHapus
  8. wow wow wow , kayaknya daniel mulai mulai nih, semakin seru .

    kok aku jadi mikir kalo daniel sama alexa nathan sama renata yah
    .hihi

    BalasHapus
  9. Mba..... Nathan sama Renata az dech...biar g' gangguin Daniel ma Alexa... Ya mba... Ya mba... Ya mba...... Pliiiiiiiiiisssss!!!!!

    BalasHapus
  10. Salam kenal mbak, aku penggemar barunya mbak,, ceritanya bagus2 banget mbak, lanjutnya jangan lama-lama ya mbak ntar aku mati penasaran hehehe..
    tapi makasi udah bikin cerita yang bagus2, :)

    BalasHapus
  11. Fiuuuhh الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ akhirnya baik jg laptopnya, udh kangen am smua critanya(tiap hari cek)xxiixixii
    Semakin menengangkn aj nih :D
    º°˚˚°º♏:)Ą:)K:)Ä:)§:)Ǐ:)♓º°˚˚°ºea mba san

    BalasHapus
  12. Please 1 bab lagi dunk Mba San, tanggung banget...
    Makin seru ceritana....
    ( ´ ▽ ` ) mαkαcíhhhh..... Mba San *Cup*

    BalasHapus
  13. "Kalau mereka bisa begitu cocok dalam berdansa, bisa dipastikan mereka akan sangat cocok di tempat tidur."

    aduh..daniel-daniel yg dipikirin malah t4 tidur. pernikahan kan bukan cuma urusan t4 tidur. tp tanpa t4 tidur pernikahan akan terasa hambar..hehe....

    BalasHapus
  14. OMG mba Santhy akhirnya update jg niih si Daniel akuh
    *plak
    u.u ga bisa komen deeh cerita2nya yg mba Santhy buat always bikin aku penasaran kelanjutannya

    BalasHapus
  15. thx mba saannn,mba san posting jason dan rachel juga dong xD

    BalasHapus
  16. Makin seru aj nih..:D
    Mkasih mbak Santhy..:D
    Smoga puasany sllu lncar..o:):D

    BalasHapus
  17. aduh si daniel kayanya udah mulai ada feeling nih ke alexa
    dia aja bergairah kl deket alexa pake mikir ke ranjang2 lagi hahaha
    hmm kasian sih sama nathan yg sempet dihina sama daniel n ibunya tp dia terlalu dipenuhi sama balas dendam nih
    kayanya balas dendamnya bakal ngeri deh
    ga sabar nunggu part selanjutnya

    BalasHapus
  18. Teteeeehhhhh...aq kangeeeennnnn...#pelukygkenceng

    eiiyyy....daniel pkiranyksitu mulu..

    Nathan...jahaaattttt

    BalasHapus
  19. im sure.. daniel is the winner..

    BalasHapus
  20. GO DANIEL GO DANIEL.......♥♥♥

    BalasHapus
  21. POKOKNYA DANIEL HARUS MENANG!!!!! Go Daniel go Daniel!!

    BalasHapus
  22. harus kuat, jangan goyah....
    aku masih tetep sama daniel... ayo daniel... keluarkan juga kartu as mu... pasti punya kan... aku dah gk sabr nunggu..

    mbak san... arigato banget#bahasa apaan ni?
    trims mbak san.

    BalasHapus
  23. terima kasih mbak santhy.. ^_^

    BalasHapus
  24. kn udah ketebak nih klo daniel mulai suka sm alexa, nah..klo nathan, suka juga engga sm alexa mba san?? :o

    BalasHapus
  25. Wuaa makasih mb san postingannya :-)
    Ayoo Daniel tetep semangat dapetin alexa ihihi ♡♥|

    BalasHapus
  26. wooo tambah seru nih. Go Daniel!!!

    BalasHapus
  27. mbk tvt yg post ulang ku cb buka msh gak bs loh,gak tau y kalo pke laptop.soalnya aq lwt hp aja.



    aq slalu dukung Daniel sjk bc prolognya. thanks mbk saaannn....aq merindukanmu:D

    BalasHapus
  28. akhirnyaaaaaa, mbak Santhy posting lg..
    big hug buat mbak San..\(~o~)/

    Jga keshatan spya gak kmbuh lg tipesnya,ya Mbak.. :)

    BalasHapus
  29. Makin seru aja dch . . .
    Mbk san, mkch yua dh posting ^_*

    Daniel cemungum,qiqiqi

    BalasHapus
  30. Semenderita apapun Nathan, saya kok tetap di Team Daniel yak ? :D
    hahahahaha
    lanjut mbak Shan :D
    Ditunggu ETC nya :)

    BalasHapus
  31. yah memang.. Gak mungkin ada asap kalau tak ada api...! Dendam itu mengerikan... Dan itu terjadi pada nathan.. Kehidupan di masa lalu telah menumbuhkan rasa dendam yang kuat.. Dan cerobohnya daniel dengan sikap angkuhnya memperlakukan orang seperti itu.. #manusiawi.. Kebanyakan kita temukan kejadian seperti ini..
    Aduh.. Bingung mau koment apalagi..! Thanks mbk san

    BalasHapus
  32. mb san yg no9 kok tetep gk bs dibuka ya?:(....posting lg ya mb...

    BalasHapus
  33. mb san yg no9 kok tetep gk bs dibuka ya?:(....posting lg ya mb...

    BalasHapus
  34. Yeayyyyyyy daniel mulai bener2 ada rasa sama alexa tapi rasanya ke..... Wkwkwk gpp lah nanti juga tumbuh cinta:b tetep dukung daniel!! Nathan jahat (˘˘̯) alexa udahhhh pilih daniel, jgn nathan dia jahat, depannya doang baik taunya ada udang dibalik batu:O

    BalasHapus
  35. Uhh Daniel jadi suka beneran nih ya sama Alexa hihi semoga nanti Daniel bisa bales rencananya Nathan deh..

    BalasHapus
  36. akhirnya posting juga kirain sakit,,,,,,
    luph you mba santi

    BalasHapus
  37. Alexa pilih Daniel aja ....
    Thanks mb Santhy postingannya :)

    BalasHapus
  38. sukaakk sama kalimat daniel ini mbak : Kalau mereka bisa begitu cocok dalam berdansa, bisa dipastikan mereka akan sangat cocok di tempat tidur.
    wkwkwkwkw.... ;D semangat mbaaak Santhy....

    BalasHapus
  39. mba santhy kasian aku sama nathan :'( tp daniel juga kasian :(
    mba 22nya aja ya jadi suami alexa jd poliandri gittu .___.VVVV

    BalasHapus
  40. pokoknya nathan......
    go nathan go.....
    lebih suka nathan..
    pkoknya nathan musti ma alexa....

    BalasHapus
  41. if Twilight have Team Edward Vs team Jacob.
    so, in here have too.
    Team Daniel Vs Team Nathan.
    whater u choice??

    Always team Daniel.

    BalasHapus