Minggu, 21 Juli 2013

Postingan Ulang ketiga kalinya : The Vague Temptation Part 9

PS : Diposting ulang untuk ketiga kalinya karena masih ada beberapa yang tidak bisa membuka file ini. Seluruh gambar visualisasi dihapus karena dugaan yang bikin ga bisa dibuka adalah kapasitas gambarnya yang terlalu besar :D

PS  : Banyak sekali pesan yang masuk karena readers kebanyakan ga bisa buka postingan TVT part 9 kemarin, jadi diposting ulang di sini ya. 
Mungkin dikarenakan waktu itu pas aku posting TVT beberaapa menit kemudian ada blok otomatis dari google dikarenakan ada prediksi hacker yg mencoba masuk ke blog-ku. Mungkin terpengaruh kali ya ( ga ngerti hihihihi)
Tadi sudah aku utak-atik, tapi nggak nemu permasalahannya, jadi sebagai jalan keluarnya, aku postingkan ulang ya untuk The Vague Temptation Part 9 nya. Semoga yang ini bisa dibuka yaa.





Wajah Alexa merah padam mendengar kalimat yang diungkapkan dengan tanpa basa-basi itu.

Astaga, membayangkan lelaki sedingin ini mengejarnya dengan kekuatan penuh terasa menakutkan untuknya..... dan kemudian secara reflek Alexa langsung mundur satu langkah menjauh dari Daniel.

Daniel sendiri tersenyum melihat reaksi Alexa, lelaki itu sedikit memiringkan kepalanya, menatap Alexa dengan tajam,

"Takut padaku, eh?"


Alexa hanya menelan ludahnya, tidak berani menjawab, suaranya seakan hilang tak berbekas.

Dan kemudian, tanpa diduga, Daniel melangkah maju, membuat Alexa membeku tak sempat menjauh. Lelaki itu berdiri tepat di depan Alexa, begitu tinggi membuat Alexa harus mendongakkan kepalanya untuk menatap ekspresi Daniel yang dingin dan tak terbaca.  Lalu Daniel mengulurkan jemarinya yang ramping ke arah wajah Alexa....

Kembali secara refleks, Alexa memejamkan matanya sambil mengernyitkan kening, takut akan apa yang akan dilakukan Daniel kepadanya.

Tak diduganya, Daniel hanya menyentuhkan ujung jemarinya ke pipi Alexa dengan sentuhan lembut seringan bulu.

"Jangan pernah berpikir untuk mempertimbangkan Nathan sebagai pilihanmu." suaranya berbisik, penuh ancaman tetapi diucapkan secara tersirat. Lalu lelaki itu melangkah melewati Alexa yang masih membeku dan tak berani bergerak oleh sentuhan Daniel.

Sampai langkah-langkah Daniel menghilang dari ujung lorong, barulah Alexa berani menoleh, menatap ke arah lorong yang kini kosong.

Jemarinya menangkup pipinya sendiri, bekas sentuhan Daniel, dan entah kenapa, pipinya terasa amat panas.

*** 

Nathan mengamati kejadian itu dari jendela kaca tersembunyi di ruangan tempatnya berdiri, ruang kepala bagian personalia. Kebetulan sekali dia sedang berdiri di sini untuk menunggu sang kepala personalia yang notabene adalah orang kepercayaannya. Ruangan ini memiliki jendela satu sisi yang besar dan tembus ke luar dari dalam, tetapi orang dari luar tidak bisa melihat ke dalam. Dia tadi melihat Daniel menunggu di depan lift dan melihat Alexa datang, kemudian Nathan memutuskan untuk melihat apa yang akan terjadi.

Daniel seperti biasa, selain memanfaatkan uangnya, lelaki itu memanfaatkan pesona dinginnya yang kasar untuk merayu perempuan.

Ah ya, Daniel seorang playboy sebelum keputusan pertunangan ini diumumkan. Lelaki itu memiliki beberapa kekasih yang dicampakkan sesuka hati, kebanyakan perempuan-perempuan cantik yang berasal dari kalangan atas, berasal dari keluarga kaya yang sederajat dengan keluarga Simon.

Hanya setelah masalah persaingan pertunangan ini, Daniel sepertinya meninggalkan pacar-pacarnya dan memilih berdiam dirumah Albert Simon. Lelaki itu benar-benar serius ingin memenangkan Alexa, dan meninggalkan kehidupan glamornya yang penuh dihiasi dengan wanita-wanita cantik.

