Senin, 24 Juni 2013

Another 5% Part 12

PS : maafkan yah semuanya T__T di hari minggu biasanya aku gagal posting, soalnya mengerjakan pekerjaan rumah tangga mingguan, nyuci, masak, seterika, dateng ke beberapa undangan pernikahan, iseng gangguin suami dan lain-lainnya hihihihihihi maafkaaaaaan.....



Selly duduk di ranjangnya, di kegelapan malam sambil memegang ponselnya. Berkali-kali dia berusaha menghubungi Rolan, tetapi nomor hp kekasihnya itu tetap tidak aktif.....

Apakah Rolan masih di rumah sakit? Bersama Sabrina? kenapa Rolan tidak menghubunginya?

Perasaan Selly terasa sedih, bergayut dengan rasa kecewa yang mendalam, diliriknya jam dinding di kamarnya, sebentar lagi lewat dari jam dua belas malam. Ulang tahunnya akan berakhir, dan Rolan bahkan belum memberikan satupun ucapan selamat ulang tahun kepadanya....

Setetes air mata bergulir dari sudut mata Selly ketika dia membaringkan tubuhnya ke tempat tidur, meringkuk miring dalam posisi janin yang baru lahir dan memejuamkan matanya.

*** 
Ketukan di pintu flatnya membuat Selly membuka matanya. Ketukan itu terdengar bersemangat dan semakin lama semakin kencang, hingga sampai ke kamarnya.

Selly terduduk, berusaha mengumpulkan kesadarannya setelah terbangun dari tidurnya, dan kemudian mengernyitkan kening, kembali melirik ke arah jam dinding.

Masih pukul empat dini hari, siapa gerangan yang bertamu sepagi ini?

Dengan hati-hati Selly meraih sweater yang tersampir di kursi di sebelah ranjangnya dan memakainya untuk melapisi gaun tidurnya, Dia kemudian melangkah ke luar kamarnya, sambil menyalakan lampu-lampu ruangan karena keadaan masih gelap.

Ketika sampai di depan pintu, Selly tertegun ketika mendengarkan suara itu.

"Selly, sayang, bukakan pintu, ini aku Rolan..."

Tanpa pikir panjang, Selly langsung membuka pintunya, jemarinya sedikit gemetar ketika melakukannya.

Rolan datang!

Pintupun terbuka, dan diambang pintu berdiri Rolan dengan wajah sedih dan menyesal. Lelaki itu tampak kusut, seperti tidak tidur semalaman.

"Maafkan aku sayang..." Suara Rolan begitu serak, lelaki itu melangkah maju, tampak ragu, tetapi kemudian karena tidak ada penolakan dari Selly, dia langsung bergerak dan merengkuh Selly ke dalam pelukannya, erat-erat sampai napas Selly terasa sesak.

*** 

Gabriel duduk termenung di kegelapan, di ruang kerjanya yang luas dan dingin. Matanya hanya tertuju kepada satu titik.

Sebuah foto.... foto mamanya, senyumnya lebar dan ceria... ketika itu penyakitnya belum sampai merenggut senyum itu dari wajahnya.

Dahi Gabriel mengerut.. kalau saja waktu itu Matthias memutuskan untuk menolong ibunya, apakah Gabriel akan menjadi orang yang berbeda?

Seluruh dirinya dipenuhi oleh dendam, kebencian yang mendalam kepada kekuatan terang dan keinginan kuat untuk menghancurkannya. Mungkin kekuatan kegelapan telah mempengaruhinya, dan membuatnya begitu kejam, tetapi Gabriel masih teringat rasa putus asanya ketika berlutut di depan Matthias dan memohon kepadanya demi nyawa mamanya, hanya untuk diabaikan.

Kekuatan terang bukanlah kekuatan kebaikan, tidak jika Matthias bahkan tega menolak permohonan seorang anak kecil - yang sangat mencintai mamanya - dan putus asa. 

Gabriel mengernyit. Tiba-tiba merasa tekanan di dalam dirinya, tekanan yang tidak pernah dirasakannya. sebuah pertanyaan terus berkutat di benaknya,

Kenapa Rollan harus memiliki Selly sebagai cinta sejatinya?

*** 

"Sayangku, maafkan aku... maafkan aku...." Rolan mengucap kalimat itu berulang-ulang seolah-olah satu kalimat saja tak cukup untuk menebus kesalahannya, "Maafkan aku Selly, aku telah membuatmu kecewa." Lelaki itu memeluk Selly semakin erat, mengecup rambut dan pelipisnya.

