Selasa, 18 Juni 2013

Another 5% Part 11

PS : maafkan minggu dan senin tidak posting dikarenakan satu dan lain hal T__T semoga bisa tertebus hari ini yaa :)


Selly masih termenung di sana menatap bosnya yang hanya memandanginya dengan datar. Mata Selly melirik gelisah ke arah luar, dari pintu kaca yang mengarah keluar, bisa dilihat bahwa badai hujan sedang hebat-hebatnya, hembusan angin membawa dedaunan bergulung-gulung dan pepohonan bergoyang-goyang menakutkan, belum lagi suara guntur yang terus menerus bersusul-susulan dengan kilat yang menyilaukan.

Ya. Mungkin benar kata Gabriel, diluar sana kemungkinan besar tidak ada taxi karena hujan deras ini. Yang bisa dilakukan Selly hanyalah duduk di dalam ruangan itu dan menunggu, yang berarti menerima ajakan makan malam Gabriel.


Sebelum Selly sempat memutuskan, seorang pelayan datang mendekati mereka dan menyerahkan menu,

"Apakah anda sudah ingin memesan?" gumamnya sambil menunduk sopan.

Gabriel menerima menu itu dan memesan makan malam lengkap dari hidangan pembuka sampai penutup kepada Selly, setelah itu dia menatap Selly sambil mengangkat alisnya, 

"Apakah kau keberatan dengan menu yang kupesan?"

Selly menggelengkan kepalanya pasrah, dia lapar. Ya. Tanpa sadar perutnya terasa perih, "Tidak."

Gabriel menganggukkan kepalanya, dan pelayan itupun pergi. 

Lama mereka berdua hanya duduk dan saling berpandangan.

"Maafkan aku." Gabriel duduk dengan tenang, bersandar di kursinya.

"Untuk apa?"

Gabriel tersenyum, "Karena menghakimi calon suamimu. Yah bagaimanapun juga aku tidak mengenalnya dan tentu saja tidak berhak menilainya." mata lelaki itu menatap Selly dengan ramah, "Kita lupakan saja itu dulu ya, dan menikmati makan malam ini."

Mau tak mau Selly menganggukkan kepalanya, dan kemudian Gabriel berdiri dari duduknya, 

"Tunggu sebentar, ada yang perlu kubicarakan dengan pelayan." Tanpa permisi lagi Gabriel berdiri meninggalkan Selly.

Pandangan mata Selly mengikuti arah perginya Gabriel, lelaki itu mendatangi kepala pelayan dan kemudian menggumamkan sesuatu. Penampilannya yang elegan mungkin telah mendapatkan perhatian si kepala pelayan karena dia mendengarkan perkataan Gabriel dengan serius sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Setelah itu Gabriel kembali lagi ke meja Selly dengan wajah misteriusnya, lelaki itu menyadari Selly bersikap canggung, karena itu dia tidak banyak berbicara. Ketika makanan pembuka mereka datang, Gabriel dan Selly menyantapnya dalam keheningan. Ketika menu makanan utama datang, Gabriel sedikit mengajak Selly bercakap-cakap mengenai pekerjaan juga membahas rasa masakan, suasanya sudah agak cair di antara mereka hingga kemudian mereka selesai menyantap makanan utama.

"Siap untuk makanan penutup?" Gabriel tersenyum misterius, lalu dia melirik ke arah kepala pelayan dan memberikan kode.

Koki utama keluar dari dapur, membawakan sebuh roti tart mungil berwarna putih dengan lilin-lilin warna-warni di atasnya. Seorang pemain musik mengikuti mereka, membawa biola dipundaknya dan memainkan nada "Happy Birthday To You" dengan indahnya.

Selly ternganga, tidak menyangka. Beberapa pengunjung menatap Selly dengan senyuman, mungkin berpikir bahwa Selly begitu beruntung karena pasangan makan malamnya begitu perhatian di hari ulang tahunnya.

Selly menatap ke arah Gabriel, terperangah, sementara Gabriel tersenyum. Kepala koki meletakkan kue ulang tahun itu di meja mereka, lalu membungkuk sambil mengucapkan selamat ulang tahun untuk Selly, dan kemudian berpamitan. Sang pemain biola masih memainkan nada musik ulang tahun untuk Selly sampai selesai, setelah itu dia juga mengucapkan selamat ulang tahun untuk Selly, Selly menganggukkan kepalanya, masih terperangah dan bingung akan kejutan yang tidak disangkanya itu.

Setelah mereka hanya berdua, Selly menatap Gabriel yang tersenyum manis,

"Happy Birthday Selly, ayo ucapkan permohonanmu dan tiup lilinmu."

Selly melakukannya, dia seolah terbawa sihir, terkejut dan masih bingung, ditiupnya lilin itu sampai padam, matanya terpejam, mengucapkan permohonan indah untuk dirinya dan Rolan, berharap mereka mempunyai masa depan yang bahagia. Ya.. tidak ada lagi yang perlu dimohonkannya bukan? Tuhan sudah begitu baik kepadanya, menyembuhkan Rolan dari penyakitnya, dan yang Selly inginkan hanyalah dia mendapatkan kesempatan untuk bersama Rolan di masa depan mereka yang panjang.