Daniel berbeda dengan Nathan, Nathan tidak bisa bersikap dingin, tetapi meskipun begitu dia cukup terkenal di kalangan lawan-lawan bisnisnya dan cukup ditakuti, karena kadang di balik senyuman manisnya, dia bisa mengambil keputusan strategis perusahaan dengan kejam. Dan juga Nathan terlalu sibuk membangun bisnisnya sehingga tidak sempat bermain-main dengan wanita. Hanya demi Alexa, Nathan berusaha ekstra memberikan sejuta pesonanya untuk membuat Alexa takluk.kepadanya

Kalau Daniel serupa harimau yang tampak garang di luarnya dan menggertak dari luar, Nathan lebih mirip burung elang yang cantik tetapi diam-diam mengintai untuk membunuh. 

Hanya saja tidak diduganya Daniel benar-benar berusaha mengalahkannya. Nathan sendiri terkejut ketika Albert Simon tadi pagi memanggilnya dan mengatakan bahwa Daniel akan memimpin perusahaan ini bersamanya. Padahal kemarin dia sudah maju satu langkah ketika Albert Simon memilihnya menjadi presiden direktur perusahaan ini, cabang perusahaan yang diincarnya karena Alexa berkerja di dalamnya. Tetapi sepertinya semalam Daniel berhasil membujuk Albert Simon, dengan alasan dia menginginkan atas waktu yang sama yang bisa dihabiskannya bersama Alexa, seperti halnya Nathan ketika bekerja.

Nathan mengernyit penuh kemarahan, tidak puaskah Daniel menjadi presiden direktur di perusahaan-perusahaan lain milik Albert Simon sehingga sekarang masih mengganggu posisinya di perusahaan ini?

Mata Nathan menajam melihat Alexa masih terpaku dengan jemari memegang pipinya yang bekas sentuhan Daniel.

Gawat.  

Daniel sepertinya sudah berhasil menanamkan pesonanya di balik sikap dingin dan kasarnya. Lelaki-lelaki seperti itu memang menarik bagi perempuan....

Dan Nathan harus berbuat sesuatu sebelum dia dikalahkan dengan mudah. Nathan tidak boleh kalah, dan untunglah, untuk saat-saat seperti ini dia memiliki kartu truf bagus yang bisa membawanya ke dalam kemenangan.

Dia mengeluarkan amplop dari saku jasnya, hasil penyelidikannya dari detektif swasta atas Daniel, terutama di kisah asmaranya. Ada informasi terpenting di sana, mengenai kekasih Daniel yang terakhir, seorang perempuan dari kalangan atas, sempurna di segala hal dan sekarang merintis kariernya di bidang hukum. Perempuan itu adalah kekasih Daniel yang paling serius dan paling lama. Bahkan bulan-bulan terakhir ini santer berhembuskabar  bahwa Daniel akan segera menikahi kekasihnya itu.

Tapi kemudian, hubungan mereka kandas tanpa sebab, gosip mengenai penyebab putusnya hubungan mereka itu beredar dalam berbagai versi tetapi tidak ada yang tahu asal muasalnya. Yang jelas, Daniel-lah yang meninggalkan kekasihnya itu tiba-tiba.

Ya.... sebuah senyum tipis muncul di bibir Nathan. Mungkin kebanyakan orang tidak tahu apa alasannya Daniel meninggalkan kekasihnya, tetapi Nathan tahu bahwa Daniel melakukannya demi mendapatkan Alexa.

Nathan bisa memanfaatkan kekasih yang patah hati itu demi mencapai tujuannya. Biasanya wanita-wanita yang patah hati lebih penuh dendam dan mudah dimanipulasi.

Kemudian dia menekan nomor kontak mantan kekasih Daniel itu.

*** 

Malam sudah beranjak semakin gelap ketika Alexa pulang ke mansion dengan memakai kendaraan umum. Albert Simon memang menyiapkan supir untuknya tetapi tentu saja Alexa tidak bisa menggunakannya bukan? Bisa-bisa gosip akan tersebar luas kalau salah satu karyawan rekan kerjanya melihatnya turun dari salah satu mobil besar milik Albert Simon.