Selly pada akhirnya tersenyum dan mendongakkan kepalanya, menatap Rolan dengan lembut,

"Sudah.. tidak perlu meminta maaf lagi, aku tidak apa-apa kok."

Rolan menatap wajah kekasihnya itu dengan sayang, "Kau begitu baik dan aku begitu jahat telah membuatmu kecewa di hari ulang tahunmu."

Ulang tahunnya sudah lewat tentu saja. Tetapi tidak apalah. Selly menghela napas panjang, setidaknya sekarang Rolan hadir di sini bersamanya, bukankah itu sudah cukup?

"Duduklah dulu, Rolan, kau tampak kusust dan lelah." Selly melepaskan diri dari pelukan Rolan, "Aku akan membuatkan teh hangat untukmu."

Rolan menurut, melepaskan Selly dari pelukannya dan melangkah ke sofa di ruang tengah sederhana di dalam flat Selly, beberapa saat kemudian, Selly datang membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat dan sepiring kue-kue kecil.

Mereka duduk bersama di sofa, Rolan meneguk teh-nya dan menghela napas panjang, sementara Selly menatapnya dengan prihatin,

"Bagaimana keadaan Sabrina?"

Rolan menggelengkan kepalanya, tampak sedih, "Buruk, kondisinya sama sekali tidak membaik, sungguh ajaib dia bisa bertahan selama ini, dokter bilang, tubuh Sabrina memiliki pertahanan yang sangat baik sehingga bisa memperlambat perkembangan sel-sel kanker itu... "Tiba-tiba ekspresi Rolan berubah serius, "Tapi aku di sini bukan untuk membahas masalah Sabrina, aku ingin minta maaf karena menghancurkan rencana makan malam kita di hari ulang tahunmu."

"Kau sudah minta maaf berkali-kali dari tadi." Sabrina tersenyum.

"Dan mungkin aku tidak termaafkan. Aku tahu betapa kau menginginkan makan malam romantis ini, di hari istimewa pula dan kau sungguh baik hati karena bahkan tidak marah kepadaku." Rolan sungguh-sungguh menyesal, dia benar-benar tidak menginginkan ini terjadi, padahal di makan malam romantis mereka itu, dia berencana untuk melamar Selly... tiba-tiba jemarinya meraba ke saku celananya, mencari kotak cincin mungil itu... dan tidak menemukannya.

Rolan mengerutkan dahinya kehbingungan. Cincin itu tidak ada! Apakah... apakah jangan-jangan jatuh di rumah sakit? di kamar Sabrina?

Selly mengamati ekspresi Rolan yang berubah-ubah dan menatap cemas, "Kau tidak apa-apa Rolan? Ada apa?"

Rolan berdehem bingung, tidak mungkin bukan kalau dia mengatakan bahwa dia kehilangan cincin yang sedianya akan digunakan untuk melamar Selly? Tidak, ini seharusnya menjadi kejutan untuk Selly, jadi Rolan lebih baik mencari cincin itu dulu dan kemudian melamar Selly di waktu lain yang tepat. Dia akan ke rumah sakit kembali untuk mencari cincinnya yang mungkin saja jatuh di kamar Sabrina..... itu nanti. Sekarang dia akan fokus kepada Selly.

"Eh.. bukan, mungkin aku agak sedikit lelah."

Selly tersenyum kembali dengan lembut, "Kau boleh istirahat di sofa ini kalau mau."

"Terimakasih Selly." Rolan menatap kekasihnya itu dengan serius, matanya berbinar. "Selamat ulang tahun Selly, bertahun kemarin ketika kita sakit, kita selalu merayakannya bersama di rumah sakit, di ruangan kamarku dalam kondisiku yang buruk. Sekarang ketika aku sehat, aku malahan mengacaukan segalanya." Jemari Rolan menyentuh pipi Selly dengan lembut, "Maafkan aku atas ucapan selamat ulang tahun yang terlambat ini." Rolan menundukkan kepalanya, lalu mengecup bibir Selly dengan penuh perasaan.

*** 

"Kudengar kau mengacaukan perayaan ulang tahun Rolan dengan kekasihnya." Gabriel baru saja memasukkan darahnya ke infus Sabrina, seperti biasanya. "Kenapa kau lakukan itu?"