Setelah itu dia membuka matanya, dan langsung bertatapan dengan mata cokelat yang penuh perhatian itu. Dan entah kenapa tiba-tiba saja Selly merasa terharu. Tadinya dia berpikir akan menghabiskan malamnya dengan menangis, karena apa yang telah direncanakannya dengan begitu bahagia dari pagi berakhir dengan kekecewaan. Tetapi kemudian bosnya ini muncul dan dengan penuh perhatian membuatkan perayaan ulang tahun kecil untuknya. Hanyalah sebuah roti berhias lilin dan musik ulang tahun, tetapi itu sangat mengena di hati Selly.

"Terimakasih." Selly berbisik lirih, sungguh-sungguh. Matanya berkaca-kaca, penuh dengan rasa haru.

Gabriel masih tersenyum, dan menganggukkan kepala, "Sama-sama Selly, Wish you all the best."

*** 

Rolan menatap jam dinding yang berdetak pelan mengisi kesunyian ruangan. Dia merasa sangat tidak enak dan sedih. Memikirkan Selly.

Selly tampak begitu bahagia sampai menangis ketika mereka merencanakan makan malam bersama di hari ulangtahunnya, dan sekarang Rolan menggagalkannya begitu saja. Selly pasti amat sangat kecewa....

Perasaan bersalah menusuk diri Rolan. Tetapi apa yang harus dia perbuat? Sabrina yang pucat dan sakit, sama menderitanya seperti dirinya yang dulu sepertinya amat sangat membutuhkan dukungannya, dan Rolan sudah berjanji untuk menemani Sabrina.

Suara hujan dan gemuruh petir memenuhi penjuru ruangan, membuat Rolan menghela napas panjang, berharap Selly sudah sampai di rumah dengan selamat. Dia ingin menelepon Selly tetapi baterai ponselnya habis, dan tidak ada yang bisa dilakukannya selain duduk diam di sini, menunggu dalam keheningan.

Matanya menatap ke arah jemari pucat Sabrina yang masih menggenggam tangannya dengan begitu erat seolah takut ditinggalkan. Rolan menghela napas, menahankan dilemanya.

*** 

"Terimakasih." Selly menoleh ke arah Gabriel yang duduk di sebelahnya. Gabriel mengantarkannya pulang setelah makan malam dan sekarang supir Gabriel menghentikan mobilnya di depan bangunan yang didalamnya ada flat Selly.

Gabriel menganggukkan kepalanya, menyorongkan kotak berisi sisa roti tart ulang tahun Selly dengan lembut, "Jangan lupa membawanya." Lelaki itu tersenyum, "Sampai jumpa besok di kantor, Selly."

"Iya. Sampai jumpa besok." Selly menganggukkan kepalanya juga, tersenyum tulus, benar-benar penuh terimakasih, lalu supir Gabriel turun dan membawakannya payung, ketika Selly keluar dari mobil, lelaki itu mengantarkan Selly sampai ke teras, lalu membungkuk hormat dan melangkah pergi menembus hujan

Selly masih termenung di sana, menatap ke arah mobil Gabriel yang melaju pergi.

*** 

Perayaan ulang tahun... roti berwarna putih dengan lilin warna warni di atasnya....

Mata Gabriel mengeras ketika hentakan kenangan itu menusuk kedalam jantungnya, kenangan akan ibu yang sangat disayanginya......

[ Spanyol l5 tahun yang lalu....]

"Kenapa mama memberikan kekuatan ini kepadaku?" Gabriel yang masih berusia lima belas tahun menatap mamanya dengan bingung, beban kekuatan itu begitu berat, membuatnya gemetar. Dunia tidak sama lagi baginya, dunia yang sekarang begitu berisik penuh dengan suara-suara yang membuatnya pusing, dan kadang dia berteriak-teriak sendiri, menangis ketika semuanya tidak bisa tertahankan oleh tubuh mungilnya yang polos.

Sang mama yang masih nampak amat muda, karena kekuatan itu membuat umurnya berhenti di usia tigapuluh tahun, tetapi nampak begitu pucat dan kurus menatapnya penuh sayang, jemarinya menyentuh pipi Gabriel dan mengusap rambut anak lelakinya itu dengan sayang,

"Maafkan mama karena melimpahkan kekuatan ini sayang... hanya saja mama sudah tidak kuat lagi menanggung beban kekuatan ini, mama begitu menderita, hidup sekian lama hanya untuk melihat orang-orang yang mama sayangi meninggal.... begitupun ayahmu yang meninggal setelah kau dilahirkan."

Ayah Gabriel meninggal ketika mama Gabriel belum mendapatkan kekuatan kegelapan itu, pada saat yang sama, nenek Gabriel yang ternyata adalah pemegang kekuatan kegelapan selama beratus-ratus tahun mewariskan kekuatan itu kepada sang mama, membuatnya menanggung beban menjaga keseimbangan dunia di pundaknya... sama seperti yang dilakukan mamanya kepada Gabriel.