Lagipula dia sudah terbiasa naik kendaraan umum, dan bahkan mansion ini lebih dekat ke kantornya daripada rumah mungilnya yang dulu, sehingga perjalanan yang ditempuh oleh Alexa lebih pendek dan mengurangi kelelahannya.

Dia melangkahkan kaki pelan-pelan memasuki tangga mansion yang megah itu, semuanya dari lantai tangga sampai pilar-pilarnya, dibuat dari marmer berwarna putih yang licin dan berkilauan. Alexa masih merasa tidak nyaman pulang ke rumah ini... rumah ini meskipun besar dan indah terasa asing dan memantulkan kesepian yang dalam.

Dia membuka pintu dan mendapati lobby mansion yang sepi.

Sepertinya Nathan dan Daniel belum pulang. Suasana tampak lengang, hanya beberapa pelayan yang lalu lalang sambil mengangguk menyapanya ketika melihat Alexa.

Mungkin Albert Simon juga sedang tidak ada di rumah....

Lambat-lambat telinga Alexa mendengarkan suara piano yang dimainkan dengan indahnya. 

Siapa yang bermain piano? Apakah Albert Simon?

Dengan ingin tahu, Alexa menelusuri lorong di bawah tangga, menuju ke sebuah ruangan besar berdinding kaca yang memantulkan pemandangan malam dan juga berkubah kaca bening di bagian atas, sehingga langit malam yang berbintang tampak bagaikan lukisan alami yang menghiasi ruangan.

Lampu ruangan dinyalakan redup, dan ternyata yang sedang memainkan piano bukanlah Albert Simon, melainkan.... Daniel.

Ya. Daniel-lah yang memainkan piano dengan indahnya, lelaki itu duduk tegak dengan postur tubuh yang begitu bagus. Jemari rampingnya menekan tuts-tuts piano dan ekspresinya tampak lembut dan sedih ketika memainkan setiap nadanya.

Alexa tidak mengenali lagu apa yang dimainkan oleh Daniel, tetapi yang dia tahu, lagu itu sarat akan kepedihan, dan tiba-tiba saja membuat matanya panas dan dadanya terasa sesak. Astaga, tidak disangkanya, di balik sikap dingin dan kasarnya, Daniel mampu memainkan nada sedih ini dengan indahnya, dengan lembut dan penuh perasaan.....

Alexa menghela napas untuk meredakan kesesakan dadanya, dan ternyata hal itu membuat Daniel menoleh dan menghentikan permainannya. Langsung menatap Alexa dengan mata abu-abunya yang tajam, membuat Alexa berdiri di sana dengan gugup dan salah tingkah.

"Maafkan aku..." suara Alexa tercekat, "Aku mendengar suara piano dan..."

Daniel mengangkat alisnya, "Tidak apa-apa." Selanya cepat, "Kau baru pulang kerja?"

"Ya." Alexa menoleh ke belakang, merasa ingin melarikan diri, "Permisi, sekali lagi maaf karena aku mengganggu."

"Tunggu, jangan pergi dulu. Masuklah kemari, Alexa, aku ingin bicara." Daniel menyela sekali lagi, kali ini nada suaranya tegas dan tak terbantahkan, membuat langkah Alexa yang sudah hendak terbalik menjadi terpaku.

*** 

Nathan menyerahkan kunci mobilnya kepada petugas valet parkir di lobby hotel dan restoran mewah itu. Dia tersenyum mantap penuh antisipasi ketika memasuki area restoran. Petugas reservasi tentu saja sudah mengenalnya dan langsung mengantarkannya menuju tempat duduknya.

Nathan lalu duduk dan menunggu. Kartu trufnya akan segera datang....

Dan memang benar Nathan tidak perlu menunggu lama. Seorang perempuan cantik, dengan penampilan tegas dan kuat -berbeda dengan perempuan yang merupakan anak orang kaya lainnya yang dikenal Nathan- memasuki ruangan. Perempuan itu mengenakan setelan hitam yang membungkus tubuhnya dengan seksi tampak pas membalut tubuh rampingnya yang berlekuk sempurna di tempat-tempat yang memang seharusnya berlekuk. Kakinya panjang dan tinggi seperti model, peenampilannya berkelas dengan wajah mungil tegas yang berkarakter. Keseluruhan penampilannya memunulkan citra perempuan kelas atas.