Sabrina melirik Gabriel sedih, "Bukankah itu juga menguntungkanmu?"

Ekspresi Gabriel tidak terbaca, "Kenapa kau lakukan itu, Sabrina?" bibir Gabriel hampir tak bergerak, tetapi kata-kata yang didesiskannya meluncur dengan dingin membuat Sabrina merinding, itu adalah tanda bahaya, Sabrina harus jujur kalau tidak mau menyulut kemarahan kakaknya.

"Aku ingin merayu Rolan, sehingga dia mau menyembuhkan penyakitku. Penyakit yang kau tidak mau menyembuhkannya."

"Rolan masih belum bisa melakukannya. Dia belum bisa menggunakan kekuatannya secara maksimal, dan harus belajar banyak dari Marco, pendampingnya." sela Gabriel cepat.

"Aku tahu, dan itu malahan menguntungkanku, memberiku waktu untuk mengambil hatinya, dan nanti ketika dia punya kekuatan penyembuh itu, dia tidak akan bisa menolak permohonanku."

Permohonan. Gabriel langsung teringat betapa dia memohon kepada Matthias, pemilik kekuatan terang sebelumnya, dan ditolak. Yah. Kalau Marco berhasil membuat Rolan memahami buku peraturan alam semesta itu, dia yakin bahwa Rolan akan menolak Sabrina. Semoga saja Rolan tidak sebodoh itu bisa takluk dalam pesona Sabrina.

Gabriel menatap sinis, "Kau sudah tahu bukan bahwa menyembuhkan penyakit seseorang yang sudah berada di takdir kematian adalah hal yang terlarang dan akan menyebabkan kutukan pada sang pemilik kekuatan?"

"Aku tahu." Sabrina mengalihkan matanya, tak tahan ditatap Gabriel seintens itu, "Aku hanya berpikir, kalau aku bisa merayu Rolan untuk menyembuhkanku, dia akan menerima kutukannya. Dan kau akan menang."

Langkah kaki Gabriel yang mendekati ranjang Sabrina tampak mengancam, "Jangan pernah berpikir bahwa apapun bantuanmu akan membuatku senang. Jangan ikut campur Sabrina.... Kau seharusnya tahu bahwa aku ingin menang dengan caraku sendiri." Jemari Gabriel terulur, hendak menyentuh dahi Sabrina, membuat Sabrina beringsut ketakutan...

Tetapi kemudian langkah Gabriel terhenti ketika dia menginjak sesuatu yang keras di kakinya. Dia menunduk dan mengerutkan kening ketika melihat sebuah kotak berwarna hitam mungil yang terinjak di bawah sepatunya.

Gabriel membungkuk dan mengambil kotak itu dengan jemarinya. Sebuah kotak cincin.

"Apa itu?" Sabrina mencoba melongok meskipun takut Rasa ingin tahu mengalahkan ketakutannya.

"Bukan apa-apa." Gabriel menatap Sabrina tajam dan memasukkan benda itu ke sakunya, membuat Sabrina tidak berani bertanya-tanya lagi, "Ingat, jangan macam-macam Sabrina." gumamnya dingin sedetik sebelum bayangan gelap menelan tubuh Gabriel dan membuatnya menghilang dari ruangan itu.

*** 

Sebuah cincin... cincin yang indah dengan inisial nama R&S di bagian dalamnya....

Rolan ternyata berniat untuk melamar Selly...

Gabriel tersenyum sinis, jemarinya memegang cincin mungil itu dan menatapnya dingin. Sayangnya Rolan begitu bodoh dan menjatuhkan cincin itu, membuatnya yakin bahwa Rolan mengurungkan lamarnannya kepada Selly.

Dia harus memisahkan dua anak manusia itu.... bagaimanapun caranya, karena ikatan antara Rolan dan Selly tidak boleh menjadi kuat.

Cincin itu tampak memuai di tangan Gabriel, ditempa oleh panas yang tak terlihat, lalu dalam hidungan detik, cincin itu lebur menjadi abu berwarna keemasan yang bertebaran di udara, hancur tak bersisa.

*** 

Selly meletakkan tiga potongan kue tart berlapis gula putih yang baru dipotongnya dari kue tart pemberian Gabriel kemarin di meja yang bisa dijangkau dan seteko kopi dalam termos yang akan selalu hangat. Makanan itu disiapkannya untuk Rolan ketika lelaki itu bangun nanti. Dia kemudian melirik ke arah Rolan yang masih tidur meringkuk di balik selimut di sofa ruang tengahnya. Rolan memang menginap di rumahnya, dan tentu saja tidur di sofa,

Rolan tampak kelelahan, dan Selly tidak tega membangunkannya. Dia sendiri sudah berpakaian resmi hendak ke kantor dan sebentar lagi akan berangkat naik kendaraan umum.