Mama Gabriel - Anabelle, menatap Gabriel dengan pedih, yah dia mungkin bersalah, Gabriel masih terlalu kecil untuk menanggung semua kekuatan ini, kadang dia menangis ketika mendengar Gabriel menjerit-jerit kelelahan karena kekuatan ini masih begitu sulit untuk ditampung oleh badannya yang masih kecil dan lemah. 

Tetapi kemudian dia teringat akan almarhum suaminya, ayah kandung Gabriel yang meninggal jauh sejak lama. Dia merasa lelah dan tak mampu, kekuatan itu memang membuat umurnya berhenti di usia tigapuluh tahun, tidak bisa menua dan tidak bisa mati, tetapi hatinya sendiri perlahan-lahan sudah mati rasa. Anabelle hanya ingin beristirahat dan meninggal seperti manusia biasa, yah ternyata dia tidak sekuat neneknya yang bisa menanggung kekuatan ini begitu lamanya.

Karena itulah di malam puncak keputusasaannya, Anabelle menyerahkan kekuatan itu kepada Gabriel, lupa akan segala konsekuensi yang harus ditanggung oleh anak lelakinya itu ketika harus memegang kekuatan yang begitu besar.

Dan sekarang tubuhnya melemah, tanpa kekuatan kegelapan yang menopangnya, penyakit yang dulu tak bisa menyerangnya mulai berdatangan, fisik luarnya tampak muda, tetapi bagian dalam tubuhnya menua beratus-ratus kali lebih cepat..... dan dia langsung tak berdaya karena kanker yang menyerangnya,

Kanker yang sama yang sekarang ada di tubuh puteri tunggalnya, Sabrina. Semasa dia masih memegang kekuatan, Anabelle menyerap kesakitan Sabrina dengan kekuatannya, sesuatu yang tak boleh dilakukannya. Sebagai pemegang kekuatan, ada buku aturan semesta yang membatasi sang pemegang kekuatan agar tidak bertindak semena-mena. 

Dan salah satu aturan di situ adalah mengenai menyembuhkan penyakit. Sang pemegang kekuatan hanya boleh menyembuhkan penyakit yang tidak berujung kepada kematian. Untuk penyakit yang berujung pada takdir kematian, Sang Pemegang kekuatan dilarang menyembuhkannya, karena hal itu melawan apa yang disuratkan oleh takdir Tuhan, karena meskipun memiliki kekuatan yang luar biasa, sang pemegang kekuatan bukanlah Tuhan yang berhak mengatur hidup dan mati seseorang. Masalah hidup dan mati sudah diatur oleh kekuatan yang jauh di atas mereka, dan mereka tidak boleh mengubahnya. 

Sang pemegang kekuatan diperbolehkan meringankan dan menghambat beberapa penyakit ganas dengan mencampurkan darahnya ke aliran darah si penderita penyakit, tetapi dilarang untuk menghilangkan rasa sakit yang diderita oleh si penderita penyakit. Konsekuensinya sangat berat ketika dilanggar, sama seperti yang dirasakan oleh Anabelle sekarang,

Jika sang pemegang kekuatan nekad menghilangkan rasa sakit penderita yang disumbangkan oleh darahnya, maka penyakit ganas yang diidap oleh si penderita penyakit akan mengendap di dalam tubuh sang pemegang kekuatan, berhibernasi, menunggu untuk menggeliat bangkit ketika kekuatan kegelapan sudah tidak ada lagi di tubuh sang pemegang kekuatan.

Anabelle sudah jelas tahu konsekuensinya, jika dia nekad menyembuhkan Sabrina, maka dia akan melanggar aturan semesta yang berujung pada kutukan mengerikan berupa kutukan hidup abadi dalam kesakitan, serta kematian seluruh keturunan dan orang-orang yang dicintainya. Hal itu tidak mungkin dilakukannya, karena dia sangat mencintai anak-anaknya. 

Jadi yang bisa dilakukannya adalah menyumbangkan darahnya kepada Sabrina, puterinya yang menderita... dan melanggar aturan semesta dengan menghilangkan rasa sakit Sabrina, dia adalah seorang ibu, mana ada ibu yang tega melihat anak perempuan kecilnya mengerang-erang karena rasa sakit yang diderita. Sekarang Anabelle menanggung konsekuensinya karena setelah kekuatan kegelapan tidak menopangnya lagi, sel-sel kanker yang diserapnya dari tubuh Sabrina menyerang dan menggerogoti tubuhnya...

Seharusnya jalan termudah adalah memberikan kekuatan kegelapan itu kepada Sabrina, karena itu akan langsung menyembuhkan penyakitnya.  Sayangnya, Sabrina masih terlalu kecil sehingga tidak bisa diwarisi kekuatannya..... selain itu, Anabelle sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi, dia memang egois dan sekarang keegoisannya yang tanpa pikir panjang itu, membuat anak lelakinya menanggung beban yang begitu berat di pundaknya, membuatnya menyesal setengah mati.