Perempuan itu langsung mendatangi Nathan dengan tatapan lurus yang mengintimidasi. Hanya terdiam hingga membuat Nathan pada akhirnya menyapa duluan, 

"Senang sekali akhirnya kau mau menemuiku." Nathan menyapa, memasang senyum ramahnya.

"Tidak usah memakai basa-basi." Perempuan itu menyela, tidak mempedulikan senyum ramah Nathan, bahkan dia masih berdiri dengan menantang di depan Nathan. "Apa rencanamu sehingga repot-repot mengatur pertemuan ini?." Ya, Perempuan di depannya ini tentu saja sudah mendengar gosip yang beredar tentang Nathan, cucu keluarga Simon yang memasuki keluarga Simon dan menimbulkan kehebohan di sana.

Nathan mengangkat alisnya. Perempuan ini ternyata tidak bisa diremehkan. Mungkin karena karirnya di bidang hukum membentuknya menjadi perempuan yang kuat. Pantas saja Daniel betah berpacaran lama dengannya dan berniat menikahinya. Perempuan yang ada di depannya ini sudah jelas-jelas memiliki kualitas lebih, dan tidak lembek membosankan sehingga mudah disetir lelaki.

Nathan harus mengubah strateginya dalam menghadapi perempuan ini. Dia tidak akan bersikap dominan, tetapi bersikap bersahabat dan bertindak lebih seperti rekan serta membuat perempuan ini merasa dihargai.

"Duduklah dulu Renata." Nathan mengedikkan dagunya ke arah bangku di depannya, "Mungkin kita bisa membicarakan ini dengan lebih baik." 

Renata mengerutkan keningnya, menatap Nathan dengan waspada. Tetapi kemudian dia menyadari kebenaran kata-kata Nathan dan duduk di depan lelaki itu.

"Well? Mulailah menjelaskan." tanyanya cepat, menunggu Nathan berbicara.

*** 

"Berbicara tentang apa?" Pada akhirnya Daniel berhasil menghela Alexa supaya duduk di sofa di seberangnya. Alexa memang menuruti Daniel, tetapi sekarang dia duduk kaku di ujung sofa, kedua tangannya teremas di pangkuannya, dan dia menatap Daniel dengan gugup.

Berdua dengan Daniel memang menegangkan. Tetapi berdua dengan Daniel di ruangan yang berhiaskan lagit malam berbintang dan hanya berdua saja tentu terasa lebih menangangkan.

Daniel sendiri tampaknya tidak mempedulikan kegugupan Alexa, lelaki itu menuangkan sepoci teh yang ternyata sudah di sediakan di meja didepan mereka, dan menyodorkan cangkirnya kepada Alexa yang duduk di seberangnya.

"Minumlah, kau pasti lelah setelah perjalananmu." gumam Daniel tegas hingga mau tak mau Alexa menerima cangkir itu dan menyesap teh yang harum itu.

Daniel mengamati Alexa hingga Alexa meletakkan cangkirnya. "Kau naik kendaraan umum?" Daniel tidak menunggu sampai Alexa menjawab, "Kenapa kau tidak memanfaatkan kendaraan yang disediakan kakek untukmu?"

"Kau tahu kenapa." Alexa cepat-cepat menjawab, berharap Daniel menyadari bahwa dia ingin merahasiakan seluruh hubungannya dengan keluarga Albert Simon ketika mereka sedang berada di tempat kerja.

Daniel menghela napas, "Yah, aku tahu. Kakek memanggilku dan mengatakan bahwa selama tiga bulan ini lebih baik tidak ada yang tahu tentang seluruh rencana kita." Mata Daniel mengernyit, "Setidaknya kali ini aku bisa setuju dengan kakek. Gosip yang menyebar bisa menghancurkan orang-orang. Kau tahu seperti gosip kedatangan Nathan yang menyebar sedemikian cepat di kalangan keluarga, teman-teman dan kolega kami, membuat mamaku dan aku harus berjalan sambil membungkukkan tubuh dan berusaha menutupi wajah, menahankan rasa malu."

Alexa bisa melihat kesakitan di sana, kesakitan dan kepedihan yang sinis. Sepertinya di balik sikap keras lelaki itu, Daniel memendam luka emosional yang dalam.