Diteguknya kopinya sendiri, lalu dia meraih tasnya, dengan hati-hati dia berjalan mendekat ke arah Rolan yang masih terlelap. Dibungkukkannya badannya dan dikecupnya dahi Rolan dengan lembut,

"Aku pergi dulu sayang." bisiknya pelan, penuh cinta, lalu melangkah meninggalkan flatnya

***


Bertemu dengan Gabriel mungkin akan terasa canggung setelah peristiwa semalam. Selly membatin dalam hati ketika membuka pintu ruangan kantornya, dan kemudian menghela napas panjang karena Gabriel ternyata belum datang. Biasanya Gabriel akan duduk di balik meja besarnya itu dan sibuk dengan pekerjaan di depannya.

Selly teringat akan kebaikan Gabriel semalam,dan mau tak mau rasa terimakasih membanjiri benaknya oleh karena kebaikan dan perhatian yang diberikan oleh atasannya itu.

Dia sama sekali tidak menyangka, di balik ekspresi dingin dan misterius atasannya, tersimpan kebaikan hati yang tulus.

Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, dan lelaki yang sedang dibatin oleh Selly masuk. Gabriel seperti biasa tampak elegan dengan penampilannya yang rapi dan berkarisma, lelaki itu tersenyum ketika melihat Selly sudah duduk di balik mejanya,

"Selamat pagi." sapanya ramah, "Apa kabar?"

Selly menganggukkan kepalanya, "Baik, terimakasih Sir, dan selamat pagi juga."

Gabriel melangkah duduk di kursi besarnya dan bertanya sambil lalu, "Apakah kau dan calon suamimu sudah menyelesaikan masalah kalian berdua?"

Selly tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Semua baik-baik saja." Dia melemparkan senyum terimakasih kepada Gabriel, "Dan terimakasih untuk anda, Sir. Anda benar-benar menyelamatkan hari ulang tahun saya."

Senyum Gabriel melebar. Ekspresi yang sangat jarang ditampilkannya, garis-garis wajahnya ketika tersenyum lebar membuat Selly terpesona karena aura ketampanannya yang langsung memancar jauh, dan tiba-tiba saja jantungnya berdebar.

"Sama-sama Selly, aku senang melakukannya." jawab Gabriel dengan nada misterius, lalu mengalihkan matanya ke pekerjaannya dan mengabaikan Selly.

Sementara itu Selly merenung, meskipun matanya berusaha memfokuskan diri pada berkas-berkas di mejanya, benaknya bertanya-tanya, pertanyaan yang dia sendiri tidak tahu jawabannya.

Kenapa jantungnya berdebar?

*** 

Beberapa jam mungkin telah berlalu, dan sinar matahari yang menyelip dari gorden jendela mengenai matanya, membuat Rolan tesadarkan dari tidur pulasnya, dia menggeliat, kemudian membuka matanya sedikit, pada mulanya bingung dengan kondisi sekelilingnya, lalu ingatannya kembali dan sadar bahwa dia berada di flat Selly

"Selly?" Rolan memanggil dengan suara serak. Tetapi suasana hening, lelaki itu lalu melirik ke arah jam tangannya. Sudah jam sepuluh pagi, pantas saja, Selly pasti sudah berangkat kerja.

Rolan menggeliat, dan matanya menangkap potongan kue berlapir krim putih di piring dan termos minuman di sebelahnya,. bibirnya tersenyum. Selly begitu perhatian kepadanya, perempuan itu pasti akan menjadi isteri yang terbaik. Tetapi bibirnya mengerucut ketika melihat potongan kue di piring itu. Itu seperti potongan dari kue tart yang indah. Apakah Selly membeli kue tart untuk dirinya sendiri semalam? Mungkin dengan harapan dia bisa menipu lilinnya bersama Rolan? Ah.... perasaan bersalah menyeruak kembali ke benak Rolan, menyadari bahwa dia telah membiarkan Selly menghabiskan hari ulang tahunnya sendirian.