"Carlos." Anabelle memanggil pelayan setianya - yang sekarang sudah menjadi pelayan Gabriel -  Carlos bukan manusia, dia adalah mahluk berwujud manusia abadi, yang dikutuk untuk mengabdi kepada sang pemegang kekuatan, tugasnya adalah melayani sang pemegang kekuatan dan menjaga buku kuno yang berisi aturan semesta. Carlos sendiri memiliki saudara kembar bernama Marco, sama-sama manusia abadi sepertinya tetapi mengabdi kepada kekuatan terang. Anabelle tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu sampai-sampai Carlos dan Marco ditakdirkan berseberangan seperti itu. Yang dia tahu bahwa dia bisa mempercayai Carlos untuk menjaga dan mengajari Gabriel.

Carlos langsung muncul dari bayang-bayang kegelapan. Anabelle memang bukan tuannya lagi, karena dia telah memindahkan kekuatannya kepada Gabriel, anaknya yang masih kecil yang sekarang mau tidak mau menjadi tuan tempat Carlos mengabdi.

"Kumohon jagalah Gabriel, ajari dia menggunakan kekuatannya..." Bahkan kata-kata sederhana seperti itupun sudah bisa membuat napas Anabelle melemah, kondisinya sudah benar-benar memburuk.

Tubuh Gabriel menegang, dia menatap mamanya dengan cemas, berlinangan air mata, "Mama mau kemana?" digenggamnya jemari rapuh Anabelle, "Jangan tinggalkan Gabriel, mama... Gabriel tidak akan bisa tanpa mama.."

Anabelle mencoba tersenyum meskipun seluruh tubuhnya terasa sakit, ditatapnya Gabriel dengan lembut,

"Kau pasti bisa, sayang. Kau adalah anak yang kuat.... kau pasti bisa bertahan...."

*** 

Hari ini adalah hari ulang tahun Anabelle, dan Gabriel sudah menyiapkan kue ulang tahun berwarna putih, warna kesukaan mamanya, dengan lilin berwarna-warni di atasnya, sebuah usaha yang menyedihkan untuk menceriakan suasana.

Gabriel menatap kue tart yang diletakkan di meja dapur itu, dan matanya melirik ke arah Carlos dengan muram.

"Dia... dia akan segera meninggalkan dunia ini bukan?" Gabriel berusaha tenang ketika membicarakan mamanya, tetapi tetap saja suaranya bergetar.

Carlos menghela napas panjang, menyadari bahwa tuan barunya hanyalah seorang anak kecil, anak kecil yang dipaksa menanggung beban kekuatan yang besar, dan dipaksa menghadapi kematian mamanya yang begitu cepat prosesnya.

"Tidak ada yang bisa kita lakukan, tuan Gabriel...Anda memang memiliki kekuatan penyembuh, tetapi butuh waktu lama untuk menguasainya, dan karena anda masih kecil, waktu yang dibutuhkan bahkan lebih lama lagi.... anda masih belum bisa menyumbangkan darah anda untuk menghambat penyakit mama anda makin ganas..."

Gabriel menundukkan kepalanya sedih. "Tapi kita harus melakukan sesuatu, aku tidak bisa membiarkan mama meninggal begitu saja."

"Yang harus anda lakukan adalah melaksanakan amanat mama anda, belajar menguasai kekuatan kegelapan dengan sempurna lalu melaksanakan tugas anda untuk menjaga keseimbangan dunia ini..." sahut Carlos hati-hati.

"Tidak!" Gabriel menyela keras kepala, matanya bersinar penuh tekad ketika menatap Carlos, "Katamu ada pemegang kekuatan terang yang menjadi sisi terbalik kekuatan kegelapan... apakah dia juga bisa menguasai kekuatan penyembuh?"

"Ya, namanya Matthias dan saudara kembar saya, Marco mengabdi kepadanya." nada suara Carlos berubah suram, "Tetapi kalau anda punya pikiran untuk meminta pertolongan kepadanya, maka akan percuma.... penyakit mama anda sudah mengarah kepada kematian, dan saya yakin, bagi Matthias yang sangat memegang teguh aturan semesta, menyelamatkan mama anda merupakan sebuah pelanggaran bagi aturan semesta."

"Tetapi dia tidak perlu menyelamatkan mamaku...." Gabriel bersikeras, "Dia bisa saja memberikan darahnya kepada mamaku untuk mempertahankan hidupnya, dan sambil menunggu aku menguasai ilmu penyembuhan, setelah aku menguasai ilmu penyembuhan... akulah yang akan memberikan darahku untuk mama..." Mata Gabriel begitu penuh harap, "Lagipula dia pemegang kekuatan terang bukan? bukankah kekuatan terang adalah kekuatan kebaikan yang berarti dia adalah seorang penolong?"

Carlos menghela napas panjang, sepertinya tuan barunya ini amat sangat keras kepala, dan tidak ada yang bisa dilakukannya selain mengantarkan Gabriel menemui Matthias, meskipun sebenarnya, dia sudah tahu hasilnya. Matthias sudah pasti akan menolak Gabriel mentah-mentah.