Alexa mengamati ketika Daniel menuang teh untuk dirinya sendiri dan menyesapnya dengan elegan. Seorang pria tampan yang menuang teh dari poci bercorak bunga kemudian menyesap dari cangkir dengan corak bunga yang sama mungkin akan terlihat menggelikan, tetapi tidak begitu halnya dengan Daniel, lelaki itu malah tampak semakin jantan ketika melakukannya.

Pipi Alexa memerah, kenapa dia memikirkan tentang 'jantan' nya Daniel?

Daniel sendiri tampak tidak peduli, dia menyandarkan tubuhnya dengan santai ke sofa, lalu menatap ke sekeliling ruangan yang luas itu. Sofa tempat mereka duduk berada di pojok ruangan, di sudut area terkecil ruangan, selebihnya ruangan itu didominasi oleh lantai marmer yang indah berwarna putih yang melingkupi seluruh ruangan yang lapang dan kosong. Sebuah piano besar yang dimainkan oleh Daniel tadi, terletak di ujung satunya lagi, tampak cocok berada di sana sebagai ornamen penting.

"Kau tahu ini ruangan apa?" Daniel tiba-tiba bertanya, membuat Alexa yang tadinya mengamati Daniel terlonjak, merasa malu dan mengalihkan tatapannya.

Alexa mengikuti tatapan Daniel ke sekeliling ruangan, menatap kubah kaca yang memantulkan langit malam dan membangun suasana romantis di sana....

"Ini ruangan dansa." Daniel bergumam lagi, tidak menunggu jawaban Alexa. "Kakekku dulu sering mengadakan pesta dansa di sini. Para tamu akan berdansa di bawah taburan bintang yang menembus langit-langit kaca itu diirngi musik klasik yang dimainkan sang pianist dengan grand piano tua milik Kakek.."

Tiba-tiba saja Daniel berdiri, dan melangkah menuju ke arah alat stereo yang ada di dinding dekat sofa, dan menyalakannya, ketika dia selesai, alunan musik lembut mengalun memenuhi ruangan.

"Mamaku selalu bilang, bahwa kita tidak akan bisa mengenali seseorang sebelum kita berdansa dengan orang itu." Ada senyum di bibirnya yang kaku ketika menatap Alexa.

Kemudian tanpa di duga Daniel membungkuk formal dan mengulurkan sebelah tangannya kepada Alexa,

"Maukah kau lebih mengenalku, Alexa? dengan berdansa denganku?"

*** 

"Dia memang meninggalkanku begitu saja tanpa alasan yang jelas. Bahkan dua minggu sebelumnya kami sudah memilih cincin untuk bertunangan. Daniel memang tidak pernah melamarku secara langsung, tetapi dia memberikan isyarat ke arah itu dengan setuju untuk memilih cincin bersamaku." Mata Renata menajam. "Dan kemudian dia meminta hubungan serius kami dihentikan tanpa bisa menjelaskan alasannya, dia pergi begitu saja....Membuatku kelabakan harus menjelaskan kepada keluargaku, kau tahu keluargaku dan keluarga Simon sebelumnya berhubungan baik dan hubungan itu sedikit retak karena langkah yang diambil Daniel." 

Suara Renata sedikit bergetar mengungkapkan kepedihan yang dirasakannya, lalu dia menyambung "Aku menduga dia mungkin kehilangan cintanya kepadaku, kau tahu sebelum denganku dia juga menjalin cinta dengan beberapa gadis dan mencampakkannya ketika dia bosan. Orang bilang Daniel Simon tidak akan mampu melewati tiga bulan tanpa berganti kekasih... tetapi ketika dia menjalin hubungan denganku, sikapnya sungguh berbeda kepadaku, kami berhasil melalui tiga bulan tetap bersama tanpa masalah, bahkan hubungan kami sudah berjalan hampir dua tahun lamanya., hingga aku berani berharap lebih....Dan ketika dia meninggalkanku begitu saja, aku pikir dia sudah bosan kepadaku."

"Ternyata tidak." Nathan menyela dengan tenang. "Aku tidak berbohong kepadamu, Renata. Seluruh cerita yang kupaparkan tadi itu benar adanya. Daniel meninggalkanmu karena  dia ingin memenangkan pertarungan melawanku, dia ingin mendapatkan Alexa. Tunangan kami berdua. Kau tahu, masa penentuannya adalah tiga bulan lagi. Siapapun yang dipilih Alexa menjadi suaminya akan menjadi cucu utama Albert Simon."