Rolan membuka termos itu dan aroma kopi yang harum menguar di udara, memenuhi ruangan. Sebuah mug diletakkan terbalik di nampan, Rolan meraihnya, dan menuang kopi itu, lalu meneguknya untuk memberikan kesegaran kepada tubuhnya. Dia berpikir untuk segera mandi dan menengok Sabrina ke rumah sakit, selain untuk mencari cincinnya, Rolan ingin dia ada di rumah sakit ketika Sabrina sadar, apalagi karena dini hari tadi, dia meninggalkan Sabrina tanpa pamit di saat Sabrina masih tidur pulas. Rolan tidak mau Sabrina mencari-carinya atau kecewa kepadanya yang akan berimbas kepada kondisi kesehatan. Sabrina begitu lemah, begitu menderita, dan Rolan akan melakukan apapun untuk membantu Sabrina.

Tepat setelah tegukan ketiganya, sebuah ketukan terdengar di pintu flat Selly, membuatnya mengerutkan kening.

Siapa yang bertamu ke flat Selly siang-siang? Orang-orang yang mengenal Selly pasti tahu kalau Selly sedang bekerja di jam-jam begini.

Dengan penuh rasa ingin tahu, Rolan meletakkan cangkir kopinya, lalu melangkah ke pintu dan membukanya.

Ternyata Marco yang berdiri di depannya. Rolan mengangkat alisnya,

"Bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini?"

Marco mengangkat bahunya, "Saya punya kemampuan khusus untuk melacak sang pemegang kekuatan." Lelaki itu menunjukkan buku tebal berisi aturan semesta kepada Rolan, 'Mari tuan, kita harus bergegas, anda harus belajar banyak dan mencoba menguasai seluruh kekuatan itu dengan sempurna. Waktu kita menipis, sebab saya sudah mulai merasakan kekuatan kegelapan yang semakin mengancam."

Bersambung ke Part 13

31 komentar:

  1. boleh gag tu sabrina di cekik,biar dia cpet smbuhnya??

    BalasHapus
  2. OMG...gambar Rolang setengah telanjang n baru bangun tidur bikin sesak nafas...

    BalasHapus
  3. Kenapa jantungnya berdebar?
    mb Santhy jangan bilang Selly mulai falling in love sama Gabriel hihi ...

    Sabrina dibikin dead aja deh mb *kejamnya diriku*

    BalasHapus
  4. Waaa Selly mulai berdebar.. semoga dia suka aja deh sama Gabriel hihi *fans Gabriel* aku lbh suka karakter jahat kyk Gabriel, biar bisa insyaf klo sama Selly :D

    BalasHapus
  5. Tuhan aku rasa itu abs si Gabriel pake jaket ketet(?) -_- jangan deh sm gabriel si shelly, sabrina mati aja yuk*ancaman tak bermodal* -_-

    BalasHapus
  6. ih...sabrena jahat memanfaatkan kebaikan Rolan yakin dehh Rolan G bakal mau menolong klau harus melanggar peraturan kekuatan, walau Gibrel jahat tapi...aku yakin masih ada sisi baiknya dia nanti nya

    BalasHapus
  7. aku belum setuju selly sama gabriel,selly jgn jatuh cinta dulu ama gabriel >.<

    BalasHapus
  8. Males banget ama Rolan ah
    Selly ama Gabriel aja udaaah
    Hihihihi
    Makasih mb san, udah posting :))

    BalasHapus
  9. jangan jangan Gabriel dapet cinta sejatinya Selly n jadi aik itu deh,,,

    BalasHapus
  10. Hhahah gangguin suami, LOL!

    Nahh loh, Selly mulai berdebar buat Rolan hati-hati Selly pergi. Gak tau kenapa pingin banget liat Rolan nangis kalo nanti kehilangan Selly. Ngerasa gak adil aja gitu ya, pas dia sakit Selly selalu ada nah pas dia udah sembuh,dia gak bisa ada buat Selly. Tapi Gabriel juga patut dipertimbangkan. Ahh sudahlah, gak bisa maksain kehendak juga. Nunggu Story berkembang ajalah wkwk...

    Makasih mbak Santy publishannya :)

    BalasHapus
  11. sellyyyy gak bole sama gabriel yaa!!

    mbak sansan selly sma rolan aja..:/

    BalasHapus
  12. Greget sama rolan sebenernya!!selly ntar direbut gimana coba??

    BalasHapus
  13. liat gmbr gabriel n rolan topless jd sesak napas......mbk saaaaannn,tanggung jwb.heheheeee. . .