***

"Aku tidak bisa membantumu." Matthias menatap anak kecil di depannya tanpa ekspresi. "Aku memang menghormati mamamu, tetapi kematiannya sudah dekat, semua upaya sudah terlambat, mencoba menolongnya hanya akan mendorong ke arah pelanggaran aturan semesta."

"Aku mohon kepadamu." Mata Gabriel berurai air mata, "Hari ini adalah hari ulang tahunnya dan dia begitu menderita, aku mohon dengan sangat berikan darahmu untuk mamaku, itu akan meringankan penyakitnya.....setidaknya dia bisa menikmati hari ulangtahunnya." Gabriel berusaha tegar ketika memohon, meskipun matanya terasa panas ingin menangis membayangkan keadaan mamanya di rumah. Matthias adalah  satu-satunya harapannya, dan penolakan lelaki itu menghancurkan hati kanak-kanakknya.

Matthias menatap ke arah Gabriel, menyadari bahwa anak kecil di depannya ini adalah penerus kekuatan kegelapan, tetapi kemudian dia tetap menggelengkan kepalanya. Takdir Anabelle sudah kelihatan, dia akan meninggal hari ini, sudah tidak ada cara apapun untuk menyelamatkannya....seandainya saja Gabriel datang beberapa waktu yang lalu, mungkin saja Matthias masih bisa menyumbangkan darahnya untuk Anabelle, sayangnya semua sudah terlambat sekarang.

"Pulanglah." Matthias memalingkan muka, "Tidak ada yang bisa kau lakukan, ajal Anabelle sudah dekat dan lebih baik kau menghabiskan waktu mendampinginya di saat-saat terakhirnya daripada di sini dan memohon tanpa hasil."

"Aku mohon padamu!" Gabriel setengah menjerit, air matanya sudah mengalir dengan begitu deras di  tengah keputus asaan yang menderanya, "Selamatkanlah mamaku, aku mohon!" Lalu tanpa di duga, Gabriel berlutut dan bersujud di depan Matthias.

Matthias terkejut sampai berjingkat mundur, begitupun Carlos, dia langsung mendekat dan menyentuh bahu kurus tuan mudanya yang keras kepala, berusaha mencegah tuannya merendahkan diri sedemikian rupa.

"Bagun Tuan... anda tidak boleh berbuat seperti ini." Carlos berusaha membujuk tuannya bangkit, tetapi dengan keras kepala, Gabriel tetap bersujud dan memohon.

Matthias sendiri malah membalikkan badannya.

"Maafkan aku. Tidak ada yang bisa kulakukan. Pulanglah!" kali ini suaranya sangat tegas, lalu Matthias melangkah pergi dan membanting pintu di belakangnya. Tidak menyadari bahwa pada detik itu, dia telah mengubah anak kecil berhati polos menjadi musuh kuat yang menakutkan.

Gabriel terbangun dari posisi sujudnya, masih berlutut, matanya menatap nanar ke arah pintu yang tertutup di depan mukanya.... rasa kecewa dan putus asa membuatnya remuk redam.

Ternyata kekuatan terang bukan berarti kekuatan kebaikan. Kekuatan terang ternyata tak punya hati dan belas kasihan sama sekali!

*** 

Gabriel meletakkan kue putih dengan lilin warna-warni itu dengan hati-hati di atas meja di samping ranjang Anabelle,

"Selamat ulang tahun mama." suaranya serak, menahankan perasaannya.

Anabelle membuka matanya pelan-pelan, tersenyum haru melihat kue yang disiapkan putera tunggalnya itu dengan susah payah.

"Terimakasih sayang." gumamnya dengan napas tersengal, "Maukah kau meniupkan lilin itu untuk mama?"

Dengan patuh, Gabriel meniup lilin itu sampai padam, air matanya mengalir lagi ketika menatap mamanya yang begitu rapuh dan lemah, "Mama ingin mengucapkan permohonan?"

Anabelle tersenyum, lalu mengerang sedikit ketika merasakan kesakitan menderanya. Ya, dia tahu bahwa waktunya sudah dekat...

"Mama mohon... ketika kau sudah menguasai kekuatan penyembuhanmu nanti, kau memang dilarang menyembuhkan penyakit adikmu karena itu melawan takdir Tuhan, tetapi mama mohon, berikanlah darahmu untuk adikmu Sabrina... darahmu akan memperlambat sel-sel kankernya menyebar... setidaknya dia bisa hidup lebih lama, karena mama ingin adikmu hidup sampai remaja, menikmati indahnya dunia ini.." air mata Anabelle mengalir, "Meskipun Sabrina harus hidup dalam kesakitan, tetapi dia tetap berhak hidup..." dengan gemetar Anabelle meletakkan jemarinya di atas jemari Gabriel, "Jangan kau mencoba menghilangkan rasa sakitnya, seperti yang mama lakukan kepada Sabrina selama ini, itu akan membuat kita menyerap penyakitnya, dan ketika kekuatan kegelapan tidak menopang kita, penyakit itu akan langsung membunuh kita....mama tidak mau nasibmu berakhir seperti mama...."