Mata Renata yang cerdas menyipit. "Jadi apa rencanamu, Nathan?"

"Aku ingin kau membuat Alexa memilihku. Kaulah satu-satunya yang bisa menyadarkan Alexa bahwa Daniel mendekatinya tanpa hati." Matanya menatap Renata dengan redup, "Hatinya ada padamu, Renata. Apakah kau tega membiarkan Daniel terikat dengan perempuan yang tidak dicintainya selamanya.... hanya karena kedudukan di keluarga Simon? Ingat, kalau Alexa memilih Daniel, tidak perlu menunggu waktu lama, paling lama tiga sampai empat bulan, Danielmu sudah harus menikahi Alexa. Hanya kaulah yang bisa menyelamatkan Daniel."

Renata mencibir dan menatap Nathan, "Aku pikir kau tidak mungkin memikirkan keselamatan Daniel, kau sedang memikirkan kepentinganmu sendiri Nathan. Kau mengincar posisi itu bukan? Kau ingin Daniel kalah hingga kau bisa menguasai seluruh warisan Albert Simon dan mendepak Daniel serta mamanya dari keluarga itu. Bagaimana aku bisa mempercayai dan bekerja sama denganmu padahal sudah jelas-jelas kau berniat jahat kepada Daniel ?"

Nathan bersedekap santai di kursinya, tidak membantah kata-kata Renata.

"Aku tidak emmbantah, Renata. Aku memang mempunyai kepentingan pribadi dalam hal ini dan aku membutuhkan bantuanmu. Kalau hal ini bisa membuatmu merasa tenang, aku berjanji tidak akan melukai Daniel. Dia akan mendapatkan bagian hartanya, meskipun dia harus menerima menjadi posisi nomor dua di bawahku." Tatapan Nathan berubah tajam, "Setidaknya kau bisa mendapatkan kekasihmu kembali, dan menyelamatkan Daniel dari menikahi perempuan yang tidak dicintainya."

Nathan menatap Renata yang tampak ragu dengan penuh perhitungan, "Bagaimana Renata? apakah kau setuju bekerjasama denganku? Aku memperoleh keuntungan dan kau juga, tidak ada yang dirugikan dalam kerjasama ini, tidak Daniel, tidak pula Alexa yang menjadi tunangan kami berdua."

Suaranya begitu meuakinkan, mencoba menembus keraguan di benak Renata....


Bersambung ke Part 10



8 komentar:

  1. Mba Santhy... Aku udh tunggu2 postingan mba dr kmren, n akhirnya penantianku ga sia2... hehehe
    Aku suka banget sama karya2 mba.. mksih udh dipost...
    big hug dri ku.. :D

    BalasHapus
  2. akhirnya mbg santhy yg cantik kembali juga,,, #puk.puk.puk leppynya biar gag rusak lagi

    BalasHapus
  3. ps 2 etc nanti malem..oke noted^^
    makasi banyak mbaaa^^

    BalasHapus
  4. mbak san,, akhirnya muncul uga,, #emang apaan?

    hehe,, daniel... daniel... daniel.. aku selalu mendukungmu...daniel emang oke..
    ayo,, pendukung daniel unjuk gigi, lho?
    tetap dukung daniel kan,, pastinya.. hehehe

    btw,, readers maen2 ke blogku, Inspirasi (Riantie Amna).. moga disana uga ada manfaatnya..

    pis,, mbak san.. numpang promo ya,, hehe
    peluk erat mbak san,,, FIGHTING

    BalasHapus
  5. akhirny setlh postingan ke3 br bs baca dh...mksh y mb:)
    posting lg yg byk mb sambil ng bedug nh.....hehe

    BalasHapus
  6. akhirny setlh postingan ke3 br bs baca dh...mksh y mb:)
    posting lg yg byk mb sambil ng bedug nh.....hehe

    BalasHapus
  7. akhirny setlh postingan ke3 br bs baca dh...mksh y mb:)
    posting lg yg byk mb sambil ng bedug nh.....hehe

    BalasHapus
  8. Akhirnya bs baca tvt part 9 ini..
    Makasiy mba santhy

    BalasHapus