    BalasHapus
  14. liat gmbr gabriel n rolan topless jd sesak napas......mbk saaaaannn,tanggung jwb.heheheeee. . .

    BalasHapus
  15. liat gmbr gabriel n rolan topless jd sesak napas......mbk saaaaannn,tanggung jwb.heheheeee. . .

    BalasHapus
  16. liat gmbr gabriel n rolan topless jd sesak napas......mbk saaaaannn,tanggung jwb.heheheeee. . .

    BalasHapus
  17. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  18. aduh tlat cment.......g sbar nunggu part brkutnya.....mba san koq cma 1 c pstingan'a....nmbah lg donk..........

    Mksh mba san...

    BalasHapus
  19. Hohoho... Selly udah mulai berdebar nih..
    Semangat Gabriel..!! Go Gabriel Go Gabriel Go ! *sambil angkat pom-pom*
    Abisnya aku sebel sih ama si Rolan.. Selly aja rela meluangkan waktunya buat Rolan tiap hari.. Eh, saat udah sembuh si Rolan malah gak bisa memprioritaskan Selly..
    Aku sih maklum kalau nanti Selly lari (?) ke Gabriel..

    Mbak San, itu si Sabrina mau dibiarin hidup terus memang ?
    Bukannya aku sadis *padahal emang sadis* tapi kan walaupun gak menyembuhkan penyakit, menunda kematian yang harusnya udah dateng kan melanggar hukum alam juga Mbak..
    Apalagi kalau orangnya nyebelin kae Sabrina..

    Gak sabar ama moment saat Selly ninggalin Rolan, terus jadi sama Gabriel nantinya..
    Biar si Rolan nelangsa.. Nyesel banget deh dia nantinya..

    Mbak San dapet dari mana sih foto cowok-cowok ganteng begitu..? Mana beberapa foto posenya bikin mata melotot segede-gedenya lagi dan berhenti cukup lama di bagian foto.. Hihihi..

    Ditunggu next partnya, Mbak..

    BalasHapus
  20. aaaaaaaaaaaaaaa...gabrielll
    please come to me :D

    BalasHapus
  21. Oh my...sellyy..jngn berpaling.....

    Ga boleeehhhhhhbb....

    BalasHapus
  22. oh mbak santhy...
    jgn buat Rolan-Selly terpisah dong u,u
    Jgn siksa Rolan juga please.__.

    BalasHapus
  23. "kau sudah minta maaf berkali-kali daritadi' Sabrina tersenyum
    Itu harusnya Selly kan mbak yang bilang......
    Eh btw itu Roland seksi amat pas bangun tidur*eh

    BalasHapus
  24. sabrina ini buat kamu!!!!! (╯╬◣д◢) ╯⌒ ┻┻

    tuh kan selly mulai berdebar pd pria lain....Rolan si ahhh, terlalu baik pd org yg sharusnya gk perlu dibaikin x-(

    Lanjut mbak :D

    BalasHapus
  25. Rolan nya ganteng mba shan.. aku pilih Rolan!!

    BalasHapus
  26. Untunglah Rolan dateng pagi hari buta n minta maaf berulang2, klo ga.... huffff kasian Sellyna :)
    Ayo Rolan, jgn kau terlalu peduli dgn Sabrina, bisa2 kau bisa kehilangan Selly lho....
    Gawattt...... jantung Selly berdebar begitu melihat Gabriel tersenyum.....
    Huaaaa..... penasaran dgn bab selanjutna......
    Makasih Mba Santhy *peluk*

    BalasHapus
  27. ah mba san #muka cemberut
    np sabrina msh bernafas ajah sih? huh! mba san ga tega bunuh sabrinanya? sini2..serahin sm aq ajah deh mba san #sambil nyiapin golok hahahaha :v
    mksh mba san ^^

    BalasHapus
  28. Aku baru sempet komen sekarang. Menurut aku sih dari semua vusualisasi tokoh2 dalam ceritanya Mbak Santhy, sosok Gabriel ini yang paling mendekati apa yang aku bayangin dan karakter mukanya pas banget sama karakter tokohnya..

    BalasHapus
  29. ini vote ke sekian aku loh untuk Aleana, hasil bajak pc temen2 hehehee..
    karena nama Aleana itu khas banget, pasti yang baca novel nantinya ga akan ngerasa bosan deh.

    rikaoktapia@gmail.com

    BalasHapus