Gabriel mengangguk, mencondongkan tubuhnya dan mengecup dahi Anabelle dengan lembut, dia bisa merasakannya, merasakan kulit Anabelle yang semakin lama semakin dingin, menandakan bahwa kekuatannya semakin lama semakin surut.

"Aku berjanji akan melakukannya, kau bisa tenang, mama..."

Anabelle memejamkan matanya, setetes air mata bergulir di sana. "Kuasailah kekuatanmu dengan sempurna, jadilah pemegang kekuatan yang terbaik seperti nenekmu... menjaga keseimbangan dunia ini..." suara Anabelle hilang tertelan napasnya yang tersendat, "Aku mencintaimu, Gabriel... anakku, maafkan aku karena memberikan beban ini kepadamu...."

Lalu suara Anabelle melemah, napasnya tersendat-sendat dan Gabriel bisa merasakannya, merasakan bagaimana kehidupan meninggalkan tubuh sang mama pelan-pelan, hingga akhirnya tidak ada sama sekali.

Ditatapnya tubuh mamanya yang sudah tidak bernyawa itu dengan penuh air mata, suaranya bergetar ketika memanggil pelayan setianya.

"Carlos."

Carlos langsung muncul dari bayang-bayang kegelapan, "Saya turut berduka, tuan."

Gabriel menganggukkan kepalanya sedikit, ada api di matanya, "Aku akan belajar menguasai kekuatan kegelapan itu dengan sempurna...dan setelah itu, aku akan membunuh Matthias."

Pada detik itu Gabriel sudah membulatkan tekad untuk menghancurkan kekuatan terang. Kekuatan terang adalah musuhnya. Gabriel tidak akan pernah memaafkan Matthias dan semua kekuatannya. Dia akan menghancurkannya.

*** 

[ Kembali ke masa sekarang ]

"Kita sudah sampai Tuan." suara supirnya yang ragu-ragu itu membuat Gabriel tersentak dari lamunannya tentang masa lalu. Gabriel mengerjap dan menatap ke luar jendela mobilnya, mereka ternyata sudah sampai di lobby mansion tempat tinggalnya. Mereka sepertinya sudah berhenti lama di sini, dan karena Gabriel tampaknya terlalu larut dalam lamunannya, supirnya pada akhirnya memutuskan untuk menegurnya.

"Terimakasih." Gabriel menganggukkan kepalanya sedikit kepada supirnya, lalu membuka pintu mobil dan melangkah menuju lobby mansionnya. Hujan masih turun deras, seperti tirai kelabu yang basah dan dingin di luar sana. 

Kue tart dan semua perayaan ulang tahun tadi telah membawa Gabriel kepada kenangan lama yang sekian lama ingin dilupakan, kenangan akan hari kematian mamanya...

Ya... Kekuatan terang akan selalu menjadi musuh besarnya, Gabriel tidak akan berhenti sebelum bisa memusnahkan kekuatan terang yang munafik itu. Matthias memang sudah dibunuhnya, tetapi itu belum membuatnya puas, Gabriel tidak akan berhenti sampai semuanya habis.

Dan sekarang ada Rolan yang pasti sedang menyiapkan diri di bawah arahan Marco...

Gabriel tersenyum sinis, hatinya memang jahat, tetapi dia adalah seorang petarung yang adil, akan ditunggunya sampai Rolan menguasai kekuatannya, baru setelah itu akan ditantangnya lelaki itu. Selain demi keadilan, Gabriel akan kehilangan kenikmatan bertarung kalau harus menghadapi musuh yang terlalu lemah.

Yah... perang antara dirinya dan Rolan akan segera tiba, hanya saja, dia masih belum tahu bagaimana nantinya peran Selly di antara mereka. Mungkin memang akan ada pengorbanan nyawa, mungkin juga tidak.

Apapun itu, Gabriel benar-benar tidak sabar menunggu Rolan siap untuk melawannya...

Bersambung ke Part 12

45 komentar:

  1. gak sabar nunggu bab selanjutnya.. :)
    keep spirit mbak,, :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. heee tunggu sayang nanti agak maleman dipostingkan lagi untuk sambungan dr judul yg berbeda ya :)

      Hapus
  2. haaaaaaa.......tteh santhy bikin penasaran nih....

    BalasHapus
    Balasan
    1. heee *senyum2 sambil kedip2in mata menggoda*
      :D

      Hapus
  3. Sebel ma Rolan.... ga tegas...
    kan kasihan Selly
    dah ama Gabriel aj Selly_nya....
    Thanks mBa Shan....

    BalasHapus
    Balasan
    1. eeeh tapi itu mungkin karena Rolan terlalu baik hati yaah heee jd gampang dimanipulasi Sabrina yang entah punya rencana apa :D

      Hapus
  4. rolann cakkeepp kak san.....
    q tggu lnjutannya ya kak
    semangat semangat

    BalasHapus
    Balasan
    1. xixixixi iyaa dapat picnya yang muka serius ganteng hehehe :D

      Hapus
  5. ohh jd ky gitu to kjadiannya .. knpa gabriel menngebu bget bwat ngancurin kekuatan terang ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehe iyaa ternyata berawal dari dendam masa kecil :) pantas pas bunuh Matthias dulu, dia ngebuat Matthias berlutut di depannya :)

      Hapus
  6. Pictnya Rolan keren abiz ><
    hehe gak sadar ternyata Another 5% udah sampe part 11, kayaknya baru kemaren dipost part awal²nya. Emang sampe part berapa mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa yaaah ternyata udah setengah cerita :) Another 5% sampai 22 part dear ;)

      Hapus
    2. woww, bkalan bnyak intrik2 yg menegangkn antara Rolan dg Gabriel..

      Makasih ya, Mbak Santhy..
      ;)

      Hapus
  7. mksh bwt postingannya teh santhy,
    mndngar ksah dri sdut pndang gabriel,emg mris dan mmbuat mta brkca2.Msa lalunya lah yg mmbntuk dya mnjdi sprti skrg.
    Smga kkuatan cnta selly bsa mrubah sdkit dmi sdkit sfat gabriel (ngarep).
    Smgat trus teh santhy,ganbatte.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hee iyaa sama Matthias terlalu kaku sih menjelaskan ke anak kecil T__T jdnya malah tertanam dendam deh di benak Gabriel, padahal aturan yg dipegang Matthias maksudnya baik ya :)

      Hapus
  8. teteh semengatttttttttttttttt prok prok prok

    BalasHapus
    Balasan
    1. semangat jugaaaaa heheheh *acung2kan pedang* ---> teringat lagu 'aku seorang kapiten' hihihihi

      Hapus
  9. Hiks hiks nangis deh aku T___T kasihan Gabriel ..
    Rolan ntar kamu baru tau rasa ya kalo Selly berpaling darimu #sebel sama Rolan

    Ehh mb Santhy kan katanya : "Sang pemegang kekuatan hanya boleh menyembuhkan penyakit yang tidak berujung kepada kematian. Untuk penyakit yang berujung pada takdir kematian, Sang Pemegang kekuatan dilarang menyembuhkannya, karena hal itu melawan apa yang disuratkan oleh takdir Tuhan, karena meskipun memiliki kekuatan yang luar biasa, sang pemegang kekuatan bukanlah Tuhan yang berhak mengatur hidup dan mati seseorang."

    Nah dulu Matthias ngasih kekuatan ke Rolan sampai sembuh, apa aturan beda gitu ??

    Thanks mb postingannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. beda sayang :)
      karena Matthias memberikan kekuatan ke Rolan bukan untuk menyembuhkan penyakitnya tetapi mewariskan kekuatannya. Jadi Matthias nggak pakai kekuatan penyembuh ke Rolan. Matthias cuma mewariskan kekuatan yg bisa mengaktifkan 95% kekuatan otak Rolan :) jd tubuh Rolan-lah yang menyembuhkan dirinya sendiri, bukan karena kekuatan penyembuh dari Matthias :)

      diceritakan di atas ibunya Gabriel sebenere pingin mewariskan kekuatan kepada Sabrina supaya Sabrina bisa menyembuhkan dirinya sendiri ( kayak Rolan gitu) sayangnya pas lagi esmosi malahan dikasih ke Gabriel kekuatannya, dan juga Sabrina waktu itu masih kecil ( umur 9 tahun) jadi masih tidak bisa diwarisi kekuatan itu krn dikhawatirkan badannya ga kuat kalo masih kecil :)

      Hapus
    2. Oalahhhh gitu ngeh deh sekarang hihi ..

      Oh ya mb sekalian dong diceritain masa lalu sampai-sampai Carlos dan Marco ditakdirkan berseberangan seperti itu atau ada di bab selanjutnya ??

      Hapus
  10. Balasan
    1. heeee *minta pelukan* ( yang minta pelukan malahan penulisnya, bukan Gabrielnya hihihihi)

      Hapus
  11. Kasihan banget Gabriel.. Waktu masih kecil, tapi udah nanggung tanggung jawab yang besar..
    Aku sih bisa ngerti kenapa Gabriel pengen benget membunuh pemilik kekuatan terang, tapi tetep masih terus ngarep Selly bisa ngerubah Gabriel nantinya..
    Tetep ya, si Rolan, plin-plan banget.. *getok kepala Rolan*
    Emang gak inget pengorbanan Selly selama dia sakit..
    Semakin lama, aku jhadi semakin mendukung Gabriel-Selly.. *tendang Rolan jauh-jauh*

    Lanjut Mbak San.. Ditunggu next partnya.. ^^

    BalasHapus
  12. mba san.... tau aja aku sudah kekeringan (kaya sumur klo kemarau ) .. duh seger dah abis baca ini... moga sehat selalu ya mba shan.... muachhh......

    BalasHapus
  13. Makin ke sini aku malah lebih dukung Selly ama Gabriel deh drpd ama Rolan haha kan siapa tau Gabriel bisa berubah jd baik nantinya karena Selly hihi

    BalasHapus
  14. kasian gabriel kecil... T_T *puk puk*
    jd karena itu dy memendam perasaan benci dan marah kepada pemegang kekuatan terang...
    aku jadi simpati sama dy...

    makasi udh di posting mba san... :")

    BalasHapus

  15. "Apapun itu, Gabriel benar-benar tidak sabar menunggu Rolan siap untuk melawannya..."

    aaahhhhh ... semakin seru nih mba sant :)

    lanjut yah mba :)

    terimakasih untuk post hari ini nya :)

    BalasHapus
  16. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  17. mba saannn makasiiiihhhhh hihihi gak nyangka ternyata gabriel cinta banget ama mamanya dan dia bukan orang yang jahat dari awal tapi karena masa lalunya.... hwaaahhhh *peluk gabriel kecil*

    hahahh gabriel so sweet banget ama selly....mau doooonggg... hihihi sekali lagi makasih mba santhy :) *bighugs

    BalasHapus
  18. Salam kenal cantik,,,,love 4 all story:-) :-)

    BalasHapus
  19. yah ko rolan gitu sech...kacian selly nya,,,

    BalasHapus
  20. Waaaa keren mb santhy
    Uhuhuhuhuhu
    Ga sabar nunggu chapter selanjutnyaaa
    Makasih mb saaan :))

    BalasHapus
  21. Ugh....BT ma Rolan..... :( tepok jidatna Rolan.....
    Ternyata itu toh yg mneyebabkan Gabriel membenci Matthias.....
    Weleh2..... salut buat Mba San...
    Tetep semangat ya Mba San :)
    Makasih Mba San :)

    BalasHapus
  22. oh itu alasan gabriel jd jhat..hmm emg sih mattias tu jhat bgd gk mw cba lgsg patahin harapan ank kcil kyk gtu:(
    tpiii rolan sma selly kn cnta sejati gk bsa pisah gtu aja donk kann..huhu

    BalasHapus
  23. Ayo lanjut lagi Mba Saaannn..

    Dh gak sabar nih...penasaran nanti perannya Selly kaya gimana di tengah tengah perang Gabriel vs Rolan...

    Semangat Mba.....

    BalasHapus
  24. Lanjut mbak santhy, seru bgt ceritanya x)
    Aku selama ini silent reader, tapi baru berani komentar, hehehe :)

    BalasHapus
  25. owh karna itu gabriel sgt benci mathias? Kasihan juga.. Demi menyelamatkan mamanya...

    BalasHapus
  26. Selly ama gabriel aja dechhhh.... aku suka banget karakter kayak gabriel....

    BalasHapus
  27. Komen pertama di blognya Mba Shanty. Suka sama Gabriel. Yaa, semoga bisa sama Selly ya pada akhirnya. :ngarep
    Gimana ya, sebenernya hati gabriel itu baik hanya aja ya gitu, masa lalu yang menyedihkan buat anak sekecil itu. Apa sih yang dia tau waktu umur segitu soal keseimbangan alam. Ya dan jadilah gabriel seperti sekarang. Tapi yaa tetep aja dari awal aku emang sukanya sama gabriel lebih gimanaaaa gitu dibanding rolan,, :p

    BalasHapus
  28. gabrielnya sweet banget...

    BalasHapus
  29. Hati saya terbagi mbak TT
    Gabriel kasihab=n banget, tapi Rolan dan Selly juga TT]
    Ditunggu lanjutannya :)

    BalasHapus
  30. Hati saya terbagi mbak TT
    Gabriel kasihab=n banget, tapi Rolan dan Selly juga TT]
    Ditunggu lanjutannya :)

    BalasHapus
  31. ya ampunn.. ceritanya benar-benar kreatif mbak. terimakasih banyak untuk cerita2 nya ya . jadi teman begadang pas liburan :D ;D

    BalasHapus
  32. kapan nie lanjutannya m'san?? uda ga sabar tingkat dewa hiks..

    BalasHapus
  33. Aaaa~ Saya baru kelar baca Story yang ini nyampe sini, akhirnya! Kemana aja ya? Hhaha bacanya lamaaa.

    Duhh labil ini harus milih siapa, Gabriel jahat tapi berkharisma terus posesifnya tuh wow banget. Nah Rolan sosok malaikat banget, saking baiknya dia nyampe nyakitin Selly secara gak sengaja. Story ini ngingetin sama Lucas si ganteng maut >_<

    Asli ini labil banget harus milih siapa mbak wkwkw, eh tapi menurut penalaran saya lebih milih Gabriel. Klise lah ya, cewek kayak saya suka yang kayak gabriel hahaha. Terus Gabriel kayaknya jago. Jago apa ajalahh. Tapi tapi mau juga Rolan, ahh sudahlah emang labil!

    Still wait kelanjutannya :)
    Makasih mbak santhy!

    BalasHapus